Senin, 11 Mei 2009

Refleksi Historis Arsitektur Masjid Minangkabau

Oleh : Sudarman, MA (Dosen Jur. SKI)

Mesjid di Minangkabau memiliki ciri khas tersendiri, tentunya karena dipengaruhi oleh arsitektur pra Islam, ciri khasnya itu dapat dilihat dari arsitektur, ornament dan komponen yang mencakup mesjid tersebut. Bentuk bangunannya dapat dilihat dari atap yang bertingkat 2, 3, 5, denahnya persegi empat atau bujur sangkar dengan didesain serambi di depan atau di samping (Wiyoso Yudoseputra, 1993 : 38-53).

A. Pendahuluan

Mesjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW. adalah Mesjid Nabawi, arsitekturnya sangat sederhana nyaris tidak memiliki seni bangun dan ornament-ornamen religious, karena saat itu dilihat bahwa pembangunan mesjid tersebut sesuai dengan kondisi social masyarakat Madinah. Bahkan Rasulullah SAW tidak membenarkan pembangunan mesjid yang bermegah-megahan. Ketika Islam mulai melebarkan pengaruhnya ke wilayah lain, maka setiap di mana ummat Islam berkomunitas akan dibangun mesjid. Rasulullahpun memerintahkan untuk mendirikan mesjid di kaampung-kampung dan membangunnnya dengan baik dan penuh sentuhan religious.
Sejarah perkembangan mesjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah Islam dan pembangunan kota-kota baru. Sejarah mencatat bahwa masa permulaan perkembangan Islam ke perbagai negeri, selalu ditandai dengan pembangunan mesjid sebagai salah satu sarana untuk kepentingan umum. Mesjid merupakan salah satu karya budaya ummat Islam di bidang teknologi konstruksi yang telah dirintis sejak permulaan Islam. Mesjid bagi ummat Islam dipandang sebagai salah satu budaya Islam, perwujudan bangunan mesjid juga merupakan lambing dan cermin ummat Islam terhadap Tuhannya dan menjadi bukti tinhgkat perkembangan kebudayaan Islam.
Di Indonesia corak dan bentuk komponen mesjid dipengaruhi oleh seni bangunan pra Islam. Pengaruh pra Islam sangat tanpak pada bentuk konstruksi mesjid-mesjid tua di Jawa seperti mesjid Manara Kudus, Mesjid Agung Demak dan mesjid Agung Banten. Bangunan mesjid-mesjid tua di Indonesia memiliki bujur sangkar atau persegi panjang menyerupai bangunan joglo. Bangunan luar tanpak tertutup dengan atap bentuk limas tunggal atau bersusun yang biasanya berjumlah ganjil. Pada bangunan mesjid seperti ini terdapat barisan tiang yang mengelilingi empat tiang induk tenhag yang disebut soko guru yang menopang atap limas yang disebut brunjung. Sedangkan barisan yang dikelilingi soko gurumenopang atap tumpang yang menutup ruangan selasar (serambi). Mesjid di Minangkabau tidak jauh berbeda dengan mesjid yang ada di Jawa, namun ada cirri khas yang membedakan mesjid di Minangkabau dengan mesjid di Minangkabau dengan mesjid di Jawa, baik arsitektur, ornament maupun komponen lain dari mesjid itu sendiri.
Dengan demikian besar kemungkinan arsitektur mesjid di Minangkabau dipengaruhi oleh seni bangunan sebelum Islam dating. Ada beberapa kemungkinan mengapa mesjid sebagai tempat yang sacral bagi ummat Islam dipengaruhi oleh seni bangunan pra Islam, karena bisa jadi pembuatnya mempunyai maksut-maksut yang lebih dalam yaitu untuk menarik perhatian masyarakat yang belum masuk Islam atau baru saja masuk Islam sehingga mereka mengunjungi mesjid yang arsitekturnya masih mengingat unsur bangunan candi (Uka Tjandrasasmita, 2001: 162).
Pengaruh seni Islam tidak hanya terjadi ketika budaya Islam langsung bersentuhan dengan budaya pra Islam tetapi sampai sekarang arsitektur bangunan mesjid modern masih dipengaruhi oleh unsur pra Islam dan seberapa jauh pengaruhnya itulah yang akan diperdalam oleh penulis nantinya. Kalau diteliti perkembangan mesjid di Minangkabau dapat dibagi kepada beberapa babakan/periode :


1. Periode klasik, Periode klasik pada mesjid di Minangkabau di mulai pada abad ke-19 M, dari segi bentuk mesjid klasik menurut Yulianto Sumalyo bersifat vernukler. Klasik sendiri diadopsi dar pengklafikasian sejarah perkembangan Islam dimana dimulai dari zaman klasik, pertengahan, dan modern (Harun Nasution, 1993 : 91). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, klasik diartikan :

a. Mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yang abadi.
b. Karya sastra yang bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya sastra zaman kuno yang bernilai kekal.
c. Termashur karena bersejarah.
d. Tradisional dan indah.

Penggunaan klasik dalam pembabakan mesjid di Minangkabau karena arsitekturnya yang artistik. Ismail Yacup dalam bukunya, Sejarah Islam Indonesia membagi periode mesjid di Indonesia menjadi empat periode, yaitu :

a. Zaman permulaan

b. Zaman kejayaan

c. Zaman kemunduran

d. Zaman kemerdekaan.

Pada saat ini Islam baru datang dan membentuk sebuah komunitas yang terdiri dari orang-orang pribumi yang masuk Islam dan orang-orang yang sengaja menyebarkan Islam yang datang dari luar Minangkabau. Pada tahapan pertama ini akan terjadi akulturasi budaya antara pendatang dengan penduduk asli setempat, termasuk nantinya dalam pembangunan mesjid. Arsitektur yang lahir pada masa ini adalah perpaduan antara senibangunan Hindu atau tradisi setempat dengan seni bangunan dari luar seperti Gujarat atau bahkan Timur Tengah, perpaduan ini dapat dilihat pada unsur-unsur Mesjid Bengkudu di kecamatan Angkat, seperti mimbar, mihrab, tiang macu, ornament serta arsitektur bangunannya.

2. Perkembangan mesjid pada masa peralihan. Pada masa ini arsitektur mesjid di Minangkabau dipengaruhi oleh Hindu, Minangkabau, Timur Tengah dan Eropa. Pencampuran ini disebabkan unsur-unsur seni arsitektur Eropa mempengaruhi pembangunan mesjid di Minangkabau, dengan adanya unsur Eropa bukan berarti pengaruh Hindu akan hilang, justru dengan semakin banyaknya seni bangun yang mempengaruhi arsitektur mesjid Minangkabau akan semakin memperkaya mozaiknya, representasi mesjid yang dibangun pada masa colonial adalah, mesjid Rao-Rao di Tanah Datar.

3. Perkembangan arsitektur mesjid pada masa Modern. Pada masa ini arsitektur mesjid di Minangkabau sudah mengalami perekembangan, karena disebabkan setiap mesjid yang dibangun tidaklah menutup diri untuk mencari arsitektur mesjid yang dianggap lebih baik. Namun bukan berarti arsitektur tradisional (Minangkabau, Hindu, Timur Tengah) akan ditinggalkan atau tidak dipakai lagi dalam arsitektur modern, ternyata pengaruh arsitektur tradisional tadi semakin kuat bahkan nilai-nilai religius akan hilang ketika arsitektur tradisional akan ditinggalkan. Representatif dari mesjid yang berarsitektur modern adalah : masjid Taqwa Muhammadiyah Padang.

Dikalangan sejarahwan maupun arkeolog terjadi perdebatan tentang kebudayaan mana yang mempengaruhi arsitektur mesjid di Minangkabau. W.F. Sutterheim berpendapat bahwa mesjid di Minangkabau cikal bakalnya berasal dari bangunan Wantilan tempat menyabung ayam, denahnya persegi empat, mempunyai atap dan sisi-sisinya tidak berdinding (W.F. Sutterheim, 1955 : 765). Pendapat W.F. Sutterheim dibantah oleh H.J.Graff, Wantilan sebagai cikal bakal mesjid kurang tepat, karena bangunan Wantilan tidak berundak-undak serta tidak mempunyai serambi. Graff mengajukan pendapat baru, arsitektur mesjid di Minangkabau bukanlah bangunan asli local, tetapi berasal dari Gujarat, Kasmir, dan Malabar. Pendapat ini diperkuat dari hasil kunjungan Huygens van Linschoten arkeolog Belanda yang mengunjungi mesjid yang ada di Malabar dan mesjid Taluk di Sumatera Barat. Dimana ada persamaan antara mesjid yang ada di Malabar dengan mesjid yang ada di Minangkabau (De Graff, 1989 : 54).
Berbeda dengan H.J. Graff, Sutjipto lebih cenderung mengatakan bahwa arsitektur mesjid di Minangkabau berasal dari bangunan tradisonal Jawa yang bernama pendopo. Bangunan pendopo berasala dari bangunan mandapa yang mengacu pada bangunan Ibadah Hindu di India. Di Indonesia, arsitektur mandapa dimodifikasi menjadi sebuah ruangan besar dan terbuka yang sering digunakan untuk menerima tamu kemudian dinamakan pendopo (Sutjipto Wirjosuparto, 1961 : 91).
Sementara sejarahwan dari Prancis Dennys Lombard justru menduga ada pengaruh Cina dalam sistem bangunan mesjid kuno. Informasi Lombard ini sejalan dengan penuturan penghulu Pandeglang, seorang Tubagus yang masih keturunan Sultan Banten. Menurutnya, seperti yang diukutip Pijper bentuk atap bertingkat ini merupakan pengaruh Cina (G.F. Pijper, 1987 : 91).
Sejarahwan ternama Belanda sepanjang hayatnya didedikasikan untuk menulis sejarah Jawa, Graaf dan Pigeud, dalam Chinese Muslims in Java juga menyatakan, atap bertingkat yang menjadi style mesjid-mesjid di Nusantara menyerupai pagoda di Cina yang digunakan untuk tujuan keagamaan semua agama. Terlepas dari perdebatan sejarawan dan arkeolog di atas, dilihat dari historis, mesjid di Minangkabau mengalami perkembangan dalam bentuk arsitektur maupun ornament dan struktur bangunannya. Namun perkembangan itu bukan berarti meninggalkan bentuk sebelumnya, bahkan arsitektur pra Islampun masih dipergunakan dalam arsitektur mesjid modern. Ini artinya ada keberlanjutan budaya yang sedang berlangsung yang terefleksi dalam arsitektur mesjid di Minangkabau.


B. Kerangka Analisis

Kebudayaan berasal dari bahasa Sangsakerta Budhayyah, yaitu bentuk jama’ dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya menusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Istilah lain dari kebudayaan adalah culture yang merupakan kata asing yang sama artinya dengan kebudayaan. Culture berasal dari kata latin colere yang berarti mengolah dan mengerjakan. Menurut kontjaraningrat bentuk kebudayaan itu dapat di klafikasikan menjadi tiga, yaitu :

1. Cultural System, yaitu bentuk-bentuk gagasan, pemikiran, konsep nilai-nilai budaya,norma-norma, pandangan-pandangan yang berbentuk abstrak serta berada di kepala para pemangku kebudayaan yang bersangkutan
2. Social System, wujud aktifitas, tingkahlaku berpola, berprilaku, upacara-upacara serta ritus-ritus yang berwujud lebih kongkrit dan dapat diamati
3. Material Culture, wujud benda yang biasanya merupakan hasil tingkah laku dan karya para pemangku kebudayaan yang bersangkutan, yang disebut para ahli sebagai kebudayaan fisik dan kebudayaan material

Dari bentuk kebudayaan di atas maka kebudayaan Islam di Indonesia bisa dilihat dalam dua prespektif. Petama, prespektif sejarah yang lebih cenderung menganalisis peristiwa-peristiwa yang terjadi berkaitan erat dengan ummat Islam. Pada perspektif inilah Marschal G.S. Hodgson, Guru Besar Sejarah di University of Chicago mengklafikasikan sejarah dengan Islamic, Islamicate dan Islamidom. Kategori Islam menurut Marschal G.S. Hodgson terdiri dari tiga : Islamic yaitu doktrin normatif sebagaimana terdapat pada teks-teks al-Qur’an dan Hadits dan teks-teks baku lainnya. Islamicate yaitu Islam yang mengejawantah secara historis-empiris, yang mempengaruhi dan terwujud dalam berbagai bidang kehidupan sosial budaya muslim. Sedangkan Islamidom yaitu Islam yang terwujud sebagai kekuatan politik dan kekuasaan.
Sejarawan memandang mesjid sebagai peninggalan merupakan hasil akumulasi peristiwa dengan peristiwa yang lainnya. Oleh sebab itu arsitektur mesjid sangat dipengaruhi oleh peristiwa yang di sekitar pembangunan mesjid, salah satu alas an mengapa mesjid Indonesia mayoritas berkonstruksi kayukarena ummat Islam disbukkan dengan ekspansi wilayah sehingga melupakan arsitektur yang berbentuk megah. Kedua Prespektif arkeologi, pendekatan arkeologi terhadap Islam di Indonesia telah dimulai pada tahun 1884. W.F. Sutterheim mengadakan penelitian mesjid-mesjid kuno di Jawa, H.J. de Graaf, Dr. Van Ronkel, Dr. Th. W. Juynboll dan J.P. Moquette meneliti arsitektur mesjid kuno dan mengaitkan adanya hubungan arsitektur mesjid Jawa dengan arsitektur Klenteng Cina. Mesjid sebagai peninggalan benda budaya juga bisa dilihat dalam perespektif arkeologi, dalam hal ini ada dua teori yang dipergunakan :


a. Teori Akulturasi

Akulturasi budaya (cultural contact) kontak budaya antara dua kebudayaan yang berbeda. Akultyurasi dapat dikelompokkan atas dua jenis. Pertama extreme acculturation adalah akulturasi yang menyebabkan punahnya unsure-unsur budaya yang menerima, sehingga budaya yang dating diterima begitu saja oleh pendukung budaya asli. Kedua, a less extreme acculturation adalah akulturasi yang memberikan peluang terhadap budaya asli untuk berkembang dan memadukan diri dengan budaya yang dating. Di dalam akulturasi jenis ini ada unsure-unsur budaya asli yang masih muncul dan eksis setelah terjadinya kontak budaya tersebut.


b. Local genius

Teori ini mengatakan bahwa budaya lokal mampu menyerap budaya asing tanpa kehilanagn identitas. Arsitektur mesjid di Minangkabau merupakan hasil dari local genius, arsitektur lokal mampu menyerap arsitektur Hindu dan Budha yang dating kemudian tanpa menghilangkan arsitektur lokal yang sebelumnya telah ada.
Setiap kebudayaan terdiri dari unsure material yang berorientasi pada pembangunan dan komponen immaterial yang merawat. Sebagai ekspresiaktif unsure kebudayaan material, arsitektur selalu mengasimilasi unsure-unsur baru serta mengadakan perubahan dalam bentukl arsitektonis dan bahan bangunan dan hubungan antar bangsa. Heinz Frick menganalisa bahwa arsitektur di Indonesia bisa dilihat dari sisi ruang dan waktu.
Ruang meliputi kebudayaan yang mempengaruhi bangunan tersebut, sedangkan waktu lebih focus kepada kronologis pembangunan mesjid. Disamping analisa ruang dan waktu, arsitektur mejid merupakan material kultur yang mengandung fofilized of Idea and behavior (mengendapkan budaya idea dan prilaku). Jadi ketika membahas mesjid maka sebenarnya membahas the man behind the material culture(manusia di belakang budaya material).


C. Pembahasan

Secara umum mesjid-mesjid di Minangkabau tidak jauh berbeda dengan mesjid-mesjid kuno di Indonesia, yang membedakan dengan mesjid luar Minangkabau adalah makna-makna dibalik symbol-simbol budaya yang diapresiasikan dalam bentuk arsitektur mesjid. Keberlanjutan budaya pra Islam sangat kental dilihat terhadap mesjid-mesjid kuno di Minangkabau. Material kultur pra Islam telah menjadi living monument (monument yang masih difungsikan) dalam kehidupan masyarakat Minangkabau karena budaya pra Islam tidak ditinggalkan tetapi diramu sedemikian rupa sehingga menghasilkan arsitektur yang mengagumkan.


1. Orientasi
Pengertian orientasi dalam hubungannya dengan masalah teknik bangunan mesjid, adalah arah hubungan manusia dengan khaliknya tergolonmg kedalam spiritual dengan sumbu religi diarah ke kiblat. Di mesjid Minangkabu seluruhnya m,enggambarkan hubungan antara manusia dengan tuhan, misalnya simbol tiang macu yang merupakan tiang penopang utama dan tiang-tiang kecil sebagai penguat dari tinag macu diatas. Konstruksi semacam ini menggambarkan bagaimana ketergantungan makhluk kepada khalik. Bangunan ibadah yang mengambarkan antara hubungan sang penciptra dengan manusia tidak hanya terdapat pada bangunan Islam, tetapi hal ini menyambung budaya yang ada sebelumnya. A.A. Navis mengatakan, bahwa konstruksi bangunan Rumah Gadang tidak terlepas dari symbol hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Bahkan konsep mandala dalam pembangunan rumah ibadah agama Hindu membuktikan bahwa oreintasi pembagunan mesjid di Minangkabau merupakan keberlanjutan budaya sebelumnya.

2. Zooning
Area mesjid di Minangkabau dengan aktifitasnya yang tergolong dalam lokasi utama, dengan demikian zooning mesjid–mesjid di Minangkabau terletak di tempat yang sangat strategis. Mesjid-mesjid kuno di Minangkabau zooningnya selalu di lembah karena secara geografis mesjid sangat membutuhkan air maka zooningnya harus berdekatan dengan air.

3. Prosesi
Yang dimaksud dengan prosesi teknik bangunan mesjid-mesjid di Minangkabau adalah proses pencapaian menuju ke lokasi yang dimaksud. Memang dalam hal ini, proses teknik bangunan mesjid di Minangkabu tidak mengikuti tata cara pencapaian dari luar kompleks ke dalam kompleks secara filosofis, seperti halnya pada komplek bangunan pura dan bangunan Hindu lainnya yang mempunyai tata aturan untuk prosesi. Jadi dapat disimpulkan bahwa prosesi mesjid di Minangkabau tidak mengenal aturan secara khusus. Dengan kata lain, orang dapat mencapai lokasi secara bebas dengan melalui tempat-tempat yang tersedia.


4. Dimensi

Dalam kehidupan dunia, manusia berusaha menyelaraskan benda-benda bumi dengan alam, sehingga perwujudan-perwujudan buatan manusia adalah skala diri dan lingkiungan masyarakat Hindu dalam membangun candi tidak terlepas dari symbol tiga alam dewa-dewi, Alam menengah, alam barzah dan alam neraka. Hal ini berlanjut dalam kehidupan teknik bangunan ibadah umat Islam, dimana tiang macu selalu dikelilingi oleh beberapa tiang pendukung, itu artinya bahwa tiang macu merupakan alam akherat, sedangkan tiang-tinag yang mengelilinginya sebagai symbol alam dunia. Dengan demikian tekniki bangunan mesjid kuno di Minangkabau, dimensinya adalah proporsi manusia dari bagian-bagian dirinya untuk menentukan jarak (seperti langkah kaki, rentangan tangan). Suatu keistimewaan dalam dimensi arsitektur mesjid di Minangkabau, adalah nilai filosofis pada setiap ukuran. Ukuran yang tidak mungkin diterjemahkan kedalam dimensi atap tumpang bertingkat dua, bentuk emacam ini juga terdapat pada dimensi tradisional bangunan meru di Bali. Dimensi arsitektural suatu bangunan sangat dipengaruhi tata hias ornament. Pangaruh ornament pada dimensi ini juga tanpak pada bangunan mesjid kuno di Minangkabau . namun saat ini, perkembangan zaman, masyarakat merangsang menata ornament baru pada bagian tertentu bangunan mesjid. Akibatnya sifat kekunoan menghilang. Memang dari keindahan proporsi dan tuntunan ekonomis praktis hal ini dapat diterima, namun nilai-nilai spiritual telah ditinggalkan. Tentunya nilai keaslian semakin dilupakan, sehingga nilai religious abstrak terdesak oleh materialis konkrit.


Mesjid-mesjid kuno di Minangkabau memiliki arsitektur yang unik, setidak-tidaknya pengaruh arsitektur tradisional memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan arak arsitektur mesjid. Ada dua tipe mesjid di Minangkabau :


a. Mesjid yang arsitekturnya dipengaruhi oleh adat Bodi Chaniago yang lebih demokratis dari pada Koto Piliang, statement adat Bodi Caniago ”membasuik dari bumi” dalam musyawarah kaum, kata akhir berada di kemanakan, suara rakyat yang paling menentukan.

b. Tipe Koto Piliang, arsitektur mesjidnya mengkombinasikan dengan arsitektur bagonjong sebagai khas arsitektur Rumah Gadang di Minangkabau. Dari segi bentuk pemerintahan, Koto Piliang bersifat aristokrasi yang disebut “ titiek dari ateh”, untuk mengambil suatu kesimpulan, kata putus atau kata akhir berada di tangan kepala suku atau penghulu

Seluruh mesjid kuno selalu bertumpang 3 sampai 5, semakin keatas semakin kecil sedangkan tingkatan yang paling atas berbentuk limas, jumlah atap tumpang selalu ganjil merupakan pengaruh Hindu, karena sebelum islam atap tumpang dipakai untuk kuil, bangunan suci agama Hindu. Atap tunpang sampai sekarang masih lazim dipakai di Bali, namanya meru, dan digunakan khusus mengatapi bangunan-bangunan suci di dalam pura. Pada relief-relief candi Jawa Timur juga terdapat atap tumpang, mungkin sekali untuk candi atau bangunan suci lainnya.
Meskipun atap tumpang untuk candi tidak ada sisa-sisanya yang menjadi bukti (atap candi terbuat dari batu), namun dugaan kuat dapat diperoleh dari beberapa vandi, contohnya adalah candi Bayalagu (dekat Tulung Agung) bekas-bekas dari tubuh candi serta atapnya tidak ditemukan, tetapi lantainya dikelilingi arca induk terdapat sejumlah umpuk (batu pengalas tiang), maka tentunya candi in terbuat dari bahan-bahan kayu atau bamboo. Pada candi induk dari kelompok penataran tidak beratap batu melainkan beratap tumpang. Hanya tubuh candinya dibuat dari batu, sehingga atapnya berdiri diatas dinding-dinding bagian candi tersebut.
Cikal bakal mesjid lima kaum berupa surau batu, tidak beratap dulunya dipergunakan tempat ibadah agama Hindu, kemudian di pindahkan ketempat bekas kuil di daerah Lima Kaum. Itu artinya pengaruh Hindu terhadap arsitektur mesjid memiliki peran signifikan. Karena memang arsitektur mesjid diambil dari arsitektur bangunan suci agama Hindu dan Budha.
Pengaruh Hindu juga tercermin pada tiang macu dan tiang yang mengelilinginya, konsep mandala yang dipergunakan oleh agama hindu dalam membangun rumah ibadah, dunia atas dan dunia bawah merupakan symbol yang terdapat pada tiang macu dan tiang-tiang yang mengelilinginya.
Secara kasar kebudayaan Indonesia bisa dibagi kepada tiga bagian, Pertama Kebudayaan Jawa agraris yang kehinduan. Kedua, kebudayaan Melayu ladang kelautan yang keislaman, ketiga kebudayaan Indonesia Timur ladang-kelautan yang kekristenan. Minangkabau termasuk dalam kebudayaan Melayu ladang-kelautan yang ke Islaman, itu artinya Islam telah menjadi warna tersendiri dalam kehidupan Minangkabau. Pergumulan Islam dengan kepercayaan dan adat istiadat setempat pada mulanya tidak mengalami pertentangan karena Islam masuk ke sel-sel inti kebudayaan Minangkabau
Pengaruh adat Minangkabau terhadap mesjid Kuno terlihat juga pada ornamen mesjid Raya Bingkudu yang beragam hias flora (tumbuh-tumbuhan). Mayoritas ragam hias Minangkabau mengambil bentuk-bentuk flora dan fauna. Ini mengisyaratkan bahwa kehidupan masyarakat Minangkabau sangat tergantung kepada alam yang berupa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Bahkan dalam pepatah Minangkabau tercantum, ”Alam Takambang Jadi Guru”.
Setiap ragam hias mengandung makna yang dalam dan melambangkan corak perilaku manusia. Lambang adalah pernyataan lahir dalam alam pikiran yang religious-magis. Semua lambang tak lepas dari masalah religi. Oleh karena itu, permulaan perkembangan lambang ada sangkut pautnya dengan bentuk-bentuk kepercayaan. Kemudian perubahan terjadi dan tingkat pemikiran bertambah maju. Lambang yang hanya menjadi wujud penyembahan berubah menjadi benda-benda kesenangan dan dikembangkan menjadi hasil karya seni.
Salah satu contoh ragam hias yang ada di mesjid Raya Bingkudu adalah motif Lumuik Anyuik . Lumut jenis tumbuhan yang hidup di air dan biasa bergantung pada benda lain seperti batu atau batang kayu. Apabila lumut ini lepas dari tempat ia bergantung maka ia akan hanyut dibawa arus air yang mengalir, sebagaimana kata adat :


“ Nambak lumiuk anyuik
Tampek bagantung indak ado
Orang mamaciak indak amuah”


Motif ukiran lumuik anyuik ini menggambarkan kehidupan seseorang yang tidak disukai oleh masyarakat lingkungannya yang biasanya dikiaskan pada orang yang durhaka, melanggar norma hukum, berbuat salah sehingga dikucilkan oleh masyarakat. Tidak ada yang mau menolongnya. Motif ini merupakan peringatan kepada masyarakat untuk tidak berbuat yang bertentangan dengan norma yang berlaku. Pengertian lain dari motif ini adalah orang yang mudah menyesuaikan diri di mana mereka berada. Tetapi pengertian ini memberikan kesan negative yaitu orang yang tidak punya pendirian. Orang yang mudah menyesuaikan diri dengan tidak punya pendirian akan mudah dipengaruhi oleh orang lain dan menjadi permainan orang lain.
Pengaruh Cina terhadap mesjid di Minangkabau juga terlihat pada atapnya yang bertingkat, menurut Graaf dan Piogeud atap bertingkat yang menjadi style mesjid-mesjid kuno di Minangkabau menyerupai Pagoda di Cina. Warna mihrab dan mimbar serta atribut yang ada di mesjid rao-rao dipengaruhi oleh warna kuning keemasan. Warna seperti ini adalah warna yang sangat sakral dalam kebudayaan Cina dan biasanya di Klaten di dominasi dengan warna emas. Bentuk lain pengaruh Cina terhadap mesjid kuno di Minangkabau adalah pada atap mesjid Raya Ganting yang mengadopsi style rumah ibadah orang-orang Cina, hal bisa kita lihat tumpang atap yang kedua dari tiga tumpang atap mesjid raya Ganting.




DAFTAR KEPUSTAKAAN


Wiyoso Yudoseputra, Pengantar Wawasana Seni Budaya, Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993

Abdul Rachim, Sejarah Arsitektur Islam Sebuah Tinjauan, Bandung; Angkasa, 1993

Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan perkembangan kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII-XVIII, Kudus: Menara Kudus, 2001

Sidi Gazalba, Mesjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1975

Abdul Baqir Zein, Mesjid-Mesjid Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press,1999

M. Israr, Sejarah Kesenian Islam, Jakarta: PT. Pembangunan, 1975

Sutterheim, W.F. , Indonesian Sociaty in Transition, Bandung: W.van Hoeve, 1955

De Garff, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, , Jakarta:Grafiti Press, 1989

Sutjipto Wirjosuparto, Bunga Rampai Sejarah Budaya Indonesia, Jakarta: Jambatan Jakarta, 1961

Pijper, G.F., Fragmenta Islamika; Beberapa studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal abad XX, Jakarta: 1987

Graaf & Pigeud, Chinese Muslims in Java in the 15 th and 16 th Centure The Malay Annals of Semarang and Cerbon, Monash Paper on Southeast Asian, 1984

Hodson, Marschal G.S. , The Venture of Islam, Chicago: 1974



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar