Kamis, 12 Maret 2009

Malik bin Nabi : Membangun Dunia Baru Islam

Oleh : DR. Saifullah SA., MA

Malik bin Nabi adalah salah seorang pemikir Islam yang terkemuka abad kedua puluh. Beliau berasal dari Algeria. Sewaktu hidup beliau banyak menghabiskan waktunya untuk mencari penyelesaian terhadap isu-isu yang dihadapi oleh umat Islam, dengan mencadangkan suatu bentuk penyelesaian yang beradab untuk mengeluarkan umat dari kejatuhan.

A. PENDAHULUAN
Beliau adalah tokoh Islam yang patut dicontoh dan diteladani, namun banyak di antara umat Islam yang belum kenal dengannya. Pada hal dia telah banyak berjasa menyumbangkan waktu dan pemikirannya terhadap masalah-masalah yang melanda umat Islam sekaligus mencoba memikirkan cara-cara mengatasinya. Andaikan umat Islam mempelajari sejarah hidup beliau, tentu akan mengenalnya dan akan mengerti betapa besarnya jasa-jasa yang telah ia perbuat untuk masa depan umat Islam. Dengan mengenang akan jasanya, tentu tidak pantas lagi umat Islam melupakannya dan sepatutnyalah segera mempelajarinya lebih jauh. Tidak saja cukup mempelajarainya, tetapi adalagi yang lebih penting yaitu mengambil pesan-pesan dari kehidupan serta pemikirannya dalam rangka membangun dunia Islam yang lebih beradap untuk masa depan.
Untuh mengetahuinya lebih jauh, maka penulis akan mencoba mengawali pembicaraan makalah ini tetang sosok Malik bin Nabi dan peranannya dalam membangun dunia baru Islam. Tentunya penulis sangat menyadari akan keterbatasan ilmu penulis dalam membahas ini, namun setidaknya bisa menjadi langkah awal bagi kita dalam mengenalinya lebih jauh serta mengambil pesan-pesan yang ada dalam pemikirannya.
B. Pembahasan
1. Biografi dan Karya-karya malik Bin Nabi
Malik bin Nabi memiliki nama lengkap yaitu Malik bin el-Haj Umar binel-Hadlari bin Mustofa bin Nabi. Ia dilahirkan di Kota Konstantin, Aljazair pada tanggal 2 Januari 1905 M . Pada saat beliau lahir, Perancis telah mengukuhkan kolonialnya dan telah menguasai negeri itu . Berkukuhnya Perancis di negara itu membuat raknyatnya tertindas sehingga banyak di antara mereka yang meninggalkan tempat untuk menyelamatkan harga diri keluarga mereka dari ancaman penjajah. Peristiwa tragis ini sudah mulai diketahui oleh Malik bin Nabi, atas penjelasan nenek perempuannya yang tekun mencerikannya kepada beliau dan didengarkan oleh beliau dengan sangat serius sehingga tanpa disadari cerita itu telah membentuk jiwanya yang kemudian membentuk langkahnya di masa mendatang .
Keluarga Malik bin Nabi adalah keluarga yang tergolong miskin, dimana sang ayah yang mempunyai ijazah diploma Sekolah Menengah pada saat itu tidak mempunyai pekerjaan dan ibu yang bernama Zahira berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka . Walaupun keluarganya adalah keluara miskin, tetapi beliau dapat bersekolah di Sekolah Dasar Perancis sebagaimana layaknya dulu anak-anak priyay Indonesia di zaman Belanda. Hal ini tentunya disebabkan oleh ayahnya yang sudah dikaruniai pekerjaan pada sebuah Komune Campuran setempat di Tebessa. Selain di Sekolah Dasar, beliau juga pernah belajar di Madrasah yang menyiapkan para Hakim, guru dan pembantu kesehatan.
Dengan demikian Malik bin Nabi sejak awal sudah mengenal dua sistem pendidikan yang berbeda yaitu Barat dan Islam tradisional. Dengan bersekolah di dua tempat tersebut, akhirnya beliau mendapat keuntungan yaitu menguasai dua bahasa yaitu Bahasa Perancis dan Bahasa Arab yang merupakan bahasa ibunya . Setelah tamat Sekolah Dasar tersebut beliau melanjutkan ke Sekolah Menengah yang masih berada di Kota kelahirannya .
Setelah menamatkan sekolah menengah, ia kemudian melanjutkan studinya di Paris, Prancis . Di negeri ini, ia berhasil meraih gelar insinyur di bidang elektro pada tahun 1935. Usai menamatkan pendidikannya itu, ia tidak langsung pulalang ke negeri asalnya akan tetapi ia berkeliling ke negara-negara Islam.
Sewaktu ia berkeliling kenegara-negara Islam, banyak kejadian ia saksikan, misalnya ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi yang terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat di negara yang ia singgahi karena adanya penjajahan atau imperialisme. Sementara di negeranya sendiri, yatu Aljazair, terjadi juga hal yang serupa.
Tahun 1956 M, Malik bin nnnnnnNabi tiba di Kairo dan Departemen Penerangan Mesir menerbitkan buku al-Fikrah al-Ifriqiyyah al-Asiawiyyah yang ditulisnya dalam bahasa Perancis. Melalui kontaknya dengan sejumlah mahasiswa di Kairo, dia kemudian menerjemahkan buku-bukunya yang sbahagian besar masih tertulis dalam Bahasa Peranci ke dalam bahasa Arab, dan bahkan secara langsung menulis buku-bukunya yang lain dalam bahasa Arab pula .
Tujuh tahun kemudian (tahun 1963), ia kembali ke kampung halamannya yaitu Aljazair, dan ditunjuk sebagai Direktur utama pendidkan Tinggi al-Jazair. Di negeri kelahirannya inilah, ia menerbitkasssn Afaq Jazairiyyah, Yaumiyyat Syahid li al-Qarn, al Muslim fi'Alam al-Iqtishad dan Musykilat al-Afkar al-Islamiy. Hanya empat tahun ia menduduki jabatan tersebut .
Pada tahun 1967 ia melepaskan jabatannya dan menggunakan lebih banyak waktunya berkonsentrasi dalam kerja intelektual dan menjadi pembicara dalam berbagai seminar, baik di dalam maupun luar negeri. Ia telah lakukan sebuah upaya besar berupa jihad intelektual demi majunya kembali peradaban Islam .
Pada usia 68 tahun, tepatnya tanggal 31 Oktober 1973 Malik bin Nabi kembali ke haribaan Allah SWT untuk selama-lamanya tempatnya di al-Jazair .
Terkait dengan karya-karyanya dapat dilihat dari aktifitas menulisnya, Malik bin Nabi baru mulai menulis dalam usia 40-an, yaitu usia yang tidak muda lagi bagi pekerjaan penulisan. Sekalipun terlambat mulai menulis, namun tetap sebagai seorang penulis yang andal. Hal ini terbukti dari karya-karyanya antara lain:
a. The Qur’anic Phenomenon (Fenomena al-Quran) terbit thun 1946, asli dalam Bahasa Perancis
b. Labbayka (Tentang Haji) tahun 1947, novel sosial dalam Bahasa Arab)
c. The Conditions of the Renaisance (Syarat-syarat Kebangkitan) tahun 1948, asli dalam Bahasa Perancis
d. Ocation de l’ Islam (Tren Dunia Islam) tahun 1954, terjemahan bahasa berjudul Islam in Hstory and Society
e. The Afro-Asiatism (Gagasan Asia Afrika) tahun 1956, asli dalam Bahasa Perancis
f. S.O.S. Algeria (1957, asli dalam Bahasa Perancis)
g. The Problem of Culture (1957,asli dalam Bahasa Arab)
h. The ideological Struggle in Colonized Countries (1957, asli dalam Bahasa Arab)
i. The New Social Edification (1958, asli dalam Bahasa Arab),
j. The Problem of Ideas in the Muslim World (1960, asli dalam Bahasa Arab)
k. Birth of a Society (1960, asli dalam Bahasa Arab)
l. Memoires jilid I (1965, asli dalam Bahasa Arab)
m. The Work of the Orientalists (1967, asli dalam Bahasa Perancis)
n. Islam in Democracy (1968, asli dalam Bahasa Perancis),
o. The Sense of the Stage (1970, asli dalam Bahasa Arab)
p. Memories Jilid II (1970, asli dalam Bahasa Arab)
q. The Muslim in the World of the Economics (1972, asli dalam Bahasa Arab)
r. The Role of the Muslim in the Last Third of the 20th Century (1972, asli dalam Bahasa Arab).
Karya-karya monumental inilah mengantarkan Malik Bin Nabi menjadi pemikir di tengah-tengah pemikiran Islam modern, dan melalui karya inilah beliau menugnkan segala ide dan gagasan cemerlangnya.
2. Pemikiran Malik Bin Nabi Dalam Membangun Dunia Baru Islam
Dalam rangka menanggapi pembangunan peradaban Islam ke depan, banyak di antara tokoh-tokoh Islam yang mencoba menawarkan solusinya. Diantanya adalah Malik bin Nabi. Beliau mencobarkan solusi untuk membangun peradaban Islam yang lebih beradab, Umat Islam harus kembali ke sumber utamanya yaitu al-Quran dan Hadis sambil mengambil berbagai unsur yang baik dari luar , meskipun itu datang dari non Islam.
Menurut Malik bin Nabi, terdapat tiga unsur pokok yang ada dalam Islam untuk membangun peradaban yang lebih maju. Ketiga unsur pokok tersebut adalah manusia, tanah dan waktu. Namun ketiga unsur pokok tersebut tidak cukup bila tidak melalui pendekatan budaya yang diuraikan secara filosofis dan menarik.
Adapun yang melatar belakangi munculnya pemikiran Malik bin Nabi yang menyimpulkan ketiga faktor tersebut untuk membangun peradaban Islam adalah: Pertama, melihat keterbelakangan pola pikir umat Islam yang cendrung monoton, dan tertutup terhadap perkembangan yang ada disekitarnya. Mereka sangat anti terhadap negara-negara Barat, padahal bila ditinjau lebih jauh, banyak positifnya. Kedua, Malik bin Nabi mengetahui lewat sejarah, bahwa negara-negara maju tersebut tidak terlepas dari memadukan ketiga unsur tersebut, karena negara yang ambruk seperti Prancis setelah perang dunia ke dua, mereka juga hanya memiliki ketiga unsur tersebut. Dengan memadukan unsur-unsur itulah sehingga negara mereka menjadi maju seperti yang disaksikan sekarang ini.
Ketiga unsur di atas merupakan satu sistem yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk lebih terarahnya makalah ini, penulis akan menguraikan satu demi satu.
a. Unsur Manusia dan peranannya dalam membangun dunia baru Islam.
Manusia merupakan salah satu sumber permasalahan di dunia Islam, khususnya di Aljazair. Dalam hal ini yang menjadi pokok persoalannya adalah umat Islam harus mencetak orang-orang yang bisa berjalan dalam sejarah, dengan mempergunakan tanah, waktu dan potensi-potensi lain dalam membangun peradaban .
Berbicara masalah manusia dalam membentuk peradaban akan terkait pada empat orientasi pokok, yaitu orientasi kebudayaan, orientasi kerja, orientasi modal dan orientasi estetika. Sebelum penulis uraikan maksud dari masing-masing orientasi tersebut, terlebih dahulu dijelaskan maksud orientasi.
Secara umum orientasi adalah kekuatan dalam asas, keserasian dalam gerak dan kesatuan dalam tujuan. Maksudnya adalah suatu upaya untuk menghindari pemborosan dalam waktu. Dari pengertian ini, maka akan banyak ditemukan umat Islam yang menghimpun dan menggunakan potensi dan kekuatan yang tidak berdaya guna. Menurut hemat penulis kondisi inilah yang dilihat oleh Malik bin Nabi ketika mengembara kenegara-negara Islam.
Malik bin Nabi mengarahkan orientasi yang berdaya guna itu adalah orientas yang digerakkan oleh dorongan keagamaan yaitu agama Islam.
1) Orientasi kebudayaan
Kebudayaan dalam pembahasan ini dapat penulis gambarkan sebagai kondisi umat atau masyarakat yang dibuat sesuai dengan tujuan bersama. Merujuk pada pengertian tersebut, maka ternyata banyak kebudayaan yang telah disimpagsiurkan oleh umat Islam pada masa itu. Budaya umat Islam sudah menyimpang menjadi sok pintar dan berlagak pandai yang pada akhirnya muncul dua model individu dalam Islam yaitui pemakai baju-baju tambal yang kumuh dan penyandang baju ilmiah. Penulis menilai apa yang menjadi model individu pada masa itu, merupakan aib bagi umat Islam, yang seharusnya pemakai baju ilmiah bukan penyandangnya.
Kebudayaan baru bisa memberikan makna manakala kebudayaan tidak memisahkan diri dari sejarah dan pendidikan. Kebudayaan harus melihat pada sejarah masa lalunya dengan mengambil sisi baik yang bisa diaplikasikan pada masa berikutnya, demikian juga pendidikan, manusia haruh didik demi terarahnya kepada yang lebih baik.
2) Orientasi kerja
Kerja adalah satu-satunya yang bisa menggerakkan benda ketujuannya, tentunya dalam tataran sosial. Walaupun ia bukan merupakan unsur dasar sebgaimana manusia, tanah dan waktu, namun ia muncul dari ketiga unsur tersebut. Hemat penulis, bila umat Islam menerapkan kerja sebagai kebutuhan, maka akan banyak perubahan terhadap kemajuan umat Islam. Sepertinya kondisi inilah yang diamati oleh Malik bin Nabi, dimana umat Islam pada masa itu malas untuk bekerja dan cenderung terlena dalam pengangguran dan menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Bila ini yang terjadi sangat mungkin umat Islam berada pada posisi ketertinggalan dibanding negara-negara Barat yang sudah maju.
3) Orientasi modal (kapital)
Modal yang dimaksud dalam makalah ini tidaklah sama dengan modal yang yang dibangun oleh Karl Marx dalam karirnya dan dikembangkannya pada tahun 1848 M, yang berakibat pada kapitalis. Karl Marx hanya menggerakkan modal sebagai alat politik untuk menindas kelompok tertentu bukan seperti yang dianjurkan oleh Malik bin Nabi yaitu untuk menggerakkan di bidang sosial.
Menurut hemat penulis modal yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah modal dalam rangka mendukung kebudayaan dan meningkatkan orientasi kerja.
4) Orientasi estetika
Penulis menilai inilah yang dimaksud dengan ihsan dalam agama. Umat Islam jangan sampai pandainya berpidato atau berorasi tetapi harus bisa berbuat dan bertindak sebagaimana yang dimuat dalam cerita di bawah ini:
Ada seorang anak yang mengenakan baju usang, yang kalau diungkapkan lebih jauh tentang sifat-sifatnya bisa diperluas, baju itu penuh dengan kotoran dan bisa menyebarkan penyakit. Seperti anak kecil yang tubuhnya penuh dengan kotoran dan penyakit kemudian hidup di lingkungan yang kotor, yang kalau dibiarkan maka masyarakat bisa tersebar penyakit itu. Padahal dia adalah satu di antara sekian juta orang yang siap memasuki sejarah, namun dia tidak mau bergerak sedikitpun sebab dirinya sudah terkubur dalam tumpukan kotoran.
Untuk mengubah dirinya yang kumal itu, tidak cukup hanya dengan pukul;an pidato atau caci maki yang justru menyakitkan. Lalu bagaimana? Malik bin Nabi memberi solusi, umat Islam harus berusaha merobahnya tetapi tidak cukup dengan pidato tetapi harus melihat dengan dekat yaitu melihat kekumulan anak itu dari segi moral bahwa anak itu butuh pakaian untuk menutup auratnya. Jadi tindakan yang lebih tepat adalah mengajak anak kesungai lalu lepaskan seluruh baju kumalnya kemudian suruh dia mencuci yang masih bisa dimanfaatkan seterusnya suruh dia memakai pakaian bersih selanjutnya bawa dia ketukang cukur dan yang terakhir biarkan dia berjalan mencari kehidupannya. Dengan demikian akan berobahlah statusnya, dia bukan lagi gudang kotoran tetapi sudah berobah menjadi anak miskin yang mencari makan. Memang sebagai anak miskin tetapi sudah terhormat.
Contoh ini jangan diartikan secara sempit tetapi ini bisa dikembangkan dalam berbagai kontek kehidupan. Sehingga tercipta keindahan sikap dalam mengatasi persoalan.
b. Unsur Taah dan peranannya dalam membangun dunia baru Islam
Tanah juga merupakan unsur yang sangat penting dalam meningkatkan peradaban, bila ditelaah apapun aktifitasnya tentu tidak bisa dipisahkan dari peran tanah, sebab tanah merupakan tempat berpijak sesuatu.
Pembicaraan masalah tanah dalam hal ini bukanlah bukanlah dari segi karakter dan ciri-cirinya melainkan masalah nilai sosialnya. Nilai sosial yang ada dalam tanah itu bersumber dari pemiliknya dalam artian kalau pemiliknya bisa memberdayagunakannya dengan sebaik-baiknya maka tanah yang ada tersebut akan menjadi berguna. Bila dikaitkan dengan bangsa atau negara maka tanah yang dikelola secara baik maka peradabannya bangsa itu akan tinggi. Artinya bangsa yang tinggi peradabannya (maju), maka harga tanahnyapun akan lebih tinggi dan bisa untuk meningkatkan modal dalam rangka produktivitas kerja yang lebih baik.
Tanah dalam hal ini sangat besar peranannya dalam membangun peradaban. Tanah juga merupakan sumber kehidupan dan kesejahteraan sosial, dalam artian, bila tanah gersang atau tidak baik, maka tanah tersebut tidak akan bernilai apa-apa bahkan bisa mendatangkan bencana. Sebaliknya, tanah yang subur dan ditumbuhi oleh pepohonan maka tana bisa menjadi lambang suatu peradaban, artinya orang akan bisa bertani, beternak dan lain-lain.
Sebagai solusinya, menurut Malik bin Nabi supaya tanah bisa menjadi sumber peradaban, maka tanah yang ada itu hendaknya dimiliki dan dikelola oleh orang-orang yang berilmu sehingga tanah yang ada tidak dibiarkan begitu saja sebagaimana yang terjadi di aAljazair dan negara-negara Arab waktu itu. Tanah harus dihijaukan dalam artian ditanami dengan pepohonan.
Berbicara masalah penghijauan, maka teknologi yang sudah memiliki tenaga nuklir, bila dimanfaatkan kearah penyuburan tanah, maka nuklir yang dahsat bisa untu memanaskan air laut sehingga bisa memunculkan hujan buatan yang pada akhirnya dapat menyuburkan tanah. Jangan seperti yang dimanfaatkan oleh manusia yang tidak bermoral, dimana nuklir yang merupakan hasil teknologi banyak dimanfaatkan untuk memusnahkan manusia dan memusnahkan tumbuh-tumbuhan.
c. Unsur waktu dan peranannya dalam membangun dunia baru Islam
Waktu merupakan sesuatu yang berarti yang tidak bisa berulang lagi dalam artian waktu yang sama cuma sekali adanya dan tidak bisa dinilai dengan materi apapun. Malik bin Nabi menjelaskan waktu adalah sungai purba yang mengalir sejak azali, maksudnya waktu itu sudah ada sejak dahulu kala yang terus berjalan dan tidak pernah berulang lagi serta tidak bisa berhenti ataupun dihentikan .
Waktu akan sangat besar nilainya bagi manusia, bila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan sebaliknya waktu akan menjadi bencana bila tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Manusia suatu saat akan sadar bila tidak bisa menggunakan waktunya kepada hal yang bermanfaat, dan penyesalan itu tidak bisa dikembalikan lagi. Namun untu kedepannya waktu yang sudah disia-siakan oleh umat Islam di zaman Malik bin Nabi hendaknya menjadi pelajaran untuk generasi selanjutnya dan tidak akan terulang lagi. Inilah kira-kira yang menurut hemat penulis pesan yang diutarakan oleh Malik bin Nabi pada zamannya. Kerja yang sangat berharga, mungkin saja bisa diabaikan karena kemungkina masih bisa diperoleh kembali setelah ditinggalkan, namun tidak satu kekuatanpun (selain Allah SWT) yang mampu mengembalikannya.
Dalam satu hari ada 24 jam beredar, kalaulah umat Islam mampu mengkhusuhkan waktunya untuk melaksanakan tugas secara sitematis dan efektif, niscaya di akhir tahun umat Islam akan memperoleh hasil yang sangat berarti dari waktu kerjanya bagi kemaslahatan kehidupan umat Islam dalam semua bentuknya. Kalau waktu dapat digunakan semaksimal dan seefektif mungkin, maka ia tidak akan melahirkan kesemrawutan dan kemalasan dalam lingkungan umat Islam yang pada akhirnya menimbulkan peradaban yang maju dalam Islam.
idak menyia-nyiakannya poda sesuatu yang tidak bermanfaatManusia suatu saat akan menyesal ketika waktu telah berdesing melewatinya, sedang manusia terlena dan tidak menempatkannya pada yang bernilai
Mencermati pembaharuan yang dibawa Malik bin Nabi sepertinya berlatarbelakang dari sebuah kondisi masyarakat yang cenderung lupa atau lalai terhadap waktu, karena lupa terhadap waktu maka lahan yang mereka miliki tidak dapat dikelola dengan baik. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya sumber daya manusia yang dimilikinya. Melihat kondisi inilah Malik bin Nabi menawarkan tiga aspek penting yang memiliki peranan sekaligus pengaruh terhadap kehidupan manusia. Tiga dimensi tersebut disebut oleh Malik dengan tanah, manusia dan waktu.
Jika diamati secara cermat ketiga konsep ini barangkali yang mengilhami pemikiran tentang konsep pembangunan yang mencakup unsur sumber daya alam (tanah), kemudian konsep sumber daya manusia (manusia) serta masalah kesempatan (waktu). Dengan demikian konsep efektif dan efisien merupakan konsep srtategis dalam memajukan masyarakat.
Terkait dengan kondisi saat ini konsep yang diketengahkan Malik bin Nabi sepertinya masih bisa diterima, terutama melihat kondisi umat yang cenderung tidak memanfaatkan waktu dengan baik, kemudian belum adanya kemmapuan untuk mengelola lahan yang ada sebaik mungkin. Dengan demikian konsep pemanfaatan waktu dan sumber daya yang ada juga merupakan suatu upaya dalam rangka bangkit dari keterpurukan.

3. KESIMPULAN
Dari beberapa uraian makalah di atas, dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
1. Malik bin Nabi adalah pembaharu yang berasal dari Aljazair, yang mengamati kondisi umat pada waktu itu yang tidak produktif serta melupakan waktu.
2. Kemajuan bangsa lain harus disikapi dengan baik, artinya jangan dibuang mentah-mentah akan tetapi ambillah yang baiknya asal jangan sampai merubah warna yang ada pada kita.
3. Unsur manusia merupkan sumber daya yang harus memiliki keterampilan, dngan keterampilan itulah manusia mampu menguasai alam (tanah).
4. Tanah tidak hanya dijadikan lahan mati yang tidak diolah, namun bagi Malik harus dimanfaatkan dan diolah guna meneukan sumber daya yang terkandung di dalamnya
5. Dimensi waktu merupakan sebuah sistem yang harus didayagunakan sehingga berdaya guna untuk membangun peradaban, pamanfaatan waktu seefektif dan seefisien mungkin.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Assyaukanie, A. Luthfi, Malik bin Nabi dan Gagasan Rnaisans Islam, http://www. Isnet.org/islam/paramadina/jurnal/Arab1. Html data diakses tanggal 12 November 2005
Idris, Nasrullah, Menghadapi “Kebangkitan Islam” dengan Mengkaji Sejarah “Peradaban Islam, http://www.isnec.arsip.org/archivemillis/archive98, 130905
Maarif, A. Syafii, Islam Kekuatan Dokrin dan Kegamangan Umat, Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 1997

Nabi, Malik bin, Menggagas kembali Peradaban Islam, http: //www.republika.co.id, Jumat, 23 Januari 2004

______________, Membangun Dunia Baru Islam, diterjemahkan oleh Syuruth al-Nahdhah, (Bandung: Mizan, 1994), h. 19

______________, Penomena alQuran: Pemahan Kitab-kitab suci agama Nabi Ibrahim, diterjemahkan oleh Farij Waaj’I, Bandung: Marjak, 2002

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1996

Qutub, Muhammad, Jahiliyah Abad Dua Puluh, Bandung: Mizan, 1993

Shihab, Muhammad Quraish, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1999, h. 545

Nabi, Maaaaalik bin, Membangun Dunia Baru Islam, diterjemahkan oleh Syuruth al-Nahdhah, (Bandung: Mizan, 1994), h. 19



1 komentar:

  1. alhamdulillah saya amat bergembira membaca tulisan ini yang memuat info penting berbagai tokoh beserta pemikiran dan peranannya dala pertumbunan peradaban dan kultur manusia

    BalasHapus