Senin, 23 Maret 2009

Jampi-Jampi LAGAN : Antara Tauhid, Mistik dan Sastra

Oleh : Drs. Yulizal Yunus, M.Si

Jampi-jampi, one of the Indonesian words for putting a curse on someone, has been severely criticized especially by strict Moslem. However, the use of it in protecting life still perpetuate including among Moslem. One of the cases in question is that which occurs in Lagan, a village in the sub-district of Ranah Pesisir. Under the influence of Islam, jampi-jampi – in the form of prayings – is not only used for protecting life, but also for helping realize the will of people.

Hadirnya jampi-jampi secara sosiologis ada kaitanyan dengan sikap budaya masyarakat tradisional pedesaan dalam pola hidup sehat, sejahtera dan aman.
Sikap budaya hidup sehat penduduk pedesaan itu dipolakan dalam konsep-konsep tentang penyakit, konsep esksistensi (keberadaan) manusia dalam macro cosmos di samping konsep sebab akibat dari tindakan baik atau buruk.
Jampi-jampi mempunyai kekuatan magis dan super natural, berada pada dua alam, yakni alam nyata dan metafisik. Penggunaannya bagi masyarakat tradisional secara antropologis sosiologis adalah dalam fungsinya sebagai penawar kehidupan agar hidup sehat, sejahtera dan aman.
Secara aplikatif dalam prakteknya jampi-jampi benar saja berfungsi sebagai alat penolak bala, alat tangkal kekuatan ghaib, penyembuhan berbagai penyakit, alat pakasih (ajian pemikat yang dicintai), alat peningkatan produksi dan alat meraih kembali sesuatu yang hilang.
Melihat fungsi jampi-jampi ini –yang secara substansial ada esensi kepercayaan, mistik menyarati bacaan sastra jenis mantra– dalam penyembuhan penyakit misalnya, merupakan manifestasi dari kecenderungan sikap budaya hidup sehat yang tidak sepenuhnya percaya kepada cara pengobatan modern (cara medis). Analisa ini beralasan dengan ditemukannya konsep religio-magis dalam penyembuhan berbagai penyakit dalam masyarakat tradisional. Pengobatan dalam konsep religio-magis ini masyarakat tradisional dominan di pedesaan menggunakan sarana dan cara sendiri dalam penyembuhan. Cara dan sarana itu dalam penyembuhan penyakit sering berorientasi penggunaan (1) fasilitas-fasilitas seperti lambang berwujud jimat dan jampi-jampi, (2) sumber daya alamiah menggunakan ramuan obat pribumi yang tradisional, (3) teknologi dalam bentuk keterampilan pijat dan sembur, serta (4) barang-barang penyembuh lainnya.
Khusus pengobatan dengan penggunaan jampi-jampi itu oleh masyarakat tradisional sebenarnya mempunyai esensi kepercayaan yang dimungkinkan berakar dari tauhid, mistik dan esensi sastra jenis mantra yang mempunyai kekuatan magis. Di sini menariknya buku ini menjadi materi kajian ilmiah dalam bidang Tauhid dan kaitannya dengan Sastra dan Mistik. Jampi-jampi yang diteliti Drs. H. Bakri Dusar ini di Lagan, Ranah Pesisir (Pesisir Selatan) ini, sekarang masih banyak digunakan masyarakat dalam mempertahankan eksistensi dan berbagai kepentingan serta kebutuhan kehidupan masyartakat setempat.
Di Lagan, kata Bakri, masyarakat masih menggunakan Jampi-jampi untuk (1) kesehatan seperti mengobati orang sakit, umpamanya mengobati kumbu (diserang rasa dingin luar biasa), mengobati luka bakar, menghentikan kucuran darah sa’at terluka, mengobati sakit perut, mengobati orang tasapo (ditegur hantu jahat/ digangu makhluk halus), digigit binatang berbisa dll. (2) untuk ketahanan diri dan pengaman hidup seperti menimbulkan keberanian umpamanya pengantar darah, pitunduk (menundukkan orang), pidareh (membuat orang berani), menjadi tungganai (orang yang mampu menjinakkan) harimau dan menangkal serangan binatang buas, gayuang (guna-guna untuk membuat lawan lumpuh, sejenis santet), memelihara tonggak tua (tiang utama) atau pemagar rumah dari kedatangan tamu tidak diundang (pencuri) dsb., (3) untuk pemeliharaan dan peningkatan produksi ekonomi pertanian (pangan dan ternak, perikanan) seperti untuk menangkal serangan hama padi (umpama pianggang, wereng, hama babi, tikus, serangan kemarau), mengobati ternak yang terluka, patah dan penyakit lainnya, pitunang memanggil ikan melalui alat tangkapnya, (4) alat santet seperti gayuang (membuat lawan lumpuh, sakit bahkan mati), untuk gabaji (menimbulkan kebencian terhadap pasangan), (5) untuk pemikat seperti fungsi pakasiah/ pitunang (menimbulkan rasa sayang/ dicintai) dan pitunang menangkap ikan dengan alat tangkanya seperti bagan, pukat, kail dll.
Dalam penggunaannya jampi-jampi Lagan ini diperlengkapi dengan peralatan tambahan seperti cincin, gelang, senjata tajam dan lain-lain. Alat-alat ini dijampi-jampi, agar mempunyai kekuatan magis. Dalam melunakkan hati seseorang untuk dapat dicarikan jodoh dengan pakasiah misalnya, jampi-jampi diperlengkapi dengan alat-alat tambahan. Juga dalam mencari barang hilang dengan perantaraan setan/ iblis, berdo’a dengan memberi sesajian di tampat (tempat-tempat yang dianggap keramat dan sakti) dll., kadang bisa membaca mantra dan do’a-do’a yang tidak Islami.
Alat-alat perlengkapan Jampi-jampi Lagan itu dapat berbentuk ramuan. Ramuan itu bervariasi, seperti air dan minyak, tetumbuhan obat di antaranya sitawa, sidingin, sikumpai, siriah, pinang, kemenyan, daun jarak, kelapa hijau, asam (limau) puruik dll. Di samping itu juga ada benda lain seperti benang 7 warna (disebut benang pincono) untuk alat gandun (jimat) sebagai penangkal yang diikatkan ke badan, telur, ayam putih. Namun ada pula jampi-jampi yang tidak disertai dengan ramuan, seperti do’a pitunduak, pidareh, gayuang, menundukkan harimau.
Pada perinsipnya Jampi-jampi Lagan sarat dengan esensi kepercayaan, apakah berakar dari nilai tauhid atau tidak namun yang jelas berkaitan dengan religo-magis. Nilai yang berakar dari ketauhidan, terlihat dalam bacaan-bacaan sastra mantra dan memasuki dunia mistik yang punya kekuatan magis. Di antaranya bacaan sastra dalam bentuk mantranya banyak dimulai dengan keyakinan kepada Allah dan keesaannya (tauhid), ditandai dengan membaca basmalah dan di akhirnya sebagai kabulnya mantra dipatri dengan ucapan “tahlil” yakni “la ilaha illallah. Selain itu juga ada yang berakar dari ayat Al-Qur’an, menandai jampi-jampi Lagan ini sebagai ilmu white (putih). Berikut ini di-review kembali secara singkat dalam beberapa fakta jampi-jampi Lagan dalam berbagai penggunaan dan nilai ketauhidan, mistik dan sastra yang direkam penulis buku ini Bakri (dalam Imam Bonjol, Jurnal Penelitian Agama dan kemasyarakatan No.02/ Vol.1, Agustus 1996: 22, seperti juga terdapat dalam inti teks buku).
Nilai tauhid pada jampi-jampi terlihat di awal bacaan sastra lisan mantra, misalnya pada jampi-jampi Dukun Sunar Gindo Sutan di Lagan dalam mengobat penyaki kumbu. Sunar bertahan dalam aliran putih (white). Simaklah mantranya yang dimulai dengan membaca “basmalah” sbb.:
“…Bismillahirrahammirrahim/ saring di hulu pinang kubu/ di balah sampai kaureknya/ si Anu kanai kumbu/ siriah sakapua ka ubeknya…”.
Sastra mantra ini bernilai mistik berkekuatan magis, dibaca menyertai obat ramuan campuran sekapur sirih, pinang yang dibelah dua, air satu gelas. Sirih dan pinang dimasukkan ke dalam air, kemudian diasapi dengan kemenyan dan dipercikkan ke tubuh si sakit, sa’at itulah mantra ini dibaca yang menimbulkan kekuatan magis.
Nilai tauhid juga dijumpai dalam jampi-jampi mengobati malatua (letup atau luka bakar). Mantranya diakhiri dengan kalimat “tahlil” sebagai permintaan keberkatan dan kabul dari Allah swt. Simaklah mantra do’anya sebagai berikut:
“…Dulang-dulang tapi aiae/ inggok di tanah tumbuah/ tulang tidak latiah/ bangkak luluah/ palagokan bangkak si Anu/ kabua barakat la ilaha illallah…”.
Ramuan jampi-jampi ini adalah air satu galuak (timba), daun sidingin, bungo rayo (kembang sepatu), kembang tujuah ragam. Cara pakainya sidingin, bungo rayo, kambang tujuah ragam dimasukkan ke dalam air, lalu dijampi dengan do’a di atas kemudian dioleskan ke kulit yang luka bakar tersebut.
Untuk menahan darah karena luka, jampi-jampinya adalah sebagai berikut:
“Sipipik si puang-puang manda/ urek putuih dagiang basambuang/ mancicik darah tiok alai bulunyo/ kabua/ barakat la ilaha illallah…”.
Cara pengobatannya, tempat darah mengalir karena luka itu dijampi seraya dipegang dan ditekan pelan-pelan, baru kaji makrifat dan hakikat apa yang kita tuju.
Sunar Gindo Sutan juga mengobati orang kalimpanan (mata dimasuki debu) dengan jampi-jampi sebagai berikut:
“Cantiak muko cantiak/ jampi Allah/ jampi Muhammad/ jampi gindo Rasulullah/ aku menyampikan mato si Anu/ kabua barakat la ilaha illallah”.
Cara pakainya sejalan antara do’a dan menghembus mata yang kalimpanan itu.
Demikian juga Abu Nawas, profesi dukun, ia juga menggunakan jampi-jampi dalam mengantarkan darah atau menimbulkan keberanian. Do’anya sebagai berikut:
“Tagak sarato Allah/ langkah Rasulullah aku langkahkan/ datang kamudian darah merah/ kalau tatantang mati/ aku tagak di pangka alam/ Allah tagak diujuang alam/ kabua barakat la ilaha illallah”.
Do’a ini dibaca sebelum akan berjalan atau di waktu berhadapan dengan lawan. Kadang-kadang juga dipakai waktu sendirian.
Untuk mengobati orang yang sakit perut, Abu Nawas menggunakan jampi sebagai berikut:
“Hai galang-galang/ ayo galang-galang/ pudang galang-galang/ duo puluah sambilan galang-galang/ kambalilah katampek galang-galangnyo…”
Do’a ini dibaca sebanyak dua kali. Kalau belum juga sehat do’a ini disambung dengan do’a berikutnya sebagai berikut:
“Kateh indak bapucuak/ kabawah indak baurek/ tangah-tangah digigik kumbang/ dimakan al-Qur’an tigo puluah juz/ kabua barakat la ilaha illallah…”
Cara pakainya adalah mulai dari bergerak ke mana akan ditujua, do’a tersebut dibaca tiga kali, kaki dihantamkan ke bumi sekedarnya, dan mulai melangkahkan kaki kanan, tidak boleh menoleh lagi ke kiri dan ke kanan, pandangan lurus ke depan, atau ke mana akan dituju. Cara lainnya, pegang perut yang sakit itu, usap-usap dengan pelan-pelan sampai tiga kali dengan harapan galang-galang (cacing gelang) itu bisa berkumpul pada tempat semula.
Saudah, salah seorang dukun beranak dan dukun obat padi mempunyai kiat pula dalam pemakaian jampi-jampinya, agar pada masyarakat yang menjadi harapan panen berlimpah, yakni sebelum menanam benihnya terlebih dahulu harus dibaca do’a sebagai berikut:
“…do’a aso ka aso Allah/ duo kuaso bumi/ sahari jumat/ sahari sabtu/ Adam jadi/ pangkat mahligai pintu narako/ pintu sarugo Muhammad jadi/ jadipun padi/ sahari hujan padiku jadi/ sahari guruah padiku jadi/ sahari angin padiku jadi/ makbullah do’a sapuluah/ Muhammad jadi/ gurunpun makbul/ dek akupun tajam/ tajam barakat la ilaha illallah…”
Dalam mengobat padi di awal proses pembenihan (penyemaian benih), menurut cara Saudah didahului dengan membakar kemenyan, setelah membaca jampi-jampi di atas, dilanjutkan tahlil, kemudian baru benih-benih itu disemai.
Setelah padi mulai menguning, dilakukan lagi pengobatan kembali dengan cara mengambil beberapa helai daun kelapa muda dibikin janur sederhana di atas daun kelapa ini ditulisi potongan ayat al-Qur’an di antaranya sebagai berikut:
“…wama ramaita idza ramaita, walakinnallaha ramaa/ engkau syetan tidak akan mampu melempar hanya Allah yang bisa melempar…”
Daun kelapa itu diikatkan ke sepotong tongkat kayu dan ditancapkan pada keempat sudut ladang atau sawah.
Tangka (penangkal) yang seperti di atas dianggap belum sempurna kalau belum dilengkapi dengan obat-obatan (ramu-ramuan). Bahan ramuannya adalah pasir bercampur batu-batu dihaluskan, kunyit bolai, jangau, cirit (karat) besi, tareh di darat (daging kayu tuo yang keras terletak di darat), tareh di air, sitawa, sidingin, sikarau, sikumpai. Ramuan ini direndamkan dalam air kemudian ditawai (dimantra) dengan bacaan sebagai berikut:
“Bismillahirrahmanirahim/ assalamu’alaikum/ hai hatu jumbalang tanah/ hantu bumi jumbalang bumi/ hantu laut jumbalang laut/ hantu ayo jumbalang ayo/ hantu gunung jumbalang gunung/ sang hima di atas bumi/ sang jayo di petala bumi/ patalo kalo rajo di bumi/ syekh putiah rajo di langit/ mambang sakti rajo di rimbo/ makabualah aku mandoakan/ tawa tatau/ dek aku mukabua dek gurupun tajam/ tajam/ karano barakat la ilaha illallah”
Setelah ramuan-ramuan ditawai dengan mantra di atas, maka ramuan tersebut disiramkan kepada padi yang telah menguning itu. Penyiraman hanya dilakukan satu kali, namun dianggap telah mengenai seluruh sawah. Dengan demikian, diharapkan padi yang sudah menguning itu selamat sampai dipanen, yang menurut kepercayaan mereka tidak akan diganggu hama/ binatang dan penyakit lainnya.
Kalau pada sudah waktunya padi dituai, maka dalam menuai dibaca do’a berikut:
“Surek sirajo baselo/ batang sirajo badiri/ daun sirajo mangilap/ kulik si rajo mancayo/ isi si rajo manganuah/ nur cahayo namonyo kulik/ nur illallah namonya isi/ anak dayang putih daimah/ anak dayang putih patimah/ pulanglah engkau ke nagari aku/ nan dek balam nan dek pipik/ nan dek samuik salimbado/ nan dibaok tabiang aruik/ nan dibaok aie dalam/ pulanglah engkau sariku/ engkau nan badaun rumbio/ nan barantiang labek/ pulanglah kanansariku kembali/ maimbau urang jan sahuti/ urang pai jan turuti/ pulangkah engkau kanansariku/ kaampek suduik sawahku/ makabuakanlah aku maimbau/ samangaik padiku…”
Sirin, juga salah seorang dukun terkenal di nagari Lagan biasa menghadapi musuh dengan berani (tanpa gentar sedikitpun). Untuk menghadapi musuh ia menggunakan jampi-jampi dengan bacaan sebagai berikut:
“Qul kato Allah/ Ana kato Muhammad/ seperti kato Bagindo Rasulullah/ air nua hati rangkungan aku/ Ya bani saribani/ paku runduak paku urano/ paku erang rang galahan/ tunduak sakalian urano/ aku surang mengalahkan”.
Do’a tersebut adakalanya dibaca sebelum berangkat dari rumah atau sedang dalam perjalanan. Membacanya dalam keadaan jari yang sepuluh tersusun didekatkan ke muka, lalu menghadap ke arah yang dituju. Do’a ini tidak ada memakai ramuan, tetapi membacanya dengan makrifat yang dalam. Kalau sudah diperoleh do’a ini, maka tidak boleh melangkahi tali kuda yang sedang terpaut atau tali kuda yang sedang berjalan, sebab akan menghilangkan kekuatan magiknya.
Menurut Bataruddin yang juga berprofesi sebagai dukun di Lagan, jampi-jampi juga digunakan untuk mengobati sekaligus menangkal bisa gigitan, binatang yang berbisa, pidareh, panjauh harimau (menjauhkan harimau) dan juga untuk gayuang. Do’a digigit binatang yang berbisa atau disengat ular, maka dibaca shalawat tiga kali sambil menggaruk-garuk kuduak (tengkuk). Jika digigit atau disengat binatang yang berbisa kiawai/ tabuan/ lebah atau serangga penyengat sejenisnya, dapat dibaca shalawat tiga kali sambil menggaruk-garuk ujung tulang (tulang sulbi). Untuk pidareh do’anya adalah:
“Nagolong nago tagolong/ nago mandawik di gunuang/ marapuak marapak nago lalu/ aku memakai pidareh Bagindo Ali/ kabua barakat la ilaha illallah huuu”.
Do’a ini dibaca waktu berhadapan dengan lawan. Daya tangkalnya kuat dan sekaligus dapat membangkitkan semangat berani.
Do’a untuk panjauah harimau atau menolak harimau jampi-jampi sebagai berikut:
“Hak kato Allah/ Inna kato Muhammad/ nanti kato Adam/ huuu Allah. Hak Ali liwaa/ halilintar/ Ali batujuah badunsanak/ malompek engkau seperti kilek/ basorak engkau seperti guruah dan patuih/ Huuu Allah”.
Cara memakainya adalah, do’a ini dibaca sewaktu akan memasuki hutan. Jika bertemu dengan harimau, do’a ini dibaca dengan lantang.
Gayuang adalah semacam santet langsung untuk memukul lawan dengan tangan. Jampi-jampinya sebagai berikut:
“Acaraniang/ kalau dilipat namonyo jari aku tibo dijangek rangkah/ tibo di tulang patah tigo/ aku malapeh baliang-baliang ka hulu jantuang si Anu/ kabua barakat la ilaha illallah”.
Cara menggayuang itu dengan melepaskan pukulan (tinju) di waktu nafas lawan sedang naik (lawan sedang menarik nafas).
Ratdi yang juga berprofesi dukun di Desa Lagan mengatakan bentuk-bentuk lain dari jampi-jampi ini adalah pampan (jampi untuk menahan buang air besar seseorang), gabaji, basitapak kudo (jampi melimaukan/ memandikan motor), bagan (alat penangkap ikan), tawa ramuan dan lain-lain.
Pampan (menahan buang air besar seseorang) ramuannya adalah; (a) air satu botol ditutup dan diletakkan dalam sebuah peti dan dikunci, (b) kapur sirih yang diambil di rumah orang marando (janda) dalam satu rumah itu, (c) lidi sapu sebanyak tiga buah. Cara memakainya; kapur sirih dioleskan ditunggak tuo (tiang rumah), di kapalo janjang (anak tangga teratas), kemudian dibaca do’a sebagai berikut:
“Kun kata Allah/ payakun kato Muhammad/ hak kato Jibril/ do’aku di maso Ali/ di Aminah/ saoklah pintu Khadijah/ peganglah kunci di ‘Aisyah/ peganglah rantai di Maimunah/ bakotek ayam dalam talua/ maka tabukaklah paraj/ kunci/ kabek si Anu/ had”.
Jampi Gabaji yang membuat orang bercerai atau tidak mau bertemu, ramuannya sipadeh padi (jahe), merica, dasun tongg (bawang putih yang tunggal). Cara memakainya, sipadeh padi dan merica dikunyah sampai halus ditempat yang sunyi, tidak memakai pakaian sedikitpun (telanjang bulat) waktu matahari terbit dengan makrifat seperti matahari memancar, bercerai si Anu dengan si Anu dengan daya do’anya sebagai berikut:
“Bismillahirahmanirahim/ Hai nyiak Sianggeni/ kabaji aku tidak pakai ramuan/ ramuannyo di awan tongga/ namo si Anu/ si Anu anggak/ aku malapeh kato sianggeni/ Hai bali katuban darah/ jihin bali si bujang hitam/ jagolah engkau dalam batang tubuah si Anu/ bacarailah si Anu dengan si Anu/…”
Selanjutnya untuk basi tapak kudo, kata Ratdi ramuannya adalah: a) basi tapak kudo (besi tapal kuda) yang didapat dijalanan, b) sitawa, sidingin, andang bareh, limau kapeh, limau puruik, limau lunggo, limau kunci, kalau bisa orang yang hamil pertama yang mengambil limau tersebut. Dibaca ayat dalam surat Nuh ayat 21, kemudian dibaca surat Ikhlas 7 kali.
Waktu memakainya, badan harus bersih dari hadast (yakni dalam keadaaan berwuduk) dan shalat di atas mobil dua rakaat. Baru disuruh mobil itu berjalan, kemudian dipukul mobil itu sebanyak tiga kali.
Jampi-jampi untuk peningkatan produksi ikan laut dipasang kepada alat penangkap ikan seperti bagan. Ramuannya; sitawa, sidingin, sikumpai, junjung balik piladang patin, pucuak pisang kumbai, bungo panggie, daun aka cinto-cinto, rantiang padi, semuanya ini dicincang halus. Cara memakainya, di atas bagan itu ditanya orang yang punya bagan itu misalnya tentang kayu bahan bagan, setelah mendapat jawabannya, barulah mulai mengobatinya dan dijampi. Do’anya adalah:
“Hai marantiah hitam madang karimun/ bangunlah engkau/ aku tahu dari samulo engkau jadi/ bismillahirrahmanirrahim/ namo kulit engkau alhamdulillah/ namo dagiang engkau lailaha illallah/ namo ampadu engkau/ akan dibaok paelok lenggang/ papanjang lompek/ pagadang suok khairullah/ engkau yang tagak di haluan/ elok baso nan baiak budi/ tolong japuikkan mulo ambo/ engkau dimakan kutuak api narako salamonyo/ jikok lai engkau japuikan malu ambo/ badunsanak kia dari alam dunia sampai kakubua”.
Do’a tersebut diberi tawa ramuan yaitu:
“lailaha illahah tigo kali/ minkum dengan Allah/ azab banamo azab Allah/ kalu si akut lalu/ Allah tadiri/ Muhammad terhenti/ nan biso tawa/ nan paneh dingin/ nan tajam tumpu/ nan sakik sehat/ akan mangatokan kato Allah jo Muhammad/ kabua barakat la ilaha illallah…”
Malus Katik, yang juga salah seorang dukun di desa ini mengatakan, jampi lain yaitu manueh rumah (malimaukan rumah). Malimaukan rumah ini ada beberapa cara. Hal ini melihat kepada rumahnya, apakah rumah batu atau rumah kayu.
Untuk rumah batu ramuannya adalah sitawa, sidingin, sikumpai, randang bareh, daun silaguri, darah ayam. Cara pakainya semua ramuan itu ditumis halus-halus, kemudian diambil darah ayam sekedarnya dan diaduk sampai rata kemudian dido’akan. Do’a rumah batu ini adalah sebagai berikut:
“Bismillahirahmanirrahim/ sijapun namonya bumi/ dusalam namonyo langik/ hai sahabat yang enam belas/ ketahuilah kami siang dan malam/ patang dan pagi/ kami bagantuang kapado ayat nan indak putuih/ Abu Bakar/ Umar/ Usman/ dan Ali/ nan angek minta dingin/ nan biso minta tawa/ nan tajam minta tumpu/ nan gagah minta tunduak/ barakat la ilaha illallah”.
Kemudian semua ramuan tadi disebarkan ke seluruh tanah dan kayu yang dipakai untuk rumah tersebut. Untuk rumah kayu. Caranya, waktu akan memotong kayu yang pertama harus dibaca:
“Bismillahirrahmanirrahim/ Hai bumi/ langit/ tumpuik rantai/ aku akan memotong kayu anak cucu nabi Adam/ bukan aku yang mamotong/ Allah jo Muhammad yang mamotong/ iyo Bagindo Rasulullah/ la haula wala quata illa billah”.
Memotong dan mencari tonggak tua, caranya adalah semua tonggak yang akan dipakai, dipukul terlebih dahulu, dan dipedomani bunyinya, mana bunyi yang keras di antara tonggak itu, itu yang dijadikan tonggak tua, baru kemudian dido’akan dengan membaca shalawat kepada Nabi dan membaca tasbih, serbuk atau ban yang pertama dari tonggak tua ini diambil sedikit untuk menjadi sandi (diletakkan di sendi) rumah agar rumah bisa bertahan. Tonggak tua itu harus ada benang curano (hitam, putih dan merah) diikat pada tonggak dipahami sebagai penghuni rumah. Setelah pemotongan ini selesai, situkang yang dituakan itu, harus mendapat jatah nasi kunyit, panggang ayam dan uang sekadarnya, semuanya itu dibawa pulang oleh situkang jampi, sebagai jampi memotong kayu tukang.
***
Terlepas dari sarat atau tidak dengan nilai tauhid, corak mistik atau sastra mantra, jampi-jampi Lagan ini begitu mengakar dalam budaya dan kehidupan masyarakatnya. Awal mula sejarah berkembangnyanya praktek jampi-jampi ini sukar diketahui, namun besar kemungkinan hal ini merupakan sisa-sisa kepercayaan nenek moyang yang masih kental dalam kehidupan masyarakat. Kepercayaan tersebut telah bercampur aduk dengan ajaran Islam dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi penerus selanjutnya.
Faktornya kata Bakri mengutip pendapat Dt. Bagindo Sulaiman antara lain, karena kurang utuhnya (kaffah) kepercayaan terhadap ajaran Islam dan juga terhadap diri sendiri, sehingga mereka mengadukan kesulitan-kesulitan hidupnya kepada orang-orang yang mungkin untuk menanggulanginya atau kekuatan lain yang bisa melindunginya. Agaknya sisi inilah yang menghadapkan “jampi-jampi, tangkal-tangkalan, dan guna-guna dengan perbuatan syirik, mengikut HR. Ahmad, Ibn Majjah, Ibn Hibban, Abu Daud, seperti juga yang dikutip penulis buku ini dalam menjelaskan eksistensi jampi-jampi.
Jampi yang bercorak sinkretis ini seperti mengesankan di dalamnya ada pengaruh kepercayaan Hindu, Budah dan Islam. Namun seperti juga disebut buku ini meliput sumber/ informannya, jampi-jampi di dalamnya sulit ditentukan mana yang nilai Hindu dan mana yang Budha. Yang jelas materi jampi-jampi itu mengandung unsur kepercayaan terhadap benda-benda mati atau hidup di alam nyata dan metapisik yang mempunyai kekuatan magik luar biasa.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar