Rabu, 28 Januari 2009

Write Corner Drs. H. Raichul Amar, M.Pd

Re-Edit dan re-Write by Muhammad Ilham

SINGGALANG : Tanggal 5 Juni, masyarakat internasional memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia. Raichul Amar pun mencari momen untuk bersuara menyelamatkan lingkungan lewat foto. Karyanya sekarang berjumlah lebih kurang 1000. Environmentalis kampus pernah mencetak sejarah dalam penghargaan menyelamatkan lingkungan. Penghargaan tersebut diberikan setiap 5 Juni di Istana Presiden. Drs H Raichul Amar MPd Dosen Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang sosok Enviromentalis kampus yang mampu meraih Kalpataru pada tahun 2000 lalu.

Raichul pun mencari momen untuk bersuara menyelamatkan lingkungan lewat foto. Karyanya sekarang berjumlah lebih kurang 1000. Baik dalam ukuran 3R sampai 10R. Hasil foto tersebut ia potret dari beberapa daerah Indonesia yang pernah disinggahi. Seperti Banda Aceh, Medan, Makassar, Bali dan lainnya.
Tapi dari sekian daerah yang ia datangi, Lumpur Panas Sidoarjo menjadi momen terbaik yang ia kenang dalam hidupnya. Tempat bencana yang terjadi 27 Mei 2006 tersebut dikunjungi November 2006 lalu. Berkat dana proposal dari Pemerintah Provinsi Sumbar, Raichul berhasil berangkat ke Porong. Dengan modal kamera manual, ia berhasil mendapat momen di sumur semburan.
Perjalananan ke Sidoarjo menjadi hal penting dalam perjalanan hidupnya sebagai fotografer lingkungan. Momen terbaik lainnya yang tidak akan dilupakannya yakni saat menunaikan ibadah haji ke Mekah. Ia berhasil mengambil foto dalam Masjidil Haram.
Padahal ada larangan untuk membawa foto ke dalam. Sejarah hidup Raichul akhirnya terjadi, memasuki hari ketujuh, ia berhasil masuk ke Masjidil Haram sambil membawa kamera. “Ini momen terpenting yang pernah saya jumpai,” katanya. Kecintaan Bapak asli Bukittinggi ini pada dunia fotografi, bermula pada tahun 1984. Waktu Shalat Idul Fitri di Kantor Gubernur Sumatera Barat, ia menjumpai sampah koran bertebaran di pojok tempat shalat. Lalu dipotretlah hal tersebut. Sampai saat ini sudah 74 kali ia mengikuti pameran baik tingkat daerah maupun nasional. Pameran itu kadang diajak langsung oleh pemerintah.
Dalam berpergian Bapak berperawakan supel ini selalu membawa tas khusus untuk pakaian dan foto. Pada tanggal 15 Juni nanti ia juga akan tampil di pameran Peringatan Hari Lingkungan Dunia tingkat Sumatera Barat, yang akan dibuka langsung Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar.
Dalam sehari ia mampu menghabiskan dua rol atau lebih film. Penting baginya adalah momen menarik bisa difoto. Pada suatu ketika ia pernah ketinggalan kamera, akhirnya ia sewa tukang foto untuk memfoto. Menariknya lagi, biaya cetak foto dikeluarkan dari uang saku. Entah berapa banyak uang yang telah dikeluarkannya untuk biaya cetak foto.
Selain hobi foto, Raichul juga suka menulis, terutama dengan tema lingkungan. Menulis sudah dilakoninya sejak tahun 1987. Puisi baginya adalah tempat curhat. Karya puisinya lahir dengan kata-kata alam. Kata-kata alam bagi Raichul adalah jimat dalam mendekatkan diri dengan lingkungan. Salah satu kata itu adalah alam takambang jadi guru. (eko kurniawan)
Kalpataru Hadiah Ulang Tahun
Hidup ini adalah perbuatan, kata yang datang dari sebuah syair Chairil Anwar. Tahun 2000, musim panas sengat di Kota Padang. Rumahnya di Airtawar didatangi tim penilai Kalpataru. Kedatangan mereka atas rekomendasi orang dari kantor Gubernur.
Pada bulan Juni, akhirnya ia terpanggil untuk menerima Penghargaan Kalapataru. Waktu itu ia meraihnya dengan kategori foto-foto yang membawa kesadaran lingkungan. Koleksi tersebut dilihatkan kepada penilai dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Tiba di Istana Merdeka 5 Juni tahun 2000, Raichul dengan berpakaian adat Minangkabau menerima Kalpataru dari Presiden Abdurrahman Wahid bersama Wakil Presiden Megawati.
Kalpataru penghargaan tertinggi tingkat nasional telah ia capai.Tahun 2000 ia jadi satu-satunya wakil Sumbar untuk menerima Kalpataru. Prestasi lahir dengan kerja keras dengan niat yang ikhlas. Bagi Raichul, Kalpataru bukanlah segala-galanya. Raichul menilai penghargaan Kalpataru tanggung jawabnya besar. Pulang dari Jakarta, ia merintis pustaka buku lingkungan. Ini jadi sebuah agenda tanggung jawabnya sebagai penerima Kalpataru.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar