Rabu, 28 Januari 2009

Khatidjah Sidek : “Unieng Piaman” yang pernah menggegerkan perpolitikan Malaysia

Oleh : DR.H. Saifullah SA., MA

Khatijak Sidek merupakan salah seorang figur paling kontroversial di awal kelahiran Negara Malaysia, yang tampil secara sangat mengejutkan, karier politiknya meroket dengan kecepatan tinggi, lalu pada barisan puncak mengharu-biru politik Malaysia, dan akhirnya dijatuhkan dengan cara sangat mengenaskan. Kalau ada orang yang sempat dipecat dua kali dari partai politik UMNO, maka orang itu hanyalah Khatijah Sidek. Kalau ada orang yang sempat menjadi barisan perdana dalam dua partai politik terkemuka Malaysia secara berurutan – UMNO dan PAS -- maka orang itu hanyalah Khatijah Sidek. Tapi lagi-lagi karena ”panas baran” sang pelakon kita, dia juga dipecat dari partai kedua ini.

A. Pendahuluan
”Saya merupakan anak perempuan pertama yang sangat dinanti-nantikan oleh ayah bunda dan keluarga besar saya, karena sembilan orang kakak-kakak saya semuanya laki-laki, sedang bagi kami etnik Minangkabau, anak perempuan merupakan pelanjut garis keturunan”, demikian Khatijah Sidek mengawali uraian masa kecilnya dalam buku biografinya Memoir Khatijah Sidek : Puteri Kesatria Bangsa, terbitan UKM, Bangi, 2004. Ternyata mengalami pembuangan, pemecatan, persona non grata, sudah merupakan suratan tangan Khatijah Sidek sejak remaja. Bahkan yang paling tragis adalah bahwa anak pertamanya lahir ketika dalam tahanan Inggeris di penjara Outram Road Singapura.
Gaya, watak, kepribadiannya merupakan ”gergaji bermata dua”, yang menyebabkan dia diperlukan sekaligis dibenci. Khatijah Sidek, disanjung, dipuja dan dijadikan idola oleh lingkungannya, pidatonya yang berapi-rapi menjadi contoh dan sumber inspirasi pejuang pada masanya, semangatnya yang tidak mengenal mundur, menjadi motivasi lingkungannya. Tapi, pada waktu yang sama Khatijah Sidek dibenci, dicaci-maki dan menjadi sumber konflik, tumpuan dendam kesumat dan dijatuhkan juga oleh lingkungannya.

B. Masa kecil dan remaja
Khatijah Sidek dilahirkan oleh seorang ibu bernama Sariah binti Mohammad Saleh dan ayah Mohammad Sidek bin Haji Ismail, di Kampung Baru, Pariaman pada tahun 1918. Keluarga ini sebelumnya telah mempunyai sembilan orang anak lelaki, itulah sebabnya sangat mendambakan kehadiran seorang anak perempuan. Karenanya kelahiran Khatijah Sidek sangat menggembirakan, dan mendapat banyak keistimewaan dari seluruh keluarga ini. Dengan pertimbangan agar anak perempuan ini dapat memerankan peran Khadijah (binti Khuwailid) sang isteri Nabi Besar Muhammad SAW, maka bayi ini dinamakan Khatijah. Besar dugaan kami bahwa sebutan Khatijah (dengan t) ini populer setelah di Malaysia, bukan sejak lahir, karena dalam istilah Minangkabau biasa digunakan Khadijah (dengan d).
Ayahnya seorang pedagang yang cukup berhasil, dan memiliki cita-cita yang tinggi untuk anak-anaknya. Dia ingin anaknya kalau mungkin sampai pada tingkat penghidupan yang lebih tinggi, karenanya anak-anaknya dimasukkan ke sekolah Belanda. Sedang ibunya seorang suri rumah yang penyayang dan memanjakan anak-anaknya, dan memiliki kecendrungan keagamaan yang relatif lebih baik. Karenanya ibunya bercita-cita Khatijah kelak bisa masuk sekolah agama dan kemudian seorang ustadzah yang berhasil. Bagaimanapun, ternyata Khatijah tetap dimasukan sekolah Belanda (HIS) di Pariaman, dan kemudian melanjutkan MULO di Padang. Mungkin karena tarik menarik dan gabungan antara ayah dan ibunya ini antara lain penyebab Khatijah ”kaya” akan nuansa dan aneka warna kehidupan.
Ketika menjalani pendidikan di Mulo Padang, watak dan kecendrungan Khatijah sudah kelihatan, dia memasuki Keputrian Indonesia Muda (untuk murid-murid perempuan), sebagai mitra Indonesia Muda (untuk murid-murid lelaki), bahkan Khatijah juga aktif di Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Kedua organisasi pelajar ini pada tingkat nasional telah dijangkiti oleh semangat Nasionalisme dan cinta tanah air, sehingga cerita-cerita dan epik kepahlawanan serta lagu-lagu perjuangan merupakan bagian dari keseharian organisasi ini. Itu sebabnya pemerintah kolonial Belanda, mencurigai dan mematai-matai aktifitas organisasi para pemuda ini. Lagu paling disukai organisasi ini – dan paling dibenci oleh Belanda – adalah lagu Indonesia Raya, diskusi terselubung yang paling diminati adalah tentang cerita-cerita kemerdekaan.
Memasuki tahun kedua di MULO Padang (1933), disebabkan kegiatan Khatijah bersama organisasi ini, dengan berbagai aktifitas dan kecendrungannya pribadi menyebabkannya bersama 33 orang murid lainnya ”dipecat” dari MULO. Pengalaman ”dipecat” dari dari satu posisi ternyata bukan yang pertama dan terakhir bagi Khatijah, tapi awal dari rentetan berbagai pemecatan yang bakal dilaluinya sepanjang hidupnya, sebagai bagian dari resiko dari pilihan hati dan keyakinannya.
Setelah dipecat dari Mulo Padang, pada 1933 Khatijah melanjutkan pendidikannya yang terbengkalai itu ke Normal School Padang Panjang, langsung ke kelas dua. Di Normal School Padang Panjang – yang berudara dingin, dan setelah mendapat ”pelajaran” dari pemerintah kolonial Belanda dalam bentuk pemecatan itu -- bukannya membuat Khatijah bersedih, mundur dan berhenti dari aktifitas politik, bahkan semakin matang dan dewasa. Adalah di sekolah ini dia mulai menulis dengan nama samaran ”Ardjasni”, dan nama ini pula kelak menjadi nama perkumpulan enam saudara secita-cita. Perkumpulan Ardjasni ini dimotivasi oleh faktor intern persaingan antar etnik sesama pelajar Normal School, dan lebih-lebih lagi oleh faktor ekstern, yakni oleh semangat nasionalisme dan cita-cita kemerdekaan yang datang dari Jawa. Nama yang paling sering disebut dan menjadi sumber inspirasi dan semangat adalah Sukarno, dan khusus tentang perjuangan kaum perempuan adalah Kartini.
Setamatnya dari Normal School (1936), Khatijah mengajar di Pangkalan Susu, Sumatera Utara (1936-1938), Pangkalan Berandan, Aceh (1938-19390, Binjai, Sumatera Utara (1939-1940), dan kemudian dipindahkan lagi ke Matang Glumpang Dua, Aceh Selatan (1940-1942). Pengalaman dan suka duka Khatijah menjadi guru di banyak daerah tersebut, membuatnya menjadi sangat ”Indonesia” dan berideologi ”nasionalis”, dan mulai meninggalkan cara berfikir dan cara pandang lokal, suku, dan pikiran-pikiran primordial sempit lainnya. Pengalaman bergaul dengan macam-macam suku, etnik, bangsa dan agama dari berbagai keturunan, menyebabkannya meningkat dari milik ”Piaman”, menjadi milik bangsa dan kemudian seperti ternyata dalam sejarah, dia meningkat lagi menjadi milik ”Nusantara Raya”, yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura. Dia tidak canggung bergaul dan berkomunikasi dengan aneka warna etnis. Inilah ”kekuatan” tapi sekaligus ”kelemahannya”. Pada masa Belanda, sekalipun dia anti kolonialis Belanda, tapi dia mampu menyerap dengan baik bahasa dan budaya Belanda, sebagaimana juga pada masa Jepang dia juga mampu menyerap bahasa dan budaya Jepang.
Suka duka masa awal pendudukan Jepang dialaminya ketika masih mengajar di Matang Glumpang Dua (Aceh). Kisah-kisah menarik selama pendudukan Jepang yang bisa dicatat, misalnya ketika di Binjai dia nyaris dikawin paksa oleh seorang tentara Jepang, yang memaksanya harus pulang ke Pariaman. Berikutnya, bagaimana para pemuda dengan bantuan dukun di Pariaman berhasil mencuri senjata dari tangan Jepang yang telah kalah perang, bagaimana besoknya setelah Jepang mengetahui adanya pencurian senjata, yang berakibat fatal bagi hampir seluruh orang sekitar, juga bagi Khatijah sendiri, yang mengharuskannya lari ke Bukittinggi.
Semangat yang telah tumbuh sejak dari MULO Padang, berkembang di Normal School Padang Panjang, sekarang menemukan momentumnya untuk menyala dan terbakar dalam pendidikan Jepang yang heroik dan bersemangat. Khatijah sangat menikmati aroma dan iklim perpolitikan zaman Jepang yang penuh derita tapi bergairah.

C. Puteri Kesatria

Masa-masa di Bukittinggi pada akhir masa Jepang dan awal masa aksi militer Belanda merupakan masa-masa heroik tapi indah dalam kehidupan remaja Khatijah. Ketika Khatijah menubuhkan pasukan semi-militer puteri yang pada awalnya hanyalah berupa perkumpulan sekolah ketrampilan puteri, kemudian berkembang menjadi pasukan terlatih dan pada puncaknya memerankan pasukan semi-militer puteri, yang diberi nama ”Kesatria Bangsa”, pada tanggal 11 Nopember 1944. Adalah Khatijah yang memberikan semangat hidup, rasa percaya diri dan harga diri pada mereka, dan membekali mereka dengan berbagai kemahiran yang diperlukan seorang remaja puteri dan ibu di rumah tangganya masing-masing, dan juga kemahiran membela diri dan mempertahankan diri dalam suasana perang.
Bagi Katijah pribadi, masa-masa mmenubuhkan dan memimpin pasukan Kesatria Bangsa ini, benar-benar kesempatan dan peluang untuk membentuk, mengembangkan dan menemukan watak dan jati dirinya. Dalam pasukan ini dia merencanakan, melaksanakan dan mempertanggung jawabkan ratusan wanita dan remaja puteri dengan berbagai latar belakang : asal usul pendidikan, pengalaman dan obsesi seeta cita-cita. Khatijah mernjadi ibu tempat mengadu, menjadi guru dan pamong dalam belajar dan berlatih, menjadi motivator bagi mereka yang patah semangat dan membawanya bersama-sama ketempat dan posisi yang lebih baiik. Ketika inilah seluruh potensi dan organ dinamiknya berfungsi dan bergerak maju. Inilah kawah candradimuka sebenarnya bagi Khatijah dalam benbentuk watak dan kepribadiannya dimasa datang.
Pasukan sukarelawan atau semi-militer puteri ”Kesatria Bangsa”, yang memakai pakaian dan gaya ala laki-laki – pakai celana panjang, baju kemeja, berbaris dengan tegap, dan bernyanyi dengan suara lantang di tengah jalan umum -- untuk masa itu, jelas sangat mencengangkan atau bahkan tidak begitu diterima oleh pemuka agama, ulama dan adat bahkan oleh kalangan aktifis perempuan sendiri. Gaya mereka yang kadang-kadang berlebihan, mengundang sinisme, cemooh dikalangan sebahagian kecil masyarakat. Tapi sebaliknya kehadiran mereka sangat diterima dikalangan pejuang-pejuang yang tenagh dimasak dalam tungku pembakaran semangat Jepang. Kesatria Bangsa melengkapi organisasi sejenis seperti Sabilillah, Hizbullah dan Sabil Muslimat (lasykar bentukan rakyat) dan berbagai oeganisasi lainnya.
Karena kegiatan dan aktifitasnya dan juga eksklusifisme pasukan Kesatria Bangsa, maka pasukan ini menjadi populer dan dikenal dikalangan penuang baik di daerah Sumatera Tengah khususnya, bahkan sampai ke Semenanjung Malaya dan Singapura, hal ini disebabkan banyak aktifis tanah semenanjung yang kejangkitan ”demam kemerdekaan” yang tengah melanda Indonesia, juga ada beberapa murid atau anggota Kesatria Bagsa yang merantau ke Pekan Baru dan Singapura. Oleh dan melalui mereka inilah Khatijah diundang datang ke Singapura dan tanah semenanjung .

D. Penjara Singapura
Khatijah berangkat ke Singapura yang pertama kali bulan Juni 1946, dan yang kedua bulan Juli 1947. Hampir seluruh kisah perjalanan ke Singapura, menjadi kisah yang ”luar biasa”, luar biasa karena perjalanan dari Bukittinggi ke Pekan Baru dan seterusnya ke Singapura, adalah perjalanan dimana Khatijah tidak punya bekal atau biaya perjalanan. Seluruhnya dilakukan karena ”belas kasihan” sesama kawan diperjalanan, atau anggota-anggota Kesatria Bangsa atau bahkan dengan mengancam pemilik boat yang membawa mereka dari Pekan Baru ke Singapura. Modal utama adalah lencana anggota Kesatria Bangsa, kemampuan berbicara dan kemampuan meyakinkan atau ”menggertak” orang, sehingga Khatijah selamat sampai di Singapura.
Di Singapura Khatijah dibawa ke sekretariat Persatuan Kaum Buruh Indonesia Malaya (Perkabim), dan dari sini sayap Khatijah dilebarkan sampai ke Semenanjung. Sepanjang tahun 1946 Khatijah diperkenalkan dengan Persatuan Kebangsaa Melayu Bersatu (Perkembar) yang kemudian populer dengan mama UMNO, dibawah pimpinan Dato’ On bin Jakfar. Khatijah juga akrab dengan Parti Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM) dibawah kepemimpinan Dr. Burhanuddin al-Helmi dan Ishak Haji Muhammad, juga Angkatan Pemuda Insaf/API dibawah Ahmad Bustamam. Sedang di Johor Khatijah berkenalan dengan Dr. Ismail. Tidak lama kemudian Khatijah telah diangkat sebagai Ketua Himpunan Wanita Indonesia Malaya (HIMWIM), suatu organisasi sosial yang menggabungkan antara pejuang & aktifis wanita Indonesia dan Malaya di Singapura.
Seperti diketahui bahwa masa-masa mulai tahun 1946 ini adalah masa dimana Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaannya. Sipongang dan riak kemerdekaan ini bagaimanapun menjalar ke Singapura dan semenanjung, walaupun kondisi Singapura dan semenanjung berbeda dengan Indonesia.
Di Indonesia, penjajahan Belanda dihadapi secara frontal dan terbuka, sedang di semenanjung apalagi di Singapura pebjajahan Inggeris, dihadapi dengan sangat hati-hati kalau tidak akan dikatakan setengah hati. Kalau di Indonesia kata-kata ”merdeka” diucapkan dengan penuh semangat lantang dan diucapkan untuk dapat menularkan heroisme, maka di Malaya dan Singapura, diucapkan dengan lembut – bahkan hampir-hampir tidak kedenganaran -- dan dengan sepenuhnya memperhatikan lingkungan. Di Indonesia – lebih-lebih di Minangkabau -- suasana yang sangat egalitarian, menyebabkan setiap orang boleh memulai atau mendahului atau bahkan melebihi kapasitas pemimpin dalam meneriakkan aspirasi dan kehendak kemerdekaan. Di semenanjung, setiap orang harus memahami posisi sosial masing-masing, sehingga harus dapat menyesuaikan diri dalam bertindak. Wakil ketua hendaklah tidak sekuat Ketua dalam bersuara, anggota biasa hendaklah berbicara sesudah ketua berbicara, dan dalam intonasi, volume dan bahkan isi, jangan mendahului, melebihi atau melampaui Pimpinan. Dan yang paling menentukan, adalah bahwa seorang perempuan, harus berada dalam barisan kedua atau ketiga. Adalah sangat tabu dan berpantang bahwa seorang perempuan lebih duluan, lebih maju, lebih vokal berbanding laki-laki. Seluruh ketentuan diatas merupakan gabungan ketentuan adat resam Melayu, adat resam Islam dan adat resam feodalisme raja-raja dan bangsawan Melayu.
Khatijah Sidek, karena telah menjadi bagian dari dirinya, sama sekali melabrak adagium tersebut. Dia berani memulai sebelum orang lain memikirkannya, dia berani berbicara lebih lantang dari atasannya, dan dari lingkungannya yang laki-laki, dia pantang surut kalau keyakinannya menyatakan harus maju, sekalipun dia harus berhadapan dengan kebiasaan dan adat resam Melayu.
Walaupun Khatijah Sidek keras, pantang dibantah, dan menolak poligami, tapi sejarah hidupnya menentukan lain, di Singapura beliau dipinang oleh Dr.Hamzah bin Hj. Taib, seorang dokter perubatan dan juga aktifis dan Naib Yang Dipertua Lembaga Kesatuan Melayu Johor. Khatijah Sidek menerima pinangan tersebut, karena desakan keras seluruh keluarga dan kawan-kawan dekatnya, dengan pertimbangan, bahwa Khatijah yang aktifis dan pejuang yang selalu bergerak kemana-mana, sebaiknya memiliki suami, yang akan mendampingi dan melindunginya dikala susah. Dr. Hamzah meminang Khatijah dengan pertimbangan dapat memajukan wanita Melayu melalui organisasinya. Dr. Hamzah berasal dari Muar, dan sebelumnya telah mempunyai isteri dan beberapa orang anak, mereka menikah tanggal 21 Juni 1948.
Dia mempunyai suami yang sebelumnya adalah milik orang lain dan milik perkerjaannya serta milik perjuangan masyarakat Johor. Khatijah hanya memiliki sedikit dan sisa-sisa waktu yang tersedia, sehingga tidak banyak yang diperolehnya, kecuali status sebagai seorang isteri. Masuk dalam catatan Khatijah, bagaimana keluarga dan adik-adik suaminya tidak begitu bersetuju dengan kehadirannya, bagaimana dalam waktu-waktu dimana Khatijah sangat memerlukan kehadiran seorang suami, ternyata suaminya tidak dapat menemaninya. Dapat disimpulkan bahwa kehidupan rumah tangga Khatijah Sidek tidak terlalu bahagia, sekalipun keluarga mereka tetap bertahan sampai ajal menjemput suami Khatijah bulan Mei 1956.
Gaya dan cara Khatijah tersebut diatas diantara lain yang membawa beliau dimasukkan ke penjara Singapura selama dua tahun antara tahun 1948 sampai dengan 1950, dengan alasan mengganggu keamanan umum, dibawah akta darurat.
Khatijah Sidek dimasukkan ke penjara Outram Road, Singapura tanggal 18 Agustus 1948, hanya tiga bulan setelah Khatijah menikah. Bermulalah kehidupan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kehidupan dibelakang tirai besi penjara, hidup diantara dinding-dinding penjara yang dingin dan pengap, di kota yang jauh dari tempat kelahiran, dan sanak saudara.
Hari-hari Khatijah dipenjara adalah hari-hari yang sangat panjang dan sangat menjemukan, apalagi dia sama sekali tidak mengetahui kenapa dia ditahan, kecuali bahwa dia dianggap membahayakan keamanan Singapura, dan bahkan sama sekali tidak pernah disidangkan sampai dia dibebaskan tahun 1950. Yang tidak kalah menyedihkannya, adalah bahwa ternyata Khatijah dipenjara ketika dia hamil muda, dan betapa sukarnya menjaga kehamilan dalam kondisi kejiwaan sangat menderita dan kondisi kesehatan dan makanan juga sangat memprihatinkan, sampai akhirnya dia melahirkan anak pertamanya dalam penjara dipenjara. Dia memberi nama anaknya Khadria Taswim Malahayati , yang berarti Khad (nama Khadijah), Ria (Puteri Kesatria), Ta (tahanan), S (Singapura), Wim (HIMWIM , nama organisasi wanita di Singapura), Mala (Malaya), hayati (kehidupan yang tidak pernah menyerah), suatu akronim dari paduan bio-etnilogi, penderitaan, perjuangan dan harapan. Kemudian Khatijah mendapat tiga orang anak lagi, dua orang laki-laki : Nur Kemal dan Mohammad Hatta serta seorang anak angkat bernama Mourni.
Apakah penjara selama dua tahun menyebabkan Khatijah menjadi ”lunak” dan kehilangan elan vita perjuangannya ?, ternyata tidak. Penjara menjadi kawah candradimuka yang efektif mengembleng semangat bajanya. Dalam penjara dia mengajarkan lagu Indonesia Raya dan berbagai kesibukan lainnya bagi 40 orang penghuni penjara wanita Outram Road Singapura.

E. Jatuh dan Bangun dalam Politik
Organisasi kedua yang dipimpin Khatijah sesudah HIMWIM adalah Kaum Ibu PERMAS (Persatuan Melayu Semenanjung), yang setelah menyelenggarakan kongres di Kuala Lumpur, memilih Khatijah Sidek sebagai Ketua. Kehadiran Khatijah sebagai anggota sayap wanita UMNO bukan tanpa tentangan, karena mereka takut terbawa pengaruh oleh posisi Khatijah baru keluar dari penjara. Tapi karena UMNO sebagai organisasi baru memerlukan seorang yang kuat, tidak kenal lelah dan bersemnagat baja, maka atas dukungan Ibu Hajjah Zain (seorang tokoh senior Wanita UMNO) dan Tunku Abdurrahman sendiri, Khatijah diterima menjadi anggota UMNO pada tahun 1953.
Kiprah Khatijah dalam UMNO meningkat secara drastis, karena gaya bicara, gaya kepemimpinannya, yang mampu membawa wanita Melayu yang sebelumnya hanya sebagai pelengkap Penderita – paling tinggi pelengkap penyerta – dalam politik, dan yang berani menyuarakan bahwa wanita berhak duduk dalam Majelis Tinggi UMNO dan berhak mendapoat posisi yang lebih besar dalam setiap proses pengambilan keputusan, maka dia menjadi ”lokomotif” segar bagi wanita UMNO khasnya dan wanita Melayu khususnya. Banyak daerah yang belum memiliki cawangan Wanita UMNO, ditubuhkan oleh Khatijah, banyak cawangan yang lumpuh dan separo mati, dihidupkan kembali oleh Khatijah. Sehingga setelah Perhimpunan Agung UMNO di Kedah tahun 1954, Khatijah diangkat sebagai satu-satunya wanita dalam keanggotaan Majelis Tertinggi UMNO. Dan karena kemampuannya dalam berpidato dan mengambil hati akum wanita, Khatijah diangkat sebagai Bagian Penerangan Pimpinan Pusat Wanita UMNO, bahkan kemudian meningkat lagi menjadi Setia Usaha Agung (Sekretaris Jenderal) Pimpinan Pusat Wanita UMNO. Dan ketika Ketua Umum Wanita UMNO dalam keadaan kurang sehat dan uzur, Khatijah diangkat sebagai Pemangku Ketua Wanita UMNO. Sehingga pada masa ini empat jabatan sekaligus dipangku Khatijah : Majlis Tertinggi UMNO, Bagian Penerangan Wanita UMNO, Setua Usaha Agung dan Pemangku Ketua Wanita UMNO, suatu jabatan yang tidak pernah sampai hari ini dipegang oleh seorang wanita manapun. Dan tidak dapat dibantah, inilah masa-masa puncak posisi politik Khatijah yang seluruhnya bergerak cepat bagaikan roket.
Tapi posisi Khatijah yang sudah sampai pada posisi puncak yang tidak seoreangpun dapat menyamainya, dicemburui olerh banyak kalangan : kalangan ibu-ibu aristokrat yang selalu mendasari posisi dengan ”darah biru” dan atau posisi suaminya, kalangan ulama konservatif yang tidak dapat membenarkan seorang Wanita seakan lebih perkasa dari laki-laki, dan juga oleh kalangan pimpinan UMNO yang merasa terlangkahi oleh kecepatan kenaikan posisi Khatijah. Lebih dari itu, secara pribadi Khatijah memang memiliki berbagai sifat yang tidak dapat diterima kalangan Melayu , seperti suka naik darah, tidak bersedia mengalah atau mundur dan siap berdebat dengan pihak atasan atau pimpinan, semuanya menambah kedengkian, kecemburuan dan kebencian sementara Pimpinan UMNO. Semua kalangan tersebut sedang menunggu-nunggu saat yang tepat dapat menjatuhkan Khatijah

F. Akhir Yang tragis

Tanggal 28 Oktober 1954, di Medan berlangsung Kongres Bahasa Indonesia, yang juga mengundang wakil dari negara-negara rumpun Melayu. Khatijah memohon agar dia diutus ke Medan, karena sangat rindu dengan orang tua yang telah ditinggalkan sejak 1947. Atas desakan kalangan yang tidak menyukainya Pimpinan UMNO menolak mengurutus Khatijah dengan alasan tidak cukup waktu. Khatijah berangkat ke Singapura, dan dengan dari Konsulat Indonesia di Singapura Khatijah berangkat ke Medan. Setelah acara pembukaan yang sangat meriah, Khatijah membaca Surat Kabar Utusan Melayu dan Straits Time, yang pada halaman pertamanya menyatakan bahwa Khatijah Sidek dipecat dari Ketua Kaum Ibu UMNO atas usul dari UMNO dan Pemuda UMNO cawangan Johor Bharu. Tragedi pertama telah datang, Khatijah dipecat ketika dia tidak berada di Malaya, ketika dia tidak dapat menjawab pemecatan itu.
Setelah Khatijah kembali ke Malaya, dia minta waktu untuk membela diri dan menjawab seluruh persoalan yang menyebabkannya dipecat. Ternyata UMNO Johor Bharu sudah lama menginginkan Khatijah dipecat, dan bahkanmenyatakan kalau Khatijah tidak dipecat, mereka akan keluar dari UMNO. Karena kedua-duanya sama keras, akhirnya masalah pemecatan ini digantung dan dibiarkan begitu saja : Dipecat tidak, direhabilitasi juga tidak, sampai dengan tahun 1955, ketika Pilihan Raya dilaksanakan, dan Khatijah kembali diperlukan untuk kampanye pilihan raya. Dan karena Khatijah memasng pejuang sejati, masalah pemecatan tahun 1954, tidak menghalanginya untuk aktif dalam Pilihan Raya 1955 bahkan sampai tahun 1956.
Tanggal 6 Oktober 1956, sekali lagi Khatijah dipecat oleh UMNO Johor dan belum sempat Khatijah melakukan pembelaan diri, Setia Usaha Asgung UMNO memperkuat pemecatan tersebut dengan Surat bertanggal 16 Oktober 1956, dan Majelis Tertinggi UMNO memperkuatnya dengan surat telegram bertanggal 12 Nopember 1956. Karena kali ini stretegi pemecatan dilakukan secara lebih matang, dan Khatijah merasa tidak ada orang yang membelanya memaksa Khatijah menyerah. Yang menyakitkan bagi Khatijah adalah ketika dia diperlukan – ketika kampanye Pilihan Raya, ketika menubuhkan cawangan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat bawah – semua orang memanfaatkannya, tapi segera setelah semuanya berjalan sempurna, dia menjadi orang terbuang. Sungguh tragis.
Karena kegandrungannya pada politik, Khatijah pernah bergabung dengan Partai pembangkang PAS (Partai Agama Islam se Malaya) pada 1958, bahkan pernah menjadi satu diantara tiga anggota Parlemen wanita, mewakili PAS. Dan hampir menjadi ketua sayap Wanita PAS. Tapi lagi-lagi karena sifat-sifatnya tidak kenal kompromi, dan berada dalam lingkungannya yang ultra konservatif, yang tidak dapat membenarkan seorang aktifis wanita yang relatif ”liberal dan sekuler” berjuang ditengah mereka, lagi-lagi dia dipecat dari PAS (1969)
Kisah hidup Khatijah Sidek – disamping berisi kisah suksesnya yang meroket kelangit puncak kuasa tanpa melalui proses -- lebih banyak berisi kisah dramatik menyedihkan. Anak pertamanya lahir di penjara, tanpa sanak saudara bahkan tanpa ditemani sang suami, dia melahirkan ditengah kegelapan dan kehampaan penjara. Kehidupan rumah tangganya yang sebenarnya kurang bahagia, menikah lebih banyak karena dorongan atau faktor lingkungan, lebih berpisah jauh dari suami, karena suaminya adalah juga suami orang lain. Penghidupan ekonominya yang morat marit, karena waktu dan perhatiannya hampir seluruhnya tercurah pada politik dan masyarakat, untuk menanggung beban ekonominya dia pernah menjahit pakaian anak-anak, pernah membuka warung nasi Padang ”Merdeka”, terpaksa menyewakan bilik-bilik rumah sewanya sekedar mencukupi bil listrik dan air.
Pada saat rakyat Malaya tanggal 31 Agustus 1957 bergembira ria memproklamirkan kemerdekaannya di Kuala Lumpur, menaikkan bendera Malaya, Khatijah Sidek tidak memiliki sekedar ongkos untuk biaya mengikuti acara tersebut, dan ter (di)lupakan untuk diundang, sehingga seorang kawan setianya, sambil menangis mengatakan : ”Ibu, kau yang mencurahkan titik peluh, tapi orang lain yang menuai hasil daripada benih yang ibu tanam. Sungguh tidak adil ...”.
Di akhir hidupnya, Khatijah mengalami kelumpuhan sehingga tidak bisa bergerak, sehingga semakin lenyap dan semakin terlupakan dalam ingatan rakyat dan sejarah Malaysia. Masyarakat Minangkabau tidak mengenalnya karena dia telah berangkat meninggalkan kampung dan berjuang sampai akhir hayatnya di ”negeri seberang”, sedang sebahagian masyarakat Malaysia melupakannya karena dia ”orang seberang”. Tokoh-tokoh dan kawan-kawannya sesama pejuang politik awal Malaysia mungkin melupakannya karena dia merupakan lawan yang harus dibuang jauh. Masyarakat sekitar di kampung Selayang Baru, juga tidak mengenal Khatijah sebagai pejuang Wanita UMNO, dia hanya dikenal sebagai jiran yang lumpuh. Bahkan sejarawan modern Malaysia banyak yang tidak tahu bahwa adalah Khatijah Sidek yang memperkenalkan organisasi dan perjuangan pada wanita Melayu khususnya dan masyarakat Melayu umumnya, yang memperkenalkan arti sebenarnya ”perjuangan”, yang memperkenalkan kata ”merdeka” kepada bangsa Malaya.
Khatijah Sidek wafat tahun 1982,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar