Minggu, 18 Januari 2009

Ulama Minangkabau : Djalaluddin Thaib (1895 – 1959 M.)

Oleh : Tim Peneliti Fakultas Adab IAIN IB Padang

Jalaluddin Thaib lahir di Balingka, tepatnya di Jorong Subarang pada tahun 1895. Negeri Baiingka dikenal dalam sejarah intelektual Minangkabau sebagai nagari yang banyak melahirkan ulama-ulama besar. Selain Jalatuddin Thaib, Syekh Daud Rasyidi, Haji Abduf Latief dan Mansur Daud Datuk Palimo Kayo juga lahir di Balingka. Ayah Jalaluddin Thaib seorang penghulu adat di jorong Pahambatan Balingka, Haji Muhammad That Datuk Rajo Malintang, namanya. Sedangkan ibunya bemama Siti Zalekha, biasa dipanggit dengan panggilan Rang Gaek.

Gelar ini merupakan gelar sdbagai ungkapan apresiatif masyarakat terhadap seorang wanita di kampung tersebut. Gelar ini merupakan getar kehormatan sebagai jus#iffkasi masyarakat kampung untuk bertanya tentang masalah-masalah perkawinan, kematian dan lain-lain, Rang Gaek di Balingka secara fungsional sama kedudukannya dengan Bundo Kanduang dalam adat Minangkabau.

Jalaluddin Thaib merupakan anak tertua dan tiga orang bersaudara. Dua saudaranya adalah Jannah Thaib dan Azis Thaib. Secara genealogis, beliau memiliki hubungan dengan Syekh Daud Rasyidi dan Haji Abdul Latief. Kedua ulama Minangkabau yang berasal dad Balingka ini adaiah anak paman Jalafuddin Thaib. Syekh Daud Rasyidi bahkan menjadi mertua beliau setelah perkawinannya dengan anak ulama besar ini yang bernama Rasimah Daud dari suku Pili. Masa kecil dihabiskan Jalaiuddin Thaib dikampung halamannya. Pendidikan yang dilaluinya dimulai dari surau yang ada di kampungnya, surau Inyiak Syah yang terletak di jorong Subarang. Kemudian dilanjutkannya berguru pada Syekh Daud Rasyidi dan Syekh Abdul Latief. Dad surau lnyiak Syah dan dad dua orang ulama inilah beliau mendapatkan pengetahuan agama tentang fiqh, ushul fiqh, nahwu; syaraf dan lain-lain. Setelah melewati pendidikan surau dan berguru pada dua ulama diatas, pada tahun 1914 Jalaluddin Thaib berangkat ke Mekkah untuk menambah pengetahuannya tentang agama Islam, clan tentunya sambil menunaikan kewajiban ibadah haji. Mekkah menjadi tujuan untuk menuntut ilmu pada masa itu karena Mekkah lah yang menjadi pusat studi agama Islam. dad Mekkah iniiah Jalaluddin Thaib mendapatkan ide-ide pembaharuan. Setelah kembali ke tanah air, ide-ide yang didapat kannya tersebut kemudian disosialisasikannya. Karena masih merasa kurang dalam ilmu-ilmu keisiaman, setelah kembali ke tanah air Jalaluddin Thaib belajar pada Thaib Umar di Sungayang. Thaib Umar dikenal sebagai ulama besar Minangkabau yang mendirikan madrasah pertama di Batusangkar. Kemudian ia juga berguru pada Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah) di surau Jembatan Besi Padang Panjang. Karena kecerdasannya, Haji Rasul mempercayai Jalaluddin Thaib untuk menjadi guru di surau tersebut.
Jalaluddin Thaib mempunyai dua orang istri yaitu Ruayah Rasyad dan suku Pili Datuak Bandaro Sati dan Rasimah Daud. Dad dua istrinya ini, beliau tidak memiliki keturunan. Masa hidupnya dihabiskan .lafaluddin Thaib dalam lapangan pendidi-kan, politik clan sosial keagamaan. Setelah kemerdekaan, Jalaluddin Thaib dianggap sebagai pengikut Belanda. Hat ni membuat ia diasingkan di kampungnya. Karena tidak mendapatkan apresiasi yang baik dad masyarakat kampungnya, ketika terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, Jalaluddin Thaib beserta istrinya Rasimah Daud pergi mengungsi ke Batu Kambing Lubuk Basung. Di Lubuk Basung inilah Jalaluddin Thaib menghabiskan waktunya hingga ia wafat pada tahun 1959 karena sakit.

A. Kiprah Jalaluddin Thaib datam Dunia Pendidikan

Kiprah Jalaluddin Thaib dalam dunia pendidikan berawal dan Surau Jambatan Besi (Sumatera Thawalib Padang Panjang). Disana, bersama Zainuddin Labay pada tahun 1919 beliau mengkoordinir cara¬cara belajar modem. Beliau menetapkan untuk memakai sistem berkelas yang lebih sempuma, pemakaian bangku clan meja, kurikulum dan kewajiban setiap pelajar untuk membayar uang sekolah. Setiap pelajar yang tamat akan diberi ijazah. Semenjak tahun 1920, mata pelajaran umum mulai dlmasukkan dalam kurikulum sekoiah ini. Pemikiran-pemikiran progressif yang dibawa Jalaluddin Thaib ini didapatkannya dad sekolah Befanda yang pemah dimasukinya. Ketika menjadi staff pengajar di Sumatera Thawalib Padang Panjang, apa yang didapatkannya di sekolah Belanda dipadukannya dengan ilmu clan sistem pengetahuan yang didapatlCannya di Mekkah. Karena pandangannya yang visioner dan luas, maka beiiau tercatat dalam sejarah sebagai pendidikan Islam modem. Kecakapannya dalam mengkoordinir Sumatera Thawalib membuat Haji Rasul memberikan kepercayaan kepada Jalaluddin Thaib untuk mendirikan cabang Sumatera Thawalib di Tapak Tuan, Aceh. Jalaiuddin Thaib memimpin Sumatera Thawalib cabang Tapak Tuan Aceh ini hingga tahun 1920. Kemudian pada tahun 1922, Jalaluddin Thaib diberi kepercayaan untuk menjadi ketua perkumpulan Sumatera Thawalib yang salah satu misinya adalah menyatukan Sumatera Thawalib dan cabang¬cabangnya yang pada awalnya berdiri sendiri-sendiri.
Perhatian Jalaluddin Thaib untuk memajukan pendidikan di kampung halamannya juga besar. Hal ini terlihat ketika ia mendirikan Diniyah School di Balingka yang diresmikan oleh Zainuddin Labay pada tanggal 2 Juli 1922. Diniyah School di Balingka ini merupakan Diniyah yang kedua di Minangkabau setelah Padang Panjang. Dengan dibukanya Diniyah School di Balingka ini membuat generasi muda Balingka bisa menikmati sistem pendidikan modem karena selama ini pengetahuan agama hanya didapatkan di suaru. Diniyah School ini merupakan lembaga pendidikan pertama yang didirikan di Balingka. Murid-murid Diniyah School diajarkan berorganisasi. Mereka disatukan dengan masyarakat agar menjadi orang yang respek dan empati terhadap lingkungan. Sekali seminggu, murid-murid Diniyah School ini diutus ke surau-surau dan masjid-¬masjid yang ada di nagari Balingka untuk memberikan ceramah agama. Untuk mengkoordinir kegiatan ini, maka dibentuklah Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS), PMDS memiliki lima program kerja, yakni :

1. Taman Bacaan
2. Pertanian
3. Penyiaran agama Islam
4. Kebersihan
5. Commite Perdamaian.

Organisasi Pelajar Diniyah (PMDS) lahir sebenamya juga tidak terlepas dad peristiwa sosial ekonomi, melebarnya jaringan pendidikan, terjadinya urbanisasi, maka muncullah differensiasi kerja Hal ini merupakan faktor yang ikut mempengaruhi PMDS lahir. Selanjutnya, tumbuhnya kesadaran akan harga diri dan kenyataan hidup dibawah dominasi kolonial yang mulai didemonstrasikan oleh perbedaan hak. Disamping itu yang turut mempengaruhi lahirnya PMDS ada{ah adanya berita tentang kebangkitan dunia Timur,2 terutama gerakan reformasi Islam. PMDS yang ddirikan pada tahun 1921 yaitu 6 tahun sesudah berdirinya Diniyah School yang bersifat co¬education oleh Zainuddin Labay el-Yunusiy, pada awalnya bertujuan untuk menggalang persatuan dan kesatuan antar sesama pelajar Diniyah. Karena kondisi Padang Panjang dibawah kekuasaan kolonial, maka para pelajar dianjurkan untuk berorganisasi sebagai "modaf dasar" untuk melawan kolonial Belanda tersebut. Gerakan yang lahir di Timur Tengah telah memberikan pengaruh besar kepada gerakan kebangkitan Islam di Indonesia. Bermula dari pembaharuan pendidikan oleh masyarakat Arab di Indonesia. Kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi sosial keagamaan seperti SDI di Bogor (1909), Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926) dan lain-lain.

Pada tahun 1925, Jalaluddin Thaib mendirikan Persatuan Guru Sekolah Agama (PGSA). Organisasi ini mempunyai tujuan untuk membina keterampilan mengajar dan meningkatkan kemampuan guru¬guru sekolah agama yang ada. Karena profesionalitas dan kecakapannya dalam dunia pendidikan ini, maka Jalaluddin Thaib diutus ke Kuala Lumpur untuk menjadi guru disana. Tahun 1928, Jalaluddin Thaib kembali ke Sumatera Thawalib Padang Panjang. Pada waktu itu, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Haji Rasul ini telah terkontaminasi oleh ideologi komunis. Para murid-murid Sumatera Thawalib banyak yang menjadikan komunis sebagai referensi favorit. Idiom-idiom revolusi dan perjuangan kelas menjadi idiom yang sangat "familiar" pada waktu itu. Membangun kembali Sumatera Thawalib yang terkontaminasi oleh ideologi komunis dan kehancuran fisik yang diakibatkan gempa bumi tahun 1926, bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini dapat dilakukan oleh Jalaluddin Thaib bersama teman-temannya sehingga Sumatera Thawalib dapat kembali menjadi perguruan yang banyak dikunjungi murid-murid Minangkabau bahkan dari luar sebagaimana yang terjadi ketika Sumatera Thawalib pada awai-awal berdirinya.

B. Kiprah Jaialuddin Thaib dalam bidang Sosial Budaya

Apresiasi Jalaluddin Thaib terhadap kondisi sosial budaya diawatinya dengan membentuk Vereeniging Studienfonds Balingka (VSB), sebuah organisasi sosial budaya yang bukan hanya untuk meiayani keper(uan siswa-siswa sekolah saja tetapi juga melayani problematika masyarakat Balingka dalam bidang sosial budaya. Dana pertama yang dikumpulkan oleh VSB diperuntukkan bagi pembangunan gedung Diniyah School pada tahun 1922. Dana tersebut juga diperuntukkan bagi pembangunan jalan dan men-dam jalan pusat nagari Balingka. Jika terjadi musibah, seperti kebakaran misalnya, maka VSB akan "turun tangan" untuk mengkoordinir bantuan bahan¬bahan pokok. Ini pemah dilakukan ketika terjadi kebakaran CU Kota Hilalang. Jasa terbesar yang dirasakan oleh masyarakat Balingka atas kehadiran VSB ini adalah pengadaan air bersih bagi masyarakat. Sebagai penghulu, Jalaluddin Thaib mampu memerankan fungsinya dengan baik sebagai seorang pemimpin yang kharismatis, minimal bagi anak kemenakannya. Di tengah-tengah kesibukannya dalam mengelola dunia pendidikan, Jalaluddin Thaib mampu memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kampung halamannya, Baiingka. Perhatian besar dad Jalaluddin Thaib ini membuat suku Sikumbang Datuak Penghulu Basa memberikan gelar Datuk pada Jalaluddin Thaib.

Legitimasi dan justifikasi kultural yang diberikan oleh ninik mamak nagari Balingka Jalaluddin Thaib ini kemudian dimanfaatkannya untuk mengusulkan ide-idenya. Atas usulan Jalaluddin Thaib dibuat kesepakatan diantara ninik mamak nagari Balingka yang isinya antara iain :

1. Ninik mamak menjamin seorang murid bagi tiap-tiap suku sedikitnya satu orang untuk duduk dibangku Diniyah School.
2. Anak-anak perempuan dilarang kawin dibawah umur 15 tahun, lebih-lebih yang masih bersekolah.
3. Dilarang anak-anak keluar dari sekolah sebelum lepas dari Diniyyah School.
4. Ninik mamak memiliki kewajiban untuk mengurus anak-anak yang keluar ketika pelajaran sedang berlangsung.

Kesepakatan yang dibuat oleh ninik mamak ini merefleksikan adanya perhatian yang cukup besar seorang mamak dan institusi ninik mamak terhadap anak kemenakannya. Adanya peraturan yang melarang anak perempuan kawin dibawah usia 15 tahun merupakan peraturan yang untuk konteks zaman tersebut terkesan mendahului "zamannya" dan sangat progressif. Peraturan ini merefleksikan bahwa sosok manusia yang dinamakan "wanita" bukan hanya bekerjd dan berkiprah dibidang-bidang "tradisional" kewanitaan mereka saja seperti mengurus rumah tangga, bukan hanya menjadi manusia "manut' dan "tabu" untuk ikut serta dalam persoalan-persoalan strategis sosial kemasyarakatan. Mereka juga diberi kesempatan untuk menuntut ilmu agar untuk aspek-aspek tertentu mereka "sama" dengan pria serta mereka mampu memfungsikan peranan strategis dad prinsip-prinsip dasar Bundo Kanduang. Ide segar dan orisinil dari Jalaluddin Thaib ini telah menempatkan wanita Balingka menjadi wanita yang "maju" dibandingkan wanita di nagari-nagari sekitar Baiingka pada zaman itu.
Disamping itu, sebagai penghulu Jalaluddin Thaib mendesak agar penjaga adat (penghulu) ikut serta dalam Persa-tuan Sumatera Thawalib yang disampaikannya dalam konperensi Persatuan di Batusangkar pada tanggal 20-21 Mei 1929. Tujuan yang hendak diraih oleh Persatuan Sumatera Thawalib adalah untuk mendidik para pemuda dalam semangat persahabatan, persatuan clan kebangsaan. Walaupun level kiprah sosial budaya Jalaluddin Thaib terkesan bersifat lokalistik, namun gema dan implikasi historisnya sangat besar sekali. Ide-ide segar dan orisinil Jalaluddin Thaib untuk konteks spasial dan temporal masa itu merupakan ide yang brillyan, progressif clan emansipatoris.


C. Kiprah Jalaluddin Thaib dalam bidang Politik
1. Ordonansi Guru

Politik etis yang dilaksanakan Belanda telah membawa implikasi positif dalam pergerakan generasi muda Indonesia. Salah satu organisasi pergerakan yang muncul sebagai implikasi dan politik etis tersebut adalah Muhammadiyah. Organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1921 ini bergerak dalam bidang sosial keagamaan. Organisasi ini menitikberatkan usahanya dalam memajukan pendidikan dengan mendirikan sekalah-sekolah baik yang bercorak umum maupun agama. Maka banyak bermunculan sekolah¬sekolah agama di Indonesia. Melihat fenomena ini, pemerintah Hindia Belanda merasa cemas. Pemerintah kolonial mengkhawatirkan akan terjadi kembali peristiwa CRegon dimana pada tahun 1888 terjadi pemberontakan petani yang dimotori oleh para kyai dan guru agama. Maka pemerintah Belanda melaksanakan kebijakan politiknya dengan memberlakukan ordonansi guru. Ordonansi guru adalah peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap guru agama Islam untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugasnya sebagai guru agama. Kebijakan yang dimulai tahun 1905 ini merupakan usulan dari Snouck Hourgronje pada tahun 1904 setelah ia mempelajari secara cermat peristiwa Cilegon. Snouck Hourgronje mengusulkan agar dilakukan pengawasan terhadap guru-guru agama yang meliputi adanya izin khusus clad Bupati, daftar tentang guru dan murid serta pengawasan tersebut harus dilakukan oleh suatu panitia. Maka pada tahun 1905 keluarlah peraturan ordonansi guru yang pada awalnya beriaku untuk daerah Jawa dan Madura.
Seorang guru agama tidak diizinkan untuk mengajar apabila tidak memperoleh izin dad Bupati. Guru agama yang melanggar akan dihukum maksimum defapan had atau denda maksimum Rp. 25,-. Guru agama yang memberikan pelajaran selain harus minta izin Bupati, ia juga harus menerangkan kepada Pemerintah tentang maksud mereka mengajar. Pemberitahuan ini harus disampaikan dalam formulir khusus yang diberikan kepada kepala pemerintah setempat Guru juga harus membuat daftar murid-murid serta berbagai macam keterangan mengenai kurikufum. Ordonansi ini mendapat reaksi keras dari ummat Islam terutama para praktisi pendidikan. Dalam kongres al-Islam yang dilaksanakan di Bogor dad tanggal 1 s/d 5 Desember 1926 diambil keputusan untuk menolak ordonasi guru ini. Kewajiban memberitahukan kurikulum guru dan murid secara periodik dinilainya sangat memberatkan karena lembaga pendidikan Islam pada umumnya tidak memiliki administrasi dan sarana yang memadai.
Di Minangkabau, pelaksanaan ordonansi guru ini dimulai pada tahun 1928. Pelaksanaan kebijakan ini mendapat tanggapan yang cukup keras dari AR. Sutan Mansur (menantu Haji Rasul) yang berpendapat jika ordonansi guru ditaksanakan di Minang kabau, maka kemerdekaan dalam menyiarkan agama, bertabligh serta apa saja urusan agama akan hilang, dan dengan sendirinya yang berkuasa hanyalah pihak-pihak pemerintah Belanda dengan memakai ulama-ulama yang tidak memiliki pendirian hidup. Jalaluddin Thaib sebagai ketua perkumpulan Sumatera Thawalib Padang Panjang bersama dengan Imran Jamil sebagai sekretaris berusaha keras untuk menentang peraturan tersebut. Dengan mengadakan propaganda kepada ulama-ulama di Minangkabau, mereka mengharapkan ordonansi guru ini ditentang secara kolektif. Hasil yang diperoleh dari propaganda tersebut adalah dengan terbentuknya rapat kecil diantara para ulama besar Minangkabau yang mengambil tempat di Surau Inyiak Jambek. Diantara yang hadir dalam rapat kecil tersebut adalah Haji Jalaluddin Thaib, Syekh Muhammad Siddiq, Haji Abdul Rahman Palupuh, Dr. HAKA (Haji Rasul) dan Syekh Muhammad Jamil Jambek.
Pada tanggal 18 Agustus 1928, bertempat di surau M. Jamil Jambek diadakan Konprensi Ulama Minangkabau yang dihadiri guru¬-guru agama dari kaum tua clan kaum muda. Dr. De Eries clan beberapa pejabat tinggi Belanda menghadiri kenprensi tersebut. Haji Rasul berpidato dengan sangat emosional yang membicarakan tentang bahaya perpecahan diantara ulama-ulama dan ancaman terhadap Islam dan kesimpulannya mereka menerima resolusi yang menolak ordonansi itu. Resolusi ini menyatakan kewajiban semua muslim untuk menyampaikan ajaran agama dan tak ada jalan untuk meng-hindari kewajiban itu. Resolusi ini memperingatkan bahwa guru ordonansi bisa merusak hubungan antara pemerintah dengan masyarakat muslim, juga bisa melemahkan kebebasan beragama karena ordonansi dilihat tidak hanya masalah kebebasan sekolah agama tapi juga sebagai ancaman bagi Islam secara kompre-hensif. Maka konprensi ini memutuskan untuk mengirim utusan delegasi pimpinan agama dan adat ke Batavia yaitu Haji Abdul Madjid dan Singo Mangkuto. Kedua utusan ini berhasil dengan baik dengan diberikannya jawaban oleh Gubernur Jenderal : "Pemerimtah Belanda belum berniat berketetapan hendak menjalankan guru ordonansi di Minangkabau".
Jalaluddin Thaib sebagai seorang tokoh yang menentang ordonansi guru ini, pada tanggal 4 Nopember 1928 di surau Inyiak Jambek mengeluarkan pendapatnya dalam menghadapi ordonansi guru ini. Beliau berpendapat bahwa maksud yang hendak dicapai oleh pemerintah, apapun bentuknya selalu berbuat untuk kerugian orang muslim, oleh karena itu kesatuan diantara guru agama, orang didikan barat dan pemeiihara adat yang asli amat diperlukan. Secara ringkas maksud yang terkandung dalam pemikiran Jalaluddin Thaib adalah apapun yang diperbuat pemerintah Belanda selalu merugikan ummat Islam. Hal ini mungkin sebagai manifestasi dad politik Kristenisasi di Indonesia dan Minangkabau. Salah satu misi pemerintah Belanda menjajah Indonesia adalah melaksanakan Kristenisasi, sementara tanah jajahan yang mereka temui mayoritas beragama Islam. Pemerintah Belanda berusaha menekan posisi ummat Islam baik dalam bidang sosial budaya, pendidikan, politik maupun ekonomi. Karena untuk menyebarkan agama Kristen pada penduduk yang telah beragama tidaklah begitu memungkinkan. Maka untuk menghadapi politik pemerintah Belanda tersebut perlu dibentuk tiga golongan masyarakat untuk membina persatuan dan kesatuan dalarn beragama yaitu : pertama, golongan guru-guru dan aiim ulama, kedua, golongan terpelajar dan yang kefiga adalah golongan adat. Ketiga golongan tersebut harus memikirkan clan merenungkan sedalam-dalamnya bahwa mereka harus bersatu dan menyadari bahwa mereka sama-sama anak jajahan. Pada saat konperensi, selain menghasilkan keputusan-keputusan diatas, konprensi tersebut juga telah membentuk kepengurusan sebagai berikut :

Ketua : H. Abdul Madjid (Maninjau)
Wakil Ketua : H. Jalaluddin Thaib (Bukitinggi)
Sekretaris : H. Emran Jamil (Padang Panjang)
Penasehat : H.M.S. Sukiman (Bukittinggi)
Komisaris : Adam (Pasar Baru Padang Panjang)
H. Said (Batusangkar)
Besar Bandaro (Padang Panjang)
Sutan Sampono (Payakumbuh)


Dengan dibentuknya persatuan Islam ini berarti perhatian tokoh-tokoh Islam untuk membela ummat Islam Minangkabau sangat besar sekali dan Jalaluddin Thaib sebagai salah seorang tokoh yang membela ummat Islam dan menentang pelaksanaan guru ordonansi tersebut telah mengeluarkan pemikirannya untuk persatuan ummat Islam dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda.


2. Permi

Dengan berdirinya Sumatera Thawalib Padang Panjang yang di-embrio-i oleh surau Jamabatan Besi, maka hal ini diikuti oleh surau¬surau 1ain. Sebagai organisasi sekolah, Sumatera Thawalib terus berkembang. Ketika Udin Rahmani dad Mekkah, ia bersama-sama temannya mengangkatkan konprensi Sumatera Thawalib di Ppdang Panjang dan berhasil merumuskan anggaran dasar organisasi dengan asas Islam dan tujuan untuk ekspansi pengajaran Islam dalam rangka untuk memeiihara dan menghidupkan jiwa dan semangat Islam. Setelah konprensi tahun 1928 tersebut, 5umatera Thawalib memperlihatkan perkembangan yang cukup pesat terutama setelah kepulangan alumni-alumni Sumatera Thawalib dad perantauan seperti Hasyim Husni dari Surabaya, Ilyas Ya'cub dad Mesir clan lain-lain. Hasyim yang sewaktu berada di Surabaya ikut bergabung dengan study club yang dipimpin oleh Dr. Soetomo. Kemudian Ilyas Ya'cub ketika berada di Mesir ikut dalam dalam pengkaderan partai Hisbul Wathan yang dipimpin Mustafa Kemal da banyak melihat gerakan pembaharuan dan kebangsaan yang terjadi di Mesir.
Apa yang telah mereka lihat dan mereka saksikan, kemudian mereka kemukakan pada konprensi Sumatera Thawalib di Batusangkar pada tanggal 20-21- 1929. Konprensi ini lebih mengarah kepada politik karena telah mulai membicarakan masalah pemerintah kolonial yang mendukung penguasa adat. Duski Samad kemudian mengemukakan agar skop Sumatera Thawalib lebih diperluas menjadi organisasi untuk rakyat Indonesia seluruhnya. Perkembangan Sumatera Thawalib mencapal klimaksnya pada konprensi ketiga Sumatera Thawalib pada tanggal 20-21 Mei 1930. Konprensi ini adalah fase transformasi Sumatera Thawalib berubah menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI) yang kemudian lebih dikenal dengan Permi. Dengan memakai skop Indonesia, berarti terobosan baru bagi suatu organisasi lokal. Permi terbuka untuk umum, tidak hanya untuk orang Minangkabau tapi juga untuk orang yang berasal dad luar Minangkabau. Permi juga tidak hanya untuk alumni Sumatera Thawalib saja tapi juga dad sekolah atau organisasi lain. Keterbukaan Permi terlihat dari susunan pengurus yang bukan hanya berasal dari "kaum muda" tapi juga dad kelompok "kaum tua". Susunan pengurus Permi tersebut yaitu :


Ketua : H. Abdul Madjid
Wakil Ketua : Iljas Ya'cub
Sekretaris : Mansur Daud
Bendahara : H. Suaib al-Yutusi
Dept. Pendidikan : Afi Imran Jamil
Dept. Perusahaan : Hasyim al-Husni
Dept. Kepanduan : A. Gafar Ismail
Dept. Propaganda : Rasul Hamidi

Peranan yang dimainkan oleh Jalaluddin Thaib dalam Permi dimulai dad konprensi Sumatera Thawalib yang diadakan pada tahun 1928. la menjabat sebagai ketua dan Persatuan Sumatera Thawalib. Pada kongres kedua ia juga menjabat sebagal ketua. Kongres kedua ini lebih mengarah ke wilayah politik karena telah mengangkat issu-issu kolonial. Sebagai penghulu adat, Jalaluddin Thaib mendesak para penjaga adat untuk Rut serta dalam Persatuan Sumatera Thawalib. Jalaluddin Thaib mengusulkan hal ini karena Sumatera Thawalib merupakan satu-satunya organisasi yang menyeluruh anggotanya dan tidak terbatas pada satu golongan atau level saja.
Jalaluddin Thaib kemudian bergabung dengan Permi pada tahun 1931 dan duduk dalam kepengurusan Permi sebagai wakil ketua. la langsung diberi jabatan karena ia adalah seorang guru yang berpengalaman dan dikenal juga sebagai penulis yang produktif. Pada tahun 1931 tepatnya bulan Maret, Jafaluddin Thaib memperbaiki hierarki organisasi dengan formasi Dewan Eksekutif Harian untuk mengarahkan dan mengkoordinir kegiatan harian. Kepengurusan badan yang dibentuk terdiri clad Haji Abdul Madjid, Haji Jalaluddin Thaib, Haji iryas Ya'cub, Haji Mansur Daud, clan Haji Syuaib ai-Yutusi. Karena pengalaman clan "jam terbang" dalam dunia pendidikan sangat tinggi, maka Jalaluddin Thaib diberi jabatan yang cukup menentukan dalam Permi. Sejak tahun 1931, Jalaiuddin Thaib secara operasional administrasi telah "mengambil alih" kepemimpinan harian Permi dad tangan Haji Abdul Madjid karena kesehatan Abdul Madjid tidak memungkinkan untuknya untuk berbuat secara maksimal bagi Permi. Jalaluddin Thaib mampu menyerasikan antara orang¬orang yang baru kembali dari Kairo Mesir dengan tamatan Sumatera Thawalib. Adanya perpaduan diantara pelajar-pelajar tamatan Sumatera Thawalib Padang Panjang dengan tamatan-tamatan Timur Tengah telah membuat Permi menjadi partai besar yang disegani lawan maupun kawan.
Pada bulan Januari 1932, Permi mengambil langkah pertamanya ke arah keterlibatannya dalam pergerakan kemerdekaan nasional. Permi mengirim satu delegasi ke Kongres Raya Indonesia yang disponsori oleh PPKI (Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) di Surabaya. Walaupun kongres ini gagal, namun delegasi Permi yang terdiri dari Jalaluddin That dan Baso Bandaro menggunakan kesempatan untuk membentuk hubungan baik dengan Ir. Soekamo dan Dr. Soetomo. Meskipun Permi tidak ikut serta daiam federasi tersebut, tapi ia menggunakan partisipasinya dalam Kongres Indonesia Raya sebagai propaganda di Minang kabau. Permi ingin menyelesaikan konflik antara partai Islam dan kebangsaan clan mereka takut dengan ikut PPKI akan menimbulkan kecurigaan pandangan partai-partai Islam dan pandangan partai sekuler.
Setelah selesai kongres di Surabaya, Jalaluddin Thaib menulis sebuah buku kecil yang berjudul Peringatan Nasional. Beliau menyatakan bahwa PPKI pada akhirnya akan berhasil dalam mencapai tujuannya yakni penggabungan semua partai nasional. Tapi untuk Permi butuh waktu untuk meluaskan dan mengembangkan dirinya sendiri, dan langkah awalnya adalah mempelajari federasi tersebut dari dekat. Peringatan yang diberikan Jalaluddin Thaib dapat dimengerti karena belum ada organisasi Islam yang bergabung dengan federasi tersebut. Pemikiran yang dikemukakan Jalaluddin Thaib adalah pemikiran seorang juru pendamai yang tidak menginginkan Permi bergabung dengan PPKI yang merupakan gabungan dari partai partai nasionalis seluruhnya Sedangkan Permi merupakan Partai Islam.
Andaikan Permi bergabung dengan PPKI, golongan Islam akan lebih memusuhi Permi, begitu juga golongan sekuler. Tidak bergabungnya Permi ke dalam PPKI telah menempatkan Permi ditengah-tengah antara golongan Islam dengan Partai Nasionalis. Hal yang demikianlah yang menyebabkan nama Permi makin dikenal oleh partai-partai lain. Untuk menanamkan kesadaran politik dikalangan generasi muda, maka pada bulan September 1932, Permi meningkatkan program politiknya dengan mendirikan departemen khusus untuk propaganda eksternal clan khusus politik partai, Jalaluddin Thaib bersama dengan Ilyas Ya'cub duduk sebagai pimpinan. Departemen ini meluaskan operasinya supaya memeriahkan semangat kemerdekaan nasional. Perjalanan gemilang telah ditempuh oleh Permi. Tapi perjalannya harus diikuti dengan pengorbanan para tokoh-tokoh nya. Dimulai dari penangkapan sang-srikandi Permi, Rasuna Said, kemudian diikuti dengan penangkapan tokoh yang lain. Jalaluddin Thaib ditangkap pada tanggal 7 September 1933 clan dimasukkan ke penjara Padang bersama dengan Ilyas Ya'cub. Setelah meringkuk beberapa hari di penjara Padang, ia dipindahkan ke Tanah Merah (Pulau Digul) bersama dengan Muchtar Lutfie dan Ilyas Ya'cub. Alasan yang dikenakan pada Jalaluddin Thaib oleh pemerintah koloniat Belanda adalah :

1. Bahwa Jalaluddin Thaib sudah melakukan aksi-aksi politik dalam suatu Opembar Vergadring yang didalam kenyataannya keadaan yang merubuhnya dengan teratur atas kekuasaan pemerintah dan kemudian juga menyebarkan kebencian terhadap pemerintah Belanda.

2. Jalaluddin Thaib bersama dengan pengurus-pengurus lainnya kira-kira penghabisan bulan Agustus 1933 sudah mencoba melakukan tipu daya atas beslit Gubernement terhadap larangan Vergandring yang berlaku kepada Permi dan PSII. Di Minangkabau dan Tapanuli yaitu dengan jalan menge[uarkan satu majalah untuk propaganda yang bernama majalah "Maju".


3. Jalaluddin Thaib sudah bersedia untuk mempertanggungjawabkan atas isi karangan yang bersifat menghasut yang berkepala "Politik cap rakyat Indonesia sengsara" yang teruntuk buat pemerintah, pertama dad majalah Maju tanggal 5 September 1934.

Penangkapan-penangkapan yang dilakukan terhadap tokoh¬tokoh Permi dengan sendirinya membuat Permi secara berangsur¬angsur goyah dan pada gilirannya menjadi hancur. Penagkapan terhadap tokoh-tokoh Permi merupakan pukulan hebat bagi eksistensi organisasi ini. Pada tahun 1936, karena pemerintah kolonial Belanda mencurigai Permi masih melaksanakan aktifitas-aktifitas politik yang radikal, maka Permi dibubarkan.

D.3. Pasca Kemerdekaan
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sejumlah pemuda di kota Padang mengadakan pertemuan rahasia yang bertempat di rumah Abdul Muluk di Alang Laweh. Pertemuan ini bersifat konsultasi untuk meyakinkan did tentang disiarkannya Proklamasi Kemerdekaan RI, serta untuk menentukan sikap yang terbaik. Pada tanggal 29 Agustus 1945 dilanjutkan rapat di Pasar Gadang, Padang yang kemudian berhasil membentuk organisasi yang diberi nama dengan "Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI)" dengan susunan pengurus sebagai berikut :


Ketua I : Ismail Lengah
Ketua II : Sulaiman
Setia Usaha : Nasrun HS dan Jahja Djalil
Bendahara : Dahlan J. Sutan Mangkuto
Perbekalan : Iljas Ja’coub
Keamanan : Burhanuddin
Penerangan : Ahmad Roesdi
Koordinator : Kasim Dt. Malilit Panjang

Perhubungan : 1. Syarief Utsman
2. Bagindo Azis Chan
3. Chatib Sulaiman
4. Mr. Nazaruddin

Kesehatan : Dr. Nazaruddin
Pembantu : 1. Muchtar Thaib
2. Jamaluddin
3. H. Hasan
4. Djazid Abidin
5. Syarief Ghani
6. Bagindo Thahar
7. Mahyuddin.

BPPI bertugas memberikan pengarahan dan penjelasan yang berhubungan dengan perjuangan yang akan dilakukan selanjutnya sesudah Indonesia memproklamirkan kemer-dekaannya. Ketika tentara Sekutu (pasca diproklamirkan kemerde-kaan Republik Indonesia) mendarat di Indonesia clan sibuk melucuti senjata Jepang, maka orang¬orang Belanda yang berkedok NICA sibuk membujuk masyarakat agar mau bekerjasama dengan mereka kembali. Sebagai kompensasi apabila mau bekerjasama, Belanda menjanjikan hadiah serta pangkat yang tinggi. Salah seorang tokoh masyarakat yang terpengaruh akan bujuk rayu NICA tersebut adalah Jalaluddin Thaib. Jalaluddin Thaib kemudian diangkat menjadi Groot Major Belanda. Oleh-teman ¬temannya dtantaranya Moechtar Thaib, Jalaluddin Thaib kemudian dibawa menemui Ismail Lengah untuk mendiskusikan mengenai masalah bangsa dan mendiskusikan mengenai keberpihakannya kepada Belanda. Setefah bertemu dengan Ismail Lengah, Jalaluddin Thaib tetap tidak bisa mengikuti pendapat teman-temannya tersebut. Jalaluddin Thaib tetap tidak mampu menghayati perjuarrgan teman¬temannya dalam mempertahankan kemerdekaan, Jalaluddin Thaib tetap berpihak kepada NICA. Karena Jalaluddin That tetap bersikukuh membela NICA tersebut, ia kemudian terpaksa ditahan oleh teman¬temannya dan diasingkan ke Batusangkar.
Alasan apapun yang digunakan oleh Jalaluddin Thaib yang bekerjasama dengan Belanda telah menyebabkan beliau diasingkan dan dicap sebagai pengkhianat bangsa oleh masyarakat di kampung halamannya. Ketika terjadi Pemberon-takan PRRI di Sumatera Barat, Jalaluddin Thaib tidak diizinkan mengungsi ke kampungnya, Balingka. Maka ia bersama keluarga nya terpaksa mengungsi ke Batu Kambing Lubuk Basung dan beliau wafat disana. Jenazahnya kemudian dikuburkan di Batu Kambing tersebut, tidak dibawa ke kampung halamannya, Balingka.


Karya Tulis

Pada umumnya karya Jalaluddin Thaib berbentuk buku-yang dikarangnya ketika beliau masih menjadi guru di Padang Panjang. Buku-buku tersebut antara lain :

1. Tentang Bahasa Arab, yang berisikan tentang seluk beluk tata bahasa Bahasa Arab terutama Nahwu dengan bahasa pengantamya bahasa Melayu.
2. Tingkatan-Bahasa-Arab
3. Tafsir al-Munir
4. Pengasuh Anak-Anak Kepada Agama Islam
5. Pembuka Pintu Kemajuan
6. Semangat Jilid I
7. Semangat Jilid II
8. Peringatan Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar