Selasa, 03 Maret 2009

“Zaman” Dalam Puisi Arab Mutakhir

Oleh : Hidyah Al Ayyubiy
Alih bahasa : Drs.Yulizal Yunus

Hidyah Al Ayyubiy adalah seorang putri kelahiran Tripoli, Libanon Utara, tahun 1957. LC dalam bahasa Arab Master of Art (MA) dalam sastra Arab, mengusai masalah Inggris, Perancis dan Arab. Sekarang bekerja sebagai Dosen Bahasa Arab di Raudahatul Fiha. Banyak menulis karya ilmiah (hasil penelitian dan kajian) dan banyak menulis puisi serta dipublikasi dalam banyak surat kabar dan majalah di Arab.
Tulisan kebudayaan tentang kritik sastra Arab Mutakhir “Az Zaman Fi Syi’ri “Arabiy Al-Ma’ashir. Zaman di dalam puisi Arab Mutakhir” ini dimuat “Al Faishal”, majalah kebudayaan bulanan, diterbitkan diRiyadh, edisi 43 November – Desember 1980. diterjemahkan Drs.Yulizal Yunus dosen sastra Arab di fakultas sastra Arab (Adab) IAIN Imam Bonjol, di Padang.

“Az Zaman“ (mim tanpa mad) adalah lafal, padat essensi, kaya argu mentasi, penuh intuisi, semuanya kita dengar dan kita hidupi. Zaman itu mengandung rahasia dari rahasia besar wujud ini. Lingkupnya menjangkau keresahan hidup dan kekerasan manusia.
Ada baiknya terlebih dahulu mengerti apa itu yang disebut “zaman” dan permasalahannya dibatasi. Ini diharapkan agar para penikmat dapat membedakan mana yang disebut “waktu”, mana yang dikatakan “zaman” (mim pakai mad) dan mana pula yang dimaksud dengan “zaman” (mim tanpa mad).
“Waktu” artinya sangat umum, meskipun secara objektif dapat terbatas. Para ahli sebetulnya sudah memberikan pengertian “waktu” itu dengan dua alternative ialah: jam-jam (sa’at) dan penggaln-penanggalan. Dengan dua alternaatif itu, kita dapat terbantu dalam kehidupan social. Termasuk ciri khusus atau keistimewaan waktu itu ialah rangkaian yang sama dalam menyusun objektifitas alam ini, dan ia tidak jauh keluar dari latar pengalaman manusia 1).
Adapun “az zaman” (mim tanpa mad, dapat diartikan temporal-pen) mempunyai pemahaman khusus, kepribadian jati diri atau seperti biasa dikatakan “yang bersifat kejiwaan” atau seperti disebut oleh Bergson: “bahwa zaman itu sebetulnya terhidang langsung dalam perasaan kita”. Di dalam kesusastraan zaman dapat dipahamkan, zaman manusia….sesungguhnya zaman itu aspirasi kita yang merupakan produk zaman itu, seperti merupakan bagian dari latar yang samar oleh pengalaman” 2).
Karena demikian zaman dapat diartikan nisbi, setiap manusia ada zamannya, berbeda dengan zaman manusia lainnya.
Zaman itu tidak selalu dapat diukur sama, karena ia selalu bertukar, berubah sejalan dengan perubahan pengalaman, intuisi dan perasaan kita yang paling dalam. Setiap yang mungkin dapat dipahami dari zaman yang senantiasa berubah itu, dia adalah …..perasaan…….. kita, “keagungannya”.
Perbedaan antara “waktu”, “zaman” dan zaman (mim dengan mad) banyak para ahli linguistic telah memperkenalkannya. Ibnu Manshur dalam bukunya “Lisanul Arab” mencatat dalam bagian entry “zaman” sebagai berikut:
‘zaman itu adalah nama yang menunjuk, sedikit atau banyak waktu”.
Syamar berkata: “dahr, dan zaman (masa – pen) adalah identik sama pengertiannya. Tetapi Abu Al Haitsam membantah Syamar, katanya “zaman’ (dimisalkannya dengan kalimat) ialah “masa buah tamar masak, masa buah-buahan; musim panas dan musim dingin”. Sedangkan dahr (masa) itu ialah masa yang tidak ada batasnya. Abu Manshur berpendapat, bahwa dahr itu menurut orang arab, berada dalam kawasan waktu, suatu masa dari berbagai masa di dunia seluruhnya. Sedangkan zaman (mim pakai mad) kawasannya “sebagian” atau seluruh “dahr” 3).
“Dahr” didefenisikan ujung yang direntang panjang. Ada yang mengatakan bahwa “dahr” itu 1000 tahun. Beralasan pula yang arab memberi sifat “dahr” seperti apa yang dikatakan Allah SWT di dalam ayatnya: “mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain dahr (masa)…”QS.45 Aljat-siyah;24. menurut Aljauhariy, zaman itu adalah dahr. 4). Sedangkan “Alhin” menurut Aljauhariy adalah sebuah “isim (nama)” seperti waktu dapat memperbaiki seluruh zaman. Di dalam ayatulkarim disebutkan: “tu-tinya ukulaha kullah hin…/pohon itu memberikan buahnya pada segala musim (hin)…QS. 14 Ibrahim:25. maksudnya pada segala waktu terkadang dimaksudkan “hin” itu suatu rentangan zaman yang tiada dapat diukur lamanya, seperti terungkap dalam firman Allah SWT: “hal ata’ala insani hin (un) min al dahr (i) lam yakun syai-an madzkura/bukankah telah datang atas manusia satu hin (waktu) dari dahr (masa), sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ? QS 76 al insan: 1.
“Waktu” adalah ukuran banyak zaman dan setiap sesuatu yang dapat diukur sebagai hin, maka dia disebut “Muwaqqat (waktu tertentu)”, menurut Ibnu Sayyidah, bahwa ukuran banyak dahr, adalah yang dapat dikenal, kebanyakan apa yang dapat digunakan pada masa lalu, dapat pula digunakan pada masa datang 5)
Alfairuz Abadiy dalam bukunya “Al Qamus Al Muhith” mencatat: “waktu adalah banyak dahr (masa), kebanyakan dilalui pada masa lalu”, Alfairus membedakan “waktu” dan “miqat”, katanya: “keduanya dibedakan dalam satuan kelompok, bahwa “waktu” ialah yang terpakai, dan miqat ialah waktu yang ditentukan untuk pelaksanaan suatu pekerjaan dari sejumlah pekerjaan. 6)
Adapun dahr dapat dirujuk kepada “Asmau’u Al Husna”, masa yang panjang, dan suatu ujung yang direntang panjang. 7). Sedangkan zaman…sedikit atau banyaknya waktu 8).
Dari kajian tadi dan batasan yang diberikan, maka dapat dirumuskan:
1. Zaman (mim pakai mad) adalah dahr dan abadi
2. Waktu ialah ukuran banyak yang diketahui dari zaman
3. Zaman (min tanpa mad) ialah sedikit waktu atau banyak waktu, yakni tiada terbatas
Demikian, setelah kita memberikan perbedaan antara lafal-lafal tadi, maka kita dapat mengatakan bahwa tiada menyebut-nyebut suatu lafal yang dengan waktu di dalam syair, tidak selalu berarti bahwa penyair itu secara prinsipil mencatat zaman, maka oleh sebab itu lafal ini suatu ketika berguna sebagai penjelasan akhir yang komunikatif.
Dari beberapa alternative tadi, sekarang kita perlu melihat sebuah latar apa yang disebut sebelumnya, kearah mengerti “zaman” dan sya’ir arab mutakhir. Tentulah, lapangan garapan ini tidak direntang luas lagi, karena kita ingin mengamati pemahaman ini disetiap syair kita sekarang, batasan berikut kita hanya ingin meliput sebahagian karya penyair-penyair yang mereka telah mengambil thema dan trend ini sebagai mutiara putih syaqaf perancis dan mereka telah mengembangkannya.
Merasakan zaman
Kita perlu menangkap isyarat, sebelum menyelami lebih jauh dalam pembahasan kita, bahwa orang dahulu mengkondisikan perasaan zaman di dalam syair arab pada zaman jahiliyah, manusia belum memberikan ukuran-ukuran atau patokan-patokan tempat, karena selalu pindah-pindah, dia selalu mencari air dan padang rumput di mana tempat saja, lalu ia berhubungan dengan zaman (masa), maka oleh sebab itu ia ingin mencabik-cabik bermiliar kali setiap hari dan berutopi, ingin andaikan dia tegar agar sejenak kepahitan hidup tidak dirasakan lagi. Nyata disini zaman jahiliyah merupakan zaman yang keras dan tidak punya dinamika. Lihatlah dalam lirik al a’sya berikut ini:
Ka-anna masyiyataha min baitin jaratha marru as-sahabati la raisu wa la ‘ajalu
Melukiskan perjalanan kekasih yang tidak tergesa dan tidak lamban merupakan rumusan zaman yang berhenti dan mati. Lihat pula lirik Umrul Qais berikut: walailin kamauji Albahri arkha sudulahu’alaiya bi-anwa’I Alhumumi liyabtali (gulita malam bagaikan gelombang lautan menerjangku bermacam nertapa gelisah mengusikku - pen).
Bait umrul qais ini mengungkap kegetiran. Semuanya dirasakan penyair. Juga mengungkap essensi yang dalam, melukiskan malam penuh dengan nestapa kegelisahan yang tak akan pernah habis-habisnya.
Seolah-olah kegelisahan dan keresahan yang berlapis-lapis menterlantarkannya selalu, serta menutupi penyair untuk mencapai fajar kesejahteraan.
Penyair al mutanabbly juga merasakan kegetiran zaman dan kegetiran itu sudah merupakan hiasan zaman, lihat lirik berikut:
Shahiba an nasu qabiana dza az zamana
Wa ‘anahum min sya’nihi ma ‘anana
Wa tawallau bighushashatin kulluhum minhu
Wa inna saran ba’duhum ahyana
Sebetulnya pengalaman diri penyair menjadikan dirinya dapat merasakan bahwa dunia ini penuh duka, tidak henti-hentinya seperti merasakan satu sifat “daimumah (kekal dalam kekalan)” yang dapat mewarnai zaman. Kita temui juga persaan ini dalam duka zaman pada pengalaman Ibnu Rumi. Lihatlah lirik berikut ini:
Ya ayyuha al harib min dahrihi
Adrahkaka ad dahr ‘ala khailihi
(hai orang yang lari dari masanya
kau ditinggalkan di kuda masa-pen)
Kita dapat mencatat di dalam bait ini terlihat “dinamika” zaman itu dalam tilikan penyair, zaman itu ada dalam gerakan yang sambung-bersambung, memacu kita sedangkan kita tidak mampu berpacu dengannya. Masa selalu berlayar menuju naktah tertentu, sedangkan kita tidak mampu lari dari sisinya. Maka kita sering tergilas dibawah ladam kudda masa itu, tanpa mendapat satu pun rahmat.
Syair arab padat dengan prinsip yang dramatis itu, justru sesuatu yang menjadi perhatian kita sekarang ialah prinsip penyair arab mutakhir termasuk soal “zaman”. Tidak mungkin kita melakukan studi prinsip ini secara umum tanpa ada batasan-batasan dan lini-lini. Karena “zaman” di dalam syair berakar dari kekayaan potensi, dapat mempelajari prinsip para penyair. Segi pertama ialah potensi inti nisbat zati.

Perasaan terhadap zaman membedakan penyair dengan manusia lainnya. Maka pada suatu kali penyair merasakan bahwa dia bergerak lamban, seharusnya cepat dan suatu ketika zaman berada pada noktah (titik) yang jelas, sedangkan dia tak dapat meninggalkannya begitu saja. Lalu penyair merasa, seolah-olah sesuatu hanya beberapa saat di bumi, semuanya benar telah berhenti hingga itu. Dari sini lahir sifat nisbiyah yang dapt melukiskan zaman itu, dan menjadikan zaman itu tanpa terbatas, baik ruang dan ukurannya.
Pemikiran ini di kuatkan oleh sastrawan terkenal perancis Marcel Proust seperti dalam ungkapannya: “zaman itu ialah yang berhubungan dengan kita dan kita dapat mempergunakannya setiap hari secara bersama, serta kita dapat merasakan intuisi yang merentang dan membentangkannya, dan kita mendapat ilham dengan intuisi yang dapat membuka tabir zaman, dan tradisi pun dapat mengisinya. 9).
Virginia Woolf seorang penulis amerika berpendapat, “akal manusia dapat bekerja secara sulit di dalam anatomi zaman dan sa’at, bila sa’at itu berada dalam komponen jiwa manusia ajaib, ketegangannya mungkin sampai antara 50 dan 100 kali sepanjang rinciannya. Dan dari segi lain dramatis dalam sa’at secara halus memberikan kemungkinan kedamaian tertentu dalam akal” 10).
Mata rantai kenyataan ini diketahui betul oleh banyak penyair dewasa ini. Maka oleh sebab itu penyair Khalil Hawi menyatakan zaman itu jumud dan tidak dinamis. Sesungguhnya bagi dirinya zaman itu berhenti. Hal ini dapat disimak dalam kasidahnya berjudul “wujuh al sindibat” (wajah simbat – seorang figure yang terdapat di dalam cerita seribu satu malam), sebagai berikut:
Ghibti annly, Wasswaniy maridhtu, Matat ‘ala qalbiy, Fama darunnahari
Lailuna fil aruzi min dahrin tarahu, Am tarahul barilah 11).
(kau sembunyikan dariku seperenam belas menit kemudian ku sakit / dia hadir di hatiku, apa itu singgasana siang / malam kita dalam padi dahr yang kau lihat / kau melihat kemaren malam) – pen
Sesungguhnya zaman dalam kasidah ini, adalah mayat yang berat, di bawahnya penyair terhimpit oleh kepahitan penantian yang tak berbatas. Penyair juga hidup dalam suatu keadaan yang pelik dan penuh pertentangan. Lalu zamannya berhenti. Dan zaman yang lain bergerak dinamis, bahkan bergerak lebih cepat. Ketegangan dan kebimbangan menjadi berlipat-lipat. Rasa menyesal atas keadaan sulit dan terinjak. Itu semua juga menghiasi kasidahnya berjudul “sajin fi qithar (terpenjara dalam kereta”.
Fi ardhin gharibah
Marratan kanat layalilihir ratibah:
Thalman ‘adh dha ‘ala l-ju’i
‘ala sy-syahwati harra
Wanthawa ya’luku dzkra
Yamsahu l-ghabrata ‘an mati’ mil’i l-haqibah
Hajarun tahmiluhu l-dawamah al hariy sajin fi qithar
Ma dara-ma nakhatus syamsi
Ma thayyabal ghubar
Wa risyasyu l-milhi fi rihi l-bihar 12).
Di sini penyair melukiskan dirinya dengan lafal sajin (penjara) dan zaman penjara itu merupakan zaman yang telah kamu mati. Adapun qhithar (kereta api), merupakan lambang zaman yang bergerak dinamik. Penyair juga melambangkan dirinya terjepit diantara dua kultur: peradaban Barat yang dinamik dan peradaban Timur yang kaku mati…13). Injakan peradaban ini merupakan laun (warna) dunia penyair dengan penuh kepedihan, keterasingan dan kepahitan. Kegetiran ini di ungkapkan pula di dalam syairnya berikut dengan judul “bayadirul ju’I segunung lapar “.
Hadzyu l’aqaribu la taduru
Rabbahu kaifa tamuththu arjulaha l-daqa-iq
Kaifa tajmudu, tastahilu ila- ‘ushuri 14)
Menurut penyair Badar Syakir As-Saiyyab, rangkaian zaman itu berbeda-beda. Ia merasakan zaman itu cepat sekali berlalu. Benar-benar ia sakit dan di ambang kematian. Karena benar-benar dia rasakn hari-hari itu berlalu tanpa pamit, seolah-olah ia menghidupkan kembali kematiannya. Dapat pula di simak di dalam kasidahnya “fi jaikur uaipur”.
Ana qad amutu ghadan, fainna l-da-a
Ghaira wanin hablan yasyuddu ila- l-hayati hitham jismi mitsi dari
Nakharat jawanibaha l-riyahu was a-qfaha sailu l-qithari 15).
Usia penyair bagaikan tali, yang penyakitnya setiap kali akan memutusnya tanpa berhenti. Ini merupakan perasaan. waktu berlalu terlalu cepat. Di lain kali ungkapan penyair as-sayyab juga membentangkan di dalam kasidahnya berjudul “rahlan nahar – perjalanan siang” berikut:
Rahlan nahari
Haihat an yaqifa z-zaman, tamurru hatta billuhudi khutha z-zamani
Wa bilhijazi rahlan nahari wa lan ya’uda 16)
(perjalanan siang jauh, zaman kan berlanjut,
Berlalu sampai kelobang lahad
Langkah zaman dan di hijaz perjalanan siang, tak kan pernah
Kembali lagi- pen)
Zaman bagi penyair badar syakir as syayyab terkadang terlalu panjang. Kesimpulan ini adalah perasaannya di dalam keterasingannya dan ketersia-siaannya di alam madinah yang duka. Dia bersama masyarakat mencoba memperbaiki hal yang kurang berguna, alat dan meteri tetapi ia seperti tidak mempunyai kemampuan. Maka oleh sebab itu ia ingin memperpanjang siang. Jarak yang jauh menua di bawah langkahnya. Langkahnya terasa di makan usia, lama bertahun-tahun. Ini terlukis dalam kasidahnya: madinatussarab kota kersang.
‘asyru sinina surratuha ilaika, ya dha-ji’atan tanam
Ma’iy wara-u suwarina, tanam fi sirriy dzatina
Wa ma ntaha- s-safar
Ilaika yang madinatas sarab, ya radiya hayatiha
‘abarat eropa ila asia
Wa ma nthawa – n-nahar
Wa anti ya daji’ atiy, madinatu na-iyah
Masdudata abwabiha wa khalifiha wa-qafat fi intizhar 17).
Dalam kasidah lainnya, ia melukiskan:
Al-lailu thala ma nahariy
Hina yaqbalu bil qashiri 18).
Sesungguhnya siang (nahar) di sini menurut Badru Syakir As-Sayyab, tidak akan henti-hentinya. Seperti tidak bermula dan tidak berakhir. Zaman dalam lukisannya adalah tenang tak bergeming dibawah deraan penyakit dan dibawah pedihnya penantian.

Sisi lain yang menghiasi syair arab mutakhir, ialah rangkaian pemahaman zaman, yang disimbolkan dengan sungai.
Zaman dan Sungai
Banyak penyair mutakhir melukiskan suatu lafal dengan sungai. Sempurna ibarat gambaran dan sifat sungai. Selain itu terkadang penyair melukiskan zaman dengan symbol laut, juga dengan symbol kereta api. Sifat yang dirumuskannya sesuatu yang maha luas dan 1 kaya ialah seperti laut, dan sesuatu yang merayab tapi pasti ialah gambaran kereta api.
Sesuatu yang penting kita rasakan dalam rumusan itu ialah sifst mengalir. Sifat ini adalah esensial dalam sifat zaman. Bahkan sentra kerlingan zaman itu. Zaman mengalir terus menerus, sambung menyambung dalam berbagai perubahan, dimana perubahan itu berlangsung pula terus menerus…19)
Zaman terkadang merupakan belantara luas, dan kita harus memahaminya. Pemahaman terhadap zaman itu banyak menghiasi thema-thema berbagai kasidah arab mutakhir. Bentuk pemahaman ini diantaranya dalam kasidah arab dapat dilihat dalam syair badar syakir assayyab: an nahru wal maut (sungai dan kematian) berikut:
Buwaib…
Buwaib…
Ajraasu burji dha’a fi qaraarati l-bahar alma-su fi l-jirari,
Wa l-ghurubu fi sv-svfari
Tandhunu l-jiraru ajrasan mi-imathar
Balluuuruha yadzubu fi anin
“buwaib..ya buwaib…..20).
(gerbang kecil…
Gerbang kecil…
Gemercing lonceng tenggelam di dasar laut
Dencing air di kran-karan, dan senja jatuh di pohon
Gemercing kran-kran bagai lonceng dalam hujan
Permata belanda mencair dalam tuangan
“gerbang kecil..hai gerbang kecil”) - pen.
Sungai ini sesungguhnya “buwaib” tidak akan berhenti mengalir, baru berhenti setelah sampai di dasar laut. Demikianlah zaman, tetap mengalir. Lalu penyair mencoba memanggil (menahan) tetapi dia tidak termasuk orang yang bisa memberikan jawaban. Maka jeritan penyair tetap saja tumpah dan gungan membetuli gerakan yang terus menerus sambung menyambung.
Gaungan gelisah ini menghiasi Adonis dalam kasidahnya ‘muraya wa ahlam hal az-zamani l-maksur/ cerita dan mimpi sekitar zaman yang retak, beberapa untaiannya sebagai berikut:
Zamanun yajra, zamanun yahrubu mitsla l-ma-i.
Wa ana ajra- kullu naharin sakkinun fi ahsya-iy
Wa llailu hirabun 21).
(zaman yang mengalir, zaman yang berlari
Bagaikan air aku berlayar.
Semua siang adalah belati memotong isi perutku
Dan malam itu adalah tombak. (terj.penterjemah)
Disini zaman tetap berlayar. Langkahnya cepat sekali, bolak balik mengikuti peristiwa langkah itu,bagaikan luka menyayat hati sang penyair. Simaklah pula kasidah Adonis yang lain:
Yatanazahu la-gamha
Nartibku z-zamana bi ajnihati ishafir 22).
(membawa widia wisata setangkai jagung
Kita rakit zaman dalam sayab-sayab pipit) pen.
Atau:
Salaman ayyuha l-thiflu yarkudhu n-nahru
Wara-ma ma-jhl wa la yamsiku bihi 23).
(semoga selamatlah kau hai anak-anak
Sungai tenang airnya menghanyutkan).
Sesungguhnya penyair paling merasa misteri perubahan zaman, dan misteri segala yang mengalir. Hal yang mengalir itu berlangsung cepat sekali seperti air. Hampir saja air itu mengalir tidak seperti seharusnya dan saling mendahului bagai air bah. Setiap hari akan berlangsung adalah bagian dari “sungai - zaman “.
Almaha yauman yajlisu ‘alan nahri 24)
(ia kerling suatu hari duduk di permukaan sungai).
Zaman Nostalgia
Sisi lain penting pula dibahas, ialah dzakirah (nostalgia). Penyair ingin lepas dari zaman alfiziya-iy, supaya dapat hidup dizaman penuh kenangan (zamanundz dzakirah) dianggap bisa hadir merupakan peristiwa-peristiwa singgah berulang kali bersamanya, ia hidup dan menghidupinya, lalu seolah-olah dia lahir dari dunia baru. Tidaklah keinginan menghadirkan peristiwa-peritiwa itu atau gambaran masa lalu itu hanyalah sebuah pembicaraan sebelumnya oleh penyair untuk memecahkan kepahitan zaman dan menguasai kefanaan. Pantaslah diingat bahwa “zaman yang penuh kenangan” itu tidak mungkin membaginya, karena kronologis zaman itu merupakan satu rangkaian yang utuh. Maka oleh sebab itu dia ibarat khazanah yang penuh dengan debu masa lalu, di dalamnya ada keterengan untuk memperingati kenangan yang membuat maju, melalui berbagai motivasi, tanpa ada disana satu keterangan pemeliharaan tempat peristiwa zaman dalam rangka menyambung bermacam kenangan yang tak mudah dilupakan.
Lalu nostalgia itu “merupakan duplikasi yang memantulkan susunan yang sambung menyambung jauh , yang membiasakan susunan yang dinamis tanpa memisahkan dari peristiwa-peristiwa dalam hubungan nostalgia itu. Maka kasus-kasus yang dapat diingat menjalin dan membuat akrabnya hal-hal yang menakutkan dan yang diimpi-impikan, atau yang menjadi utopi, atau yang menjadi buah khayal, lagi tidak mungkin mengingat seperti sebuah peristiwa biasa saja.
Bahkan pula peristiwa yang dapat diingat itu dia ada didalam stabilitas yang kontinuitas, dapat dirujuk kepada interpretatifnya, hidup dari dunia baru dalam bayangan konteks masa sekarang, hal-hal yang menakutkan masa lalu, hal yang menjadi buah mimpi di masa yang akan dating” 25).
Dengan demikian tidak akan bersambung keterangan yang bernilai bagi zaman yang jauh di luar, di hadapan zaman yang tak dapat dilupakan itu. Sesungguhnya zaman yang berkesan itu merinci zaman alfiziya-iy, membulatkan image dan penyair serta segala sesuatu bentuk-bentuk perasaan. Nah inilah penyair Adones “menggelinding didalam zaman yang mengesankan itu” 26), diman kita tak mau berhenti sampai kapan pun, lihatlah apa katanya:
Atdahraju baina anal jamru wa ana ts-tsalju
Wa bainal ya-I wal alalifi atadalla-
Ashthani’u fil yaumi yauman aakhar
Arbuthu bi hablid daqa-iqi ahwa-iy 27).
(aku bergulat antara aku bara api dan aku salju dan antara ya dan alif
Aku bergayut ku petik di hari ini untuk hari yang lain
Dan aku ikat dengan tali-tali halus kejatuhanku) – pen.
Penyair disini ingin mengosongkan diri dari zaman mekanik, dan ingin memetik zaman lain dari dunia nostalgia, penyair ingin menghabiskan usianya menikmati dunia baru, kasus-kasus itu menjadi permata berharga, hal yang mustahil menjadi yang memungkinkan. Lihatlah untaian syair ini:
Yu’thiy waktan lamma yaji-u qablal waqti
Lamma laa waqtu lahu yujawhir al’aridh yaghsilul ma-u 28).
(dia beri waktu sebelum dating waktu sebelum dia tidak lagi punya waktu
Penyanggah itu membentangkan mutiara air membasah basuhi).
Inilah dia (penyair) menghidupi anak-anaknya dari dunia baru, lalu dia mempersiapkan masa lalu lari dari lecuitan usia yang terus berlalu, hingga menjadi tua. Simaklah syair berikut:
Analthiflu
Yastanjidul firasyaati
Yamtathi qashabatal kauni 29).
(aku ini anak-anak
Minta bantuan kupu-kupu
Menunggangi ruas alam).
Penyair ingin masa kanak-kanaknya kembali, seperti dikampungnya dulu. Ialah penyair Adones yang punya nostalgia kanak-kanak dikampungnya (Qushabain). Ia ingin mengaktualisasikan masa lalu dan ia ingin menggauli masa-masa sekarang:
Atasarwalu syatlatit tibghi
Arsimu qamariy ‘ala auraaqiha
Wa ashgha-li ashwaati laisat ninni lakinnaha liy 30).
(kupercelana bibit-bibit tembakau
Ku ukir bulanku di dedaunannya
Ku menjerit histeris buat suara-suara
yang tiada datang dariku tetapi dia untukku) – pen.
Lain lagi penyair badar syakir assayyab, ia mencoba memanggil masa-masa lalu yang telah hilang. Dia ingin membangkitkan intuisinya terhadap dunia baru, sebagai uji coba menguasai keruntuhan masa sekarang. Penyair ini mengungkapkan hal itu dalam kasidahnya dalam topic: “Sattaar – persembunyian”;
‘ainaaki wan nur adh-dha-il min asy-syumu’I l-khabiyati
Wal ka-sa, wall ail al-muthalla; min an
Anawafidi bin nujumi
Yabhatsna fi’ainiy ‘an qalbin wa’an hubbin qadimin
‘an hadirin hawin wa madin fi dhibabi dz-dzikrayati 31).
(mata kau dan cahaya redup dari lilin-lilin padam
Gelap malam panjang, dari jendela-jendela menerobos bintang
Mereka menganalisa yang ada di mataku tentang hati,
Tentang cinta orang dulu
Tentang masa kini yang luluh dan
Masa lalu dalam kabut nostalgia) – pen.
Kebahagiaannya rujuk ke zaman yang penuh kenangan itu,adalah untuk membersihkan jejak zaman yang jumud dan mandul. Dalam kaitan itu, terkadang penyair ingin menampilkan dirinya hendak merehap sebahagian rumus usthuriyah (symbol-simbol mitos). Lalu dala kondisi ini penyair Khalil Hawiy menukilkan kasidahnya; Ba’dul jalid (sesudah beku):
Anta ya tammuz, ya syamsal hashidi najjina,
Najju ‘uruqil ardhi min ‘uqmin dahaahaa wa dahaana 32).
(kau hai juli, hai matahari musim panen
Lempar kami, lempar keringat bumi dari kemandulan,
celaka dia dan celaka kita) – pen.
Sesungguhnya ‘tammuz (bulan juli)’ disini adalah merupakan symbol kehidupan yang terangkat kedunia baru, lepas dari debu-debu masa lalu. Demikianlah zamn penyair berangkat dini sebagai zaman mitos, tak mungkin ada pemisah di dalamnya antara masa lalu, sekarang dan masa yang akan dating. Makanya di dalam “zaman” usthuriy (mitos) membiaskan masa lalu dalam sekilas masa kini, sebagai scenario masa yang akan dating. Ini menuntun kita pula untuk melihat segi lain dalam bahasa kita berikutnya mengenai “abadia”.
Abadia.
Abadia yang dimaksud adalah ragam zaman. Tidak selamanya dapat kita artikan dengan masa (zaman mim dengan mad) terakhir. Bahkan Abadia itu merupakan “salah satu sifat pengalaman yang terjadi pada suatu masa sesudah zaman fiziya-iy dan diluarnya”. 33)
Pemahaman abadia dapat di identifikasikan dalam karya sastra dari tiga bentuk:
1. Keinginan menghadirkan penutur yang utuh dari genggaman abadia berlangsung dalam dua metode:
a. Pekerjaan minta kehadiaran jati dirinya, dia adalah merupakan ragam zaman. Hakekat keadaannya, kadang-kadang berbicara dalam konteks waktu yang jelas, dan seakan-akan menempatkan keinginan menghadirkan itu pada kondisi sesudahnya untuk melihat hal-hal yang merupakan ragam zaman itu.
b. Sesungguhnya kasus yang dapat di ingat itu jelas di anggap kurang (lepas) dari konteks sejarah peristiwanya. Maka oleh sebab itu dengan keadaan itu tadi, ia berusaha mencari sifat “jauhar abadi (mutiara yang abadi)”.
2. Sesungguhnya kemampuan kembali membina jati diri tentang cara menempuh kenangan yang tak terlupakan itu, harus mampu memutar (menyoroti) gejala-gejala zaman itu.
3. Kesan seni dalam ragam zaman itu ada di dalam kronologinya tentang makna aneka ragam zaman itu, atau di dalam keadaannya, dan tempat yang tetap untuk membetulkan ekspos dari jenis ini 34).
Dari rentetan aneka ragam zaman itu, manusia bisa melihat zaman di luar dirinya, dan dapat memperkirakan catatan yang hilan, meskipun dalam kaca mata purbasangka, penyair Adones bernyanyi:
Anta ta’taqilu l-wahma
Wa huwa
Hunaihah hunaihah
Ya’taqilu-z-zamana
Wa yarmiihi fi haudhi kalimaatihi 35).
(kau meraba purbasangka
Dan dia
Sekejab-sekejab
Meraba zaman,
Dan melemparkannya dalam kolom kata-katanya)- pen.
Adapun seorang penyair wanita Nazik Almalaikah, mencoba lari dari kenyataan masa lalu yang mati, dan masa dating yang diselubungi kabut menakutkan, pada gilirannya dia berjumpa dengan abadia dan menemui aneka ragam zaman. Lalu ia bernyanyi dengan kasidahnya; awalu th-thariq (pangkal jalan), sebagai berikut:
Sanamhu z-zamaana
Wa nansa l-makaana
Hunaka wa nuqsimu alla na’uudu
Ila amsina l-muntawiy 36).
(kan kami hapus zaman itu
Kami lupakan tempai itu
Disini dan kita bersumpah tidak ‘kan kembali
Ke hari-hari kita kemaren yang terlibat itu) – pen.
Thema-Thema dan Maut
Pada prinsipnya dalam zaman itu ada satu thema yang tak dapat diabaikan., ialah “maut”. Manusia seperti yang dilihat kaum wujudiyun, ialah makhluk yang tak dapat menghindar dari terkaman maut. Kebanyakan para pakar di timur secara kuno telah membuat ketetapan hal itu dan bermacam-macam arus pemikiran kaum Ighriq Kubra, serta kebanyakan kaum filosof secara modern mempunyai ketetapan tentang arus filsafat itu.
Hal kemestian ini, membias di dalam karya sastra dan dalam produktifitasnya, oleh kebanyakan masyarakat dunia. Ini pun terlihat pula menghiasi syair-syair arab mutakhir. Penyair Adones bernyanyi:
‘idzan is-alniy l-aan:
Maadza yumlaku l-ansaan ghaira mautihi? 37).
(jikalau begitu, kau bertanyalah pada ku kini:
Apa yang dimiliki manusia selain mati?) pen.
Disana pula penyair badar syakir assayyab memberikan pemahaman, bahwa kembali ke zaman kanak-kanak adalah mustahil. Tidak ada di depannya selain kematian (maut). Ia bernyanyi dalam kasidahnya: Jaikur Syaabat – jaifur yang telah membaur, sebagai berikut:
Wa haihaat maa lalshiba min rujuu’i
Inna madiyya qabriy, wa iniy qabrun maddiyyun
Mautn yamuddu l-hayata l-haziinata
Am hayatun tamiddur radiyya bi d-dumu-i 38)
(jauhi, sikap kekanak-kanakan, kembali sebelum pergi
Sungguh kuburku masa lalu, dan aku ini kuburan masa lalu
Maut menjegal hidup penuh depresi
atau sosok hidup membiarkan penuh linangan air mata) pen.
Penyair Khalil Hawiy mengungkapkan deraan maut. Dia berada dalam kawasan wujud yang gelap, adalah makhluk ciptaan yang di dalam darahnya mengalir maut. Ia merasaskan pahit getirnya di depan orang-orang yang selalu merupakan kemestian wujudnya. Khalil Hawiy bernyanyi dalam kasidahnya: Fi Jauful Hut (dalam lambung ikan paus) sebagai berikut:
Wa ana fil kahfi mahmumun dharir
Yutamaththa-l-maut fi a’dha-ihi
‘adhwan fa’adhwan, wa yamutu
Kullu ma a’rifuhu anniy amutu
Mudghatan tafihatan fi jaufin hutin 39).
(dan aku dalam gua badan panas kurus kering
Maut menggeliat di sekujur tubuhnya
Organ demi organ tubuh, dan membunuh
Semuanya, apa yang kukenali dia,
Bahwa aku sesungguhnya ‘kan mati
Sepotong daging hambar dalam perut ikan paus) pen.
Penyair wanita Nazik Almalaikah tidak melihat tempat pasti lari dari tempat pulang yang pasti ini. Lalu ia bernyanyi dalam kasidahnya:
Wa masy-yuna walakinal harakata Zhallat tatbi’una,
Wa s-samakata tukbir-tukbir
Hatta ‘adat fi hidhi l-maujati kal-imlaqi
Wa sharahat rafiqiy ayyu thariqi
Lina’udda faddarbu yudhiqu yudhiqu
Wa zh-zhulmatu mankamatu l-ighlagi 40).
(dan perjalanan panjang kita, tetapi
gerakan ini memayungi, mengikuti kita,
Dan seekor ikan ini bertakbir-takbir
Hingga kembali kepangkuan gelombang raksasa
Dan meminta pertolongan rekanku, yakni jalan
Memelihara kita dari makhluk-makhluk ini
Agar kita dapat memperhitungkan,
jalan perbukitan itu sempit-sempit
dam kelam itu mahkamah ketertutupan) pen.
Berikutnya bahwa thema positif menyingkirkan yang negative. Kita melihat para penyair kita tersenyum seketika untuk hari esok, dan mereka mewarnai karya mereka dengan cita. Inilah penyair Adones membentangkan kasidahnya:
A’linu l-aan
Akhtar hadza l-makan
Kalimatiy fu-us
Wa lishautiy syaklu l-yadain
A’linu l-aan anniy hithab hadza z-zamaan 41).
(ku proklamirkan kini
Pemilihan tempat ini
Kata-kata ku adalah baji
Dan bagi suaraku ada bentuk dua tangan
Ku proklamirkan kini, sesungguhnya
Aku percakapan zaman ini) pen.
Penyair Assayyab melihat hal-hal yang kontinuitas dalam wujud lain, setelah kematiannya, kasidah-kasidahnya yang dibentangkan adalah gambaran segala sesuatunya akan kekal dalam kaitan kehidupan. Assayyab berbicara dalam kasidahnya: Lailah Intizhar (malam penantian) sebagai berikut:
Satabqa hiina yabla kullu wajhiy, kullu idhlaa’iy
Wa ta-kullu qalbiya l-daidaanu
Tasyrabuhu ila l-qa’i
Qashi-idu…kuntu aktubuha liajliki fi dawaawiiniy
Ahbiha tahbiniy 42).
(kan kekal kau ketika seluruh wajahku, tulang rusukku hancur
Tradisi kan menelan kalbuku, kan
Meneguknya sampai luluh ke tanah
Kasidah-kasidah… kutulis karena kau
Putrid ada dalam antolojiku
‘kan kuberikan padanya, pasti dia ‘kan beri ku pula) pen.
Sampai-sampai assayyab berutopi dengan maut, ketika ia melihat kelahiran baru, dan terbuka bagi dunia lain. Penyair assayyab menukil kasidahnya: “lauyun maknis (pintalan yang tersapu)” sebagai berikut:
Wa ya laitaniy muttu, inna s-sa’id
Man aththaraha l-‘ib-a ‘an zhahrihi
Wa saara ila qabrihi
Liyulada fi mautihi min jaded 43).
(hai maut, kau bawalah aku. Sungguh yang berbahagia itu
Orang yang dapat melepas beban dari bahu
Dan dia berjalan ke kuburnya
Lalu bangkit lagi dari kematiannya
Jadi manusia baru) pen.
Demikian, kita memproduksi kembali, bahwa zamn itu benar-benar terjadi. Zaman itu selalu merupakan peristiwa penting yang secara essensial tumpah di dalam karya-karya sastra sajak-sajak. Karena sesungguhnya perkara zaman itu, intinya adalah pengalaman besar yang selalu setia menyertai manusia sejak dari azal (sononya). Makhluk ciptaan allah ini mampu mengatasi semua persoalan-persoalan sulit dalam kehidupan. Tetapi yang namanya zaman dalam konteks ini, penderitaan besar yang diselubungi kabut yang sulit di tembus. Ini pun akan tetap berlanjut. Jarang manusia yang berani membawa umpan pahit, dan jarang pula yang mampu melangkahi kegetiran dan kepahitan itu. Letupan di tengah-tengah keadaan dalam zaman itu melahirkan keperkasaan zaman itu sendiri, merupakan butiran syair, prosa, karya sastra dan seni lainnya.
Para seniman kreatif dialah yang bakal mampu menjelajahi kekerasan zaman dan menelusuri kekersangan sebuah tempat. Karena sesungguhnya pekerjaan kreatifitas itu dalam jati dirinya, gaungan pri kemanusiaan dalam wajah yang tak dapat diraba.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar