Senin, 02 Februari 2009

Perang Salib dan Implikasinya Terhadap Budaya Timur-Barat

Oleh : DR. Saifullah SA., MA

Perang Salib merupakan salah satu peperangan yang paling panjang dan lama dalam sejarah Islam (1095-1254), yang melibatkan banyak tokoh, tentara, pengikut dan banyak tempat atau lokasi. Bagi pihak Kristen, perang ini melibatkan Paus, Kaisar (Byzantium) dan hampir seluruh raja-raja dan bangsawan Eropah (Perancis, Jerman, Inggeris, Hongaria, Bulgaria, Venezia, Malta, Sicilia dll), dengan bermacam aliran, mazhab dan ordo keagamaan pada masa itu.

Bagi pihak Islam perang ini, melibatkan Daulat Abbasiyah dengan 11 orang khalifahnya (Mulai dari Al-Mustazhir, Al-Mustarshid, Al-Rasyid, Al-Muqtafi, Al-Mustanjid, Al-Musthadi, Al-Nashir, Al-Zahir, Al-Mustanshir dan Al-Musta’shim sebagai khalifah terakhir). Bahkan melibatkan banyak dinasti/daulat Islam lain seperti daulat Fathimiyah di Mesir (910-1171), daulat Bani Seljuq di Asia Kecil (1037-1318), daulat Al-Burriyah di Syria (1079-1154), daulat Bani Seljuq Shaniah di Armenia (1169-1208), daulat Bani Seljuq Zankiah di Syria (1127-1259), dan Daulat Ayyubiyah di Mesir dan Syria (1172-1261).

Perang ini disebut dengan “perang Salib (crusades)”, karena pada seluruh angkatan perang salib, diharuskan memakai tanda salib berwarna merah pada bagian depan dan belakang baju pengikut, demikian juga pada bendera dan panji-panji perang masing-masing kelompok. Lambang Salib ini berguna untuk membangkitkan emosi dan semangat keagamaan dan sekaligus tanda-tanda (aksesoris) yang membedakannya dengan tentara lainnya. Perang yang yang begitu lama dan melibatkan banyak pihak di banyak tempat itu ternyata tidak hanya memiliki dampak negative, tapi juga dampak positif, yakni terjadinya pergaulan, kontak budaya dan hubungan antar ras, suku bangsa, agama-agama serta budaya local, yang akhirnya melahirkan peradaban dunia yang lebih maju dan modern. Perang Salib merupakan rangkaian peperangan yang terdiri dari 8 (delapan) angkatan, yang dimulai tanggal 15 Agustus 1095 sampai dengan 1254, yakni:
1. Angkatan Salib I (1095-1144).
2. Angkatan Salib II (1147-1149).
3. Angkatan Salib III (1189-1192).
4. Angkatan Salib IV (1195-1198).
5. Angkatan Salib V (1201-1204).
6. Angkatan Salib VI (1217-1221).
7. Angkatan Salib VII (1228-1229)
8. Angkatan Salib VIII (1248-1254).

Klasifikasi angkatan-angkatan dan masa yang diperkirakan, bukanlah klasifikasi yang baku, dan tidak pula kesepakatan seluruh sejarawan, tapi setidak-tidaknya untuk memudahkan memahaminya.

Latar Belakang dan Faktor-faktor Kemunculan Perang Salib

Adapun sebab-sebab dan latar belakang munculnya Perang Salib, dapat ditinjau dari sudut Kristen dan dapat juga ditinjau dari sudut Umat Islam. Dari pihak Kristen, maka Perang Salib merupakan puncak akumulasi marah, dendam dan kebencian Umat Kristen terhadap ekspansi Umat Islam ke berbagai wilayah Kristen baik di Syria, Asia Kecil bahkan Spanyol dan Sicilia mulai sejak tahun 632. Selanjutnya pihak Kristen merasa sangat dihinakan dalam keagamaan ketika seorang Khalifah Fathimiah menghancurkan gereja Suci di Yerusssalem tahun 1009, gereja mana merupakan gereja tua yang merupakan tujuan jema’ah penziarah dari berbagai negara Eropah. Berikutnya penziarah berbagai tempat suci Kristen di Asia Kecil merasa tidak aman, diperlakukan kasar bahkan diganggu (secara fisik dan non-fisik) oleh umat dan penguasa Islam ketika mereka melakukan ziarahnya ke tempat-tempat yang telah dikuasai umat Islam.

Tapi yang menjadi sebab langsung (causa prima) Perang Salib adalah permintaan Kaisar Alexius Comnenus (Kaisar Byzantium) pada Paus Urbanus II di Roma, karena daerahnya di di Asia Kecil sampai pesisir Laut Marmora diporak-porandakan oleh kekuasaan Islam Bani Seljuq. Permintaan yang sama juga diajukan pada raja-raja kecil dan kaum bangsawan di Eropah. Bagi Paus Urbanus II, permintaan ini merupakan hal yang sangat ditunggu, yakni momentum untuk mempersatukan kembali gereja Romawi (di Roma) dan Gereja Yunani (di Konstantinopel), yang semakin jauh berpisah sejak 1009. Perpecahan bukan hanya terjadi antara Gereja Romawi dan Gereja Yunani, bahkan muncul pula Paus tandingan – Paus Clement III (1084-1100) - yang berkedudukan di Auvergne.

Untuk memenuhi panggilan suci tersebut, Paus Urbanus II melakukan perjalanan suci keliling Eropah untuk menggerakkan seluruh masyarakat Eropah untuk mendukung dan memberikan pengorbanan berkhidmat bagi perang melawan ”orang kafir dari timur” yang telah menjajah beberapa tempat suci Kristen. Diantara pidato paling berpengaruh dan paling besar dalam memotivasi masyarakat Kristen Eropah, adalah pidato yang disampaikan di Clermont (Perancis Selatan) tanggal 26 Nopember 1095, dimana Paus Urbanus II menyatakan bahwa panggilan untuk membebaskan kuburan-kuburan suci dari tangan ”kaum kafir” adalah panggilan Tuhan, dan menyambut panggilan Tuhan tersebut adalah bagian penting dalam ketataan beragama. Bagi para pendosa, inilah saat yang tepat untuk menghapuskan dosa, dengan ikut berjuang ke wilayah yang diduduki Islam. Gerakan semangat perang suci dikobarkan lebih lanjut oleh rahib Peter the Hermit (Peter si Pertapa) yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Tuskania, Lombardia, Provensia, Aquitania, Burgundia, Alamannia, Bavaria, Thuringia dan seterusnya.

Pidato tersebut mendapat reaksi dan tanggapan sangat antusias dari masyarakat, kalangan pendosa yang banyak bersalah, berkeyakinan bahwa dengan ikut Perang Salib, maka dosa-dosanya akan (telah) diampuni, bagi para pedagang maka perang Salib memiliki aspek perdagangan dan keuntungan ekonomi yang sangat menjanjikan, sedang bagi petualang dan yang ingin memiliki pengalaman melihat dunia timur yang eksotik dan aneh, bahkan tidak kurang yang dijanjikan ”harta rampasan yang luar biasa banyaknya dan wanita-wanita timur yang cantik” disamping mereka yang terpanggil karena panggilan kesalehan dan motif agama, maka seruan Paus tersebut merupakan peluang yang ditunggu dan diidamkan.

Akibatnya terjadilah akumulasi dan penghimpunan masyarakat yang terdiri dari bermacam ras, bangsa, suku, dan dengan bermacam motif dan latar belakang, seluruhnya (katanya) ingin membebaskan Yerusssalem dan tempat-tempat suci Kristen lainnya dari tangan kaum Muslimin, seluruhnya ingin memanfaatkan peluang penghapusan dosa dan ingin masuk ”surga”. Dari sudut Umat Islam, maka perang Salib adalah sikap defensif (bertahan) dan pembelaan diri dari serangan pasukan salib dari Eropah.

Deskripsi Ringkas Perang Salib

Seperti sudah diuraikan, bahwa perang salib merupakan perang panjang selama hampir dua abad lamanya, yang terdiri dari lapan angkatan sebagaimana huraian berikut.

Perang Salib Angkatan I (1095-1144)

Atas desakan rakyat yang sudah tidak sabar menunggu komando reguler, maka pada awal musim semi tahun 1095, berkumpullah orang-orang yang berasal dari Lorraine, France dan sekitarnya sehingga mencapai 60.000 orang, dan meminta Peter the Hermit untuk memimpin mereka berperang membebaskan Yerusssalem. Dengan bantuan Walter the Penniles, mereka bergerak ke timur menyusuri Sungai Thine dan Danube di wilayah Hongaria dan Bulgaria. Ketika rombongan besar ini tengah bergerak maju, maka disusul oleh rombongan lain berjumlah 20.000 yang dipimpin oleh rahib Godescal (Gottschalk) dari Jerman. Kemudian secara massal diikuti oleh rombongan sebesar 200.000 dari berbagai desa di Eropah, dimana didalamnya termasuk l.k. 3000 pasukan berkuda yang agak lebih mahir berperang.

Secara keseluruhan kondisi jama’ah atau pasukan yang mendekati 300.000 orang tersebut, berangkat tidak dari tempat yang sama, tidak memakai route dan hala tuju yang sama, tidak dibawah komando dan stategi tunggal, kebanyakan tidak pernah berperang dan lebih-lebih lagi tidak mempunyai atau membawa bekal perjalanan yang memadai. Karenanya dapat dipahami kalau sepanjang perjalanan, banyak tindakan yang berbeda atau berlawanan dengan motif dan niat semula (perang suci). Karena kekurangan bekal dalam perjalanan yang sangat lama dan sangat jauh itu, banyak mereka yang merampok, merampas dan bahkan memperkosa wanita-wanita sepanjang perjalanan.

Tindakan pertama mereka adalah melampiaskan kemaran terhadap orang-orang Yahudi, yang menurut keyakinan mereka adalah nenek moyang orang Yahudi itu dahulunya menangkap dan menyalib Yesus Kristus. Di Verdun, Treves, Mainz, Speier, Worms berpuluh ribu orang Yahudi mati ditangan pasukan Perang Salib pertama ini. Tapi karena kebanyakan mereka adalah rakyat biasa yang tidak memiliki pengalaman dan kemahiran perang, banyak yang mati karena keletihan, diserang penyakit, konflik internal diperjalanan, atau mati ketika berkelahi untuk mencari bekal dengan merampok rakyat setempat, sehingga hanya sedikit yang sampai di semenanjung Thracia (Tarsus). Rombongan tentara reguler atau semi reguler, baru diorganisasikan pada tanggal 15 Agustus 1095, suatu pasukan gabungan yang dipimpin oleh:
1. Godfrey de Bouillon (dari Lorraine).
2. Robert (duke of Normandy).
3. Boudewijn.
4. Stephen (count of Chartres).
5. Raymond IV (count of Toulouse).
6. Hugh (count of Vermandois).
7. Bohemond (duke of Tarentum)
8. Tancred.

Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Uskup Adhemar dan Raymond IV (count of Toulouse) ini berkumpul di wilayah selatan Perancis. Terdiri dari pasukan warga Perancis, Italia (Romawi) dan Normandia. Route antara adalah Konstantinopel, untuk selanjutnya terus ke Asia Kecil dan Yerusssalem. Walaupun pasukan ini atas permintaan Kaisar Alexis Comnenus, namun melihat jumlahnya yang sangat besar Kaisar ini merasa sukar juga untuk menyiapkan logistiknya, sehingga timbul kesalahpahaman bahkan konflik antara Kaisar Alexis dan pasukan Count of Vermandois. Suasana tegang itu baru dapat dicairkan ketika kedatangan Uskup Adhemar, dengan perjanjian bahwa setiap wilayah di Asia Kecil yang dapat dibebaskan, akan dikembalikan pada kekuasaan Byzantium, sedang wilayah-wilayah lainnya di Syria, Palestina dan Mesir akan ditentukan statusnya kemudian.

Pasukan Salib berturut-turut dapat menduduki Edessa, Tarsus, Antiokia (1097) dan Aleppo (1098). Tanggal 7 Juni pasukan salib mulai mengepung Yerusssalem dan tanggal 15 Juli 1099 kota ini jatuh, dengan korban kedua belah pihak yang sangat banyak. Untuk memperkuat kedudukan pihak Kristen di Yerusssalem, sekaligus tanda jasa atas keberhasilannya Duke Godfrey de Bouillon diangkat sebagai raja dari Kingdom of Yerussalem (1099-1291). Termasuk kedalam Kingdom of Yerussalem ini adalah County of Edessa (1097-1146), County of Antioch (1099-1268), dan Conty of Tripolis (1109-1289). King Baldwin yang menggantikan Godfrey sebagai raja Kingdom of Yerussalem, pernah mencoba merebut Damaskus di Syria (1122), tapi ternyata dia kalah bahkan ditawan dan baru dibebaskan lima tahun kemudian (1127).

Angkatan Salib II (1147-1149)

Jikalau angkatan Salib pertama (1096-1144) muncul secara spontan dari rakyat kalangan bawah dan gabungan pangeran-pangeran lokal, maka angkatan salib kedua ditangani oleh para raja, yakni raja Louis VII (1137-1180) dari Perancis dan Raja Conrad III (1138-1152) dari Jerman. Namun kedua raja dengan pasukannya tidak bergerak bersama, tapi bergerak sendiri-sendiri. Conrad III berangkat dari Ratisbon, sedang Louis VII berangkat dari Metz, keduanya sama-sama melewati wilayah Hungaria. Yang mempertemukan kedua raja ini adalah wibawa paus Eugenius yang menganugerahkan salib emas kepada keduanya di Konsili Vezelay (1146), dan semangat perang suci (Holy war) yang digerakkan oleh Bernard of Clairfaux seorang rahib yang berwibawa.

Pasukan Jerman dpp Conrad III, dari Konstantinopel terus ke pusat kekuasaan Konyah dan berhadapan dengan Emir Mas’ud I, dan ternyata pasukan pasukan salib kalah dan hanya sebahagian kecil yang dapat kembali ke Konstantinopel dan pulang ke Jerman. Pasukan Louis VII dari Konstantinopel terus ke Nicae, dikota ini pasukan ini mendapat gempuran yang luar biasa dari pasukan Islam dan sisanya melanjutkan gerakan ke Antioch, pernah mencoba merebut Damaskus tapi gagal, dan setelah ziarah ke Yerussalem Louis VII kembali ke Perancis melalui jalan laut. Seperti diketahui, pada tanggal 2 Oktober 1187, Emir Shilahuddin Al-Ayyubi kembali merebut Yerussalem setelah dikuasai angkatan salib selama 88 tahun (1099-1187). Pengepungan kota ini berlangsung selama 15 hari dan kemudian terjadi perdamaian dimana seluruh pasukan harus membayar kifarat untuk dapat diizinkan mundur ke Tyre. Pasukan salib meninggalkan Yerussalem dengan perasaan kecewa, panik, marah dan dendam yang membara.

Angkatan Salib III (1189-1192)

Perang salib kembali dikumandangkan oleh Paus Clement III (1187-1191) karena kejatuhan kota Yerussalem dan beberapa kota lainnya (kecuali Antiokia) ketangan pasukan Islam. William Uskup agung Tyre datang menghadap Paus Clement III, dalam sidang Konsili Lateran, menyampaikan peristiwa pahit yang diderita pasukan Latyn di Palestina dan Syria dan pesisir Levantine, dan menhimbau agar kota suci itu kembali direbut. Ajakan yang sama juga disampaikan kepada raja-raja Eropah.

Frederick I (1152-1190) yang dipanggilkan dengan Barbarosa, menyambut ajakan itu dan menyatakan bersedia memimpin pasukan salib ke tanah suci. Uskup agung Tyre (William) juga mampu mempertemukan Philip II (1180-1223) dari Perancis dengan Henry II (1154-1189) dari Inggeris, dua raja yang sejak lama selalu bertengkar, kemudian siap bergabung untuk menyertai pasukan salib baru. Sejak tahun 1178, diberlakukan di seluruh Eropah apa yang disebut dengan Saladin Tithe (Sumbangan wajib guna menghadapi Saladin), yang dikenakan atas harta bergerak dan juga harta tidak bergerak. Yang terkeluar dari kewajiban Saladin Tithe itu hanyalah mereka yang ikut secara pribadi berperang. Hasil sumbangan inilah yang digunakan untuk membiayai pasukan perang salib yang ketiga ini.

Frederick I Barbarosa bersama puteranya Duke of Swabia berangkat dari Regensburg (Jerman) melintasi Hungaria terus ke Asia Kecil. Setelah merebut Iconium (Konyah), Frederick I tewas ketika menyeberang sungai Calycadnus (1190) dan kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya Duke of Swabia melanjutkan perjalanan sampai ke Antiokia dan kemudian terus ke kota benteng Acre. Raja Henry II dari Inggeris, ketika sedang mempersiapkan diri ternyata mati secara mendadak. Niatnya dilanjutkan oleh anaknya Richard I (1189-1199) yang terkenal dengan Hati Singa (Coeur de Lion). Richard I bersama pasukannya berangkat menuju Lyon, Marsailes, Genoa dan Naples, dari sini bersama armada lautnya yang terkenal menuju Sicilia dan Cyprus terus ke Acre.

Philip II dari Perancis melalui jalan darat menuju Genoa dan melalui jalan laut langsung ke Acre. Dalam sejarah banyak ditemui cerita tentang komunikasi dan pertukaran cendrahati antara Richard I dan Shalahuddin selama masa jeda perang. Kemudian ditandatangani perjanjian damai yang berkuat kuasa selama 3 tahun, yang isinya antara lain: Richard mengakui kekuasaan Shalahuddin atas Yerussalem, saudara perempuan Richard (Puteri Joanna) dikawinkan dengan Wali Yerussalem (Turan Syah), penziarah kristen diizinkan berkunjung ke Yerussalem tanpa gangguan, dan Acre tetap dibawah kekuasaan pasukan salib. Sebenarnya pasukan salib yang berarti hanyalah hingga angkatan ketiga ini saja, angkatan salib berikutnya tidak terlalu berarti.

Angkatan Salib IV (1195-1198)

Pasukan Salib keempat ditubuhkan karena mendengar kabar wafatnya Shalahuddin yang yang tersohor itu dan digantikan oleh anaknya Mulk al-Aziz (1193-1198). Wafatnya tokoh yang ditakuti pasukan salib itu mendorong Paus Celestine III (1191-1198) untuk kembali menggelorakan semangat perang suci dibawah kepemimpinan Ordo St. John. Henry VI (1190-1197) dari Jerman menyambut seruan itu dan menyiapkan tiga divisi tentara, dan setelah menundukkan Sicilia (1195) langsung ke Tyre dan Sidon (1196). Pada 1198 terpaksa ditandatangani perjanjian antara Mulk al-Aziz dengan Henry VI, yang mengakhiri perang salib keempat, dan selanjutnya sisa-sisa pasukan Henry VI kembali ke Jerman.

Angkatan Salib V (1201-1204)

Motif dan semangat Angkatan salib kelima ternyata sangat jauh berbeda dengan motif dan semangat angkatan salib sebelumnya, kalau sebelumnya melawan Islam dan membebaskan Yerussalem, maka angkatan salin kelima justru untuk menyatukan Gereja Yunani (Greek) kedalam Gereja Latyn (Romawi) yang sejak lama berbeda, bersaing dan berperang. Konsep ini muncul dari Paus Innocent III (1198-1216), dan didukung oleh Count Fulk of Nevilly dibantu oleh Marquis of Montferrat, Simon de Montfort, Walter de Brienne dan Geoggrey de Villehardouin.

Dalam perjalanannya menuju Konstantinopel, dilakukan kerjasama dengan Doge Dandolo dari Venezia, dimana Doge akan menyediakan fasilitas bagi pasukan salib ini untuk sampai ke Konstantinopel, selama pasukan salib dapat mengembalikan kedudukan bandar Zara (1202) dari Hungaria ke Venezia. Sekalipun pasukan ini selama tiga tahun menduduki Konstantinopel (1202-1205), namun rencana menggabungkan dua gereja dengan dua aliran agama yang berbeda itu tetap tidak bisa dilakukan sampai hari ini.

Angkatan Salib VI (1217-1221)

Angkatan Salib keenam dibentuk, karena Paus Innocent III (1198-1216) merasa perlu untuk kembali menggelorakan perang suci ke daerah suci, karena di Mesir dan sekitarnya tengah terjadi perebutan kekuasaan dan perang saudara yang tidak henti. Perebutan kekuasaan terjadi antara Mulk al-Manshur (cucu Shalahuddin) dan Turan Syah (saudara Shalahuddin) yang kemudian bergelar Mulk al-Adil. Paus Innocent III sangat ketat memberlakukan ajaran agamanya, pada masa inilah terbentuk lembaga Great Inquisition yang memeriksa, mengadili dan menghukum setiap ajaran sesat atau menyimpang dengan hukuman bakar. Belakangan lembaga ini sempat menghukum bakar hidup-hidup ahli pikir Giordano Bruno dan Galilei Galileo. Raja-raja yang pernah bersiap untuk mengikuti ajakan ini, antara lain Frederick II (1211-1250) dari Jerman, King Andrew II (1205-1235) dari Hungaria dan Philip II (1180-1223) dari Perancis. Frederick II hanya sampai di Sicilia, dan kemudian menetap disana. King Andrew II sampai ke Tyre dan Sidon, Acre serta Tripoli, tapi kemudian kembali pulang ke Hungaria. Philip II berhasil sampai di Dimyat (Mesir). Tapi bagaimanapun seluruhnya kembali pulang dengan kegagalan.

Angkatan Salib VII (1228-1229)

Frederick II yang sebelumnya bermukim di Sicilia, kemudian dengan kemauannya sendiri melawan kemaun Paus berangkat menuju Dimyat (Mesir). Mulk Al-Kamil sebagai penguasa Mesir dan juga Palestina, mengganggap lebih penting mempertahankan bandar Dimyat yang terletak didalam wilayah Mesir ketimbang Yerussalam yang terletak jauh di Palestina, karenanya dia mempertukarkan Dimyat dengan Yerussalam (1240). Perjanjian ini sangat ditentang keras oleh kalangan Islam lainnya, karena adalah kakeknya yang dengan darah merebut Yerussalem, tapi cucunya menyerahkan hanya karena imbalan kota dagang Dimyat.

Karena tindakan Frederick II tidak seizin bahkan kadang-kadang berlawanan dengan kemauan dan wibawa Paus, seperti memasangkan sendiri mahkota King of Yerussalem di kepalanya, maka kemudian Paus di Roma mengucilkan Frederick II.

Angkatan Salib VIII (1248-1254)

Pada tahun 1244 Yerussalem kembali dapat direbut Islam dibawah pimpinan Mulk al-Shalih. Peristiwa itulah yang mendorong Paus Innocent IV (1243-1254) menggerakkan kembali perang Salib di depan Konsili di Lyon. Angkatan Salib kedelapan ini dipimpin oleh Louis IX (1226-1270) dari Perancis. Louis IX langsung merebut Dimyat (Mesir), dan dengan menyeberangi sungai Nil akan merebut Kahirah (Kairo), dan rencananya akan terus ke Palestina. Sayang pasukan ini tidak mengerti geografis dan musim, yang pada waktu itu tengah musim banjir, sehingga pasukan ini terperangkap di anak-anak sungai, lalu ditangkap dan ditawan. Setelah dibebaskan dengan tembusan yang cukup banyak, Louis IX berangkat ke Acre dan berdiam disini selama 5 tahun. Sultan al-Zahir Baybars (1259-1277), mengakhiri seluruh perjuangan panjang pasukan salib, dengan menundukkan satu demi satu kota-kota benteng Salib. Benteng Arsuf yang dipertahankan Ordo Hospitallers ditundukkan 1263. Benteng Safad yang dipertahankan Ordo Templars direbut 1264. Benteng Arkad direbut 1265. Bahkan kemudian berhasil pula merebut Antioch (1268), dan mengakhiri sisa-sia pasukan salib terakhir.

Dampak Perang Salib Terhadap Percampuran
Budaya Timur-Barat

1. Kalau kontak budaya timur-barat pada masa sebelumnya baik di Andalusia, Sicilia atau melalui penyalinan, pemberian komentar, pengutipan atau penerjemahan buku-buku Yunani dan filsafat Yunani kedalam khazanah Islam adalah kontak akademik, maka selama terjadinya perang salib yang memakan masa selama dua ratus tahun itu kontak budaya justru terjadi secara langsung (face to face). Banyak persepsi dan opini kedua belah pihak yang ternyata keliru dan harus diperbaiki, contohnya : Banyak kaum Kristen Eropah menganggap bahwa orang-orang Arab, Asia Barat, Asia Kecil dan Timur Tengah lainnya sebagai orang belum berperadaban, bodoh. Ternyata disela-sela peperangan mereka menyaksikan bahwa Kaum Muslimin cukup berpengatahuan, bahkan dalam bidang-bidang tertentu mereka lebih tinggi dari orang Eropah masa itu. Juga persepsi sebahagian umat Islam bahwa orang Eropah itu tidak tahu apa-apa kecuali berperang, seluruhnya diperbaiki dan dibetulkan lewat kontak budaya langsung yang terjadi selama perang salib.
2. Terjadinya pergaulan dan kontak budaya, menyebabkan terjadinya akulturasi, diffusi dan kohesi budaya. Mulai dari pakaian (bahan pakaian, model/bentuk/asesoris pakaian), perlengkapan, peralatan dan asesoris kehidupan, makanan (bahan makanan, makanan halal dan baik, tata cara memasak dan memakan makanan tertentu). Orang Eropah mula mengenal jenis-jenis pakaian sutera, model-model dan bentuk pakaian jubah dll, berbagai macam tanaman, obat-obatan, bahan makanan (seperti gula) dll. Banyak diantara nama, gelar, asesoris Islam yang digunakan oleh masyarakat Kristen Eropah, sebagaimana juga ada nama, gelar dan asesoris barat yang digunakan umat Islam.
3. Dikenalnya atau disempurnakannya tata cara memperlakukan tawanan, tata cara pertukaran tawanan, dikeluarkannya surat jalan (pas) melalui wilayah musuh (semacam pasport, permit dan visa yang dikeluarkan imigrasi dewasa ini).
4. Dirumuskannya Etika pergaulan antara bangsa, merumuskan isi dan menghormati perjanjian dan syarat-syarat suatu perjanjian boleh diakhiri. Akhlak sesama bangsa, akhlak dengan bangsa lain, akhlak sesama Muslim dan akhlak berbeda agama.


Kesimpulan dan Penutup

Secara umum kontak budaya paling intensif sampai dengan masa itu, antara lain terjadi pada waktu terjadinya pendudukan semenanjung Andalusia dan Lautan Mediterania (termasuk Sicilia, Siprus dan Malta) oleh Islam, dan pada waktu terjadinya penerjemahan besar-besaran seluruh buku-buku warisan budaya Yunani lama kedalam khazanah keilmuan Islam pada masa akhir Umayyah dan masa kejayaan Abbasiyah. Namun secara langsung kontak budaya justru terjadi selama masa-masa perang salib. Hal itu terjadi karena yang terlibat dalam peperangan ini banyak orang, dengan budaya lokal masing-masing yang berbeda. Dan selama masa yang panjang itu tidak seluruh masa dihabiskan dengan peperangan, tapi lebih banyak waktu luang, masa damai atau jeda, dimana mereka bergaul dan bertukar budaya.
Bentuk akhir budaya yang sampai pada masa kita ini, sebenarnya merupakan hasil tarik menarik, akumulasi dan ketegangan antar budaya sebagaimana yang terjadi antara lain selama dan setelah Perang Salib.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar