Jumat, 19 Juni 2009

Refleksi Kasus Ambalat : Pentingnya Kesadaran Geo-Historis

Oleh : Muhammad Ilham (Dosen Jur. SKI)

Hampir 70 %, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia belum diakui. Sehingga batas-batas teritorial yang berkaitan dengan (utmanya) laut, memiliki potensi besar dalam menciptakan konflik (Kompas, 3/3/2008). Ambalat hanya salah satu kasus yang muncul ke permukaan. Dari sejumlah masalah batas laut, penetapan yang paling cepat terwujud baru dengan Filipina. Selebihnya masalah yang dihadapi Indonesia begitu besar. Namun, tampaknya Indonesia tidak serius untuk menyelesaikan persoalan batas laut dengan negara tetangga.

Itu terbukti dengan berlarut-larutnya penyelesaian masalah itu. Menurut Sobar Sutisna, Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah Bakosurtanal, itu dikarenakan tidak ada pressure dari pihak terkait di pihak Indonesia.

Seandainya Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI tahun 1945 memutuskan wilayah negara Indonesia merdeka adalah pendapat Muhammad Yamin, bangsa ini akan lebih sulit menjaga kedaulatan teritorialnya daripada yang ada kini. Terobsesi oleh kejayaan Majapahit, tampaknya Yamin menginginkan wilayah negara Indonesia seluas wilayah kerajaan terbesar di Asia Tenggara, antara abad XIV sampai XV. Memang wilayah itu sampai ke Pattani, Thailand, dan Mindanao, Filipina. Jangankan yang seluas itu, dengan wilayah bekas Pax Nerlandica “saja” sudah begitu besar masalah perbatasan yang harus dihadapi. Ironisnya bangsa ini tidak menunjukkan kemauan kuat untuk mengatasinya. Mengapa demikian? Ditinjau dari aspek sejarah dan budaya, setidaknya ada tiga faktor.

Pertama, karena lemahnya, kalau tidak mau disebut “hilangnya” karakter dan orientasi kebaharian. Bagaimana sejarah bisa menjelaskan? Mungkin benar karena keunggulan VOC/Belanda setelah menghancurkan Gowa ditandai Perjanjian Bungaya (1669) mengakibatkan ketidakberdayaan nenek moyang bangsa ini di laut. Kedua, lemahnya kesadaran lingkungan geografis. Rendahnya kesadaran geografis bisa ditunjukkan minimnya pengetahuan mahasiswa tentang peta Indonesia. Pengetahuan geografi merupakan sarana awal memahami potensi dan daya dukung daerah terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Strategi pembangunan yang tepat dengan dukungan anggaran memadai untuk pengembangan provinsi berkarakter bahari (baca: kepulauan), khususnya di wilayah perbatasan, seharusnya menjadi prioritas utama. Ketiga, telah berjalan lama tidak terintegrasinya pembelajaran sejarah dan geografi dalam sistem pendidikan. Pembelajaran sejarah gagal menjelaskan keterkaitan antara dimensi “waktu” dan “ruang”. Suatu “peristiwa” (tidak hanya politik, tetapi juga sosial dan bencana) yang terjadi di suatu “tempat” tentu bukan suatu kebetulan. Di situlah kaitan kedua disiplin itu harus diberikan. Dengan ancaman terhadap kedaulatan teritorial, menjadi renungan bersama akan pentingnya kesadaran geohistoris.


Selengkapnya...

Sosiologi Kekerasan

Oleh : Muhammad Ilham (Dosen Jur. SKI)

Kasus Perang Aceh dengan Hikayat Perang Sabil yang termaktub dalam analisis antropologisnya (terdapat dalam buku yang diterbitkan INIS: Nasehat-Nasehat Snouck Hourgronje Jilid I - IX) Snouck Hourgronje memperkuat hal ini. Oleh karena itu, untuk ke depan, di samping menekankan pendekatan humanis terhadap ajaran Islam, kita juga harus menekankan jiwa humanis budaya-budaya di Indonesia. Karena bagaimanapun juga, seperti dalam setiap agama di dunia ini, setiap budaya lahir untuk menjaga dan mengembangkan peradaban ummat manusia (pernah dipublikasikan di www.padang-today.com & didiskusikan di PadangTV)

Salah seorang wartawan perang CNN legendaris, Peter Arrnet pernah meliput Perang Irak-Iran secara Live pada tahun 1982. Ia pernah melihat salah seorang ibu tua renta berdiri berjam-jam di stasiun kereta api milik tentara Iran. Peter Arrnet menanyakan siapa yang ditunggu oleh ibu tersebut. Si Ibu menjawab, "Saya menantikan anak kedua saya pulang dari front melawan "Yazid" Saddam Hussein, anak pertama saya telah syahid, mati di barisan depan agar pasukan pelapis bisa maju, sekarang saya menunggu dengan bahagia kedatangan anak kedua saya, hidup atau mati. Nanti saya berencana ingin mengirim anak bungsu saya yang sekarang telah berumur 18 tahun, keluarga kami adalah keluarga pejuang dan saya bangga karena rahim saya telah melahirkan para pejuang Iran dan Islam". Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today (1997, 2001 dan 2003) terhadap anak-anak Palestina dijelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Peter O'Gonnor White terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada di bawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala.

Berbagai usaha dilakukan etnis Tamil agar mereka bisa berpisah dari Sri Langka. Akan tetapi, usaha melalui jalur diplomasi dan kerusuhan-kerusuhan sporadis tidak membuahkan hasil. Akibatnya, mereka merasa kehilangan harapan. Maka jalan satu-satunya adalah mentradisikan bom bunuh diri secara simultan dengan harapan timbulnya ekses psikologis dan perhatian dunia. Sejak kecil para pemuda Tamil diajarkan sisi-sisi negatif etnis Sinhala dan "kaburnya" masa depan mereka. Militansi dan jiwa altruisme ditanamkan sedari kecil. Keputuasaan, hampir dalam berbagai kasus, selalu diakhiri dengan prinsip altruisme radikal dan dijustifikasi oleh nilai-nilai agama. Kelompok Radikal HAMAS di Palestina selalu mengatakan bahwa pengorbanan yang dilakukan oleh pemuda Palestina dalam meledakkan diri mereka bukan "kematian mubazir", tapi dalam konteks Islam menurut mereka kematian tersebut adalah syahid. Begitu juga dengan statement yang pernah diungkapkan oleh ulama muda syiah kharismatis Irak, Moqtada al-Shadr, yang mengatakan bahwa tindakan martyrdom yang dilakukan oleh kelompok perlawanan Irak terhadap Amerika Serikat di Irak bukanlah kesia-siaan, akan tetapi merupakan "jalan yang benar". Demikian juga halnya dengan apa yang dilakukan oleh MNLF di Filiphina ataupun pola diaspora terror yang dilakukan oleh Osama bin Laden. Keputusasaan terhadap ketidakberhasilan membebaskan Arab Saudi dan Timur Tengah dari Amerika Serikat, membuat Osama bin Laden "meluaskan" wilayah operasinya. Sama halnya dengan beberapa pejuang dalam sejarah setiap bangsa di dunia ini, Ia akhirnya merantau, keluar dari "relung sucinya" atau negaranya demi satu tujuan yang makro. Mungkin ini juga yang dilakukan oleh Azhari cs. dan Hambali cs, yang satu “melanglang ke Indonesia�, satu lagi ke Thailand dan Malaysia.

Ada sebuah artikel menarik dalam salah satu situs dunia maya� yang melihat perbandingan menarik antara Osama bin Laden dengan para pejuang-pejuang yang merantau dari negeri mereka sendiri. Belasan teroris yang menghantam Amerika pada 11 September, selain berpendidikan tinggi dan bermotif politik dan ideologis kuat, semuanya adalah perantau. Mereka pernah bermukim lama di negeri orang. Teroris atau bukan, para perantau cenderung membawa misi politik. Seringkali mereka membuat sejarah ketika mereka berkelana, atau berkelana untuk membuat sejarah. Tan Malaka, misalnya, yang diangkat anak oleh seorang pejabat Belanda dan disekolahkan di Haarlem, terbuai oleh Marxisme pada 1920an, giat di Eropa, lalu keliling Asia. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menguak bab sejarah untuk negeri lain: di Filipina dia memperkenalkan Marxisme. Tujuannya satu: eksistensi politis Indonesia. Ada pula yang membawa ide-ide chauvenis, otoriter dan semi-fasis, seperti Soepomo dan Ki Hajar Dewantara sekembali dari Belanda pada 1920an, atau Sarloth Sar (Pol Pot) dan Khieu Samphan, dua mahasiswa Kamboja yang sepulang dari Perancis menjadi arsitek negara-teror Khmer Merah pada 1970-an. Sementara di belahan dunia lain, Che Guevara mengembara dari tanah airnya, Bolivia, untuk berevolusi di Kuba dan Afrika. Perantauan, meski ragam, punya daya, ilham, tekad, dan dinamika tersendiri. Osamah bermimpi mewujudkan cita-citanya melalui LSM Al-Qaeda, tapi tak pernah memberi batasan apa dan di mana cita-citanya itu ingin diwujudkannya. Orang tak tahu dia berjuang untuk apa, siapa, dan negeri apa. Jangankan dibanding dengan Tan Malaka, bahkan dengan Khomeini-pun, pola Osamah amat berbeda dan terbelakang. Khomein punya target yang spesifik (Iran), Osamah tidak.

Secara sosiologis, cinta terbesar adalah cinta terhadap agama dan ideologi yang sering dipersonifikasikan dengan konsep fanatisme. Kecintaan terhadap agama mengalahkan kecintaan terhadap yang lain karena agama memiliki daya tarik luar biasa dengan justifikasi normatif religiusnya. Ingat, Surat-Surat Cinta Dr. Azahari kepada istrinya dan penggalan Surat (wasiat) Imam Samudra dalam bentuk Puisi beberapa hari jelang kematian dan eksekusi? Secara umum terlihat bahwa keputusan yang diambilnya tersebut merupakan bentuk kebenciannya terhadap Amerika Serikat dan sekutunya dan kecintaannya terhadap (menurutnya) eksistensi agama Islam. Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Ayip Firdaus dan Misno (pengakuan mereka secara lisan yang direkam dan kemudian ditayangkan di media massa Indonesia setelah CD-nya ditemukan oleh Densus 88 Anti Teror). Dalam rekaman "ucapan perpisahan" bagi keluarga mereka, baik Ayip maupun Misno seragam mengatakan bahwa tindakan mereka ini merupakan perwujudan dari kecintaan mereka terhadap agama Islam dan kemudian terselip ungkapan bersifat "investasi" yaitu "kesyahidan (menurut mereka) mereka adalah jalan bagi terbawanya 70 anggota keluarga mereka untuk masuk sorga".

Sosiolog Emille Durkheim mengatakan bahwa dalam kasus-kasus yang lebih altruistik, pelaku bunuh diri (baca: pengebom bunuh diri) menyimpulkan bahwa kehidupan mereka yang selamat lebih bernilai dibandingkan dengan kehidupannya sendiri atau bahkan kelangsungan hidup mereka bisa terjamin bila ada yang meninggal. Tipe seperti ini biasa terjadi dalam peran ketika seseorang mengobankan dirinya sendiri dengan harapan bahwa kawan-kawannya akan selamat. Banyak peristiwa-peristiwa tragis kepahlawanan yang pada akhirnya peristiwa itu memberikan inspirasi tentang kepahlawanan (terlepas dari salah atau benarnya). Prosesi "Minum Racun"nya Socrates karena keteguhan akan memegang prinsip justru memberikan inspirasi besar terhadap perjalanan filsafat pemikiran dunia setelahnya. Begitu juga dengan sang ana al haq al Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Mishio Torugawa, seorang petinggi militer Jepang pada masa Perang Dunia II, sebelum melakukan harakiri (bunuh diri bercirikan kultural a-la Jepang) mengatakan bahwa kematiannya merupakan "tumbal" untuk kejayaan Jepang pada masa yang akan datang. Demikian juga yang terlihat dalam peristiwa Puputan yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Rai di Bali dan kematian Robert Walter Monginsidi. Di Filiphina, hal ini bisa terlihat dari Jose Rizal. Kemudian juga terlihat dari apa yang diungkapkan oleh "Singa Padang Pasir" dari Libya Omar Mochtar sebelum menuju tiang gantungan yang dipersiapkan oleh penjajah Italia.

Standar kultural dan kepercayaan mungkin membawa seseorang untuk siap melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti. Hasil dari tindakan ini adalah terjaminnya keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Mereka dapat hidup dengan kebanggaan dan harapan. Faktor budaya sangat memegang peranan yang signifikan dalam melahirkan anggapan ini. Bagi kultur masyarakat Jepang klasik dan Palestina hingga saat sekarang, jiwa altruisme dengan bentuk tindakan bom bunuh diri (dengan embel-embel demi negara dan agama tentunya) justru meninggalkan kebanggaan individual-komunal. Dari sudut pandang sosiologi, menurut Emille Durkheim, fenomena terorisme dan bom bunuh diri tersebut merupakan suatu fakta sosial dan bukanlah fenomena individual. Untuk mengantisipasinya, maka harus dicari penyebab yang juga merupakan fakta sosial. Dalam konteks ini, berbagai fenomena terorisme dan bom bunuh diri terjadi karena adanya pemahaman norma-norma religius yang destruktif, perilaku tidak adil dalam realitas sosial dan lain-lain yang bersifat diskriminasi struktural. Oleh karena itu, perlu para "pemegang otoritas" agama (Islam) untuk kembali memikirkan pola dakwah, pendidikan dan pendekatan terhadap transformasi ajaran Islam tersebut kepada ummat Islam itu sendiri. Pertanyaan logis yang mengedepan di benak kita harus dengan jujur untuk kita jawab yaitu: Mengapa ummat Islam memiliki potensi besar melakukan tindakan teror ? Mengapa para pelaku teroris di Indonesia tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan pondok pesantren?

Kedepan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya ummat Islam Indonesia, harus menekankan pendekatan yang humanis, hubungan dengan Tuhan juga berkorelasi erat dengan hubungan dengan manusia serta penekanan terhadap ajaran bahwa manusia yang Islami dan disayang oleh Allah SWT. adalah manusia yang menjaga peradaban dan ciptaan Allah. Di samping itu, diskriminasi dan ketimpangan sosial harus sedikit demi sedikit diperbaiki. Keadilan harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Rasa persaudaraan antar ummat beragama perlu dikembangkan dan dianggap perlu, bukan dilestarikan. Bila dilihat secara historis, budaya kekerasan ada dalam setiap budaya di Indonesia yang kadang-kadang dijustifikasi oleh ajaran agama (Islam).

Selengkapnya...

Karya Taufik Ismail Dalam Khazanah Kesusasteraan Islam Indonesia

Oleh : Drs. Yulizal Yunus, M.Si (Dosen Jur. BSA)

Karya Taufiq Ismail genre syair munasibat (occasional poetry), sarat nilai religius. Dalam perspektif religiositas sastra ini menempatkan karyanya pada posisi signifikan dalam khazanah kesusasteraan bagian dari al-fann al-islami (الفن الأسلامي/ seni Islam). Religositas sastranya memamsuki dimensi profetik yang sufistik, mengandung majmu’atun min al-mau’izhah wa l-hikmah wa l-irsyad (sekumpulan nilai pengajaran yang indah, hikmah dan panduan ke arah jalan yang benar).

Abstrak

Keagungan sastra Taufik terletak pada pengisian bahasa naratif dengan pengalaman religius yang cukup kaya melampaui derjat diskriptifnya terhadap fenomena. Nilai Islami pada puisinya tidak terletak pada kata-kata simbol Islam, tetapi keagungannya terletak pada makna ajaran dan keindahan narasi, ada banyak di dalamnya hikmah dan isyarat-isyarat pemahaman ke-Indonesiaan dan ke-Islaman yang benar. Dari perspektif kedalaman Taufik menyelami peristiwa akmbn (aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara) untuk bahasa politik dan diskripsinya dalam narasi diisi makna religiositas sastra yang dalam pada puisinya menempatkan Taufiq pada posisi penyair Islam terbesar di awal abad ke-21 ini.


Pendahuluan
Tak dapat dipungkiri Taufiq Ismail sebagai “seorang penyair” menempati status (kedudukan) terpandang dalam sejarah kesusasteraan Islam Indonesia modern. Karya sastranya diklasifikasi refrensi dan bergegsi ditempatkan pada etalase refrensi khazanah Kesusasteraan Islam tepenting. Di antara alasannya dari perspektif perkembangan kesusasteraan Islam di Indonesia karya sastra Taufiq khusus genre syair munasibat (occasional poetry) menunjukkan ciri spasifik dibanding sastra kitab dan syair yang digubah para ulama tradisional ahli metafisik yang sufistik dan intelektual yang menyair puisi profetik lainnya di abad ini.
Dalam tradisi bersastra khusus genre puisi, nilai Islami yang ditawarkan Taufiq berbasis pengalaman religius yang kaya sejak kecil. Ia tidak serta merta menggunakan bahasa ramziyah (/ رمزيةsymbol) Islam dan tidak pula memasang title dan thema Islami namun sarat dengan makna Islami. Dipastikan Taufiq mempunyai cara berbahasa yang khas. Kalau Dr.Thaha Mahmud Thaha (1966) menyebut sastra agung itu hanya pada bahasa yang sarat makna melampaui derjat yang jauh, maka keagungan sastra Taufik terletak pada cara menggunakan bahasa dalam mendiskripsi, menceritakan fenomena dominan politik dan mengisinya dengan pengalaman religius.
Puisi Taufiq menunjukan corak tersendiri dalam menyikat esensi kehidupan politik. Ia menuangkan shurah (صورة/ imajinasi), athifah (عاطفة /perasaan(, fikrah (فكرة/ide( dan pengalamannya dapat membuai penikmat sastra bahkan membawa lebih jauh masuk ke dalam dirinya seolah telah berada dalam peristiwa politik mulai sejak orde lama, orde baru dan era reformasi. Kalau tidak ada ditemukan berita tentang masa lalu itu, rasanya puisi Taufiq cukup mewakili mewartakan masa lalu yang tak kering dengan esensi politik.
Mengenai bentuk puisi politik Taufik ini juga dicatat Aguk Irawan Mn (Sinar Harapan, 2004), katanya “dalam bersastra, karya Taufik memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan politik. Bahkan Taufik sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial dengan hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, B. Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito dan penulis-penulis lain, maka Taufik sebagai sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik”. Namun keagungan sastra puisi politik Taufiq itu di sana sini penuh dengan esensi penyadaran kepada nilai-nilai Islami. Dimungkinkan nilai Islami yang dimunculkan Taufiq dalam puisinya dapat sebagai kontrol dalam hiruk pikuk kehidupan yang nyaris dipanglimai oleh politik.
Nilai sastra Islami yang dimaksud mengutip M.Quthub (dalam Yulizal, 1999) adalah kombinasi nilai pengajaran yang indah (mau’izhah/ موعظة), hikmah (حكمة) dan arah yang lurus menuju kebenaran atau irsyadah (ارشادة). Seni sastra Islam itu seperti menyaratkan 3ka yakni estetika, erotika dan etika. Kalau estetika saja bisa terjebak l’art for l’art atau fann li fann ( فن لفن/ seni untuk seni ), demikian pula kalau hanya estetika dan eritika saja tanpa etika bisa terjerembab kepada fornografi, artinya etika atau akhlak dalam bersastra merupakan kontrol tersosialisasinya mau’izhah, hikmah dan irsyadah dalam puisi politik Taufiq. Pemikiran ini dapat digambarkan sbb.:














Dalam event Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia, saya seperti teman-teman kritikus sastra lainnya diminta mempresentasikan makalah membahas “Karya-karya Taufiq Ismail dalam Khazanah dan Perkembangan Kesusasteraan Islam di Indonesia” pada seminar di Studio TVRI Sumatera Barat Padang, siaran langsung jam 17.00-18.30 wib, 28 Mei 2008.
Dalam presentasi ini saya membatasi diri, melihat karya sastra Taufiq Ismail genre puisi dan posisinya yang signifikan dalam khazanah kesusasteraan Islam serta perubahannya dalam dimensi perkembangan kesusasteraan Islam di Indonesia bersamaan dengan pilar sejarah bangsa (orde lama, orde baru, dan era reformasi). Melihat posisi syair Taufiq dalam khazanah kesesusastraan Islam dimungkinkan mempersandingkannya dengan puisi yang digubah para ulama dahulu dan intelektual Islam yang menyair di abad-abad modern ini. Melihat bentuk puisi Taufiq dalam perkembanbangan kesusasteraan Islam di Indonesia, dapat dimunculkan dalam bentuk perubahannya dalam lima setengah dasawarsa.

Ulama dan Taufiq Ismail dalam Khazanah Kesusastraan Islam
Menarik memperhatikan proses kreativitas Taufik Ismail kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 dan selama 55 tahun dalam sastra Indonesia dan sudah cukup banyak mengantongi penghargaan sastra tingkat nasional dan internasional. Ia melahirkan karya sastra yang tak bisa dilewatkan begitu saja oleh analis sastra, mahasiswa sastra Islam dan penikmat sastra lainnya. Justeru karya sastra Taufiq genre puisi peristiwa, posisinya amat signifikan dalam khazanah kesusasteraan Islam. Dari perspektif puisi peristiwa dengan elegi Taufiq kalau tidak melebihi, setara dengan rasa` (رثاء) penyair besar Arab Adonis (lahir 1930) dewasa ini.
Kepenyairan dan syair-syair Taufiq ini selama proses kreativitasnya sejak 55 tahun lalu sampai era reformasi Indonesia ini, dalam perspektif historis sastra di Indonesia mengingatkan kita kepada tradisi kepenyairan tokoh agama menulis syair yang sangat-sangat washfiyah (وصفية - diskriptif) memotret dan menarasikan fenomena dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Dahulu seperti ditemukan pada sejarah ulama di daerah kelahiran Taufiq sendiri Minangkabau (Sumatera Barat), ulama banyak menulis sastra kitab termasuk syair bernafaskan Islam. Kelebihan karya sastra mereka -- genre syair (puisi)-- di samping mengajarkan Islam dengan cara bersastra, juga intens menggerakkan sosialisasi nilai sub kultur Minangkabau – adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah— dan sangat profetik. Sampai awal reformasi Taufiq juga menawarkan genre syair yang sarat dengan nilai Islami. Antara ulama dan Taufiq dapat digambarkan sbb.:











Nilai Islam yang ditawarkan Taufiq dalam bentuk sikap tidak menyukai budaya al-khadzb (الكذب /dusta) dan fenomena hilangnya budi pekerti mulia (al-akhlaq al-mahmudah/ الأخلاق المحمودة ) di bawah payung (tema) iklim budaya politik tak menentu di tanah airnya, lihat baitnya dalam “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998) yang mirip syair hija` (هجاء) Arab sbb.:

“…ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak…”

Demikian pada kepenyairan Taufiq Ismail tidak dapat diabaikan, seperti karya sastra para ulama itu, deras menghembuskan semangat "profetik", yakni kombinasi nilai dimensi sosial dan dimensi transendental. Namun Taufiq memperlihatkan ciri spasifik dalam kepenyairannya, di antaranya dalam menyair kedalaman makna bahasa sudah menjadi pertimbangan dalam mendiskripsi fenomena. Lihatlah berangkat dari fenomena bangsa ini betapa Taufiq amat dalam memberi penyadaran makna kalimat “ lailahaillallah – لاإله إلاالله” dalam kaitan berbagai musibah meski tidak memakai symbol kata itu dalam syairnya "Ketika Burung Merpati Sore Melayang" (1998) berikut ini:

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Nafas sastra profetik (memakai istilah Kuntowijoyo) seperti ini sebenarnya sudah sejak lama merupakan akar budaya nusantara lalu tenggelam. Sekarang muncul lagi dalam bentuk baru dan menjadi ciri post modern. Dalam corak baru sendiri sastra profetik ini dimunculkan Taufiq Ismail seperti penyair Islam lainnya di Indonesia. Kenapa karya sastara ulama menaruh nilai Islami yang tinggi dan sangat profetik sufistik?. Justeru para penggubahnya ialah para ulama ahli "metafisik" Islam dan mendalami metafisik Islam. Dalam lintasan kepengarangan sastra dan ulama, sejak lama telah melahirkan dan memunculkan tokoh, sebutlah seperti Jalaluddin Rumi, Fariduddin Attar, lbnu 'Arabi, Abu 'Athahiyah, Maarri, Ibnu 'Atha, lqbal, juga ulama Indonesia Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Chatib Ali Al-Padani, Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi (Syeikh Bayang), Sulaiman Arrasuli (Inyiak Candung) dll. Mereka ialah ulama sufi yang dekat dengan tradisi bersastra, merupakan sumber ilham bagi ulama lainnya menghubungkan tradisi beragama dengan tradisi bersastra.
Fenomena tadi pun dicatat Abdul Hadi (1985:vi dalam Yulizal, 1999) bahwa ulama dapat menghubungkan tradisi keagamaan dengan tradisi bersastra. Hal itu dimungkinkan karena karya sastra ulama memancarkan kesahduan sufistik bahkan mencerminkan "higher sufistik". Ada kesadaran yang tinggi, sastra itu mempunyai nilai keindahan (جمال /estetik) dan berpotensi sebagai canel (wasilah/ وسيلة) mencapai Tuhan.
Keindahan yang ada pada manusia adalah tiruan dari masternya Tuhan. Mengacu teori mimetic Plato dan Aristoteles, bahwa seni yang kaya dengan keindahan adalah mimesis/ muhakah (محاكاة /mimetik, tiruan) dari kenyataan sehari-hari. Kenyataan dan kehidupan sehari-hari merupakan tiruan pula dari kenyataan tertinggi yang disebut dunia ide dan gagasan, sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Artinya, alam ide yang merupakan kenyataan tertinggi di tangan Tuhan itu adalah master, sedangkan kenyataan sehari-hari adalah gandaanya. Dimisalkan manusia membuat kursi yang merupakan salah satu perwujudan seni rupa wujud pahat, adalah tiruan dari masternya, di mana Allah swt. punya Al-'arsyistawa/ tempat bersemayam-Nya (QS 20:5). Pan¬dangan tentang dunia ide/ gagasan tertinggi yang dianut Aristoteles berbeda dengan Plato. Aristoteles melihat, keindahan dalam karya seni bukan sekedar mimetik (tiruan) seperti yang dianut Plato, tetapi adalah kemampuan pesona yang dapat dikembangkan untuk memperluas cakrawala dan khazanah manusia melebihi kenyataan sehari-hari. Tetapi kedua tokoh ini menempatkan seni di atas dari fenomena kenyataan sehari-hari dan keindahan merupakan esensi seni termasuk sastra.
Keindahan dalam karya sastra menurut Plato, mengacu kepada dunia ide. Dunia ide mengacu sifat Ilahi (Tuhan). Berarti keindahan mengacu kepada keindahan Tuhan. Pandangan ini sejalan dengan Muhammad Quthub (1973:7 dalam Yulizal, 1999), menyebut keindahan itu adalah "hakikat al-kaun" (حقيقة الكون/kenyataan/ realita alam) dan puncak keindahan itu adalah al-haq (الحق /kebenaran). Berarti keindahan adalah ide, lahir dari akal yang jernih. Kebenaran adalah sesuatu yang dapat diterima akal dan logis secara mutlak dimiliki oleh Tuhan. Karena itu pula keindahan dan kebenaran merupakan unsur penting dalam seni, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan unsurnya yang lain. Keindahan dimaksud adalah indah yang menaruh kebenaran, tetapi sesuatu yang indah tidak menaruh nilai kebenaran tidaklah dapat digolongkan dengan keindahan dari perspektif seni Islam. Karena itu pula Bahauddin Al- Amiry (1982) beralasan mengatakan, bahwa al-haq (kebenaran) merupakan unsur penting dalam karya seni yang dicontohkan dalam karya seni jenis sastra genre syair.
Kalau ada budayawan atau da’i yang menolak hubungan seni dengan Islam dan Tuhan, tentulah dapat dipahami, bahwa prinsip mereka berangkat dari sisi pandangan relatifitas dan mungkin beraliran l’art for l’art. Mungkin mereka berangapan, keindahan secara mutlak berada di tangan Tuhan, sedang¬kan keindahan yang ada pada alam termasuk manusia, keindahan itu relatif bagian terkecil (dari kemahaindahan Tuhan) dan boleh lagi dintervensi agama dan etika. Islam adalah agama besar yang diredhai. Mereka menganggap Islam itu hanya berhubungan dengan Tuhan. Di dalam beribadat sebegitu jauh mereka tidak melihat ada hubungannya dengan seni. Shalat misalnya tidaklah diperlukan musik pengiring, tetapi yang diperlukan intens atau apa yang disebut istilah khusyuk.
Di dalam Islam mende¬katkan hubungan dengan Allah memerlukan keindahan sebagai unsur penting dalam seni, karena Allah itu Maha Indah (Jamil/ جميل). Ulama membangun istana indah di kalbunya terekspresi dalam tutur kata yang indah seperti doa dan syair sebagai ekspresi keindahan untuk mencari Tuhan Yang Maha Indah seperti juga lewat tariqat yang dianut dan dibelanya.
Sebelum Islam datang, manusia telah mempunyai kekayaan budaya juga. Kedatangan Islam pun tidak meniadakan kebudayan yang ada, tetapi memberikan perubahan, inovasi, rehabilitasi dan sebagainya. Yang tidak baik diperbaiki dan yang baik direkayasa dan disarati dengan nilai yang diredhai (Islami). Karena itu pula kebudayaan, khususnya seni dengan esensi keindahannya merupakan refleksi (pantulan) Islam dalam aspek kebudayaan. Islam menjadi sumber kebudayaan, khususnya seni dengan esensi keindahan. Akidah dan seni bertemu dalam jiwa muslim yang intens. Karena kata Muhammad Quthub, tashauwur Islami (تصور إسلامي /penci¬traan Islam) dalam seni dimulai dari hakikat ilahiyah (حقيقة إلهية) yang kemudian melahirkan segala wujud. Kemudian bersamaan lahirnya wujud itu, muncul bermacam-macam bentuk gambar dan puspa warna dari wajud yang ada dan ekspresi indah melalui kata-kata kemudian menjadi sastra. Ini merupakan 'inayah (عناية) secara khusus kepada manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Allah memberikan lapangan yang luas dalam seni termasuk gambar sebagai seni rupa yang indah. Semua itu kembali kepada semua wajud yang ada. Wajud yang ada itu kembali kepada hakikat ilahiyah. Karena hakikat ilahiyah itulah masternya dan gan¬daanya harus kembali pada master.
Ternyata amat diperlukan penghayatan estetik yang dalam mencapai dimensi transendental. Karya seni yang jauh dari keindahan transendental, disertai pula lemahnya akidah, pengetahuan agama dan pengalaman religius yang rendah, maka pada giliranya seniman dalam berimajinasi dalam menuangkan ide dan pengalaman estetiknya sering terperangkap dalam suatu dilematik. Agaknya persoalan ini yang menimpa "Langit Makin Mendung" Ki Panji Kusmin yang memenjarakan HB.Yasin dan mengundang Hamka dan Bahrum Rangkuti berpolemik a lot. Hamka dan Bahrum pun diserang. Aksi menyerang ulama pengarang seperti Hamka sudah berlangsung sebenarnya tahun 1962 sebelum lahirnya Manifes Kebudayaan ditandai lahirnya Lembaran Kebudayaan Lentera Surat Kabar Bintang Timur pimpinan Pram, tahun 1962.
Berbeda dengan Najib Mahfuzh sastrawan Mesir yang meraih hadiah Nobel 1988 lalu, berimajinasi jernih dilandasi akidah yang kuat meski dalam saat tertentu di negerinya dimarjinalkan juga karena dicap `ilmaniyah (علمانية/sekuler). Dalam ceritanya Masjid di Lorong Sempit, ia seperti menempatkan iman yang kuat di atas segala-galanya dalam karya sastra. Ia menarasikan seorang pelacur yang punya setetes iman “bila masuk masjid aman”, tapi benar-benar diimaninya, dapat menyelamatkan dirinya di dalam masjid, dibanding seorang pimpinan mesjid Abd.Rabuh (imam dan da’i) yang tidak ikhlas dan imannya rapuh, mati dalam keadaan marah pasca pidatonya yang berapi-api mengusir mengusir pelacur yang terpaksa masuk masjid untuk berlindung dari ancaman bombardier pesawat tempur. Pelacur tetap tenang dan aman dalam masjid, karena ia yakin siapa yang masuk masjid aman, sementara iman karena jijik dengan pelacur disebutnya haram di gang sempit itu, ia lari ke luar masjid dan langsung disambar serpihan bom dan mati.
Esensi akidah dalam sastra, panjang lebar pernah saya urai dalam buku “Sastra Islam di Indonesia (1999)”. Dijelaskan ketika seniman melakukan proses kreatifitas dan akidah imannya rapuh, maka lahirlah karya seni (rupa, gerak, suara/ sastra) yang bisa terperosot kedalam fiqh al-batin (kode prilaku) menodai Tuhan.Terkadang agamanya terjual karena "nawaitu" yang kurang baik, dalam merebut fasilitas dari para pihak yang mungkin zalim. Dalam keadaaan seperti ini tidak lagi dapat dimasukan ke dalam seni dan keindahan yang bersumber dari Tuhan, bahkan justru membahayakan akidah dan agama. Kalau membahayakan akidah tentu dilarang dan banyak ulama mengharamkan. Karena seni seperti itu boleh digo¬longkan kepada "lagha" (perkataan sia-sia). Di dalam paham awam perbuatan seperti itu adalah prilaku jahil dan Islam menganjurkan sebaiknya ditinggalkan (QS AL Qashah:55). Untuk contoh kasus ini misalnya seorang penyanyi, yang nyanyinya berlainan dengan perbuatannya maka hasil yang diperolehnya diharamkan oleh Nabi Muhammad saw (Nailul Authar VIII:100), karena dipahami pebagai perbuatan nifaq (kemunafikan) dan penyanyinya digolongkan munafik.
Perinsip Islam kokoh dalam akidah dan syari'atnya, memadukuatkan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, dalam arti profetik kokoh memadukan nilai dimensi sosial yang provan dan dimen¬si transedental memperjelas arah religiositas. Ulama pengarang seperti juga Taufiq memiliki kesadaran profetik yang cukup luas. Bait ulama misalnya lihatlah "NTS" (Nazam Thalub Al-Shalah) Muhammad Dalil Bin Muhammad Fatawi sbb:

Orang meninggalkan sembahyang tiap hari
Di atas dunia disiksa ilahi
Sepuluh perkara siksanya diberi
……
Sempurna wudhu' baik sembahyangnya
Apabila mati diterima amalnya
Di dalam kubur lelapnya senang

Taufiq dalam penyadaran ibadatnya mempunya syair “Sajadah Panjang”, lihat baitnya yang dipopulerkan group musik Bimbo ssb:
….
===
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud
di atas sajadah yang panjang ini
diselingi sekedar interupsi
=====
Reff:
mencari rejeki, mencari ilmu
mengukur jalanan seharian
begitu terdengar suara adzan
kembali tersungkur hamba
======
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan ruku’
hamba sujud tak lepas kening hamba
mengingat DIKAU sepenuhnya

Dari bait tadi penyair bagaikan penyampai ajaran Nabi. Lihat pula penyadaran religius dalam bait-bait Jalaluddin Rummi sebagi berikut:

……
Lakukanlah pekerjaan dari diri ke dalam diri
Karma dengan perjalanan semacam itulah
bumi akan menjadi tambang emas
…….

Lain pula penyampaian pengalaman religius lqbal dalam baitnya berikut:
Apa arti hari-hari dan malam-malam mu
Jika bukan pekerjaan waktu tanpa siang dan malam

Kau adalah karya manusia yang beroleh rahmat Tuhan
O.. masjid kurtubah, keberadaanmu berasal dari cinta
Umat Islam takkan sirna sebab ia punya ajaran kekal

Terasa sekali pengalaman religius penyair dan ulama penyair mempunyai esensi higher sufisme yang sangat profetik. Ahli metafisika muslim biasa menulis sajak. Seorang sufi sebenarnya dapat menjadi seorang seniman yang terpikat oleh keindahan (Rusli Marzuki Saria 1988:6 dalam Yulizal, 1999). Fenomena syair Indonesia yang memancarkan kesyahduan nilai Islami dan tak mengabaikan sufistik sampai sekarang di Indonesia merupakan trend baru dalam perkembangan sastra modern di Indonesia era post-modernism.

Posisi Taufiq dalam Perkembangan Sastra Islam di Indonesia
Sastra Islam di Indonesia, diperkirakan telah ada sejak ma¬suknya Islam ke Indonesia. Abad ke 7 (sekitar tahun 669). Fakta social historis ada disebut-sebut kerajaan Islam di Sabak (kerajaan Islam di Timur Minangkabau) ketika itu diperintah Sri Maharaja Lokita Warman, telah didatang ekspedisi Daulat Umaiyah dengan 28 kapal. Di Sabak ini ekspedisi Umaiyah mulai membebaskan rakyat dari buta huruf, bersama raja yang berhasil di-Islam-kan, ialah dengan mencanangkan wajib pandai baca tulis huruf Arab, yang kemu¬dian dikenal dengan "Arab Melayu".
Salah satu bukti sastra telah berkembang bersama masuknya Islam adalah terdapat indikasi, bahwa Islam itu mudah dan merasuk ke kalbu masyarakat. Para pembawa Islam ketanah air mengajarkan Islam tidak dengan kekerasan, tidak dengan pidato berapi-api mengambinghitamkan para pihak yang belum menunjukkan keislamannya dengan benar, tetapi melalui sentuhan bathin, komunikasi sambung rasa dan perasaan estetik membawa penganut lebih jauh masuk kesubstansi Islam. Artinya dakwah dilakukan tidak dengan kekerasan tetapi dengan komunikasi sambung rasa, yakni komunikasi estetika seni. Banyak para muballigh dalam menyiarkan Islam mengunakan bahasa sastra (Drs. Amron Parkamin dkk, 1973, 2:68). Tidak sedikit cerita yang bernafaskan Hindu disalin dan disisipi nilai-nilai Islam, yang berakar dari akidah dan syari'ah yang benar. Cerita disuguhkan sebagai sarana penyiar¬an Islam, mudah dicerna dan tanpa dipaksakan, dengan sendirinya akidah tertancap dalam di dada masyarakat, nilai syari'at terpatri di kalbu dan lahir dalam perilaku dan amal perbuatan masyarakat, sehing¬ga tanpa disadari pula penikmat seni yang diberi nafas Islam itu beru¬bah dari pemeluk non muslim menjadi Muslim yang kuat tauhid dan baik syari'atnya. Secara kongkrit, penyair Islam memakai alas komunikasi bahasa sastra dalam wujud kesusas¬traan, seperti syair (puisi), hikayat (conte), riwayat (novel) dan seba¬gainya.
Sastra dipergunakan sebaik-baiknya sebagai bagian media dakwah. Banyak karya sastra lama yang non muslim yang di¬sipi nilai-nilai Islam yakni nilai aqidah dan syari'at Islamiyah, seperti cerita roh yang pulang ke rumah setiap petang kamis malam jum’at. Dengan cara itu masyarakat (sekaligus penikmat seni) mudah menerima aqidah dan syari'at Islamiyah lalu memeluk Islam sebagai agamanya, yakni menukar agamanya dari non Islam ke Islam meskipun belum kaffah.
Di antara fakta sosial, sastra Islam telah mulai dibina abad ke-7 itu cerderung bentuk sastra kitab. Satu di antaranya tercatat Kitab Badr Al-Hikam. Kitab ini ditulis dengan bahasa Arab Melayu oleh Sayid Badaruddin (seorang ulama yang datang dari Hadramaut tahun 1050) setelah mendirikan pesantren di Kuntu. Kemudian abad ke-14 tahun 1380, terdapat pula teks syair yang bernafaskan Islam, yakni ditulis pada batu nisan tua di Minye Tujoh, Aceh. Sya'ir itu ditulis dalam bahasa Sumatera Kuno, dengan mempergunakan motif huruf (Arab Melayu. DR.W.F. Stuterheim dan DR.C. Hooykaas (1951) memcatat sya'ir yang bernafaskan Islam itu (Raihoel Amar Datoek Besar dalam Yulizal, 1999). Syair ini mengisahkan kematian seorang penguasa yang memimpin Kedah dan Pasai, tahun 1380 M (781 H).
Sya'ir yang tertua setelah teks yang terdapat pada batu nisan tua di Minye Tujoh Aceh itu, adalah sya'ir-sya'ir yang ditulis oleh Hamzah Fansuri. la merupakan seorang penyair sufi tertua, hidup pada masa Sutan Iskandar Muda (1606-1636). Jalan hidup dan karyanya banyak dipengaruhi ulama sufi, seperti yang banyak disebutnya a.1 : Al-Junaid, Al-Halaj, Jalaluddin Rumi, Syamsu Tabriz, d1l. Pengaruh ini terlihat di dalam karya sastranya, terutama sya'irnya yang bercorak ruba'i (رباعي) dan masnawi (مثنوي).
Karya sastra dalam bentuk puisi lama yang berakar dari kebudayaan Indonesia purba seperti dongeng dari mulut ke mulut, sastra pengaruh agama non Islam, diberi nilai serta disarati nafas Islam. Juga besar pengaruh Persia, Arab, karya sastra yang bersifat sejarah, cerita-cerita panji, kitab-kitab yang, bersifat undang-undang dan hukum, disalin untuk memperkuat sastra bertendens dapat digunakan sebagai sarana dakwah. Tidak sedikit karya sastra yang bernafaskan Islam dan melahirkan sederet nama sastrawannya, antara lain Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatran, Syeikh Nurud¬din Al-Raniri, Abdul Rauf Al-Singkel, Amir Hamzah, Muhammad Ibnu Ahmad Kemas (1719-1763), Abdus Samad Al-Palembani, Kemas Fachruddin, Daud Ibnu Abdillah Ibnu Idris Pattani dll. Karya sastra yang terkenal diantaranya Kitab Seribu Masalah, Riwayat (story) Nabi-nabi, sebelum Muhammah saw. Hikayat tentang Nabi Muhammad, Hikayat tentang Para Sahabat dan Pahlawan Islam, hikayat tokoh seperti syair hikayat Amir Hamzah dsb. Termasuk karya ulama-ulama seperti "Gurindam 12" oleh raja Ali Haji (1844-1857) dan syair-syair ulama Minangkabau seperti Darul Mawa'izah dan Talabu Al-Shalah puitisasi Muhammad Dalil (Syeikh Bayang), syair syeikh Muhammad Taher Jalaluddin Al-Falaki, syair Yusuf dan Salehan oleh Syeikh Sulaiman Al-Rasuli, syair Muhallil karya Dr. Haka (ayah Hamka), syair Burhan al-Haq karya Syeikh Chatib Muhammad Ali Al-Padani, syair Nahu, syair "Nabi Bercukur" dan "Nazam Kanak Kanak" karya Labai Sidi Rajo Sungai Puar; "Kota Pariaman" yang mengisahkan riwayat ulama Syeikh Muhammad Jamil, pembawa Naqsyabandi ke Pariaman, Hikayat Hasan Hosen yang melatari kisah "Tabut Pariaman" dll.
Melihat kekayaan sastra lama dan baru, semestinya mahasiswa terajak untuk mempelajari sastra Islam di samping sastra Arab dan Inggiris dll., tidak boleh membiarkan lewat begitu saja, termasuk puisi karya Taufiq Ismail. Semestinya menjadikannya bahan utama dalam kajian sastra Islam di Indonesia. Karena dalam pandangan saya puisi lama dan baru serta modern seperti karya Taufiq ini ditempatkan pada posisi penting dalam perkembangan kesusasteraan Islam di Indonesia di era post-modernism ini. Perhatian seperti ini berpotensi menemukan substansi nilai Islami dalam sastra lama, sastra baru dan sastra modern dan merekat mata rantai sejarah sastra yang hilang. Ia menyebut sastra Islam sebagai sastra zikir. Taufik dalam perjalanan sastra Islam di Indoensia dapat digambarkan sbb.:



















Dinilai Taufiq Ismail, dkk berpotensi menyambung mata rantai yang hilang itu. Karena penyair besar nasional kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 ini, juga pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968), berobsesi mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi itu, sudah melahirkan puisi agung cukup banyak dan menempati posisi penting kaya esensi kebangkitan dan perubahan dalam perkembangan sastra Islam di Indonesia. Di dalamnya kaya nafas Islamnya, kekuatannya bukan pada simbol-simbol Islam tetapi pada bahasa naratif mensosialisasikan nilai-nilai Islam dalam diskripsinya yang detail tentang fenomena tiga zaman (menyambung tradisi bersastra ulama pengarang) yakni orde lama, orde baru dan era reformasi. Secara kategoris melihat gaya yang sangat diskriptif dan detail, terkesan mengurangi kedalam makna bahasa, tetapi kalau mencermati cara Taufiq mengekspresikan perasaan, pengalaman, imajinasinya terasa kaya dan menawan penikmat seni lebih jauh membawa masuk kedalam dirinya dan suasana peristiwa politik yang dinarasikan dan didispsikannya itu.
Mungkin Taufiq tak seseru Chairil yang menerjang-nerjang menyuarakan anti kolonialism, atau tak sekental ulama membahasakan Islam mulai dari symbol, ajaran sampai kepada thema tetapi Taufiq punya cara sendiri mengikis segala bentuk penjajahan dalam puisinya meskipun dengan elegi/ ratapan yang terasa melankolis. Ada perubahan dari tradisi bersastra dibanding ulama dalam menyuarakan Islam dan dengan asas tauhidnya lahir sastra zikir nama lain dari profetik atau sastra Islam, ia kuat melawan mulhid (ملحد/atheis) yang dihembuskan marxisme dan cucunya Lekra/ PKI dkk. Ideologi atheis itu merasuki budaya bangsa, menimbulkan iklim prahara budaya bangsa (baca DS.Moeljanto dan Taufiq Ismail, 1994).
Pandangan berbeda dan kritik dimunculkan Aguk Irawan MN (2004), ”Ketika Indonesia Dihormati Dunia” disebutnya, Taufik menunjukkan ratapan yang dahsyat dan merindui masa lalu yang sudah tenggelam. Taufiq disebut pula memerankan tokoh dalam kehidupan tanpa opsi dan solusi. Sastra yang seharusnya sebagai ruang pertemuan antara batin dan kenyataan, kandas di jalan mengacu Rene Wellek, Aguk menyebut Taufik gagal memakai medium bahasa untuk institusi sosial. Juga mengacu Teeuw sastra jenis ini telah kehilangan peran dalam meredamkan ketegangan antara konvensi (tradisi) dan inovasi (pembaruan). Sebab peran sastra sepanjang masa hendak memperjuangkan peralihan-peralihan formasi baru yang dapat dianggap menjalani transformasi dan sintesis, tanpa adanya kerinduan yang berlebihan terhadap kebangkitan kembali nilai-nilai masa lalu”. Justru menurut saya dengan memunculkan peristiwa masa lalu di puisi Taufiq satu di antara setting sejarah jenis waktu referensial, akan memuncul nilai instruktif sejarah: “kalau masa lalau jelek lihat benar dan janga ditiru dan terulang lagi, jika baik lihat betul, tirulah dan maju ke garda terdepan”. Ini bagian dari solusi. Artinya masa lalu yang digoreskan itu ada nilai peringatan dan dijadikan peringatan. Islam pun mengingatkan “memperingati itu ada manfaatnya”.
Dari tahun ke tahun sebenarnya terjadi perubahan pandangan Taufik mensosialisasikan nilai Islam dalam syair naratif diskripti memotret fenomena masa lalu dan yang sedang terjadi masa hidupnya yang dominant tema politik. Sehingga suatu kali sebagai penyair yang ia juga penganut Islam yang kuat dan taat, diidentifikasi karya sastranya sebagai sastra zikir dan ada dalam mapping nama sastra Islam. Tito Yulianto (2007) memetakan (mapping) perkembangan nama lain dari sastra Islam, yakni sastra sufistik (Abdul Hadi WM), sastra profetik (Kuntowijoyo), sastra pencerahan (Danarto), sastra zikir (Taufiq Ismail), sastra dunia dalam (M. Fudoli Zaini), sastra transendental (Sutardji Calzoum Bachri) dan sebagainya yang pada dasarnya hendak mengatakan bahwa ada karya sastra yang kental dengan nuansa Islam, baik dari – secara sederhana – unsur estetikanya atau ekstra estetiknya (bentuk dan isinya).
Puisi Taufiq sisi bentuk tetap mempunyai ciri sendiri meskipun dalam pemberian topic puisi ada kemiripan dengan Amir Hamzah, misalnya “Malu (Aku)…” pada puisi Taufiq, pada topik Amir Hamzah terdapat kemiripan gaya misalnya “Berdiri Aku”, “Hanyut Aku” (lihat STA,1977). Namun sisi isi Taufiq menunjukkan intensitas yang cukup tinggi dinamikanya menyikat esensi zaman dan peristiwa yang telah/ sedang dialaminya dan disadari atau tidak sarat dengan sosialisasi nilai Islami. Perkembangan dan perubahan karya Taufiq dapat disiasati dalam tiga era periodesasi sejarah bangsa Indonesia sbb.:
1. Era orba: kalau sudah 55 tahun Taufiq dalam Sastra Indonesia, berarti sejak tahun 1953 (usia 18 tahun Taufiq) ketika menjadi siswa dan setelah jadi mahasiswa kuliah di Bogor tahun 1957 telah melirik penghayatan keindahan dan memasuki dunia sastra. Namun karyanya zaman itu belum saya temukan. Ini dimungkinkan, karena dalam pengakuan Taufiq sendiri dalam banyak sumber, tidak semua karyanya dipublikasi. Namun tema-tema yang dapat disimak menyangkut esensi kehidupannya sebagai orang muda gelisah mengahadapi situasi negeri, situasi ekonomi termasuk ekonomi keluarganya di Pandai Sikek (Sumbar) yang sering gagal tanaman kentang kakeknya, inflasi dan politik yang berselimut agama (Nasakom) dan erosi kepercayaan sampai dekrit Pressiden 1959 kembali ke UUD 45 serta ancaman perang saudara seperti terbaca dalam “elegi buat sebuah perang saudara”nya Taufiq (1960) yang mengisyaratkan apa yang sebenarnya dicegah Islam: “hentikan dendam, justru dendam membunuh”. Islam justru menyuruh “jadilah bersaudara dengan nikmat Allah”.
. Tahun 1963 Taufik menerbitkan buku Manifestasi bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al. dan tahun itu pula ia meraih sarjana dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor. Tahun ini puncaknya pergolakan kebudayaan Indonesia disusupi ideologi komunis dengan ofensif Lekra/ PKI dkk. Pengarang ulama diserang satu di antaranya Hamka dan keluarganya diancam bahkan ulama ini dipenjara dipenjarakan. Muncul prahara budaya, dihadapkan pada pilihan hidup atau mati dalam sejarah pencarian strategi kebudayaan bagi Indonesia modern. Obat alternatifnya, lahir Manikebu (Manifes Kebudayaan) 24 Agustus 1963. Intinya pertama, menyatakan kebudayaan hanya perjuangan menyempurnakan kondisi hidup, kedua melaksanakan kebudayaan nasional dengan jujur dan mempertahankan martabat bangsa Indonesia, ketiga ditegaskan filsafat kebudayaan adalah Pancasila. Suasana bangsa, ketidakmenentuan politik dan iklim budaya yang tidak kondusif ini menjadi bagian tema puisi Manifestasi. Di antaranya puisi “Almamater” (1963) di samping kenangan semasa kuliah dan jasa kampus, juga terisi dengan kata “…kau telah dilantik jadi warga republik yang befikir bebas… kami bersyukur pada Tuhan…. pada ibu Bapak”. Ada sentuhan nilai Islami, yang mengajarkan bersyukur atas nikmat dan berbuat baik kepada orang tua, meski dalam berada gemuruh zaman yang memusingkan.
Ada juga kesadaan kembali ke Tuhan, terdeteksi pada puisi “kota, pelabuhan, lading, angin dan langit (1964). Kalau jalan dunia sudah buntu, Taufiq memberi isyarat jalan kelangit tetap terbuka lebar dalam puisinya (1965) “Dengan Puisi, Aku (…berdoa)”, bagian dari nilai Allahu l-shamad (الله الصمد/ Allah itu tempat meminta), dan do’a itu mukh al-ibadah (الدعاء مخ العبادة/ doa inti ibadat). Terasa betul dalam suasana ini sastra itu ibadat dan bagian ibadat penyairnya.
3. Era Orba: Tahun 1966 Taufiq menerbit buku Benteng, juga Tirani, juga mendirikan majalah sastra Horison. Kemudian dua buku ini digabung diterbitkan tahun 1993. Terasa sekali puisi ini meliput berbagai peristiwa dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa dan Negara. Puisi tahun 1966 ini merekam puncaknya peralihan zaman orla kepada orba. Bagaikan konsesus nasional juga. Ini juga bagian dari hasil tuntutan Taufiq bersama rekannya. Ada rasa syukur kembali dipatri dengan doa. Tidak saja doa bersyukur, tetapi juga doa mensiasati diri, kesadaran baru, dimungkinkan para pejuang melahirkan orba dan mungkin kesalahan para pihak orla. Karena mungkin tak semua kata dan langkah yang benar direspon baik, dan terasa ada salah (disengaja atau tidak) pada gilirannya mengadu kepada Tuhan, diyakini doa inti ibadat. Lihatlah puisi Taufiq “Dao” (1966):
“Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun-tahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
…”
Dalam era orba ini Taufiq menerbitkan buku puisi, tetap memotret peristiwa politik yang disarati berbagai aspek kebudayaan seperti sistim sosial, ekonomi, pendidikan, agama dsb. Tahun 1971 terbit puisi Sepi; Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit. Tahun 1972 terbit Buku Tamu Museum Perjuangan. Tahun 1973 terbit Sajak Ladang Jagung. Tahun 1990 terbit lagi Puisi Langit dengan naratif diskriptif fenomena yang amat menarik yang dapat dicirikan sebagai syi’r munasibat (شعرالمناسبة/ occasional poetry/ sajak peristiwa).
3. Era Reformasi, tahun 1999 Taufiq menerbit buku puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Taufiq merekam peristiwa reformasi bergulir di Indonesia tahun 1998. Taufiq sebagai penyair memotret situasi dan kondisi politik yang terdiskripsi dalam puisinya di antaranya terlihat dalam puisinya “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Malu dengan fenomena iklim budaya yang dilakoni para pihak yang menjatuhkan martabat bangsa seperti penjilat yang bisa membidani lahirnya KKN. Sikap menjilat (jilatisme) bisa jadi sogok dalam bentuk lain. Ajaran Islam: “yang menyogok dan disogok dilaknat”. Sogok itu tidak saja duit puluhan juta, ratusan juta, milyaran, trillyunan tetapi sekerling mata, seulas senyum pun yang sengaja menyenang-nyenangkan hati para pihak yang berkuasa lalu berpihak dan menghimpit kepentingan orang banyak, juga bermakna sogok. Taufiq dalam puisinya yang menaruh nilai Islami ini dan menyadarkan bangsa dalam gerakan sederhana menawarkan pemahaman ke-Indonesiaan yang bermartabat, malu berbuat salah dan malu berbudaya jilatisme, malu berbuat nepotism dengan komersialisasi jabatan, yang dalam perspektif Islam dilaknat dan dari perspektif kehidupan berbangsa membahayakan identitas, integritas dan keberlangsungan bangsa. Renungkan baris-barisnya dalam “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998) berikut:

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,

Dalam perspektif intrinsik puisi ini seperti mewartakan peristiwa budaya atau kode prilaku sok kuasa. Peristiwa dalam teks puisi meminjam ungkapan Maman (2007) dapat ditelusuri dengan mencermati sekuen-sekuen yang menggelinding jadi peristiwa dan motif-motif di belakangnya. Dimungkinkan terjadi dalam struktur kekuasaan dan sementara para pihak yang berkuasa. Fenomena itu jelas memalukan. Dalam ajaran Islam, budaya malu itu bagian dari iman. Malu membudayakan kode prilaku mazdmumah (مذمومة/ budi pekerti tercela). Taufiq seperti berpesan tanamlah dan biasakan budaya malu, malu bagian dari iman. Malu tidak berbudi bagi bangsa yang berbudaya. Hidup tak berbudi, menghancurkan budaya, hancur budaya maka hancurlah bangsa. Betapa jauh Taufiq dalam perspektif kebangsaan memandang, budaya malu melindungi bangsa bagi keberlanjutan Indonesia yang sudah susah payah diperjuang menjadi Negara yang medeka. Taufiq malu jadi orang Indonesia, bukan hendak membuang bangsanya justeru mengingatkan anak bangsa ini bahwa budaya malu berbuat salah adalah manifestasi yang mahal dari kecintaan terhadap bangsa. Taufiq seperti hendak mensosialisasikan semangat Islam, hubbub l-wathan min al-iman (mencintai tanah air itu bagian dari iman). Caranya ia sebut yang salah itu salah, tentu mengingatkan: “ayo bersama membangun kekuatan untuk menghindarinya, menyebut yang benar itu benar meski pahit, dan membangun kekuatan bersama untuk melakukannya dengan baik”. Dari teknik penyiaran nilai Islam di samping pewartaan kebangsaan dalam puisi, karya sastra puisi Taufiq penting dalam era sastra Islam di Indonesia. Posisi Taufiq itu dapat digambarkan sbb.:






















Pesan lain Islam tentang dijerat hutang istilah Islam ghalabat al-dain (غلبة الدين) juga disiarkan Taufiq. Nasib yang dijerat hutang dalam perspektif ketuhanan tercegat mendapatkan rahmat Allah. Dalam perspektif humanistik, melahirkan bangsa pengemis. Taufiq sangat lugas dalam “Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan Beru, Kata Si Toni” (1998) memperkatakan fenomena hutang disebabkan gengsi disebut miskin, lalu berhutang dan akibatnya buruk, merusak martabat bangsa, bangsa yang tak lepas dihutang.Lihat baitnya berikut:

Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta

Taufiq dalam bait yang sangat Islami meningatkan, budaya berhutang membuat malu. Budaya ini akan melahirkan fiqh al-bathin (kode prilaku baru) yakni budaya pengemis. Islam tak suka. Sukanya Islam, berusaha keras dengan menggali seluruh potensi yang ada. Tak ada henti. Sehingga dapat memberi. Diajarkan Islam yad ‘ulya (يدعليا/ tangan di atas) lebih mulia dari yad sulfa يدسفلى)/ tangan di bawah). Sekaitan dengan nilai religiositas sastra Taufiq ini mengingatkan saya kepada sabda Nabi saw: Inna min al-syi’r hikmah (إن من الشعر لحكمة / benar-benar, sebagian besar puisi itu hikmah).

Penutup
Akhirnya diketahui dalam syair-syair naratif diskriptif Taufiq Ismail sarat nilai religius menempat karyanya pada posisi penting dalam khazanah kesusasteraan sebagai bagian dari al-fann al-islami (الفن الأسلامي/ seni Islam). Religositas sastranya memamsuki dimensi profetik yang sufistik, mengandung “majmu’atun min al-mau’izhah wa l-hikmah wa l-irsyad” (sekumpulan nilai pengajaran yang indah, hikmah dan panduan arah lurus ke jalan yang benar). Keagungungan sastra Taufik terletak pada pengisian bahasa naratif dengan pengalaman religius yang cukup kaya melampaui derjat diskriptifnya terhadap fenomena. Tegasnya, nilai Islami pada puisinya tidak terletak pada kata-kata simbol Islam, tetapi keagungannya terletak pada makna ajaran dan keindahan narasi. Juga ada banyak hikmah dan isyarat-isyarat ke-Indonesiaan dan ke-Islaman yang benar. Dari perspektif kedalaman Taufik menyelami peristiwa akmbn (aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara) dan diskripsinya dalam narasi serta diisi makna religiositas sastra yang dalam menempatkan Taufiq pada posisi penyair Islam terbesar di awal abad ke-21 ini.
Karya besar Taufiq ini pantas dicerna pelajar dan mahasiswa sastra dan dijadikan buku refrensi sastra ditempatkan dibagian refrensi perpustakaan sekolah mulai dari pendidikan dasar dan perguruan tinggi, seperti juga bagian harapannya. Sekali lagi perpustakaan di lembaga pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi, perpustakaan daerah serta perpustakaan negara di samping arsip Negara tidak boleh lengah dengan karya dan produk bangsa sendiri.
Ada kekhawatiran, berangkat dari pengalaman sejarah naskah lama ulama pengarang, karya sastra mereka tidak banyak menjadi perhatian kritikus sastra, di samping mereka memang tidak popular sebagai penyair dibanding keulamaannya dan intelektualnya juga sebagian besar karya mereka itu tak tersimpan dan lenyap, masih mending terkubur dalam debu tumpukan buku-buku agama dan sastra atau tersuruk dalam rimba seni budaya modern, sehingga generasi hari ini baik sastrawan, kritikus dan penikmat sastra di negeri ini nyaris tak mengenalnya lagi.
Fenomena nasib naskah lama tadi berakibat perkembangan sastra modern sebagai mata rantai penyambung "masa silam" dengan "masa kini" ke “masa datang”, seperti terputus, disebabkan perpustakaan tidak cukup lengkap dan tidak rapi dalam memelihara naskah lama atau mungkin --perubahan sosial terjadi-- maka karya lama dipandang tidak punya nilai lagi dianggap buku sampah di perpustakaan, atau karena masyarakat cenderung "mem¬barat". Adalah ironis, mereka lebih akrab dengan nilai karya bangsa asing dibanding nilai yang ada pada karya sastra lama milik sendiri. Termasuk memprihatinkan perkembangan sastra daerah untuk kasus Minangkabau, boleh dikatakan ada fenomena langka cipta karya sastra modern yang ditulis dalam bahasa daerah (Minang) sejak Muhammad Yamin (1903-1962) dkk. memperkenalkan sastra modern dan mengikrarkan "berba¬hasa satu, bahasa Indonesia" pada Sumpah Pemuda tahun 1928.

Rujukan
Aguk, Irawan Mn,
2004 Sajak Melankolisme Taufiq Ismail. Jakarta: Sinar Harapan on line.
Ahmad, Mulyadi, terj.
2005 Adonis, Perubahan-Perubahan Sang Pencipta. Jakarta:Grasindo.
A.Kohar Ibrahim,
2007 Pram, Kohar & GM – Soal Berpura-pura dalam Puisi Manikebu. On line http://www.bekasinews.com

Maman, S.Mahayana,
2007 Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Moeljanto, DS; Taufiq, Ismail, ed.
1994 Prahara Budaya, Kilas Balik Ofensif Lekra/ PKI dkk. Jakata: Mizan.
Sutan Takdir Alisjahbana,
1977 Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.
Taufiq, Ismail,
1993 Tirani dan Benteng, Dua Kumpulan Puisi Taufiq Ismail. Jakarta: Yayasan Ananda.
http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail

Thaha, Mahmud Thaha,
1966 Qishshah fi l-Adab Al-Injliziyah (القصة في الأدب الإنجليزى/ Cerkan dalam Sastra Inggiris). Al-Qahirah: Al-Dar Al-Qaumiy.
Tito, Yulianto,
2007 Sastra Bukan Islam. On line.
Yulizal, Yunus,
1999 Sastra Islam di Indonesia, Kajian Syair Apologetik Pembelaan Tareqat Naqsyabandi Syeikh Bayang. Padang: IAIN-IB Press.
____________,
1999 Perkembangan Terakhir Sastra di 15 Negara Arab. Padang: IAIN-IB Press.
____________,
2001 Puisi Mahasiswa Genre Occasional Poetry. Padang: IAIN-IB Press





CURRICULUM VITAE

Yulizal Yunus, Dt. Rajo Bagindo Lektor Kepala dalam mata kuliah Sastra Arab di Fakultas Ilmu Budaya – Adab IAIN Imam Bonjol, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Balaiselasa, tim ahli bidang budaya Pemda Kabupaten Pesisir Selatan.
Berdomisili di Padang, Jl.Sitawa 15 Rt.45/Rw.03 Parupuk Tabing, Koto Tangah,Padang, 25171 dan atau di Jl. Tui Raya F/ 14 Belimbing Padang. Telp. Rumah (0751) 444938, HP. 081363851007.
Pendidikan, SDN, Tj.Kandis (1969), PGA 4 Tahun Anakan (1972), PGAN 6 Tahun Salido (1974), Sarjana Muda (gelar BA) FT-IAIN Imam Bonjol Padang (1977), Sarjana (Drs.) FT-IAIN Imam Bonjol Padang (1983) dan sedang Pasca Sarjana Unand Padang. Pendidikan tambahan: Pelatihan penulisan ilmiah populer LIPI (1981), Pelatihan Penelitian Agama (PPA), Depag RI – LIPI Jakarta (1994), Lemhannas (1997), Pelatihan Penelitian Profesional, Jarlit se Sumatera (2001) dll.
Kegiatan lain, peneliti AP3TI (Asosiasi Peneliti dan Pengembangan Pendidikan Tinggi Indonesia) Jakarta ( sejak 1997), peneliti Pusat Penelitian IAIN Imam Bonjol (1996), Pemimpin Majalah Ilmiah “Al-Turas” (1996),Redaksi Eksekutif Majalah Ilmiah Imam Bonjol, (1996), Ketua STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Balaiselasa (sejak 1996), HISKI (Himpunan Sarjana Kesusasteraan) Komda Sumbar, Sekretaris (1997), ICSB (Islamis Centre Sumatera Barat), Padang, Biro Penerbitan (1997), IAIN-IB Press (Penerbit), Direktur (1989), Pembantu Dekan III Fakultas Adab (Sastra) IAIN Imam Bonjol (1999), MPI (Majelis Pemuda Indonesia) Sumatera Barat, Sekretaris (2001), Dekan Fakultas Ilmu Budaya- Adab IAIN Imam Bonjol (2003 – 2007), Penanggung jawab Jurnal Internasional FIBA – UKM “Fikr wa Adab” (sejak 2004), Director Executive Centre for Police and Culture (2007), Forum Islamic Centre Sumatera Barat (2008) dll.
Karya Tulis (Buku/ Hasil Penelitian/ Makalah/ Artikel), Artikel publikasi koran dan majalah telah dimulai sejak sebelum bekerja di Skh. Semangat di Padang tahun 1976 571 topik. Menulis buku sudah dimulai sejak tahun 1981, sudah dicetakjuga hasil penelitian di antaranya:
1. Kumpulan Puisi Padi Menguning Ditinggalkan (1977)
2. Islam di Gerbang Selatan Sumbar (buku) cet.I/1998.
3. Sosialisasi di Perkampungan Wisata Padang (buku Penelitian) 1998.
4. Wanita dan Sastra (Analisa Novel Wanita di Titik Nol), makalah, Semianr Fakultas Adab, 1998.
5. Sejarah STAI Balaiselasa, 25 Tahun (buku) Cet.I/1998.
6. Sosialisasi Islam di Pasaman, Desa Binaan IAIN (Buku Penelitian) 1998.
7. Bahasa Jurnalistik (Naskah buku) belum terbit/ 1998.
8. Kumpulan Puisi Jum’at Sore 14 Mei (1998)
9. Paham Keagamaan Keliru di Sumbar dan Analisa Nazam Kanak Kanak dan Nabi Bercukur (Buku Penelitian), 1999.
10. Motivasi Keagama dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Bungus (Buku Penelitian) 1999.
11. Sentra Tarekat di Sumatera Barat (Buku Penelitian) 1999
12. Sastra dan Sejarah (Makalah Seminar Sastra) Fakultas Adab/ 1999.
13. Teknik Menggubah Puisi Cara Arab (Makalah Seminar Sastra) Studio Sastra/ 1999.
14. Teknik Menyunting (Naskah Buku) belum terbit/1999.
15. Teknik Wawancara (Naskah buku) belum terbit/ 1999.
16. Pulau Cingkuk Saksi Perjuangan Anak Pesisir (buku/ 1991) cet. III/ 1999.
17. Sastra Islam, Analisa Syair Apologetik Syeikh Muhammad Dalil (buku pen.)Cet.I/ 1999.
18. Perkembangan Terakhir Sastra di 15 Negara Arab (Buku) Cet.I/1999.
19. Objek Wisata Kawasan Mandeh Mandeh (Buku) Cet.I/1998, cet.II/1999, cet.III/ 2000
20. Geo Pengajaran Sastra Arab di Indonesia (buku) Cet.I/1999, Cet.II/2000.
21. Angkatan '98, Antologi Puisi (buku) cet.I/1999, cet.II/2000.
22. Objek Wisata Kawasan Mandeh (buku) Cet.I/2000.
23. Kumpulan puisi Anak Pesisir (2000)
24. Sejarah Pss. Selatan dari Sandiwara Bt. kapas hingga Perang Bayang (buku)Cet.I/ 2000.
25. Mencari Hari Jadi Pesisir Selatan (Makalah Seminar Hari Jadi Pss. Selatan, 12 Jan 2000.
26. Irak-Kuwait dalam Syi'r (Buku Kumpulan Syair), 2000.
27. Master/ Action Plan Pesisir Selatan 2001-2010 (Buku), 2001
28. Pesisir Selatan, Kinerja 1995 – 2000 (Buku), 2001
29. Protes Sastra terhadap Paham Keagamaan (Buku), 2001
30. Puisi Mahasiswa Genre Occasional Poetry (Buku), 2001
31. Paket Budaya Perkawinan Pesisir Selatan (Pemda Pessel, 2002)
32. Al-Qashash al-Islamiyah fi Tatsqif Syakhshiyat al-Athfal ( buku IAIN-IB Press, 2002).
33. Kesultanan Indrapura dan Mandeh Rubiyah di Lunang, Spirit Sejarah dari kerajaan Bahari sampai Semangat Malayu Dunia (buku Pemkab Pesisir Selatan – IAIN IB Press, 2002).
34. Detail Plan Pembangunan Budaya Pesisir Selatan (buku IAIN-IB Press, 2004)
35. Pesisir Selatan dalam dasawarsa 1995-2005 di bawah kepemimpinan Bupati Darizal Basir (buku IAIN-IB Press, 2005)
36. Budaya Pesisir Selatan 3 jilid (buku IAIN-IB 2006)
37. Budaya Padang 9 Jilid (buku 2007)
38. Budaya Padang Panjang 9 Jilid (buku IAIN IB Press, 2002)
39. Budi Pekerti 9 jilid (buku IAIN IB Press, 2006)
40. Bahasa Arab untuk Pendidikan Dasar dan Menengah Padang Panjang 9 jilid (buku IAIN IB Press, 2002)
41. Bahasa Arab untuk Pendidikan Dasar dan Menengah Padang 12 jilid (buku IAIN-IB Press 2006)
42. Prototype Polisi Masa Depan Kinerja Kapolda Sumbar (buku IAIN-IB Press, 2007)
43. Kumpulan Syair Arab Kontemporer 20001-2006 (buku IAIN IB Press, 2007) dll.


Selengkapnya...

Jumat, 12 Juni 2009

Nasionalisme Arab dan Sastra Palestina

traOleh : Drs. Yulizal Yunus, M.Si (Dosen Jur. BSA)

Palestina salah satu bangsa Arab yang tak putus dirundung malang. Meskipun telah meraih kemerdekaan (semu?) sejak tahun 1988, namun Israel tetap saja melang¬gar kedaulatan negara bahkan setiap saat menghadapi ancaman diserang. Proses perjanjian damainya dengan Israel sudah memakan waktu yang panjang, hasilnya nol koma nol, dan memang Israel tak punya kamus damai. Perdamaian di kawasan itu bagian dari mimpi panjang Arab, karena memang kenyataannya Arab juga tak berdaya membelanya, di samping didera konflik Arab sendiri juga, kekuatan Israel tidak sendiri bahkan menjadi anak mas Negara super power AS dan sekutunya.

Ada isu dunia bukan sekedar seloroh kata guru saja “h”, “memelihara perang Israel- Palestina berarti menunda kiamat”. Disebut ada sebuah filantropi internasional di negara maju yang menghimpun dana dan membiayai perang Palestina – Israel. Lembaga itu berkepentingan dan mengkalaim dunia berkepentingan dengan perang Palestina – Israel. Karenanya dibiayai. Alasannya kalau damai Palestina – Israel kiamat akan datang. Mungkin gurauan ini dimensi lain dari cara aneh memahami satu ayat dalam Al-Qur’an (2:120) “yahudi dan nasrani tidak akan pernah suka sebelum mengikuti agama mereka” - tentu sampai kiamat. Dalam perjalanan sejarah pun Ali Khalili (2009) mencatat وما يهدف إليه أصلا من شطب كامل لقضية فلسطين، بجميع مستوياتها وأبعادها الجغرافية والسياسية والتاريخية. Israel ingin menghapus masalah Palestina dari semua tingkatan baik secara geografis, politis maupun histories. Talal Awkal (2009) menyebut sikap Israel sebagai الكراهية للعنصر الفلسطيني (benci terhadap unsur-unsur Palestina).
Perang Palestina – Israel dipersepsikan banyak kalangan dunia adalah perang Islam dan Yahudi. Presiden Iran, juga menyebut “tidak perang Israel – Palestina”. Pernah 26 oktober 2005 Presiden Iran Ahmadinejad berceramah di depan 3000 mahasiswa – pelajar topik: “jahan be dun-esahyunism” (dunia tanpa zionisme), menegaskan “Israel must wiped off the map” (Israel harus dihapuskan dari peta dunia). Dina (2008). Dunia gempar dengan pernyataan Ahmadinejad, media massa berkutat, ungkapan itu menjadi “rumor of century” (gossip abad ini). Isu ini ditambah dengan isu Iran membangun pangkalan nuklir, dihebohkan tanpa argument kuat akan mengancam dunia dan dunia barat memusuhi Iran.
Rumit hubungan Irael dan Palestina. Dunia berharap Israel – Palestina ini akan lebih membaik di era Obama sekarang (Abdel-Raouf Arnaout, 2009) tersemat dalam pidato awalnya akan memperhatikan dunia Islam, karena pada rezim Bush hubungan Palestina – Israel “tidak dapat dibaca” kecuali “na’uzu bi Allah min dzalik”. Sejak dulu rumit, sejak 60-han tahun lalu prakarsa barat turut mendirikan Negara Israel di jantung Timur Tengah, sampai sekarang diperluas terus oleh politik zionis, hampir-hampir Palestina itu terkurung dan terpisah-pisah di samping/ dalam wilayah kekuasaan Israel.
Presiden Yaser Araf kepada Presiden Mesir Hosni Mubarak pernah menyebut proses perjanjian damai sebagai "telah mati". Karena kata Jubir Presiden Palestina Marwan Kaffani, untuk melanjutkan perdamaian itu banyak sekali perbedaan tajam antara Israel dan Palestina. Rakyat Palestina pun benar-benar tidak percaya dengan janji Israel, karena memang sepanjang sejarah tidak pernah senang dengan rakyat Palestina. Sampai terakhir penyerangan Israel ke Gaza, Presiden Palestina Abbas menyebut, Israel tidak punya kemauan berdamai, bahkan pernyataan PM Israel Olmert akan melanjutkan agresi ke Gaza, meski serang yang dimulai 27 Desember 2008 sudah banyak memakan korban rakyat sivil dan anak-anak tak berdosa, alasan memburu Hamas.
Israel terus melakukan teror tetapi teror demi teror Israel dihadapi Palestina. Orang Palestina jadi nekad, kadang Hamas menyerang balik. Israel dan seperti di Palestina, rakyat Israel juga ketakuatan. Israel menyerang Gaza sebagai implikasi politik cari muka Israel dan mengabaikan gencatan senjata meski sudah diserukan badan dunia PBB dan AS serta negara lain. Orang Palestina mengerti sikap Israel itu dan tidak akan pernah mendengar dunia. Palestina tetap melawan, ان العملية البرية لن تنجح في وضع حد لاطلاق الصواريخ (Moshe Aren, 2009). Jiwa membela tanah air Palestina tak akan berakhir dengan operasi Israel 27 Desember 2008 melontarkan roket api dan bom fosfor putih didukung 60 jet F-16 ke 50 titik sasaran infrastruktur dan markas pertahanan Hamas di tengah pemukiman sivil di Gaza. Meskipun perang Israel kali ini sekali serangan pertama membuat 155 mayat bergelimpangan. Bahkan pada serangan Israel 15 Januari 2009 salah satu pemimpin senior gerakan Hamas dan Menteri Dalam Negeri Hamas di Gaza, Said Siyam, tewas karena serangan udara. dan terdahsyat dihadapi Gaza (Senopati, 2009). Kata Taufiq (2009), غزة تعرضت لأفظع حروب إسرائيل. Kekejian Israel menghajar Gaza dilukiskan dalam syair “Gaza ya Allah” gubahan Penyair Manal Khamis (2009) sbb.:

ينتشرُ جرادُكَ الدّمويُّ،
ما بينَ أرضِكَ والسّماءِ،
بعضُهم باسمِكَ، آخرونَ باسم غيرِكَ،
يدخلونَ بيوتَنا ليلاً ،
يسرقون الأرواحَ ثمَّ يغادرون

Imajinasi Manal menggambarkan senjata mutakhir bagaikan belalang darah beterbangan memenuhi bumi dan langit, ada yang menerobos masuk ruma malam hari dan mencabut nyawa rakyat tak berdosa. Namun demikian dengan semangat nasionalis, perjuangan menantang Israel tidak pernah sepi. Penyair Abdurrahim Mahmud dalam syairnya “syahid” meniratkan tekad perjuangan tanpa henti, hidup atau mati, seperti dalam barisnya:سأحمل روحي إلى راحتي . Kalau tidak bisa melawan dengan senjata dengan informasi ke dunia luar. Manal Khamis (2009) menulis untuk semua orang di dunia yang tahu tentang nasib Palestina. Penggalan kalimatnya sbb.:
وأرجو الآن ان تعذروني
لأني سأكمل خطابي بلهجتنا العامية الفلسطينية
لأن الفصحى تعيق تقدمي في سرد ما أرغب
اخباركم به وفي نقل ما جرى

Manal seperti si bisu bermimpi. Ia minta maaf pada orang-orang dunia. Ia ingin menyampaikan informasi yang utuh, tapi punya bahasa daerah tak banyak dimengerti dunia. Bahasa fasih ia merasa tak komunikatif menyampaikan informasi penderitaan rakayatnya bahkan menyulitkan bagi orang menterjemahkannya. Namun komunikatif atau tidak suara penyair Manal ini, dunia merespon jeritan Palestina. Ada dengan demo anti Israel, mosi tak percaya kepada PBB dan AS yang dingin terhadap penderitaan kemanusiaan di Palestina, bahkan ada dengan puisi yang menggugat PBB dan AS dan kesewenangan Israel yang dipimpin PM Ehud Olmert yang melegitimasi penyerangan Gaza bahkan akan melanjutkannya. Lihatlah beberapa puisi untuk Gaza dari Indonesia sbb.:

itu israel tahu
amerika lagi di bawah tapak kakinya
pbbpun bisa dibiusnya

gaza yang bermandi darah
moga mendapat rahmah dan berkah
di darah yang sudah banyak tumpah
(apresiasipuisi.multiply.com/, 2009)



Justru, mereka sekarang seperti mencari pembenaran
atas apa yang terjadi di Gaza
Mereka yang dengan hak vetonya
membuat PBB tak bergeming
membuat PBB tak berkutik
bak macan ompong

Mereka pun seolah ingin mengatakan
apa yang terjadi di Gaza
bukan pelanggaran HAM (?)
(www.finance.groups.yahoo.com/group)

Lihat pula untaian puisi untuk Gaza dari Inggiris sbb.:
Gaza oh Gaza….

Why you silence…
Why you Silence…???
Hi Obama, Hi George W Bush, English Prime Minister..
Why you Silence…???

When the people at Gaza Palestine killed by Terrorist
When terrorist make smash, shatter, killing, trouble making, and terror for Palestine People..
When terrorist kill with brutal to Palestine Children…
When more than 390 people killed by Israel Rocket (Brutal)

Why you only silence ..
Why You don’t say that it’s very Brutal, and Break the Human Right.
Why You don’t say that it’s Crime from Aggressor
Why You don’t say that it’s Crime from Colonizer,

Where the Justice …
Where… Where… your Humanity..

This terrorist very Brutal..
Who is the Terrorist …
Sure , all of you know who is the terrorist … real terrorist…
Now, sure you know the real terrorist…
(http://wachidhasyim.wordpress.com/, 2009)
Seorang editor Majalah Puisi berbasis di London - Poet Mevlut Ceylan, menulis puisi untuk ladang pembantaian Gaza yang berjudul "Thou Shalt Not Kill", terinspirasi oleh aksi penyerangan 22 hari Israel ke Gaza (2008-2009), yang memperingatkan, orang Palestina tidak lalat untuk dibunuh sbb:
THOU SHALT NOT KILL
for gaza the killing field
am i a fly
who rummages through
an ancient scroll
or fleeing for his life
but caught
by the net of lies
am i a fly who
drills through
ragrance of high walls
or meeting death briefly
by the road
of broken promises
the fly sits within
carving head stones
of an arid mind
or the mind at dawn
welcomes the new Dark Age
(www.arrawdah.multiply.com/, 2009)

Israel memang benar-benar kejam dan tidak mematuhi hukum perang internasional, dalam agresi ke Gaza itu selain menyerang rumah sakit, pemukiman penduduk dan universitas. Israel juga menggunakan senjata terlarang yaitu bom phosphor putih yang juga disebut dengan "Mark-77”. Kesepakatan internasional Jenewa melarang penggunaan senjata phosphor putih dalam peperangan, khususnya ditujukan terhadap warga sipil. Namum belum ada sanksi untuk Israel atau Amerika Serikat atas kejahatan yang mereka lakukan itu. Sebab terlarang, akibatnya buruk. Api yang ditimbulkan oleh bom ini sangat sulit untuk dipadamkan. Karena saat api disiram dengan air maka akan menimbulkan asap beracun, sehingga sulit untuk melakukan pemadaman api. Jika fosfor putih mengenai manusia akan menyebabkan terbakar sampai ketulang-tulang, dan mematikan, atau kalaupun tidak mati akan menimbulkan luka bakar yang memakan waktu lama untuk sembuh. Dasar Israel yang memang tidak pernah mempunyai niat baik, mereka malah berdalih bahwa semua senjata yang digunakan dalm perang ini diklaimnya sudah sesuai dengan hukum internasional. (www. infopalestina.com/).
Prilaku teror dan kekejaman Israel ini masa era Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dulu juga telah benar-benar menunjukkan watak yahudinya, sulit dipercaya janjinya. Ia selalu saja membuat persoalan yang tidak populis di dunia Internasional dan selalu merusak proses dan mengancam kelanjutan perjanjian damai, dengan sikap kerasnya tetap melaksanakan perluasan pemukiman yahudi dan tidak menarik mundur pasukan yang masih menguasai sebagian daerah Palestina. Ia seperti tidak menghiraukan "ketidaksabaran Palestina" dengan masalah pembangunan pemukiman dan keberadan pasukan Israel di Palestina seperti yang diungkapkan juru runding top Palestina ketika itu Saeb Erakat, bahkan seperti bermain sandiwara dengan tidak menghiraukan desakan Menlu AS ketika itu Madeleine Albright agar Israel segera menghentikan pembangunan pemukiman dan menarik pasukannya dari wilayah Palestina. Sama halnya dalam serangan Israel ke Gaza sejak 27 Desember 2009, Israel seperti hendak berdamai. Karenanya Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan sikap tegas terhadap Israel menyusul agresi Israel ke Gaza. Dari kantornya di Ramallah, Abbas menyampaikan pada George Mitchell utusan Presiden AS Obama bahwa Israel tidak berniat untuk berdamai.
Rakyat Palestina tidak saja repot dengan janji mungkir Israel, tetapi juga tidak kurang kerepotan menghadapi ancaman dalam negeri dengan sikap keras Hamas. Hamas hamper-hampir tidak mau berdamai dengan Israel. Hamas sejak dulu menentang perjanjian damai Palestina dengan Israel masa Yaser Arafat, ditengahi juru runding Hanan Asrawi –sang Dekan Fakultas Sastra salah satu perguruan tinggi di Libanon itu– intensif mengupayakan perundingan damai Palestina dengan Israel. Kaum Hamas dengan bom bunuh dirinya sampai sa'at ini tidak sedikit menewaskan orang Isreal dan berakibat konflik berkepanjangan di dalam negeri Palestina serta menimbulkan kelaparan 2 juta rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Bagaimanapun terjadinya konflik di era antara merdeka dan tidak sekarang, tentu keadaan rakyat Palestina lebih baik ketimbang terus terjajah. Toh soal konflik baik dalam negeri maupun menghadapi musuhnya Israel, tidak akan pernah berhenti. Karena Yahudi memang tidak akan pernah berhenti mengintimidasi Palestina selama aliansi Islam tetap kuat. Pengalaman lalu terlalu pahit, tidak sedikit yang menjadi korban kebrutalan Israel. Yang tersisa menjadi bangsa gelandangan terusir dari tanah air sendiri, hidup di pengasingan terkonsentrasi di bawah tenda kamp pengungsi, meskipun terus gigih berjuang menerobos sejarah. Di antara yang terbanyak di Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Yordan, Yordania, Libanon, Syiria dll.
Dulu ketika berjuang dan memperjuangkan kemerdekaan bahkan setelah meraih kemerdekaan, karena rakyat Palestina saking terancamnya oleh Israel, mereka sering nekad. Meninju menendang, tanpa mengerang, rakyat Palestina melawan bayonet Israel. Bahkan kalau pun teramat sakit, mengerang dan terus menerjang menepis gas air mata Israel yang melumpuhkan mereka hendak maju serentak. Dapat batu, batu terbang. Terseret kayu, kayu melayang, apa saja dapat menjadi senjata perang melawan Israel. Bahkan ketapel pun tak kurang melayangkan batunya menghantam jidat tentara Israel yang memanggul sejata otomat. Didukung pekik Allahu Akbar, menyibak desingan peluru senjata strategis yang beterbangan menyemburkan api, siap menerkam siapa saja yang menjadi sasaran. Menyedihkan, terkadang terlihat lawan tak berimbang, Israel menembak penduduk Palestina seperti menembak nyamuk dengan basoka. Inilah bentuk kekejaman teror zionis dan subversif imperialisme Israel kepada rakyat Palestina. Penderitaan panjang rakyat Palestina itu mewarnai ekspresi dan mendominasi thema sastra –baik prosa seperti cerpen dan novel maupun puisi– di negeri tempat berdiri Masjid Al-Aqsha ini.
Mengungkapkan penderitaan dan ketidakberdayaan rakyat Palestina menghadapi Israel berarti membicarakan Nasionalisme Arab yang terkoyak. Yang dimaksud Nasionalisme adalah, suatu gerakan ideologi yang bertujuan untuk mencapai dan memelihara suatu pemerintahan sendiri, di mana masyarakat penggeraknya ingin bangsanya menjadi aktual dan potensial. Nasionalis Arab adalah ikatan sosial antara bangsa Arab dan memperlihatkan hal yang spasifik kesatuan bangsa, kesatuan bahasa, kesatuan sejarah dan cita-cita bersama (DR. Mahir Hasan Fahmi, tt:5). Nasionalis Arab muncul ke permukaan berwujud gerakan maju menentang imperialis asing dengan tujuan mewujudkan persatuan dan kesatuan Arab dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan. Hal yang mendasar lumpuhnya nasionalism Arab adalah karena kegagalannya menghadapi kekuatan zionisme Israel. Karena itu untuk menghadapi kekuatan zionisme yang menguasai Arab adalah dengan membangkitkan perasaan nasionalis di samping perasaan agama (Islam) dengan memperkuat aliansi Islam (DR. Nawal El-Saadawi, 5-17). Karena agama di samping warisan budaya bangsa Arab, merupakan sumber falsafah hidup bangsa sekaligus sumber pemikiran dan politik (Sadam Husen,1980:5). Tulisan ini ingin melihat sisi-sisi Nasionalis Arab dalam sastra Palestina yang berkembang dahsyat yang tak kurang dahsyatnya dengan perangan dan perlawanan rakyat Palestina menghadapi kesewenangan Israel mencoplok wilayahnya dan mengusir mereka keluar tanah air sendiri. Puisi Palestina lahir bersamaan jeritan rakyat Palestina dan lebih lantang dibanding pidato politik. Sayangnya tidak tersiar luas. Kata Penyair Sulaiman Daghsy (2009) puisi Palestina mulai dari jeritan sampai kepada denyut politik “80 بالمائة من الشعر الفلسطيني لم يصل الى العالم” (80 % belum tersiar ke dunia).

***
Semangat nasionalis Arab Palestina mendidih bagaikan gunung api mau menumpahkan lahar. Kenapa tidak, sudah sejak lama Palestina dengan cengraman zionisme Israel amat menyedihkan. Negeri Qudus ( suci) ini bagaikan sekeping bumi yang selalu bersimbah darah. Terlalu banyak penderitaan orang Palestina, serpihan jenazah berserakan di tengah-tengah kelaparan, potongan jenazah terkoyak santapan binatang buas padang pasir menjadi harum bagaikan makanan, merupakan bagian penderitaan dalam meperjuangkan tanah airnya. Penderitaan itu tidak saja di tanah airnya di bawah komando PLO, Hamas dan Intifada, tetapi juga di pengasingan seperti akibat serangan Israel ke Tunisia tahun 1985. Jabra Ibrahim Jabra melukiskan dalam puisinya (Zaim Uchrowi dari Taufik Ismail, terj. Tempo, 3 Des. 1988:53-54) seperti dalam aris-bari berikut:

Mereka melunyah-lunyah padang kembang...
Mereka ledakan rumah demi rumah
Di antara bata, berserak potongan jenazah...
Terlantar jadi makanan tengah hari
Burung elang dan gagak.

Syair tadi memperlihatkan kesengsaraan Palestina yang membuat mereka berontak secara heroik. Nasib ini terlihat pula dalam gambaran lama Abdurrahman Mahmud penyair Palestina yang gugur dalam perang melawan Israel 1948 dalam syair "syahid":

tubuh yang terlempar di bumi yang sama
burung pemakan daging padang pasir mengoyaknya
ada sisa untuk burung yang masih terbang
ada sisa untuk singa yang garang.

Penyair banyak mengambil thema kesengsaraan rakyat Palestina akibat kekejaman Israel. Seorang esais (penulis esai) Palestina …… banyak melukiskannya di dalam buku monumentalnya "Orientalism" dan "Culture and Imperialism". Nasir Al-Asad (Kairo) menulis buku "Al-Itijahat Adabiyah Haditsah fi Filisthin wa l-Urdun" (Thema-thema Sastra Modern Palestina dan Yordania). Anis Al-Muqaddis menulis buku "Al-Itijahat Al-Adabiyah fi l-Alam Al-Arab Al-Hadis” (Thema-thema Sastra di Dunia Arab Modern). Muhammad Husain menulis "Al-Ittijahat Al-Wathaniyah fi Adab Al-Mu'ashir" (Thema-thema Tanah Air dalam Sastra Kontemporer). Abdullah Al-Teel menulis "Karisah Filisthin" (Penderitaan Rakyat Palestina). DR. Mahir Hasan Fahmi menulis buku " Al-Qaumiyat Al-Arabiyah wa Syi'r Al-Mu'ashir" (Nasionalism Arab dan Puisi Kontemporer). Dalam lukisan penulis dan penyair, rakyak Palestina seolah-olah bumi tempat berpijak mereka telah runtuh dan tempat bergantung telah putus. Di antaranya seperti yang digambarkan Penyair Palestina Mahmud Darwis dalam puisinya berikut:

Bumi mengepung kami, mendesak kami ke lorong terakhir
dan anggota badan kami pun tercabik-cabik
untuk bisa menerobosnya.
Bumi menghimpit kami. Kalau saja aku ini biji
gandum maka aku akan mati
untuk tumbuh hidup kembali. Ingin aku bumi ini bunda kami
Dia akan menyayangi kami. Kalau saja kami ini
gambar terpahat pada batu,
maka mimpi kami akan membawanya
sebagai cermin…..

Situasi buruk itu terus bergayut pada kehidupan rakyat Palestina. Namun kehidupan di sana terus berdenyut, mengalir, menerjang dan bersatu membangun kesatuan dan nasionalis yang terkoyak, meradang dan menyerang untuk memperjuangkan tanah air mereka. Ini sebenarnya sudah berlangsung sejak kepulangan 25.000 Yahudi ke Palestina sa’at ditindas para penguasa Eropah Timur abad ke-18, menyusul zionisme terbentuk (dipelopori Theodor Herzi di Balse tahun 1897), yakni berbentuk gerakan menjadikan Palestina menjadi negara merdeka bangsa Yahudi. Pada gilirannya gerakan Zionisme secara tidak langsung dapat memecah bangsa Palestina menjadi Palestina Arab dan Paletina Yahudi (Israel). Negara, persatuan dan Nasionalism pun pecah sejalan dengan tabrakan kepentingan politik dan kepentingan masing-masing negara Arab. Penderitaan kian bertambah memprihatinkan ketika PBB menyetujui pembagian wilayah Palestina menjadi Palestina Arab dan Palestina Yahudi yakni negara Israel, tahun 1947, sehingga memuluskan jalan bagi Israel memproklamirkan kemerdekaannya 14 Mei 1948 atas dukungan Amerika, Inggiris, Perancis dan Uni Sovyet. Sejak itu sampai sekarang Palestina tidak berhenti memperjuangkan dan mengisi kemerdekaannya yang selalu di bawah tekanan dan ancaman Israel yang didukung negara-negara sekutunya di dunia Internasional, bahkan yang menyedihkan Arab sendiri sulit menyatukan visi dan persepsi di atas kesatuan dan persatuan serta nasionalis Arab yang terkoyak, untuk berjuang membantu saudara mereka rakyat Palestina melawan Israel. Rakyat Palestina tak pernah berhenti mempertahan sejengkal pun tanah airnya yang diduduki Israel. Sejengkal tanah artinya bagi rakyat Palestina adalah darah. Secara pisik Palestina lemah di mata Israel, tetapi tak kurang Israel repot menghadapi teror batu dan bom bunuh diri mereka, baik di tanah air maupun di luar negeri. Pengamat semangat juang Palestina …..menyebutkan, “anak Palestina bermain-main dengan batu, menjadikan batu bom pembunuh Israel dan menulis sejarah dengan batu”. Mereka tidak melawan kekuatan senjata strategis Israel dengan senjata otomatis pula, tetapi cukup dengan batu dan ketapel, meskipun mereka banyak yang ditangkap, dibunuh, ditembak secar membabi buta, ditangkap dan dipenjara, dideportasi dan diasingkan, diusir dan disingkirkan, sehingga banyak rakyat Palestina hidup di keping bumi negeri yang tak bertuan, menghadapi segala tantangan yang keras di kamp-kamp pengungsi di padang pasir yang ganas dan perbukitan berbatu-batu yang panas tampa kayu. Lihatlah seuntai Puisi Jabra Ibrahim Jabra menggambar penderitaan itu sebagai berikut:

Ingatlah kini kami terlunta
Dalam pagutan padang pasir panas membara
Merangkak di bukit-bukit karang kersang;

Rakyat Palestina terlunta di padang pasir dan di bukit kersang ialah mereka yang terusir dari tanah airnya oleh Zionisme dan imperialism Israel yang mencoplok negerinya. Mereka rindu Palestina. Kerinduan para pengungsi Palestina itu digambarkan oleh penyair besar Arab Saudi Muhammad Sulaiman Al-Syubul (Shalih Al-Malikiy, dkk. 1986:117) dalam syair dengan topik "min anin al-laji`in" (kerinduan para pengungsi):

apa kukatakan, dalam darahku
nyanyi mengalir tanpa gema
perasaan yang terluka
di padang pasir kau kehilangan tujuan
di dalamnya langkah tanpa pedoman
malam ini jelas tak berujung
dan aku, ku sendiri dalam hari-hari panjang
ke menanti pagi segera datang

Meskipun rakyat Pelestina yang mengungsi sudah kehilang semua, keluarga, tanah air dan harta, tetapi semangatnya tidak pernah pudar untuk kembali ke tanah airnya, melawan zionisme dan
imperialism Israel, membebaskan negeri yang punya masjid Al-Aqsha dan pernah menjadi kiblat umat Islam itu. Keadaan ini digambarkan penyair Palestina Harun Hasyim Rasyid dalam syairnya dengan topik "Sharkhah" (Jeritan) sbb.:

ku tak 'kan mau hidup terlunta
ku tak mau bernaung kekerasan penguasa
ku punya masa depan, besok
ku 'kan merayap balas dendam berontak
ku tak 'kan pernah takut topan
ia justru punya sasaran.

Nada yang sama terlihat dari ungkapan penyair 'Ulaiwah Mushtafa ialah ulama Al-Azhar, dalam syairnya dengan topik "Ardh Al-Masjid Al-Aqsha" (Bumi Masjid Al-Aqsha) sbb.:

ku tak 'kan mau hidup sebagai gelandangan
kemah-kemah ku tunduk pada kekuasaan zalim
dan buruk
kau mereka gusur tak diperhitungkan, membungkuk
minta dikasihani musuh
harap kemenangan dalam naungan akidah
perkecil kekerasan dunia
kematian cita-cita mulia
dalam cita-cita itu ada rumah syuhada
sebenarnya hidup ini milik orang yang tak mau bertekuk lutut
kehinaan itu ada pada setiap kehinaan si pengecut.

Penderitaan yang berkepanjangan rakyat Paletina itu, bukan hanya sekedar membuatnya terbiasa hidup dalam teror dan intimidasi, tetapi semakin membangkitkan semangat perjuangan intifada, meskipun dianggap Israel sebagai sikap nekad seperti pandangan pimpinan Zionisme Internasional Chaim Weizmann tahun 1948, kalau Israel punya sedikit kesempatan saja akan segera mematahkan ketangkasan perang Arab seperti yang disebut-sebut dunia itu. Kekerasan yang dihadapi rakyat Palestina ini merwarnai thema-thema sastra yang tidak saja puisi tetapi juga prosa dalam bentuk cerpen dan novel. Di antaranya terlihat dari kumpulan cerpen "Li Man Tahtamil Al-Rashshah" karya novelis wanita Palestina Kontemporer Jehad Al-Rajbi (diterj. Anis Matta dengan topik Intifada, 1993). Novel dan cerpennya banyak dipublikasi majalah wanita "Filisthin Muslimah" (Majalah Wanita Islam Palestina). Kumpulan cerpen Intifada itu memuat 14 cerpen --yakni Pengasingan, Biarkan Aku Jadi Orang Palestina, Untuk Siapa Peluru Ini?, Orang-orang Deportan, Kami Bukan Orang Asing, Darah Hitam, Waham dan Amarah, Pencuri, Tanah Air Ini Lebih Besar, Dari Air Mata Mereka, Ahmad Izzuddin Tidak Lulus Sensor, dan Ketika Kota Itu Tertidur Lelap-- yang menggambarkan kerasnya perlawanan Intifada dan heroik pemuda, wanita dan anak-anak Palestina untuk meraih masa depan yang lebih baik. Misalnya ada potret ketegaran dalam penjara dan memilih mati ketimbang buka mulut kepada Israel, seperti sikap tokoh intifada Muhammad dalam cerita "Pengasingan". Muhammad sangat geram dengan strategi Israel yang dengan cara apapun harus merampas Palestina, sekalipun membunuh. Strategi Israel itu terlihat dalam syair Absholom Cour oleh penyair Israel (1982):

Dalam pembicaraan bersama Aidit
Kami menyimpulkan
Kami harus berperang
Kami harus membunuh semua orang
yang mencari tanah air bagi mereka
Kami harus membunuh
sampai kami punya tanah air
terbentang dari sungai ke sungai.

Tidak saja ada kemarahan pemuda dalam/ luar negeri (cerpen Untuk Siapa Peluru Itu), juga reaksi keras anak-anak Palestina (cerpen Darah Hitam), ada kisah sedih deportasi (cerpen Orang-orang Deportan), ada thema perdamaian (cerpen Maling, cerpen Ketika Kota Tertidur Lelap, cerpen Ahmad 'Izzuddin Tidak Lulus Sensor), ada pembelaan media massa dan simpati opini dunia (cerpen Biarkan Aku Jadi Orang Palestina).
Kekerasan dan ancaman Israel terhadap Palestina tidak saja menimbulkan simpati masyarakat dunia terutama umat Islam di samping Arab, juga mendapat simpati masyarakat Israel sendiri. Ketika Jeffee Centre for Strategic Studies, Maret 1997 melakukan penjajakan pendapat (polling) pertama kali dalam sejarah terhadap mayoritas warga Israel mengenai berdirinya sebuah negara merdeka Palestina, 51 % warga Israel mendukung negara Palestina Merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Bahkan 77 % warga Israel meyakini Palestina sebagai negara merdeka akan kuat 10 tahun mendatang sebagai hasil final Perjanjian Oslo 1993 yang memberikan hak otonomi bagi Palestina. Kenyataan ini sekaligus menjatuhkan pamor PM Israel Benjamin Netanyahu ketika itu dari Partai Likut Israel yang kebijakan kontroversialnya banyak menghancurkan proses perdamaian, di antaranya membangun pemukiman Yahudi di Jerusalem Timur yang disiapkan Palestina sebagai Ibu Kota Palestina masa depan.
Pernah pula simpati diberikan seorang gadis Amerika keturunan Yahudi-Jerman kelahiran New York tahun 1934. Gadis itu dikenal dengan nama Margareth Marcus kemudian setelah memeluk Islam berubah nama dengan Maryam Jamilah. Ia memberikan simpati kepada rakyat Palestina terutama yang berjuang di Jalur Gaza. Rasa simpatinya itu dituangkan di dalam novelnya "Di Tepian Jalur Gaza" ditulisanya selama 13 tahun, dimulai sejak ia berusia 14 tahun (1948, ketika Israel memproklamirkan kemerdekaannya mencoplok Palestina). Cerita gadis Yahudi ini, secara populis memprotes strategi Zionisme termasuk keluarga dan sahabatnya sendiri orang Yahudi, bahwa dengan alasan "keterbelakangan" para petani Palestina mengabsahkan tindakan mereka mengusir rakyat Palestina dari tanah leluhurnya sekaligus merampas hak-hak mereka. Gadis ini menampilkan tokoh utama novelnya Ahmad Khalil yang meronta menentang Israel karena haknya dirampas, keluarganya disiksa seperti adiknya Khalifah dan hidup berteduh di kemah pengungsi. Ahmad Khalil tetap tegar bertani di desanya dan tidak menjadi urban, bahkan tetap prihatin terhadap kondisi orang Palestina yang acuh terhadap agamanya dan orang Arab mulai mencampakkan nilai rohani. Gadis itu sangat intens menghayati nasib Ahmad Khalil yang didera nasib dan anaknya sendiri Ismail seperti sebagian orang Palestina dan Arab mulai mencampakkan nilai ruhani dan mengagungkan kebudayaan Barat. Karena begitu intens dengan sengsara rakyat Palestina serta benci dengan prahara budaya Barat gadis Yahudi itu bersimpati kepada perjuangan rakyat Palestina dan Arab serta nilai ruhani dan agama yang dicampakan sebagian rakyat Palestina dan Arab, maka Margarett Marcus yang ketika itu masih kuliah di Universitas New York, dengan bersemangat ia menyatakan masuk Islam, 24 Mei 1961di Brooklyn sekaligus berganti nama dengan Maryam Jamilah.
Semua umat di dunia mengetahui penderitaan rakyat Palestina. Ada kecaman dunia karena Israel banyak membunuh dan memenjarakan rakyat Palestina tanpa proses peradilan. Kelompok yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia, Amensty Internasional di London, April 1997 pernah melancarkan protes terhadap Israel yang memenjarakan 270 rakyat Palestina tanpa diadili. Meskipun demikian secara umum, penderitaan mereka tetap menusuk perasaan kemanusiaan. Peneritaan panjang mereka, sakit tidak mendapat obat secukupnya. Lapar tak dapat makan meskipun sekedar yang mereka butuhkan. Setes air pun sama dengan darah, sulitnya luar biasa. Cobaan demi cobaan menimpa mereka, seperti disebut Al-Qur`an, cobaan untuk mereka al. kekurangan makanan (lapar), kekurang buah, kekurangan harta, jiwa orang-orang yang dikasihi (ayah, ibu, anak, isteri dst) setiap sa'at melayang, bahkan rasa takut selalu menggerogoti. Setiap sa'at pesawat tempur Israrel menderu dan membombardir, membalikkan dan membakar bumi dan membunuh nuthfah yang tidak terhitung kuantitasnya.
Keadaan terasing yang menyengsarakqn, berpanas dibakar panas dan membakar bumi dan membunuh nuthfah padang sahara, berdingin-dingin diselimuti salju, terkadang menimbulkan perasaan mendua, mempersoalkan cinta tanah air dan cinta semua orang yang dicintai di samping kecintaan terhadap yang maha kuasa. Kadang kala berfikir pragmatis saja artinya buat apa betul berfikir idealis, yang penting hidup, demikian mencintai tanah air, mau berbuat apa dengan rasa cita tanah air itu, sementara hidup terbelenggu dan terlunta di pengasingan. Tapi karena kuatnya rasa cinta tanah air sebagai bagian sisa nasionalisme dan ingin merdeka dan mereka tahu bahwa membela tanah air itu bagian dari iman, maka kerinduan tanah air itu semakin membara. Siang jadi angan malam jadi mimpi. Tanah air dan kemakmuran sebahagian wilayahnya serta semerbak wangi dan indahnya bunga di kampung terbayang di ruang mata. Kerinduan yang membara itu secara substansial, bagaimanapun mereka dapat kembali kepangkuan ibu pertiwi, tumpah darah mereka. Obsesi mereka pulang ke negeri mereka, di samping harus lolos dari ancaman dan teror serta belenggu zionisme Israel di daerah pendudukan dan daerah pengasingan. Penyair Jabra Ibrahim Jabra (dari A.Khouri dan Hamid Alqar, 1975, terj. Yose Herman) pernah menuturkan perasaan rindunya dan perasan rindu pengungsi yang membara hendak pulang ke tanah airnya, di tengah-tengah ancaman Israel sepanjang waktu. Simaklah Syiarnya berikut ini:

Di Padang pasir

Musim demi musim pelan-pelan pun silam jua
Berpacu menyapu padang pasir sepi kerontang
Mau apa kita dengan cinta
Sedang mata berlumpur salju dan debu lekang ?

Palestina tumpah darah kami yang hijau;
lihatlah betapa bunga-bungaan mekar bagai sulaman gaun perawan;
Maret mengepak diri menghias perbukitan
penuh kemilau pepohonan peony dan narkisus;
Bagai kuntum penganten malu tersipu
Mai adalah dendang yang lugu
Dinyanyikan kala sore mengoyak langit
Dalam bayang-bayang biru
Yang tergesa antara pepohonan zaitun di lembah-lembah
di Padang-padang kuning menyilau
Kita masih menunggu dalam panen meruah

O tanah air di sana dulu masa kecil lenyap menghilang
Bagai mimpi-mimpi dalam pelukan hutan-hutan jeruk,
di lembah-lembah antara pepohonan korma
Ingatlah kini kami terlunta
Dalam pagutan padang pasir panas membara
Merangkak di bukit-bukit karang kersang;
Ingatlah kami
Yang terkapar di bawah puing kota, terkubur dalam pasir dan lautan;
Ingatlah kami
Lihatlah betapa kini di debu pelan-pelan
Tak 'kan pernah pupus walaupun sampai akhir kembara hanyut tertahan.
Lihatlah betapa mereka layuan kembang di perbukitan
Mereka hancurkan gubuk-gubuk kami
Mereka merobek belulang kami terkapar berserakan,
Lalu membiarkan kami lebur dibakar matahari,
Lihat betapa lembah merintih dikoyak kelaparan
Sementara bayang-bayang biru nyala membara
Terkapar di sisi mayat-mayat buat santapan gagak dan elang
Mungkinkah ia datang dari bukitmu di sana para malaikat bernyanyi
pada gembala tentang perdamaian dan cinta yang hilang ?
Hanya maut yang terkekeh kala ia terlihat
Dalam perut-perut binatang gembala
pada dada manusia, Dalam desingan deru peluru
Di atas kepala perempuan-perempuan yang meratapi nasib
Tanah air kita adalah permata kemilau
Tapi terasing dicekam padang pasir lengang
Di sana musim-musim lepas berlalu
Hanya debu-debu latah yang kian mencincang wajah kita
Lalu apa lagi, mau apa kita dengan cinta ?
Sementara mata dan mulut kita berlumpur salju dan debu yang beku ?.


Kisah sedih rakyat Palestina sepanjang sejarah dalam keterasingannya, mengingatkan kepada peristiwa duka yang terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti penderitaan pengusiran dan deportasi 413 orang Palestina oleh pemerintahan zionisme Israel, 17 Desember 1992. Mereka ditempatkan di daerah yang tak bertuan di perbatas Libanon. Maut mengancam mereka, karena kurang makan dan kurang air serta obat-obatan. Israel dan Libanon pun memblokir jalan bagi komite palang merah internasional (ICRC) untuk memasuki wilayah pengungsi terus sampai ke tenda-tenda darurat tempat mereka berlindung sementara. Bahkan kematian mengincer dan penderitaan semakin lengkap, karena yang sakit patut jangankan bisa dibawa ke rumah sakit, yang luka parah saja tak mendapat pertolongan, bahkan Perdana Menteri Israel ketika itu Yitshak Rabin pun bersikeras tidak membolehkan siapa pun membantu dan mengobati yang sakit bagi orang-orang Palestina yang dideportasi itu. Pada serangan terakhir (2009) Israel membakar Gaza, korban dibiarkan tidak makan, minum dan distop bantuan obat-obatan internasional. Tidak hingga itu saja, lebih lanjut PM Israel itu secara tidak manusiawi, menolak Reto Meister Kepala Palang Merah Internasional lewat Israel memasuki wilyah Kamp Pengungsi orang Palestina itu. Setelah dunia internasional mengecam, PM Israel pun membolehkan, tetapi dengan persyaratan yang berkaitan dengan kehormatan kedaulatan Libanon, yakni boleh Kepala Palang Merah Internasional itu masuk Kamp Pengungsi bila Libanon terlebih dahulu membuka jalan untuk pengungsi, sebelum rombongan palang merah internasional memasuki kamp pengungsi dipimpin oleh Bernard Pfefarle. Tidak cukup hingga itu, Isreal pun mengintimidasi 413 pengungsi Palestina itu dengan 4 tembakan mortir dan 8 tembakan tank tepat menghantam lingkungan kamp pengungsi di Marj Ex-Zouhour. Mereka seperti dipaksa untuk lari dan diharapkan Israel, mereka lari membabi buta memasuki wilayah Libanon, yang tadinya Libanon diminta Israel untuk membuka jalan bagi pengungsi itu. Ini dimaksudkan agar Israel dapat melepaskan tanggung jawabnya dalam mengurus orang Palestina yang diusir dan depaortasinya itu. Sialnya Libanon menolak, karena Libanon ingin agar Israel dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya mendeportasi orang Palestina. Akibatnya yang sengsara ialah pengungsi Palestina juga, karena intimidasi tembakan tank dan mortir yang tak tertahankan, mereka lari terbirit-birit, memanjat perbukitan menyembunyikan diri di perbatuan cadas di bukit-bukit sekitar, meskipun perbukitan itu terus diguyur Israel dengan tembakan tank dan mortir. Mereka meradang dan membantah, kenapa mereka harus mati. Ratap tangis histeris orang Palestina yang terusir sejak dahulu itu dilukiskan penyair Abdul Wahab Al-Bayati dalam syairnya dengan topik "pertanyaan seorang pengungsi" ( A. Khouri dan Hamid Alqar:1975) sbb. :

Kenpa kami harus mati
dalam kesunyian
Padahal kami memiliki rumah
dan apa saja
Dan kau di sini tanpa suara
ya di sini kalian cuma bisa meratap
Kenapa kami terbuang ?
Kami mati
Kami mati dalam kesunyian
tanpa bisa berteriak apa-apa
Dalam nyala api dan kegelisahan
Kami mengembara
dan rakyatku mengembara
Tuhan, kenapa kami
hidup tanpa negeri tanpa cinta,
Kami mati
Kami mati dalam ketakutan
Tuhan, kenapa kami mati
dalam pengungsian ?.

Gambaran yang sama dikumandangkan penyair Palestina Harun Hasyim Rasyid dalam syairnya "Hiwar qashashi baina Fatat Laji`ah wa Abiiha" (percakapan narativ seorang pemudi dengan ayahnya). Lihatlah beberapa baris liriknya berikut:

Bumi bagi kami
cita-cita yang selalu hadir
di sini manusia menari
di udaranya burung berkicau
tanah air bagi kami
namanya harum sepangjang zaman
kenapa kami ayah
kenapa kami tersingkir

Dalam penderitaan panjang orang Palestina di pengasingan, kerinduan tanah air semakin membara. Bahkan kerinduan tanah air itu menjadi obsesi rakyat Palestina sepanjang hari dan jadi mimpi sepanjang malam. Obesi ini tertuang di dalam lirik, efik dan dramatik rakyat Palestina. Kerinduan dan bayangan keindahan alam tanah air Palestina banyak menjadi esensi syair Arab Palestina. Jabra Ibrahim Jabra secara romantis melukiskan romantika alam Palestina dan kerinduan rakyatnya hidup damai di tanah airnya itu.

Palestina tumpah darah kami yang hijau
liriklah betapa bunga-bunga kembang mekar
bagaikan sulaman di tiap gaun wanita
ketika Maret tiba
perbukitan kemilau hijau di antara pepohonan peoni dan narkisus
bagaikan kuntum penganten malu tersipu
April datang membakar padang
marak merah bunga-bungaan kembang merekah
dan senandung kedamaian menyemarakan desa kami
Dalam bulan Mai kami bernyanyi siang hari
di bawah bayang biru pepohonan
di antara pepohonan palam di ranah ini
di tengah ranun buah-buahan di padang
kami menanti Juli dan menyanyikan lagu gembira
menyambut panen melipah ruah.

Tanah Air Palestina yang demikian indah dan punya kekayaan sumber daya alam dan punya kebanggaan dan kenangan tersendiri bagi rakyatnya, tidak boleh ada pihak lain yang menguasainya. Ternyata Israel dengan kesewenangannya mencoploknya. Meninggalkan luka yang perih. Penyair mengadu kepada Alam, tentang kemiskinan rakyat di negerinya sendiri yang kaya. Penyair Wanita Palestina Ruqiah Zaidan (2005) mengambarkan perasaan luka melihat nasib rakyat yang terjebak monolog. Dukun, petani dan aku terjebak dalam bahasa sendiri sendiri tentang mimpi tanah airnya. Lihat baitnya dalam syairnya “membaca filsafat gelombang” berikut:

حين يُصبح
الجوع في العين
والعطش في القلب
أعرف معنى الأفول
ثمّ الزوال.
...
الكاهن يقرأ لغة البخور
والحصاد يقرأ لغة الحقول
وأنا اقرأ قصيدة، الوطن

Ruqiah Zaidan mempertegas rasa cintanya kepada tanah airnya. “Aku katakan: aku cinta pada mu tanah airku”. Tanah air, tak pernah pupus dalam setiap denyut nadiku dan nadi Arab. Lihat liriknya dalam syairnya “wisyah abyadh la yaliiqu bi l-syaithan” (2006) berikut:
وينسى قفزاته من الموت الى الجحيم
واقول : احبك يا وطني
اي بخور يصعد من معبدك الكنعاني، وطني انت حاضر
وغائب في نبضاتي المنسية، انت حاضر وغائب في نبضاتي
العربية
Dr. Nadim Husain penyair Palestina seperti mengumumkan kepada dunia kecintaannya dan kerelaannya berkorban untuk membela tanah airnya. Tanah airnya serpihan daging bangsa yang sesak nafas dalam luka perih berdarah. Perih hatinya melihat nasib bangsa dan tanah airnya. Lihatlah liriknya dalam syair “kau salamilah hatiku” berikut:

يا سادَتي،
وطني انا من لَحمِ شعبٍ غاصَ في وَجَعِ الدمِ!



Sikap pessimis tidak boleh ada bagi rakyat Palestina. Tiap jengkal tanah yang dirampas Israel, harus dapat direbut lagi. Sikap optimis tumbuh, terutama di kalangan pemuda. Pemuda tidak boleh cengeng, menyalahkan nasib, malas dan duduk berpangku tangan. Mereka harus bangkit, membela tanah air dan mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa. Di tangan pemudalah terletak masa depan yang lebih baik. Karena itu pemuda harapan bangsa. Semangat ini menjadi thema dan amanat syair Penyair Palestina Ibrahim Abdulfatah Thauqan dengan topik :
"Optimis dan Harapan" sbb.:

Hapuslah air matamu
ratap tangis tak'kan ada gunanya
bangkitlah jangan kau keluhkan zaman
hanya sipemalaslah yang punya keluhan
tempuhlah jalan wujudkan cita-citamu
jangan kau katakan bagaimana mencapai kebahagian
....
Hai si miskin apakah kau habiskan usiamu
dengan rintihan dan kesedihan
kau duduk berpangku tangan
....
Mari pemuda, kau katakan : selamatlah
sesungguhnya di tanganmulah harapan masa depan
***

Pengungsi Palestina tetap sarat dengan harapan. Mereka tak mau mati di pengasingan. Tekad ini --dengan serentetan pertanyaan panjang tentang cita-cita ingin bebas dari hidup terasing-- terlihat dalam baris--baris syair penyair wanita Palestina Fadawi Thauqan sbb.:

akankah kukekal di sini
mati terasing di bumi asing?
akankah kukelal ? siapa mengatakan?
ku ‘kan kembali ke negeriku tercinta

Meskipun setetes harapan ada untuk dapat kembali ke tanah air, rakyat Palestina tetap saja punya kekhawatiran terhadap ketidak berdayaan menghadapi kezaliman Israel. Apalagi Nasionalis Arab sedang lumpuh. Namun tekad tetap kuat, hendak memperkuat Nasionalis dengan pemikiran dan pembinaan ke arah falsafah bangsa yang dalam. Ini tergambar dalam baris-baris syair Penyair Mu'ayyan Taufiq Bisaisu sbb.:

ku jika jatuh kau tempatilah posisiku
hai teman seperjuangan
ku panggul senjata, jangan menakutkan kau
darahku mengalir dari laras senjata itu
ku lirik bibirku terkatup
melintas gemersik badai
ku kerling mataku terpejam
melirik cahaya pagi
ku belum mati, ku belum lenyap tenggelam
ku kembali mengajakmu
dari balik goresan luka .

Obsesi rakyat Palestina yang terusir dari tanah airnya, ingin kembali dan kembali. Tapi tak mau mati sebelum kembali ke tanah airnya. Mereka akan kembali seperti kembali bertani setelah panen. Mereka kembali membalas dendam membara. Ini tergambar dari lirik penyair wanita Irak Nazik Malaikah sbb.:

teman dan panen
ia telah kembali Nabiku
menjadi api membakar
rindu dendam membara
besok 'kan bangkit hidup.

Tekad hendak kembali ke tanah air menghalau segala ketakutan. Perjuangan terus dikobarkan melawan kezaliman, meskipun jadi korban demi tanah air. Tekad ini diwariskan kepada generasi demi generasi. Ini terlukis dalam puisi "Filisthin" (Orang Palestina) oleh penyair kontemporer Palestina Abu Sulma berikut ini:

besok kami 'kan kembali, generai-generai ini
dengar derap langkah di Iyabi
memang, beribu-ribu korban kezaliman 'kan kembali
membuka segala pintu


Pada gilirannya dalam kegetiran dan ksengsaraan, konflik rakyat Palistina dengan Israel, dapat dimanfa'atkan sebagai pintu untuk terus mengobarkan perang melawan kesewengan imperialis zionis itu, dan sebagai gerbang untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan, persaudaraan serta nasionalis Arab sekaligus menyatukan visi untuk memelihara warisan budaya dan pusaka Arab yang tidak ternilai harganya, terutama dimulai dari Palestina. Rakyat Palestina dengan intifadanya terus membuka pintu kesadaran itu dengan sindiran halus kepada Israel musuh bebuyutannya. Strategi ini tercermin dalam syair "Intifadat Al-Haq" oleh penyair Syafiq Jabari berikut:

hai umat, lestari warisan zaman telah tenggelam
penginggalannya belum sempat dipetik umat ini
mereka kira menghabisimu aman dari sangsi
tak tahu sebenarnya mereka berprasangka dan berangan-angan

Nada Syafiq sejalan dengan baris-baris syair "Daulat Kecil Zionis Tak Bakal Kekal" oleh penyair Ahmad Saqaf:

cukuplah penderitaan ini, sabar tanpa upaya
hati mengeluh risau dan nestapa
....
sebab itu setiap hari kau perjuangkan cita-cita
setiap hari kepentingan umat Islam Arab kau bela

Nada heroik yang sama terlihat pula dalam baris-bari syair "seruan berjihad" oleh penyair Muhammad Mushthafa Al-Mahiy sbb.:

tunjukan pada mereka teknik jihad
kekuatan penolong itu tidak berharap selain jihad

Semangat nasionalis dalam bentuk cinta tanah air semakin terasa dalam baris-baris syair "Gelandangan itu" oleh penyair Palestina Harun Hasyim Rasyid dalam nada menyindir sbb.:

aku kawan manusia sepertimu
pernah punya tanah air tercinta
di sana pernah hidup sejahtera
dan hidup kaya
...
pernah kami punya cita-cita
dan mimpi-mimpi di tanah air tercinta

***
Israel meskipun tetap bersekukuh memerangi dan “membunuh” Palestina, namun keadaan itu tidak pernah membunuh perkembangan sastra Palestina sama dengan semangat nasionalismenya tak akan pernah mati. Kenyataan ini memperlihatkan tetap dominasi keterpakaian teori kritikus terkemuka Al-Jazair Abu l-Qasyim Sa'adullah, bahwa "perang dengan gempita pengaruhnya melahirkan karya sastra yang tidak kalah dengan dahsyatnya perang itu sendiri". Lihatlah terakhir (2008-2009) agresi Israel ke Gaza, tidak sedikit lahir puisi kontemporer tidak saja dipublikasi dalam lembaran terbatas, surat kabar, juga dalam bentuk sastra webs yang on line. Banyak indikasi sastra berkembang di Palestina –seperti juga di Al-Jazair– karya sastra terus lahir secara kreatif dan berkembang hebat dengan kekayaan imajinasi dalam thema-thema perang, pembelaan tanah air, kebangkitan harga diri, persatuan dan kesatuan yang secara esensial memupuk semangat nasionalisme Arab. Boleh dikatakan sastra merupakan senjata “meski diam – tapi mengusik dan tak pernah padam” dalam menghidupkan semangat nasionalisme Arab di Palestina.

Padang, 1997 - 2009


Rujukan

Dina, Y.Sulaeman,
2008, Ahmadinejad on Palestine, Perjuangan Nalar dan Jiwa Seorang Presiden untuk Palestina. Depok: Pustaka Ilmiah
موشيه آرنس ,
2009, غزة، اربعة خرافات . Palestina: The "Ha'aretz"
توفيق وصفي
2009, هنا غزة. Palestina: www.tawfiqwasfi@yahoo.com
منال خميس ,
2009, الى الذين انشغلوا علينا في كل العالم. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com

عبد الرؤوف ارناؤوط ,
2009, الفلسطين. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com
علي الخليلي ,
2009, غزة في مواجهة الكارثة. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com

طلال عوكل ,
2009, وبعد الحروب. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com

Barghouti,
2006, شعراء من فلسطين. Palestina: www.barghouti.com/islam

الشاعر سليمان دغش,
2006, فلسطينيو الـ 48 رافد للحضارة والثقافة العربية؟. فلسطين: كل العرب


Senopati Athur,
2009, Analisa Serangan Israel terhadap Gaza. On line:
www.senopatiathur.wordpress.com

Seto,
2009, Bom Phosphor Putih, dari Falujah ke Gaza. On line: www.infopalestina.com/


Selengkapnya...