Kamis, 26 Maret 2009

النظرية التصورية

Oleh : Wartiman, MA

Bahasa berkembang terus sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai, seperti diketahui bahwa pemakaian bahasa diujudkan dalam bentuk kata-kata dan kalimat. Oleh sebab itu memahami makna kalimat adalah sesuatu yang sangat signifikan disaat seseorang mendengar satu kalimat yang diucapkan oleh orang lain. Apakah makna yang diinginkan makna sebenarnya atau makna kiasan sesuai dengan kontek yang ada dalam kalimat tersebut.

I. Pendahuluan
Menurut Palmer ada beberapa jenis makna yaitu; makna kognetif (cognitive meaning), makna denotasi (denotasional meaning), makna proposisi ( propositional meaning), dan makna ideasional (ideational meaning) . Maka dalam pembahasan ini sesuai dengan tema yang akan dibicarakan, penulis membahas tentang makna ideasional.
Dalam makna ideasional, makna adalah gambaran gagasan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersipat “sewenang-wenang”, tapi memiliki konvensi sehingga dapat saling dimengerti. Gambaran kesatuan hubungan antara makna dengan bentuk kebahasaan itu secara jelas dapat dikaji dalam perumusan Grice … X meant that P and X means that P entail P. Dengan kata lain, X berarti P dan C memaknakan P seperti yang dimiliki oleh P. X dalam konsep Grice adalah perangkat kalimat sebagai bentuk kebahasaan yang telah memiliki satuan gagasan. Kalimat yang berbunyi, X memaknakan P seperti yang dimiliki P memberikan gambaran tentang keharusan memaknai X sebagai P seperti yang telah berada dalam konvensi bahwa P adalah P.
Untuk memahami teori ideasional ini lebih jelas mari kita lihat pembahasan berikut ini.

II. Pembahasan
a. Definisi
1. Menurut John Locke “ teori idesional “ penggunaan kata-kata yang petunjuknya mengacu kepada ide. Adapun ide-ide yang muncul dianggap arti yang langsung dan spesifik.
2. Makna ideasional (ideasional meaning) diartikan pula sebagai makna yang akibat penggunaan kata yang memiliki konsep.
Dari kedua definisi di atas dapat dikonklusikan bahwa makna yang ideasional adalah suatu makna kata yang menunjuk kepada ide sebagai petunjuknya dan memiliki konsep.
Teori ini menganggap bahasa sebagai “perentara atau alat untuk menyampaikan ide-ide”, ia juga sebagai cerminan yang memberi perumpamaan secara bahasa berupa makna yang penggunaannya dibantu oleh hal-hal yang bersipat kontinus (dalam pemahaman sebagai suatu hubungan bagi ide tertentu).
Ide-ide yang ada dalam pikiran kita memiliki suatu wujud tersendiri dan bebas serta fungsi tersendiri dalam bahasa. Jika setiap orang puas dengan menjaga ide-idenya sendiri maka ia tidak memerlukan bahasa dan hal itu hanya perasaan kita untuk mentransper ide kita kepada orang lain yang membuat kita mau menyampaikan dalil atau alasan (mau memelihara secara umum) ide kita yang khusus tersebut yang ada di dalam pikiran kita.
Sebagai contoh, kita ambil kata partisipasi. Orang mengerti apa yang hendak ditonjolkan didalam kata partisipasi. Salah satu ide yang terkandung didalam kata partisipasi ialah aktivitas maksimal seseorang untuk ikut di dalam suatu kegiatan. Dengan mengetahui ide yang terkandung di dalam kata tersebut, orang dapat memikirkan bagaiman cara memotivasi seseorang untuk berpartisipasi, prasyarat-prasyarat apa yang harus dipersiapkan atau dipenuhi oleh seseorang untuk berpartisipasi, sangsi apa yang dapat diberikan kalau seseorang tidak berpartisipasi. Ini semua merupakan penalaran kita terhadap makna ideasional yang terkandung di dalam kata partisipasi.
Contoh lain dapat dikemukakan kata demograsi dalam bahasa Indonesia. Konsep makna demograsi adalah persamaan hak dan kewajiban seluruh rakyat. Makna ideasionalnya yaitu ide yang terkandung di dalam kata demograsi itu sendiri, yakni rakyat turut memerintah melalui wakil-wakilnya yang akan memimpin mereka; rakyat berhak mengawasi jalannya pemerintahan, tetapi rakyat berkewajiban pula untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban, bersama-sama menanggung biaya pembangunan yang mereka harapkan.
Itulah sebabnya dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar urutan kata,” Ide saya begini tentang jembatan itu,” Ide saya jembatan itu kuat, jembatan itu panjang, jembatan itu kita biayai bersama, jembatan itu akan dimulai besok pembuatannya, jembatan itu terbuat dari besi. Mengapa urutan kata ini muncul? Urutan kata ini muncul karena pembicaraan mengetahui makna ideasional yang terdapat di dalam kata jembatan.

b. Syarat-syarat Ideasional
Teori ini menuntut pada setiap penutur bahasa dan makna atau makna tutur bahasa, adanya ide yang mengacu pada syarat-syarat sebagi berikut.
1. Ide tersebut harus di dalam pikiran pembicara
2. Pembicara harus mengungkapkan ide tersebut dalam bentuk ungkapan yang membuat orang lain mengetahui bahwa suatu ide tertentu itu ada di dalam akal/pikiran pembicara pada saat ia berbicara.
3. Ungkapan yang disampaikan harus menuntut ide yang sama dari pikiran pendengar.

Jika diperhatikan lebih jauh , teori ini difokuskan pada ide-ide atau deskripsi yang ada di dalam pikiran pembicara dan pendengar dengan tujuan untuk membatasi makna kata, atau sesuatu yang dimaksud oleh pembicara dengan kata-kata yang ia gunakan pada suatu kesempatan tertentu. Apakah makna kata itu kita anggap sebagai suatu hubungan antara rumus dan ide.
Hal ini adalah salah satu referensi dasar menurut teori tersebut dari sudut pandang teori behaviorisme , karena selama makna itu berupa ide maka bagaimana seorang pembicara bisa bercakap-cakap dengan pendengar dan mentransper makna kepadanya sedangkan ide tersebut dianggap sebagai milik khusus pembicara.
Para pendukung teori ini berpendapat bahwa ide-ide tersebut berkaitan erat dengan imaginasi, jika kita mengucapkan kata “منضدة” (kursi kerja), maka pembicara dan pendengar memiliki imaginasi tentang kata tersebut. Imaginasi ini membentuk suatu komunikasi atau hubungan diantara keduanya mungkin terjadi.
Tampaknya makna ini menghendaki adanya persamaan asumsi dan persepsi terhadap suatu makna yang diinginkan berupa ide dan kemudian diimaginasikan dalam akal atau sehingga antara pengirim pesan dan penerima pesan mempunyai deskripsi makna yang sama dari suatu kata.
c. Tanggapan Terhadap Makna Ideasional
Setelah teori ideasional ini dimunculkan, sebagaimana halnya teori-teori yang lain, ia juga tidak terlepas dari pro dan kontra, artinya bahwa ada pihak yang mendukung dan ada pula yang memberikan keritikan, diantara keritikan yang muncul adalah :
1. Oleh karena tiori ideasional meletakan bahasa sebagai ujud gagasan, sebagai prilaku eksternal dari yang internal, tidak dapat berlaku umum. Orang yang malu-malu misalnya, jestru sering menggunakan bahasa yang bertentangan dengan gagasan yang sebenarnya yang ingin disampaikan . Pernyataan seperti ogah tapi mau adalah contoh paling mudah untuk itu.
2. Mengharapkan kesejajaran asosiasi fakta dari makna kata antara penutur dengan pendengar tidak selamanya terlaksana, misalnya kata anjing bagi penutur mungkin menunjuk ke asosiasi fakta “binatang kesayangan”, tapi bagi pendengar belum tentu demikian.
3. Alasan lain yang menolak teori ideasional tersebut berawal dari banyaknya metode yang sudah modern, dimana metode ini muncul di masa sekarang yang mengacu pada pembentukan makna yang lebih objektif dan lebih ilmiah misalnya teori behaviorisme.
Sementara yang mendukung teori ideasional ini meletakkan makna semantik pada adanya satuan gagasan, bukan berarti pendekatan ideasional mengabaikan makna pada aspek bunyi, kata dan frase. Jerrold J.Katz mengungkapkan bahwa penanda semantis dari bunyi, kata, dan frase sebagai unsur-unsur kalimat, dapat langsung diidentifikasi lewat kalimat. Dengan mengidentifikasi unsur-unsur kalimat sebagai satuan gagasan, diharapkan pemaknaan tidak berlangsung secara lepas-lepas, tetapi sudah mengacu pada satuan makna yang dapat digunakan dalam komunikasi.Sebab itulah, apabila X adalah kata, menurut Grice, X has meaning NN if it is used in communication. Atau dengan kata lain, kata setelah berada dalam komunikasi memiliki potensialitas makna yang bermacam-macam, mungkin makna 1,2,3 … NN.
Sehubungan dengan kegiatan berpikir , manusia berpikir menggunakan bahasa yang juga bisa digunakan dalam komunikasi. Sebab itulah, kegiatan pengolahan pesan lewat bahasa atau enkoding, penyampaian pesan lewat bahasa atau koding, serta proses memahami pesan atau dekoding. Dapat berlangsung dalam garis linear berikut:

ENKODING KODING DEKODING

Bagan 1: Tentang kesejajaran hubungan penerima kode

Komponen tentang pembangun gagasan dalam enkode menurut Jerrold Katz, bisa saja tidak sama persis dengan kode. Akan tetapi, yang pasti, hubungan linier itu harus diikuti, yakni lingkaran hubungan timbal balik antara penyampai dengan penerima pesan yang ditandai oleh adanya suatu bentuk kebahasaan itu memaknai P oleh penutur adalah apabila pemaknaan P itu secara selaras nantinya juga dimaknai P oleh pendengarnya. Daur antara penutur (Pt), pesan (Ps), kode (Kd), penanggap (Pg), dan informasi (I), dapat digambarkan dalam bentuk bagan berikut ini:

Bagan 2: Daur penyampaian dan penerimaan pesan
Dari bagan tersebut dapat diketahui bahwa penutur (Pt) sebagai pengirim pesan (Ps) mewujudkan pesan itu dalam bentuk kode (Kd). Dengan bertolak belakang dari kode itulah penanggap (Pg) melakukan kegiatan dekoding untuk memperoleh informasi sesuai dengan pesan yang disampaikan penuturnya. Kegiatan itu dapat berlangsung karena adanya kesesuaian pemahaman terhadap kode itu terjadi karena hubungan antara kode dengan makna meskipun berlangsung secara arbitrer serta hubungan antara kode, makna dan fakta, meskipun tidak langsung, telah sama-sama dipahami oleh masing-masing interaktan.
Pendekatan ideasional ini dilatarbelakangi gagasan dari John Locka yakni “ … Bahasa adalah pengemban makna untuk mengomunikasikan gagasan “.
Dalam pendekatan ideasional, makna dianggap sebagai pemerkah ide yang memperoleh bentuk lewat bahasa yang terujud dalam kode. Dari adanya kegiatan “pembahasan pesan”, maka dalam pendekatan ideasional, penguasaan aspek kognitif dan rekoknisi, sangat penting Aspek kognisi dan rekognisi memiliki sasaran, baik pada aspek gramatik hubungan pada aspek gramatik dengan unsur semantis, maupun hubungan antara bahasa dengan dunia luar.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa bahasa memiliki kedudukan sentral. Dengan demikian, kesalahan penggunaan bahasa dalam proses berpikir menyebabkan pesan yang disampaikan tidak tepat. Sebaliknya, seandainya penggunaan bahasa dalam proses berpikir sudah benar, tapi kode yang diujudkan mengandung kesalahan, informasi yang diterimapun dapat menyimpang. Pada sisi lain, meskipun pembahasan pesan dan kode sudah benar, bila terjadi gangguan pemerimaan, besar kemungkinan informasi yang diterima tidak sesuai dengan pesan yang disampaikan.

III. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Makna ideasional adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep. Kata yang dapat dicari konsepnya atau ide yang terkandung dalam satuan kata-kata baik bentuk dasar maupun turunan.
2. Dalam pendekatan ideasional makna dianggap sebagai pemerkah ide yang memperoleh bentuk lewat bahasa yang terwujud dalam kode.
3. Bahwa teori tersebut tidak meniadakan kreativitas berbahasa manusia, sebaliknya justru bahasa dalam makna ideasional ini memimiliki kedudukan sentral. Sebagai contoh jika terjadi kesalahan penggunaan bahasa dalam proses berpikir menyebabkan pesan yang disampaikan tidak tepat.
4. Betapapun bagusnya pandangan dalam pendekatan ideasional, keritik masih juga berdatangan seperti teori behavorisme yang dipelopori oleh Bloomfield yang berkembang pertama kali di Amerika Serikat.


و الله أعلم بالصواب


Daftar bacacaan

Aminuddin, Semantik Pengantar Studi Tentang Makna, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001)
Al-Sa’rani, Muhmud, Ilmu al-Lughah Muqaddimah li al-Qaari al-‘Arabi, Bairut Daa al-Nahdhah Al-‘Arabiyah, tt)
Djajakusumah, Fatimah, Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna, (Bandung PT Refika Aditama, 1999)
Guntur Tarigan, Hendry, Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa, (Bandung, Angkasa, 1992)
Hasan, Tamam, Al-Lughah Al-Arabiyah ma’naaha wa mabnaaha, ( Mesir Al-Haiah

Al-Mishriyyah Al- ‘Ammah Li al-Kitab, 1997)

Pateda, Mansoer, Semantik Leksikal, (Jakarta PT. Renika Cipta, 2001)

Umar,Mukhtar Ahmad, Ilmu Dalalah , (Kuwait; Maktabah Darul ‘Arubah li al-Hasy wa al-Tauzi. 1082)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar