Selasa, 17 Februari 2009

Al-Nida' dalam Ayat-Ayat Do'a

Oleh : Drs. Maksum, M.Ag

Al-Nida’ --sebagai bentuk tuntutan agar lawan bicara menoleh /memperhatikan dengan menggunakan kata seru-- sering dijumpai dalam berbahasa lisan, maupun, tulisan. Kata seru yang digunakan sekaligus menunjukan keakraban dan penghormatan terhadap yang diseru. Diantara ucapan yang banyak menggunakan kata seru adalah do’a-do’a di dalam al-Qur’an. Permasalahannya adalah bagaimana bentuk nida’ dalam do’a tersebut secara struktur dan semantik. Dari pembahasan diketahui bahwa nida’ di dalam al-Qur’an tampil dalam bentuk struktur tunggal dengan ungkapan رَبَّنـَا , رَبِّ atau اللَّهُمَّ, yang di dalam konteks nida’ disebut munada. Sedangkan adat nida’ sebagi unsur kedua tidak dinyatakan secara eksplisit, malainkan, dipahami secara implisit. Hal ini memberikan implikasi makna bahwa Allah SWT yang dipanggil itu dekat dengan orang yang berdo’a.

النداء (al-nida’) --selanjutnya disingkat dengan nida’-- adalah ungkapan yang mengandung makna “menyeru” dengan menggunakan kata seru. Ungkapan ini terdiri dari “kata seru” dan “yang diseru”. Misalnya ungkapan: يا رسول الله ! (Wahai Rasulullah!), يا إلهي ! (Ya Tuhanku!), يا طالب ! (Hai mahasiswa!). Kata “يا“ yang berarti “wahai”, “hai” dan “ya” dalam ungkapan-ungkapan ini disebut di dalam bahasa arab dengan istilah أداة النداء (adat nida’), atau di dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah kata seru. Sedangkan yang “diseru” atau “dipanggil” disebut dengan istilah المنادَى (al-munada).
Nida’ –seperti diatas-- sering digunakan dalam bahasa arab, lisan maupun tulisan. Nida’ digunakan oleh si penutur (mutakallim) untuk mendapatkan perhatian dan respon dari lawan bicara (mukhathab) terhadap seruan yang disampaikannya, baik berupa pertanyaan, perintah, larangan, permintaan, maupun informasi. Di samping itu, nida’ juga digunakan untuk menunjukkan keprihatian (الندبة /al-nudbah), dan menjauhkan bencana (الاستغاثة /al-istighatsah).
Untuk menyeru, di dalam bahasa arab dikenal sejumlah kata seru (adat al-nida’). Di antaranya adalah: وَا - أَيْ - أ – يا . Kata seru ini memiliki makna “menyeru” di samping makna lain yang terkandung secara implisit di dalam penggunaannya. Kata seru juga dapat menunjukan kedekatan seseorang yang bertutur dengan lawan bicaranya, keagungan lawan bicara, atau sebaliknya, menunjukan rendahan martabat lawan bicara.
Diantara yang sering menggunakan nida’ adalah ungkapan do’a. Biasanya sebelum menyampaiakan permohonannya, seseorang yang bermohon terlebih dahulu menyeru Zat tempat bermohon dengan ungkapan nida’, seperti Ya Allah! , Ya Tuhan! dan sebagainya. Di dalam al-Qur’an ditemui sejumlah ayat do’a yang memuat nida’. Bagaimanakah bentuk struktur nida’ tersebut? Apa adat nida’-nya? Dan apa pula makna implisit (asrar balaghiyah) di balik penggunaannya? Inilah yang menjadi focus tulisan ini. Permasalahan ini penting dijawab mengingat kedudukan al-Qur’an sebagai tuntunan hidup, termasuk dalam soal menyeru Tuhan dalam berdo’a.


NIDA’ DALAM KAJIAN LINGUISTIK ARAB
Nida’ adalah bentuk mashdar dari kata نادى – ينادي - مناداة – ونداء , yang secara etimologis berarti seruan ( الدعاء) atau suara tanpa kata (الصوت المجرّد ) (Lowes Ma’luf,1986: 799). Secara terminologi, terdapat beberapa denifisi mengenainya. Diantaranya seperti yang dikemukakan oleh kalangan balaghiyyin (Lihat Al-Hasyimi, 1935: 82), yaitu:
طلب المتكلم إقبال المخاطب عليه بحرف نائب مناب "أنادي" المنقول من الخبر إلى الإنشاء
Artinya: “Nida’ yaitu tuntutan si penutur agar lawan bicara menghadap kepadanya dengan cara menggunakan huruf tertentu, pengganti kata"أنادي" , sehingga bentuk kalimat ini kemudian berubah dari bentuk الخبرية (informative) menjadi الإنشائية (tuntutan)”.
Definisi lain adalah seperti yang dikemukakan oleh kalangan nahwiyyin (Al-Maghalisah, 1991: 446), yaitu:
النداء طلب الإقبال، أو حمل المنادى على أن يلتفت بإحدى أدوات النداء
Artinya: “al-Nida’ adalah tuntutan agar (lawan bicara) menghadap, atau ajakan agar lawan bicara menoleh, dengan cara menggunakan salah satu kata seru”.
Dari dua definisi diatas dapat dipahami bahwa nida merupakan ungkapan seru yang memuat tuntutan atau ajakan dari si penutur/penyeru agar lawan bicara menghadap atau menoleh serta meresponi seruan yang disampaikan, baik seruan balam bentuk perintah, larangan ataupun do’a dan sebagainya. Ungkapan seru ini disampaikan dengan menggunakan kata seru yang kedudukannya dalam struktur kalimat dapat menggantikan kata "أنادي" , yang berarti “aku memanggil /menyeru”. Dengan demikian, berubahlah bentuk ungkapan ini dari khabariyyah (informative) menjadi insyaiyyah.
Dari uraian diatas agaknya dapat dikemukakan struktur (unsur-unsur) yang membangun nida’ secara lengkap sebagai berikut:
1. Yang menyeru/ memanggil, disebut juga dengan penutur (متكلِّم)
2. Yang diseru/ lawan bicara (مخاطب), disebut dengan munada (منادَى)
3. Kata seru, disebut dengan adat nida’ ( أداة النداء )
4. Seruan yang disampaikan, disebut dengan munada ilahi (منادى إليه )
Meskipun secara struktur munada memiliki empat unsur, namun, yang menjadi focus kajian dalam linguistik arab hanya dua unsure saja, masing-masing منادَى (munada) dan أداة النداء (adat nida’). Hal ini disebabkan karena kedua unsure ini merupakan unsure pokok di dalam struktur nida’.
Mengingat nida adalah ungkapan seru dengan menggunakan kata seru yang menempati kedudukan kata "أنادي" atau kata "أدعو" (aku menyeru/memanggil) dalam struktur kalimat, maka, dapat dipahami bahwa munada pada hakikatnya adalah maf’ulbih (objek) dari fi’il (kata kerja) yang dihilangkan (mahdzuf). Atas dasar inilah agaknya mengapa kalangan nahwiyyin kemudian mengelompokkan munada ke dalam isim-isim yang manshub.
Al-Ghalayayni mengemukakan ada tujuh macam kata seru di dalam bahasa arab, yaitu: أ, أَيْ, يا, آ, أَيا, هَيا, وَا (Al-Ghalayayni, 1987: 148). Lebih jauh ia menjelaskan bahwa kata seru ” أ” dan “ أَيْ” digunakan untuk menyeru atau memanggil munada yang dekat. Kata seru آ - أَيا - هَيا digunakan untuk munada yang jauh, dan kata seru “يا" untuk jauh, sedang dan dekat. Sedangkan kata seru “وَا” digunakan khusus untuk seruan yang mengandung kesedihan atau keprihatinan. Khusus untuk memanggil Allah dan minta dilepaskan dari bencana (الاستغاثة) digunakan kata seru “يا". Demikian juga untuk seruan yang mengandung kesedihan /keprihatian (الندبة ) dapat juga digunakan “يا" disamping kata seru“ وَا”. Kecuali itu, kata seru “وَا” untuk seruan keprihatian ini lebih banyak digunakan dalam prakteknya (Al-Ghalayayni, 1987: 148).
Berbeda dengan yang dikemukakan kalangan nahwiyin, kalangan bahlaghiyyin yang mendalami ilmu ma’ani (ilmu tentang permaknaan /semantic) mengatakan bahwa kata seru “يا“ dan kata seru lainnya --selain ” أ” dan “ أَيْ”-- pada dasarnya digunakan untuk menyeru munada yang jauh (Al-Hasyimi, 1935: 83). Oleh karena itu, ungkapan: يا محمد ! atau يا طالب ! yang berarti “hai Muhammad!” dan “hai mahasiswa!” selain mengandung makna memanggil atau menyeru Muhammad atau mahasiswa, juga menunjukan pengertian bahwa lawan bicara yang diseru itu berada pada posisi yang jauh dari si penutur.
Adanya perbedaan pandangan diatas menurut hemat penulis didasarkan atas perbedaan focus kajian mereka. Jika kalangan nahwiyyin lebih memfokuskan pada bidang kajian I’rab dan struktur kalimat, sedangkan kalangan balaghiyyin lebih memfokuskan kajian mereka pada bidang bahasa dan konteksnya (muqtadha al-hal), yang dapat memberikan implikasi pada makna.
Kata seru “يا" dan sejenisnya dapat digunakan untuk munada yang dekat apabila memiliki tujuan-tujuan balaghiyyah. al-Hasyimi –seperti juga Dr. Abd al-‘Aziz Abd al-Mu’thiy ‘Arafah-- menjelaskan, kadang-kadang munada yang jauh di tempatkan pada posisi dekat, lalu digunakan kata seru ” أ” dan “ أَيْ”. Hal ini menunjukan pengertian bahwa yang diseru sangat diharapkan kehadirannya. Meskipun dalam realitasnya jauh, namun, dirinya selalu hadir di dalam fikiran dan hati penutur (Al-Hasyimi, 1935: 83).
Sebaliknya, munada yang dekat kadang-kadang ditempatkan pada posisi jauh, lalu, digunakan kata seru selain ” أ” dan “ أَيْ”. Hal ini memberikan pengertian bahwa (1) yang diseru menempati kedudukan tinggi /agung dan terhormat. Seolah-olah dirinya --meskipun dalam realitas dekat dengan penutur--, diposisikan pada posisi jauh. (2) yang dipanggil itu kedudukannya lebih rendah, dan (3) yang dipanggil itu terlihat lengah atau fikirannya melayang kemana-mana seolah-olah tidak berada ditempat. Dalam kondisi yang demikian, lalu, digunakan kata seru “يا“ atau kata seru lainnya selain ” أ” dan “ أَيْ” (lihat Al-Hasyimi, 1935: 83) .
Dengan demikian, penggunaan kata seru “يا“ untuk munada dekat tidak hanya mengandung arti menyeru, melainkan –di samping itu--, juga memberikan arti tambahan sebagai komplemementer (makna tsawani), yaitu, bahwa yang diseru itu menempati kedudukan yang lebih tinggi dan terhormat atau yang diseru kedudukannya lebih rendah. Pada sisi lain, penggunaan kata seru “يا“ juga menunjukan pengertian bahwa yang diseru itu berada dalam keadaan lengah atau ingatannya sedang melayang kemana-mana, seolah-olah ia tidak hadir ditempat.
Dr. Abdu al-‘Aziz menguraikan lebih jauh tentang penggunaan kata seru tersebut. Antara lain, dikatakan bahwa kata “أَيا” dan “هَيا” yang ditentukan untuk menyeru munada jauh dapat digunakan untuk menyeru yang dekat apabila yang diseru itu dalam keadaan tidur atau terlupa. Lalu ia diposisikan pada posisi jauh, meskipun, dalam realitasnya dekat. Atau yang diseru itu diposisikan pada posisi orang lalai mengingat besar/agungnya seruan yang disampaikan, sehingga seolah-olah yang diseru dianggap lalai, tidak melakukan kewajiban seruan itu (Abd al-Mu’Thiy “Arafah, 1984: 135-136).
Sedangkan kata “يا“ yang ditentukan untuk menyeru yang jauh menurut Dr. Abd al-Aziz tidak boleh digunakan untuk menyeru yang dekat kecuali dalam bentuk majaz, yakni, ketika munada yang dekat diposisikan pada posisi yang jauh. Hal ini bisa terjadi bila:
1. Penyeru (penutur) merasakan dirinya berada jauh dari yang diseru (munada).
2. Sebagai peringatan tentang tinggi dan agungnya seruan yang disampaikan oleh penutur sehingga yang diseru digambarkan seolah-olah terlengah atau lalai, meskipun kenyataannya ia punya kemauan tinggi untuk melaksanakan isi seruan tersebut.
3. Kuatnya keinginan penutur agar yang diseru menghadap dan memberikan perhatian, sehingga seolah-olah yang diseru diposisikan pada posisi yang jauh.
4. Untuk mengingatkan yang diseru atas ketidak-tahuannya tentang suatu informasi.
5. Jatuhnya kedudukan atau martabat yang diseru, seolah-olah menjauhkannya dari majlis yang diikutinya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata seru dalam bahasa arab dibedakan untuk menyeru munada yang dekat dengan munada yang jauh. Untuk munada yang dekat digunakan kata seru : أ dan أَيْ . Sedangkan untuk munada yang jauh digunakan kata seru : يا, آ, أَيا, هَيا, dan وَا (khusus untuk nudbah) . Penggunaan kata seru munada jauh untuk dekat atau sebaliknya akan memberikan impilkasi terhadap makna. Hal itu hanya dilakukan dengan tujuan-tujuan balaghiyyah.


ANALISIS NIDA’ DI DALAM AYAT-AYAT DO’A
Sebelum menganalisis bagaimana bentuk nida’ di dalam do’a-do’a yang terdapat di dalam ayat-ayat al-Qur’an terlebih dahulu penulis akan menampilkan sejumlah do’a tersebut. Diantaranya adalah sebagai berikut:
Do’a Pertama
رَبَّنَا أفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِِيْنَ (البقرة:250)
Do’a Kedua
رَبَّنَا ظَلََمْنَا أنْفُسَناَ وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْنَا لَنًَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنِ (الأعرف: 23)
Do’a Ketiga
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إذْ هَذَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً (ال عِمران:8)
Do’a Keempat
رَبِّ أعُوذُبِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيْطاَنِ. وأعُوْذُبِكَ رَبِّ أنْ يَحْضُرُونَ (المؤمنون: 97-98)
Do’a Kelima
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ. وَيَسِّرْ لِيْ أمْرِيْ. وَاحْلُل عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ. يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ (طه: 25-28)

Do’a Keenam
اللَّهُمَّ رَبَّناَ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِأَوَّلِنَا وآخِرِنَا آيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأنْتَ خَيْرُ الرَّزِقِيْنَ (المائدة: 114)
Do’a Ketujuh
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى المُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمِّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بَيَدِكَ الْخَيْرُ إنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (أل عمران: 26)

Selain itu, masih terdapat sejumlah do’a di dalam al-Qur’an baik yang menggunakan nida’ seoerti diatas, maupun tidak. Dengan kata lain, do’a tersebut tidak dimulai dengan kata seru. Do’a-do’a seperti ini pada dasarnya tidak mengandung makna thalab (permintaan), melainkan sarat dengan ungkapan puji-syukur sebagai refleksi dari keimanan seseorang terhadap Allah SWT. Ia lebih merupakan bentuk dzikir ketimbang permohonan. Mengingat do’a tersebut tidak menggunakan nida’, maka tidak ditampilkan di dalam tulisan ini.
Meskipun dikatakan do’a-do’a diatas belum menghimpun seluruh do’a yang ada di dalam al-Qur’an, namun, menurut hemat penulis do’a-do’a tersebut sudah dipandang representative untuk melihat berbagai fenomena nida’ di dalam ayat-ayat do’a.
Bila diperhatikan ayat-ayat do’a di atas terlihat bahwa nida’ yang terdapat di dalamnya sebagian besar diikuti oleh bentuk thalab (tuntutan). Hal ini dapat dipahami mengingat do’a pada dasarnya merupakan permintaan atau permohonan. Oleh karena itu, ia diungkapkan dalam bentuk tuntutan. Hanya sebagian kecil nida’ dalam do’a yang tidak diikuti oleh bentuk thalab, melainkan oleh jumlah khabariyyah (kalimat informative). Sungguhpun demikian, sebagiannya tetap saja mengandung makna thalab. Baik nida’ yang diikuti oleh bentuk thalab atau tidak, namun ayat-ayat tersebut dipandang sebagai ayat-ayat do’a.
Sesuai dengan objek kajian tulisan ini, selanjutnya, penulis akan menganalisis ayat-ayat do’a diatas dari dua aspek, pertama, dari aspek struktur nida’ dan yang kedua, dari aspek semantik. Sedangkan mengenai siapa yang menuturkan do’a, dan apa kontennya tidak akan dibicarakan dalam tulisan ini.

1. Analisis Struktur.
Di atas telah dikemukakan bahwa nida’ memiliki dua unsur pokok. Pertama, apa yang disebut dengan adat nida’, atau dikenal di dalam bahasa Indonesia dengan kata seru. Sedangkan unsur kedua, apa yang disebut dengan istilah munada’ atau “yang diseru”. Di dalam kontek bertutur-kata, munada ini sering disebut dengan istilah lawan bicara (mukhathab).
Bila diperhatikan ayat-ayat do’a di atas terlihat bahwa bentuk nida’ di dalam al-Qur’an dikelompokkan ke dalam tiga bentuk. Pertama, dengan menggunakan ungkapan: رَبَّنـَا , kedua, menggunakan ungkapan: رَبِّ dan ketiga, menggunakan ungkapan: اللَّهُمَّ. Sejauh ini tidak ditemui ungkapan nida’ di dalam al-Qur’an dalam bentuk يَا الله dan sebagainya.
Bila ditelusuri lebih jauh ungkapan رَبَّنـَا dan رَبِّ, keduanya di dalam konteks nida’ disebut dengan munada’. Kedua ungkapan ini tampil dalam bentuk tarkib idhafi. Bila ungkapan yang pertama di-idhafah-kan kepada “نـَا”, yaitu, dhamir mutakallim ma’al ghair (kata ganti kami), sedangkan ungkapan yang kedua di-idhafah-kan kepada “ي”, yaitu, dhamir mutakallim wahdah (kata ganti aku), yang di dalam konteks ini dihilangkan (mahdzuf). Sedangkan adat nida’ (kata seru)-nya tidak ditemui secara eksplisit.
Dengan demikian, jelaslah bahwa bentuk nida di dalam do’a-do’a tersebut hanya memiliki struktur tunggal, yaitu, dengan menampilkan munada’. Sedangkan struktur lainnya, yaitu, adat nida’, tidak dinyatakan secara eksplisit, namun, hanya dipahami secara implisit.
Al-Ghalayayni menjelaskan, bahwa kata seru “يا“ di dalam praktek nida’ seringkali dihilangkan (mahdzuf). Ia dihilangkan dari tulisan atau ucapan, namun, tetap diakui keberadaannya di dalam struktur kalimat (Al-Ghalayayni, 1987: 156). Berdasarkan kepada pendapat ini, maka, pola nida’ رَبَّنـَا dan رَبِّ yang kelihatannya berstruktur tunggal pada hakikatnya tetap memiliki struktur yang lengkap.
Berbeda dengan ungkapan رَبَّنـَا atau رَبِّ , ungkapan اللَّهُمَّ terdiri dari susunan kata-kata اللَّهُ yang dihubungkan dengan مَّ (mim yang bertasydid). Kata اللَّهُ dalam konteks ini adalah sebagai munada. Sedangkan kata seru-nya tidak dinyatakan secara eksplisit. Dalam hal ini Al-Ghalayayni menjelaskan bahwa مَّ (mim yang bertasydid) yang di akhir kata اللَّهُ tersebut adalah sebagai ganti dari kata seru “يا“ yang dihilangkan (mahdzuf) (Al-Ghalayayni, 1987: 154).
Dengan demikian, jelaslah bahwa nida’ di dalam hal ini secara struktur tetap memiliki kedua unsur utamanya. Kecuali itu, kata seru di sini dihilangkan (mahdzuf), lalu, diganti dengan mim yang bertasydid.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pola nida’ di dalam ayat-ayat do’a yang terdapat di dalam al-Qur’an hanya mencantumkan munada’-nya. Nida’ diungkapkan dengan berstruktur tunggal. Sedangkan adat nida’ yang merupakan unsur pokok kedua dalam struktur nida’ --yang dalam hal ini digunakan “يا“-- selalu dihilangkan (mahdzuf). Adat nida’ dalam konteks do’a ini hanya dipahami secara implisit.

2. Analisis Semantik
Di atas telah dikemukakan bahwa nida’ di dalam ayat-ayat do’a dinyatakan dengan menampilkan munada-nya: رَبَّنـَا , رَبِّ atau اللَّهُمَّ. Adat nida’ yang digunakan, yaitu, “يا“ tidak dinyatakan secara ekplisit, melainkan, hanya dipahami secara implisit. Seolah-olah nida’ tersebut tidak menggunakan kata seru “يا“, dan tampil dalam bentuk struktur tunggal.
Penghilangan (peng-hadzaf-an) kata seru “يا“ dalam struktur nida pada dasarnya tidak boleh dilakukan. Menurut al-Ghalayayni, kata “يا“ tidak boleh di-hadzaf-kan bila digunakan untuk nudbah, istighatsah, ta’ajjub dan untuk munada yang jauh (Al-Ghalayayni, 1987: 156). Dengan demikian dapat dipahami bahwa peng-hadzaf-an kata seru “يا“, pada ungkapan nida’ رَبَّنـَا , رَبِّ atau اللَّهُمَّ seperti yang terdapat di dalam ayat-ayat do’a memberikan implikasi makna bahwa Allah yang diseru berada tidak jauh dari posisi orang yang menyeru. Atau dengan kata lain, Allah dalam konteks ini sangat dekat dengan orang yang berdo’a.
Sebaliknya, penggunaan kata seru “يا“ secara eksplisit di dalam konteks do’a akan menempatkan Allah pada posisi yang jauh dari orang yang berdo’a. Hal ini jelas mengengkari penegasan Allah SWT yang menyatakan bahwa diri-Nya sangat dekat dengan hamba-Nya yang berdo’a. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Allah secara tegas di dalam firman-Nya:
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب، أجيب دعوة الداع إذا دعان (البقرة: 186)
Artinya: Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka Aku sesungguhnya dekat. Aku akan mengabulkan pemohonan orang yang berdo’a bila dia berdo’a kepada-Ku
Barangkali inilah yang menyebabkan mengapa nida’ di dalam ayat-ayat do’a yang diabadikan oleh Allah di dalam al-qur’an tidak mengeksplisitkan adat nida’ “يا“. Nida’ hanya dinyatakan dengan ungkapan رَبَّنـَا , رَبِّ atau اللَّهُمََّّ.
Sedangkan ungkapan nida’ ياللَّهَ dapat digunakan ketika bertujuan untuk mengagungkan Allah, tidak dalam konteks bermohon (berdo’a), melainkan untuk memuji-Nya. Hal sejalan dengan makna balaghiyah dari penggunaan kata seru “يا“ itu sendiri, dimana ia dapat digunakan untuk munada yang dekat sebagai bentuk pengagungan terhadap ketinggian dan kebesaran diri yang diseur (Allah SWT)

PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas, berikut ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Di dalam al-Qur’an terdapat sejumlah do’a, baik yang menggunakan nida’, maupun tidak.
2. Pola nida’ di dalam ayat-ayat do’a tersebut berstruktur tunggal dengan menampilkan munada-nya, yang dinyatakan dengan ungkapan رَبَّنـَا , رَبِّ atau اللَّهُمََّّ. Tidak ditemui ungkapan ياللَّهَ. Sedangkan kata seru “يا“ yang digunakan pada nida’ tersebut tidak dinyatakan secara eksplisit (mahdzuf), malainkan, hanya dipahami secara implisit.
3. Penghilangan kata seru “يا“ dalam konteks nida’ yang terdapat di dalam ayat-ayat do’a tersebut memberikan implikasi makna bahwa Allah SWT yang diseru itu dekat dengan hamba-Nya yang menyeru (berdo’a).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar