Senin, 30 Maret 2009

Al-Qur'an - Hadits dan Supervisi Psikologis

Oleh : Drs. H. Syamsir Roust, M.Ag

Al-Quran dan hadis di samping merupakan sumber dan dalil hukum, juga merupakan sumber nilai-nilai normatif dan konsep-konsep kehidupan. Al-Quran adalah kalam Allah Swt. yang mutlak benar dan dan mengandung pokok-pokok ajaran Islam dan berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mecapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Sementara hadis adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW. dan berfungsi sebagai penjelasan dan penjabaran dari kandungan Al-Quran.

A. Pendahuluan

Di antara petunjuk Al-Quran terhadap manusia adalah menginformasikan bahwa kedudukan manusia di muka bumi di samping sebagai hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya juga sebagai khalifah Allah yang diberi tugas mendidik dan memelihara alam semesta untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia.
Untuk terlaksananya tugas-tugas manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, Allah telah memberikan seperangkat potensi yaitu potensi jasmani dan potensi rohani (kejiwaan). Potensi rohani mencakup fitrah yang suci, nafs, roh dan akal.
Meskipun manusia telah diberi seperangkat potensi, namun dalam realitas sosialnya, akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengarah kepada yang negatif (ingat pengaruh positifnya cukup banyak sekali) maka manusia dihinggapi oleh penyakit jiwa yang disebut oleh Rasulullah dengan penyakit wahn yaitu penyakit terlalu cinta terhadap kehidupan dunia dan takut menghadapi kematian. Penyakit cinta dunia ini telah dijabarkan oleh para ahli dengan munculnya kecendrungan terhadap pola hidup materialistik (rakus dan tamak), individualistik (mementingkan diri sendiri dan hilang kepekaan sosial), ego-sentris (keangkuhan dan kesombongan), hedonistik-erotik (cinta hiburan yang membangkitkan nafsu syahwat dan maksiat) dan trasentalisasi agama (lari dari nilai-nilai agama). Akibat dari penyakit jiwa ini, manusia tidak lagi berperan sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi yaitu mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagian, tetapi telah menjadi petualang-petualang yang berbuat kebinasaan dan pertumpahan darah, merusak alam dan ekosistem, menimbulkan kegelisahan dan keresahan dan kesengsaraan bagi manusia lain, bahkan terpuruk ke dalam rawa-rawa kemiskinan, kebodohan dan kejumudan.
Untuk terlaksananya fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah, maka seluruh perangkat potensi perlu diaktifkan dan dikembangkan sesuai dengan tuntunan Al-Qur an dan hadis dengan suatu sistem yang disebut dengan sistem pendidikan kejiwaan. Berikut ini akan dikemukakan konsep pendidikan kejiwaan dalam perspektif hadis dengan kisi-kisi, pengertian konsep pendidikan kejiwaan, tujuan pendidikan kejiwaan, materi pendidikan kejiwaan, dan metoda pelaksanaannya.

B. Pengertian Konsep Pendidikan Kejiwaan

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS. Poerwadarminta (1976:520) kata konsep berarti rancangan rancangan atau buram. Konsepsi berarti pengertian, pendapat (cita-cita) yang telah ada di pikiran. Dalam kaitan penulisan ini dipergunakan pengertian rancangan dan pengertian.
Pendidikan berasal dari kata didik, artinya perbuatan, cara dan hal mendidik Berkaitan dengan penulisan ini dipergunakan pengertian perbuatan dan hal mendidik.
Menurut Ramayulis (2006: 18) pendidikan adalah segala usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, sekolah, masayarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan latihan yang diselenggarakan di lembaga pendidikan formal (sekolah) dan non formal (masyarakat) dan in-formal (keluarga) dan dilaksanakan sepanjang hayat, dalam rangka mempersiapkan peserta didik agar berperan dalam berbagai kehidupan .

Kejiwaan, menurut Poerwardaminta, (1976:421) berasal dari kata jiwa. Kata jiwa berarti seluruh kehidupan batin manusia, jadi keseluruhan yang terjadi di perasaan batin, pikiran, angan-angan, dsb). Sedangkan kejiwaan, berarti kebatinan dan kerohanian.
Jiwa (rohani) Abdul Rahman Shaleh-Muhbib Abdul Wahab, (2004 : 54 s.d.60) memiliki unsure-unsur yang mencakup fitrah yang suci, nafs, roh dan akal. Fitrah yaitu kejadian manusia sejak semula atau pembawaan sejak lahir yakni potensi beragama yang lurus, sementara nafs adalah sisi dalam diri manusia yang berpotensi baik dan buruk, qalb adalah wadah dari pengajaran, kasih sayang, takut dan keimanan. Ruh, hanya ada pada ilmu Allah, tetapi dia memberikan kekuatan dan semangat, sedangkan akal adalah dorongan untuk memahami, dan menggambarkan sesuatu, dan daya mengambil pelajaran dan hikmah.
Dari uraian di atas pengertian konsep pendidikan kejiwaan adalah, segala rancangan dan pengertian pendidikan yang berkaitan dengan kerohanian dalam pandangan hadis.

C. Tujuan Pendidikan Kejiwaan

Tujuan pendidikan kejiwaan (rohani) dalam Islam menurut Abdurrahman Saleh Abdullah (2005:143) yang mengutip pendapat Muhammad Qututhb dan Sayid Hawwa, adalah memadukan dan meningkatkan pearanan fitrah dan ruh. Eksistensi ruh bagi manusia mampu mengangkat derajataini secara implisit. Dalam surat al-Baqarah ayat 10 menyebutkan orang-orang yang bermuka dua (munafik) yang mempunyai penyakit dalam hatinya. Pemurnian dan penyucian diri manusia secara individual dari sikap negatif merupakan prioritas utama. Dalam surat Al-Baqarah ayat 126 disebutkan kata tazkiyah yang ditafsirkan dengan makna purifikasi sikap disebutkan dalam ajaran hikmah sebagai fungsi utama bagi Nabi.

Di dalam Al-Qur an surat Allah berfirman:

Artinya; “Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensucikan dirinya, dan yang berzikir menyebut nama Tuhannya (Allah) kemudian dia shalat. Tetapi kamu terpengaruh dengan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat jauh lebih baik dan abadi”

D. Materi Pendidikan Kejiwaan

Untuk mencapai tujuan pendidikan kejiwaan, maka sesuai dengan uraian pada pendahuluan yang berisikan permasalahan kejiwaan di era globalisasi yaitu berjangkitnya penyakit al-Wahn (terlalu cinta terhadap kehidupan dunia dan takut menghadapi kematian. Kemudian, dari penyakit kejiwaan ini berjangkit pula penyakit tamak (rakus), berbuat kezaliman (al-Zhulmu) dan lain-lain yang merusak, maka materi pendidikan kejiwaan harus diarahkan kepada macam-macam penyakit jiwa dan cara-cara mengobatinya. Berikut ini dikemukakan hadis Rasulullah yang berkenaan dengan penyakit kejiwaan ini.

1. al-Wahn (Cinta dunia dan takut mati)
Kata Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud.
Artinya : “Dikhawatirkan nanti umat Islam akan diperebutkan oleh musuh-musuh sebagaimana mereka menjarah makanan yang terhidang di atas meja. Sahabat bertanya kepada Rasulullah, apakah pada waktu itu, umat Islam sedikit sekali wahai Rasulullah?. Rasulullah menjawab, bukan, bahkan pada waktu itu jumlah kamu banyak sekali (mayoritas secara kuantitas), namun secara kualias tidak ubahnya seperti buih yang terapung-apung dipermukaan air yang mudah sekali dihanyutkan. Sehingga dalam kondisi seperti ini Allah mulai mencabut rasa gentar dari hati musuh-musuh kamu. Sebaliknya, Allah mulai mendatangkan penyakit kejiwaan yaitu al-Wahn ke dalam diri kamu. Sahabat kembali bertanya; “Apa pula yang dimaksud dengan penyakit al-Wahn Ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, yaitu suatu macam penyakit jiwa yang ditandai dengan cinta yang berlebihan terhadap kehidupan dunia, dan benci atau takut terhadap kematian”. H.R. Abu Daud
Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata :

Artinya : “Abu Said Al-Khudhari berkata : Bersabda Rasulullah SAW ; sesungguhnya dunia indah dan manis, dan Allah akan menyerahkan kepada kamu, maka bagaimana kamu berbuat padanya. Maka berhati-hatilah kamu terhadap godaan dunia dan godaan perempuan” (H.R. Muslim)
Untuk menghindari penyakit cinta dunia adalah melatih diri dengan sikap qana’ah atau rela menerima apa yang dianugerahkan oleh Allah sesuai dengan sabda Rasulullah :

Artinya : “Milikilah sifat qana’ah, karena qana’ah itu harta yang tidak pernah habis-habisnya” (H.R. Bukhari)
Di samping melatih diri dengan sifat qana’ah, membina kesadaran diri bahwa kekayaan harta bukanlah kekayaan yang sebenarnya, sebagaimana kata Rasulullah :
Artinya : “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati (jiwa)” (H.R. Bukahri dan Muslim)
Selanjutnya dibiasakan melihat orang yang rendah dari segi kekayaan sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

Artinya : “Lihatlah orang yang di bawahmu dan janganlah melihat orang yang di atasmu, karena itu lebih tepat, supaya kamu tidak meremehkan nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kamu” (H.R. Muslim)

2. Tamak dan rakus
Penyakit cinta dunia muncul dalam berbagai pola kehidupan di antaranya tamak (rakus). Tamak yaitu, sifat untuk memiliki sesuatu secara berlebih-lebihan tanpa aa puas-puasnya. Rasulullah melarang untuk berlaku tamak Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah:
Artinya : “Dari Ibnu Abbas dan Anas dari Nabi SAW. Seandainya cucu Adam memperoleh dua lembah yang berisi emas, niscaya mereka akan meminta tiga lembah. Tidak akan pernah penuh mulut cucu Adam kecuali ditutup dengan tanah (meninggal dunia). Dan Allah akan menerima tobat bagi yang bertobat”. H.R.Abu Daud.

Bahaya tamak diantaranya, jatuhnya martabat manusia selaku hamba Allah, dapat melalaikan kewajiban kepada Allah, dapat merusak kerukunan dan kedamaian, dan membawa kepada kemiskinan.
Cara mengobati penyakit tamak di antaranya, mengambil pelajaran dari peristiwa yang berlalu seperti kisah Qarun dan Tsa’labah dan membiasakan hidup qana’ah (sederhana).
3. al-Dzulmu (Berbuat zhalim)
Di samping tamak dan rakus, muncul pula penyakit jiwa yang dinamakan Zhalim(suka menganiaya) yaitu perbuatan yang merugikan orang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Furqan ayat 19.

Artinya : “Barang siapa diantara kamu berbuat aniaya Kami akan merasakan azab yang amat besar”
Rasulullah mengatakan orang yang menganiaya dan yang teraniaya harus diberi bantuan, yang menganiaya diberi petunjuk dan bimbingan, dan yang teraniaya diberi nasehat sabar.

Artinya : “Bantulah saudara engkau yang menganiaya dan yang teraniaya”. (Muttafaqun ‘alaihi). (H.R. Bukhari dan Muslim)
Cara mengobati penyakit zhalim diantaranya, memberi hukuman terhadap orang yang berbuat zhalim, menunjukkan akibat buruk orang dizalimi dan menjauhkan diri bersahabat dengan orang zhalim, dan membantu orang-orang yang teraniaya.

4. Itba’ul Hawa (memperturutkan hawa nafsu)
Memperturutkan hawa nafsu artinya memperturutkan keinginan dengan melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 43.
Artinya : “Tidakkah engkau perhatikan orang yag menjadikan haw nafsunya sebagai Tuhan, apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya”
Dalam surat Al-Jasyiyah ayat 23 Allah berfirman :.
“Maka pernah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya, dan Allah telah mengunci mati pendengarannya dan hatinya dan telah menutup penglihatannya. Dan siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”

Macam-macam hawa nafsu, nafsu ammarah (mengajak manusia berbuat mesum), nafsu lawwamah (nafsu yang tidak pernah merasa puas dalam setiap perbuatan, nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang yang dipanggil oleh Allah dengan penuh keredhaan).
Rasulullah pernah berkata : “Ada dua perkara yang sangat aku cemaskan padamu, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu akibatnya menyimpangkan kamu dari kebenaran, dan panjang angan-angan kamu akan dipukau oleh dunia”. (H.R. Abu Daud)
5. Ifsad (Berbuat kebinasaan)
Berbuat kebinasaan yaitu menganiaya orang lain, berbuat kerusakan dalam masyarakat, senang mengadu domba, menghasut dan melancarkan fitnah serta menimbulkan kerusakan dalam masyarakat.

Ifsad termasuk penyakit hati yang tercela dan dilarang oleh agama sebagaimana firman Allah dalam surat Al-‘Araf ayat 52.

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesdudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.
Selanjutnya Rasulullah pernah berkata : Abu Mas’ud Al-Badri r.a. bverkata :
“Saya sedang memukul budakku dengan cemeti, mendadak terdengar dari belakang, Ketahuilah Abu Mas’ud. Karena sedang marah saya tidak mengerti suara itu. Dan ketika telah dekat kepada ku tiba-tiba Rasulullah berkata; Ketahuilah Abu Mas’ud bahwa Allah kuasa kau lebih dari kekuasaanmu atas budak sahaya ini, maka saya berkata sesungguhnya saya tidak akan memukul hamba sahaya lagi sesudah ini. Dalam lain riwayat, maka jatuhlah cemeti itu dari tanganku, dari hebatnya Rasulullah Saw,. Dalam riwayat lain saya berkata dia merdeka karena Allah Ya Rasulullah, bersabda Nabi Saw. Ingatlah itu, niscaya akan menyentuh kau dari api neraka” (H.R.Muslim).
Cara mengobati penyakit ifsad adalah dengan mengambil iktibar dari akibat-akibatnya.

Untuk mengobati penyakit kejiwaan yang membawa kehancuran di atas, antara lain :

1. Memantapkan rasa mahabbah (kecintaan kepada Allah)
Mahabbah yaitu kecintaan kepada Allah dengan sepenuh hati, dan diwujudkan dengan ketaatan yang tulus terhadal agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Allah SWT. telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31.
Artinya : “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah akan mencintai kamu”.
Rasulullah telah menganjurkan agar meningkatkan kemantapan iman sehingga terasa manisnya iman. Kata Rasulullah :
Artinya : “Ada tiga macam resep jika ada ketiganya dia akan merasakan manisnya iman. 1) Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dari kecintaan terhadap segalanya, 2) Dia mencintai manusia hanya karena Allah semata, 3) Merasa jijik kembali kepada kafir sebagaimana jijiknya dilemparkan kepada api”. (H.R. Bukhari)

2. Memantapkan ketakwaan kepada Allah

Di samping memantapkan rasa kecintaan kepada Allah juga meningkatkan rasa ketakwaan kepada-Nya.
Takwa yaitu, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya baik secara sembunyi maupun secara terang-terangan. Unsur-unsur takwa menurut Afif Fatah Attabarah, yaitu, menjauhkan diri dari perbuatan yang dimurkai oleh Allah, kemudian perbuatan yang merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain.
Rasulullah pernah berkata :
Artinya : “Taqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada. (H.R. Tabrani)
Selanjutnya Rasulullah pernah pula memberi nasehat kepada seorang laki-laki yang meminta nasehat kepadanya :

Artinya : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW. seraya berkata : Yaa Nabi Allah, berilah aku nasehat (usiat), Rasulullah menjawab; bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya takwa itu adalah kumpulan dari segala kebaikan”.
3. Taubat
Yaitu perbuatan yang dilakukan seseorang dalam menyesali segala perbuatan dosa yang pernah ia perbuat. Biasanya perbuatan ini diakhiri dengan penyesalan, akan tetapi diikuti oleh perbuatan yang baik. Allah menganjurkan kepada manusia untuk selalu bertobat sebagaimana firman-Nya dalam surat Hud ayat 3 dan An-Nur ayat 31
Syarat-syarat tobat, menghentikan dengan segera maksiat yang dilakukan, menyesali perbuatan dosa yang telah terlanjur dilakukan, berniat dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu kembali. Hal-hal yang perlu dilakukan setelah tobat. Bilamana melakukan aniaya, dosa dan sebagainya hendaklah diikutkan setelah itu dengan perbuatan yang baik. Tobat harus dilakukan dengan segera setelah melakukan maksiat dan tobat itu hendaklah dengan tobat nashuha. Meyakini bahwa Allah senantiasa akan menerima tobat hambanya serta meyakini Allah maha pengampun dan Allah akan menerima tobat orang yang bersungguh-sungguh dalm bertobat Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 74.
Rasulullah juga bersabda : “Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik kesalahan adalah bertobat”. (H.R. Tarmizi, Ibnu Majah)

4. Qana’ah

Qana’ah yaitu mencukup dengan apa yang telah menjadi bagiannya, setelah berikhtiar. Jadi, qana’ah hati bukan qana’ah ikhtiar.
Qana’ah berfungsi sebagai basis menghadapi hidup, menerbitkan keseungguhan hidup dan menimbulkan energi kerja untuk mencari rezki. Jadi, giat bekerja, tekun bekerja, rajin berikhtiar, tetapi juga percaya kepada takdir yang diperoleh sebagai hasil usaha.
Dalil-dalil tentang qana’ah, firman Allah dalam surat Hud ayat 6.

Artinya : “Tidak satupun binatang yang melata di muka bumi melainkan Allah lah yang memberi rezkinya”.
Demikian pula firman Allah dalam surat Az-Zariyat 56-57.
Artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya menyembah kepadaku. Aku tidak menghendaki rezki sedikit dari mereka dan tidak menghendaki supaya mereka memberiku makan”

Rasulullah pernah berkata : “Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa” (yang dimaksud dengan ghinan nafsi ialah merasa cukup dengan rezki yang diperolehnya, dan terlalu memperkaya diri dengan tidak memperhatikan dari mana datangnya rezki, seperti perbuatan orang-orang kafir.) H.R. Bukahri dan Muslim)
5. Tawadhu’
Tawadhu’ mempunyai banyak pengertian, antara lain, bersikap tenang, rendah hati, sederhana, bersungguh-sungguh dan menjauhi sikap takabur, sombong dan membangkang. Tawadhu’ juga berarti tunduk dan taat melaksanakan yang hak dan bersedia menerima kebenaran dari manapun datangnya. Lawan tawahu’ adalah takabur, sombong, congkak dan tinggi hati.
Fungsi dan hikmah tawadhu’ merupakan sarana atau jalan yang mengantar manusia ke surga sebagaimana firman Allah dalam surat al-‘Araf ayat 40.
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombonghkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula masuk surga sehingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim”
Rasulullah pernah bersabda ;

Artinya : “Apakah kalian ingin aku beritahukan, orang-orang yang diharamkan dikenai api neraka, atau api neraka yang diharamkan baginya? (yaitu) api neraka itu haram bagi orang yang dekat (kepada Tuhannya), merendahkan diri (tawadu’ kepadanya) yang lemah lembut dan taat. (Hadis Qudsi). Selanjutnya Rasulullah berkata : “Tawadhu’ adalah salah satu jalan untuk memperoleh derajat yang tinggi di hdapan Allah (H.R.Abu Naim
Artinya : “Barang siapa yang tawadhu’ kepada Allah, maka Allah akan mengangkat derajat di sisi Allah”. H.R. Abu Naim)
Rasulullah pernah berssabda :

Artinya : “Tawadhu’ itu tidak akan menambah seorang hamba, melainkan ketinggian, maka tadhu’lah kamu nanti Allah akan meninggikan” (H.R. Ibnu ‘Abid dunya).

6. Tawakal
Tawakal adalah perasaan dari seorang mukmin dalam memandang alam, apa yang terdapat di dalamnya tidak akan luput dari tangan Allah. Sehingga seseorang tidak perlu khawatir dalam menghadapi segala persoalan yang berada di luar kehendak dan kemampuan kita. Artinya tawakal bisa diartikan sebagai bentuk penyerahan sepenuh hati dari seseorang kepada Allah setelah melalui proses usaha yang maksimal.
Nabi bersabda :
Artinya : “Bahwasanya Nabi Saw. Ketika beliau keluar dari rumahnya, nabi berkata dengan menyebut nama Allah, Aku serahkan kepada Allah, Yaa Allah sesungguhnya kami berlindung kepada mu dari segala yang diturunkan yang mengalahkan, yang menzhalimi, yang membodohi, dan yang dibodohi kepada kami”. (H.R. Tarmizi)

Dengan bertawakal, seseorang tidak lagi menjadi takut, khawatir terhadap segala sesuatu yang ada dalam diri maupun yang ditinggalkannya. Karena semuanya telah diatur oleh Allah dan memberi rezki kepada seluruh makhluk di dunia, hatinya tidak beralasan kalau pada akhirnya seseorang harus dengan kehilangan sesuatunya.
Umar Bin Khatab berkata : “Dari Rasulullah SAW, bahwasanya andaikan kalian semua tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezki sebagaimana Allah memberi rezki kepada burung keluar dengan perut kosong dan keluar dengan perut kenyang” (H.R. Tarmizi).
7. Sabar
Sabar menurut Imam Al-Ghazali adalah, menerima segala penderitaan dan tabah menghadapi hawa nafsu. Menurut DR. Ahmad Muhammad Al-Huffi, sabar dapat diartikan, taat mengerjakan ibadah, memelihara agama, membela tanah air, bekerja dengan tekun dalam mencari rezki, menegakkan kebenaran dan memberantas kejahatan, menerima dengan rela atas takdir yang datang dari Allah SWT.
Kedudukan sabar dalam iman setingkat dengan kedudukan ruh dengan tubuh, melaksanakan ibadah kepada Allah dengan penuh pengabdian dan taat mengerjakan, merupakan sabar dalam melakukan ibadah. Firman Allah dalam surat Al-Ahqaf ayat 35.
Artinya : “Maka sabarlah kamu sepertti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang bersabar dan janganjlah kamu meminta disegerakan azab bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal di dunia melainkan sesaat di siang hari, (inilah suatu pelajaran yang cukup, maka tidaklah dibinasakan orang-orang yang fasik”.
Tidak ada seorang mukmin yang ditimpa musibah, lalu ia berkata sebagaimana yang diperintahkan Allah “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun”, wahai Tuhan berilah aku pahala dalam musibah ini dan sudahilah dengan yang lebih baik kecuali Allah akan mengabulkannya” (Hadis).
E. Metode Pendidikan
Metode pengajaran pendidikan kejiwaan mengikuti metode pendidikan secara umum. Menurut Abuddin Nata (2005: 353-354) yang dirumuskan dari perbuatan Rasulullah Saw. adalah metode tabyiin yaitu :
1. Bayan al Qaul, penjelasan dengan kata-kata (ceramah)
2. Bayan bi al-fi’ili, penjelasan dengan perbuatan (demonstrasi).
3. Bayan bi al-kitabah, penjelasan dengan tulisan.
4. Bayan bi al isyarah, penjelasan dengan isyarat.
5. Bayan bi al tarki, penjelasan dengan tidak melakukan sesuatu.
6. Bayan bi al sukut ba’da al sual, penjelasan dengan diam sesudah ada pertanyaan.
7. Bayan bi al takhsish, penjelasan dengan memberikan pengkhusussan dan sebaginya.
F. Penutup
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia dijadikan oleh Allah Swt. berkedudukan sebagai hamba dan Khalifah Allah di muka bumi, dan berperan melaksanakan ibadah, mendidik, memelihara dan memakmurkan alam semesta untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Kemudian, untuk terlaksananya peran manusia secara maksimal, Allah telah memberikan seperangkat potensi yaitu jasmani dan rohani. Potensi rohani terdiri dari unsur-unsur fitrah, nafs, roh dan akal.
Meskipun manusia telah diberi seperangkat potensi, namun karena potensi rohani tidak dikembangkan secara edukatif, maka manusia terpengaruh oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi yang menyebabkan manusia dihinggapi oleh suatu macam penyakit jiwa yang disebut oleh Rasulullah SAW. dengan penyakit Wahn yaitu terlalu cinta kepada dunia dan takut mati. Akhirnya manusia tidak berperan sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Bahkan manusia telah bertindak sebagai petualang-petualang yang berbuat kebinasaan di darat dan dilaut, melakukan pertumpahan darah, merusak alam dan ekosistem sehingga manusia terpuruk ke dalam rawa-rawa kemiskinan, kebodohan dan kejumudan.
Untuk terlaksananya fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi, manusia perlu mengembangkan potensi rohaninya dengan system pendidikan kejiwaan dengan materi memperkenalkan bermacam-macam penyakit jiwa seperti al-Wahnu (cinta dunia dan takut mati), tamak dan rakus, al-zhulmu (berbuat kezaliman) dan lain-lain. Kemudian, mengobatinya dengan memantapkan keimanan dan ketakwaan, tobat, qana’ah, tawakal, tawadhu’, sabar dan lain sebagainya yang mengaktifkan unsur-unsur kerohanian dengan mengembangkan metode tabyin yang terdiri dari ceramah, demonstrasi, tulisan, isyarat, keteladanan, dan memberikan penekanan pada hal-hal tertentu (pengkhususan.




DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-Qur an al-Karim

Abdul Rahman Shaleh-Muhbib Abdul Wahab, Psikologi, Suatu Pengantar, Dalam Perspektif Islam, Jakarta : Prenada Media,2005
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur an, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.
Abuddin Nata dan Fauzan, Pendidikan Dalam Perspektif Hadis, Jakarta : UIN, 2005
Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adabi Darban, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam, Jakarta : LPPI, 2005
Radhin Rahman, Intisri Pengajian Islam, Jakarta : PP. Muhammadiyah, 1994
.Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2006
Materi Dakwah Terurai, Jakarta : Pemda DKI, 1987











































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar