Kamis, 22 Januari 2009

Kondisi Perpustakaan Islam

Oleh : Dra. Hj. Nurhayati Zain, M.Ag.

Lembaga Perbukuan yang disebut dengan perpustakaan sudah lama membumi dalam dunia Islam : istilah–istilah perpustakaan, buku, ilmu, pengetahuan, serta informasi sudah lama dikenal dalam kehidupan dunia Islam. Lembaga Perbukuan yang disebut dengan perpustakaan sudah lama membumi dalam dunia Islam; istilah–istilah perpustakaan, buku, ilmu, pengetahuan, serta informasi sudah lama dikenal dalam kehidupan dunia Islam.


Pendahuluan
Salah satu buku tertua yang lahir pada masa awal perkembangan agama Islam adalah kitab suci al Qur an, mula-mula dihafal dan ditulis pada kulit binatang, pelepah-pelepah tamar, lempengan tanah liat, dan lain-lain. Lalu pada masa Khulafa urrasyidin tulisan-tulisan itu mulai dikumpulkan dan disalin atas prakarsa Umar bin Khattab, Khalifah ke-II dari Khulafa urrasyidin. Kemudian diikuti dengan buku-buku berikutnya seperti buku hadis shahih karya Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Tarmizi, Nasa-i, Ibnu Majah, dan seterusnya. Kemudian menyusul lagi buku-buku tafsir, fiqih, karya Imam Syafii, imam maliki, Imam Hambali, dan Imam Hanafi. Menyusul lagi penulis buku –buku mantiq, bahasa dan sastra, falsafah, tasauf dan lain-lain. Pada umumnya (selain kitab Suci Al qur an dan hadis ) buku adalah hasil buah fikiran, pengalaman, citra, ide, gagasan manusia yang tersusun secara sistematis dan dituangkan dalam bentuk cetak dan non cetak guna untuk disampaikan kepada manusia lainnya. Buku buah hasil karya ini pantas mendapat pemeliharaan dan dipelajari disepanjang perjalanan hidup manusia dari generasi ke generasi. Buku dapat mencerdaskan kehidupan manusia ke tingkat yang menakjubkan; mungkin inilah rahasianya mengapa Allah SWT memilihkan wahyu yang pertama sekali disampaikan kepada nabi Muhammad SAW adalah tentang perintah membaca, tekhnik membaca yang benar, contoh global materi yang menjadi bahan bacaan dan seterusnya (lihat Surah al ‘ alaq ayat 1-5).
Membaca adalah Fathu Zari‘ah untuk menjadi orang yang mulia dalam pandangan Allah SWT. Karena orang yang banyak membaca adalah orang yang mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan (lihat Surah Almujadalah ayat 11). Membaca dapat dilakukan kapan saja dikehendaki, sangat fleksibel. Selain itu mungkin akan lebih mulia lagi orang yang menuliskan atau menuangkan ilmunya itu dalam bentuk buku atau non buku, karena tulisannya (karyanya) dapat di baca kapan saja oleh generasi berikutnya, walaupun pembacanya tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan penulis. Penulis tersebut berarti orang yang tak terputus amalnya sepanjang orang masih membacanya, walaupun yang bersangkutan sudah di alam baqa, (ilmun yuntafa’u bih) Karya –karya seperti ini yang telah mengantarkan kaum muslimin pada masa khalifah bani Abbasiyah dan bani Umayyah menjadi kelompok yang mulia. Mengantarkan kaum muslimin menjadi superpower dalam kehidupan internasional. Karya karya itu yang dikumpulkan pada satu tempat yang bernama perpustakaan. Diantara perpustakaan yang terkenal pada saat itu adalah baitul hikmah yang berlokasi di Bagdad (Iraq) yang diperkaya dengan perpustakaan–perpustakaan pribadi lainnya. Di perpustakaan itu aktif para penulis dan pembaca, penerjemah dan subjek spesialis yang dengan sukahati mengembangkan pengetahuannya kepada siapa saja yang mencarinya. Para petugas perpustakaan ketika itu dibayar mahal oleh Khalifah. Oleh sebab itu pustakawan benar-benar bekerja keras mengembangkan ilmu pengetahuan dalam ruang lingkup tugas perpustakaan walaupun belum didukung oleh peralatan yang seperti sekarang, belum adan mesin cetak, belum ada mesin photocopy belum ada internet, dan lain-lain. Semua proses pekerjaan masih manual. namun telah dapat mengantarkan pencinta ilmu menjadi orang–orang yang mulia, yang sampai sekarang masih disebut-sebut nama mereka..

Tragedi menimpa perpustakaan
Perpustakaan dapat mengangkat derajat kehidupan manusia, namun ada pihak-pihak yang tidak suka dengan perpustakaan sehingga perpustakaan menjadi sasaran pengrusakan. contoh Perpustakaan–perpustakan Islam yang tersebut diatas mengalami pengrusakan yang memilukan hati pustakawan dan para ilmuwan yakni pada terjadinya perang salib pada abad ke 9 dan penyerangan bangsa Mongol Tartar pada abad ke 12 dan ke 13 masehi. Yang menjadi objek penyerangannya adalah perpustakaan yang tidak berdosa. Bahwa sebelum perpustakaan akan dihancurkan beberapa buku yang dipilih dicuri dan diboyong ke kampung penyerang dan yang lainnya dibakar besar-besaran, abunya dibuang ke sungai Eufrat dan Tigris. Itu terjadi pada masa keemasan kemajuan umat muslim. Pada masa sekarang ini terjadi lagi pemusnahan perpustakaan Islam yakni masih di Iraq dan perpustakaan Islam lainnya; mulai tahun 2003 sampai tahun 2008 Direktur Dar Mahthuthat Iraqiyah menyebutkan di surat kabar Mesir Al Ahram (14 /11 /004) bahwa ketika Amerika mengancam hendak menyerang Iraq pada tahun 1991 Pencurian manuskrip mulai terjadi., sekitar 364 manuskrip hilang, termasuk beberapa makhthuthat langka seperti Sihr al Balaghah dan Sihr al bar’ah karya Imam Tsa’labi yang ditulis pada th 482 H. Tidak hanya itu, manuskrip-manuskrip yang berada di perpustakaan fakultas Adab Universitas Baghdad banyak hilang. Benda-benda berharga itu hendak diselundupkan keluar, tapi di perbatasan usaha itu dapat digagalkan dan pelakunya berkebangsaan Brazil dan Yordania. ( www.Hidayatullah.com )
Masih segar dalam ingatan masyarakat dunia bahwa pada tgl 19 Maret 2003 pukul 9.30 WIB Presiden Amerika George Walker Bush mulai menabuh genderang perang melawan rezim Saddam di Iraq. Waktu itu Bush berpidato kepada rakyat Amerika untuk menarik dukungan rakyatnya, Bush beralibi: Saudara-saudara sekalian, pada saat ini kekuatan militer Amerika dan koalisi sedang melakukan tahap pertama operasi militer untuk melucuti Iraq, melindungi dunia dari bahaya besar. Atas perintah saya, kekuatan koalisi mulai menyerang sasaran militer strategis untuk mematahkan kekuatan Saddam Hussein……. Banyak alasan yang dipakai Bush untuk melegalkan perang ini diawali dengan isu senjata pemusnah massal yang telah dibantah oleh Mr Blicks, ketua tim inspeksi senjata utusan PBB dan Muhammad baradei selaku ketua Badan Atom Internasional dan seterusnya. Akan tetapi Bush tetap melakukan penyerangan. Yang anehnya sasaran penyerangan awal adalah perpustakaaan dan museum, tidak istana atau perkantoran, atau kamp–kamp militer yang dituduhkan menyimpan senjata penbunuh massal tersebut.
Kini Iraq tidak lagi memiliki peradaban yang dapat dibanggakan di dunia internasional, karena warisan peradaban bangsa Akkadia, Sumeria, di lembah Mesopotamia dan peninggalan peradaban Islam yang kembali diusahakan memenuhi perpustakaan dan museum dijarah habis. Naskah-naskah langka dari zaman khalifah Harun Al Rasyid dan khalifah Al-Makmun yang kembali di kumpulkan di perpustakaan Baitul Hikmah Baghdad habis dijarah. Sumber dari Baitul Hikmah mengatakan kerugian mencapai 100 milyar dolar. Kondisi yang sama juga terjadi di perpustakaan Mossel dan perpustakaan–perpustakaan lain di Iraq Sementara di perpustakaan nasional 17 juta naskah penting tentang sejarah Iraq hilang bersama 200 barang antik sebelum penyerangan terjadi.
Ketika Amerika menduduki Iraq, Makhthuthat semakin terancam, bukan hanya pencuri yang menginginkan koleksi, bahkan tentara Amerika sendiri berusaha mengambilnya. Dr. Usamah menuturkan bahwa tentara Amerika berupaya menjebol pintu gudang tempat penyimpanan koleksi perpustakaan dan manuskrip, mereka mencoba berusaha membakar pintu, akan tetapi para penduduk sekitar mencegahnya hingga mereka pergi. Tapi mereka kembali lagi dengan dalih bahwa tempat itu adalah tempat penyimpanan bom. Kemudian Usamah Naqsabandi akhirnya membuka pintu tempat itu dengan disaksikan wartawan internasional untuk membuktikan bahwa bangunan itu adalah tempat penyimpanan manuskrip dan buku-buku, tidak ditemukan bom dan senjata pembunuh massal yang dituduhka itu. Akan tetapi keesokan harinya para serdadu itu kembali hendak mengambil 70 peti manuskrip untuk dibawa ke kamp militer mereka. Disamping itu terjadi penjarahan terhadap perpustakaan nasional, museum Nasional al Jazeera (17/3/2004) menyebutkan bahwa Dar Al kutub wal Watsaiq, perpustakaan yang penuh dengan manuskrip juga menjadi sasaran penghancuran dan penjarahan. Di tempat yang sudah hancur itu dulu tersimpan dokumen sejarah Iraq sejak masa Utsmani, penjajahan Inggeris kerajaan, hingga Iraq menjadi Negara republik. Total jumlah dokumen bersejarah yang tersimpan disana sekitar 17 juta.

Tentang koleksi
Tulisan diatas adalah sebahagian gambaran perlakuan Amerika terhadap perpustakan–perpustakaan yang ada di Iraq. Tetapi ada lagi yang terjadi saat sekarang ini, yakni menurut Djulianto susianto seorang ahli arkeologi ( Sinar harapan 22 Juli 2003) Jutaan karya ulama masih terabaikan, padahal itu sumbangan penting menuju kembalinya kejayaan islam malah tersimpan di perpustakaan barat. Diantara ratusan kitab yang ditulis Imam Nawawi salah satunya adalah al-azkar kitab yang berisi kumpulan doa yang masih menjadi rujukan umat hingga sekarang ini, buku aslinya tersimpan di Dublin Finlandia, sebuah Negara sekuler tepatnya di perpustakaan Alfred Chester Beatty. Demikian juga kitab Fawa id fi naqd al asaanid karya Hafidz as Shuri. Kitab ini aslinya tersimpan di perpustakaan Moseum Inggeris London, tidak bertempat di salah satu perpustakaan daerah Islam, juga kitab Majmu’ Al fatawa karya Ibnu Taimiyah yang diterbitkan di Mesir pada tahun 2005 ada di perpustakaan nasional Berlin di Jerman.
Informasi yang didapat dari catatan sejarah di internet saat ini adalah penyerangan Israel ke Palestina mulai Desember 2008 juga didahului dengan penjarahan perpustakaan dan penerbitnya. Perpustakaan dan penerbit Dar al Fikri di Libanon menjadi sasaran awal, lalu Dar al Kutub, Dar al Ma’arif di Beirut dan juga perpustakaan Nasionalnya. Sehingga buku-buku bermutu tentang ilmu keislaman tidak dapat diterbitkan lagi. Begitulah kenyataannya. Yang menjadi pemikiran penulis adalah perpustakaan–perpustakaan di negeri-negeri Islam sekarang, termasuk di Indonesia lebih khususnya lagi di Sumatera Barat, ini koleksi-koleksi dari para ilmuwan besar Islam itu belum terdata dengan baik. Penulis melihat gejala selama bekerja di perpustakaan terlihat bahwa koleksi-koleksi penting dan berisi informasi khusus seperti buku-buku berbahasa arab, atau tambo ( stambom ) Minang bertuliskan arab melayu atau tulisan pallawa itu terabaikan oleh para petugas perpustakaan, karena para petugas merasa koleksi seperti itu tidak banyak peminatnya, dan susah untuk diproses. akhirnya setelah sempat disajikan beberapa diantaranya akhirnya dieksit ke gudang demi melapangkan rak buku untuk koleksi baru berikutnya. Penulis pernah menyaksikan pada buku-buku al syifa karya Ibnu Sina yang berpuluh-puluh jilid ada di perpustakaan IAIN IB hilang. Namun kemudian ditemukan di gudang, dalam keadaan sudah berdebu dan tak terawat, disamping itu juga pernah terkena hujan, karena gedungnya menderita bocor atap selama lebih kurang 3 tahun. Sehingga tak layak dipakai lagi. Terbitan baru sampai sekarang tidak ditemukan lagi.
Bila kita berpaling ke Sumatera Barat barangkali kita ingat bahwa dulu di tahun 70-an pernah berdiri perpustakaan Islamic center di negeri kita kota Padang, yang berlokasi di mesjid Nurul Iman lantai dua. Koleksinya banyak buku-buku Islam seperti Tafsir dan ilmu tafsir dari penulis–penulis terkenal keluaran penerbit bermutu eperti karya Jalalain Abduh, Fakrurrazi dan lain-lain, ada buku–buku ilmu hadist dan hadist tulisan kutubussittah bahkan karya kutubuttis’ah, kemudian buku indeks bahasa arab, ilmu mantiq, ilmu Balaghah, Adab wan nushus, ilmu al ‘Arudh wal qawafi, kamus, munjid dan mu’jam yang sarat ilmu yang lurus dan dapat dijadikan hujjah. Kemudian fiksi: alfu lailah wa lailah, Biografi 30 ulama Sumatera Barat, capita selecta karya Muhammad Natsir dan lain-lain.
Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, sudah ada buku-buku disimpan di surau di Sumatera barat yang digunakan untuk belajar di surau yang dibawa oleh para syekh dan faqih yang bermuqim di surau. Anak nagari terutama laki-laki bermalam di surau sambil membaca, menghafal ayat alqur an dan pantun menuntut ilmu, membahas materi yang terdapat di buku-buku yang ada. ( Azyumardi Azra.: 2003 ) Mereka belajar tidak mengejar angka nilai, target waktu, gelar atau ijazah. Hal ini menunjukkan bahwa orang minang adalah orang yang cerdas dan berilmu pengetahuan. Bagaimanapun paremannya anak nagari minang, namun mereka tahu di nan ampek, tapi itu generasi dulu sampai tahun enam puluhan.

Penutup
Perpustakaan adalah sumber informasi yang berfungsi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Keberadaan perpustakaan Islam di Sumatera Barat mungkin akan dapat menjadi lambang dan sumber rujukan. Penulis berharap para ilmuwan di lembaga perguruan tinggi agama Islam ini berkerjasama dengan pemerintah memberikan perhatian baik untuk perpustakaan itu. Dengan menggunakan potensi yang sudah ada yakni alumni PAD Fak Adab. semoga perpustakaan itu dapat menjadi barometer keilmuan Islam para ulama dan anak nagari di Sumatera Barat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar