Rabu, 06 Oktober 2010

Pengaruh Arsitektur Rumah Gadang Terhadap Masjid Kuno di Minangkabau

Oleh : Sudarman, MA (Dosen Arkeologi Islam FIB-Adab)

Karya arsitektur termasuk dalam bentuk kebudayaan materi sehingga mudah untuk diamati dan di observasi (Koentjaraningrat 1974: 110). Kebudayaan materi tidak berdiri sendiri, dia lahir dari sebuah ide dan prilaku, mengkaji budaya materi sebenarnya meneleti tentang budaya ide dan tingka laku. Materi hanya sebagai alat untuk menafsirakan budaya masa lalu yang sempat terekam oleh benda-benda yang pernah dipergunakan oileh pemangku budaya tersebut.


Pembabakan sejarah arsitektur Indonesia menurut Djauhari Sumintarja yang dikutip oleh Syafwandi ( Syafwandi : 1983 : 50-52) adalah :
1. Rumah Tradisional, istilah rumah tradisional dapat diartikan sebuah rumah yang dibangun dan dugunakan dengan cara yang sama sejak berapa generasi. Suatu hal yang menarik dari ciri rumah tradisional adalah peninggian lantai, seperti di Aceh, Minangkabau. Ciri lainnya adalah dari segi konstruksi, yang dibangun dengan kolong atau tinggi, sehingga kolong rumah dapat dimamfaatkan sebagai tempat menyimpan barang
2. Arsitektur Hindu, arsitektur masa kebudayaan Hindu adalah sejumlah arsitektur dari zaman dan tempat dari suatu lingkungan masyarakat Hindu.pada masa ini kayu masih digunakan sebagai bahan utama pembuatan rumah, perjalanan selanjutnya batu menjadi bahan dominan yang dipergunakan untuk membuat bangunan profan dan sakral. (Heinz Frick; 1997)
3. Arsitektur masa kebudayaan Islam, arsitektur masa kebudayaan Islam adalah sejumlah arsitektur dari zaman dan tempat dari suatu lingkungan masyarakat Islam. Kebudayaan Islam di Indonesia dimulai pada akhir abad XIII, ketika Sumatera didirikan suatu kerajaan Islam yang bernama Pasai. Dalam kekayaan arsitektur kebudayaan Islam di Indonesia yang meliputi bangunan mesjid, istana, menara dan makam-makam.
4. Arsitektur masa penjajahan Barat, adalah arsitektur yang direncanakan dengan ide Barat. Di Indonesia ciri Barat mulai tampak ketika Portugis abad XVI datang ke pulau Maluku untuk berdagang rempah-rempah. Di sanalah mulanya terdapat bangunan-bangunan yang didirikan dengan ide barat. Kemudian pada dekade berikutnya Belanda pun tak ketinggalan dengan benteng Fort Victoria-nya yang dibangun tahun 1580 di Ternate.
5. Perkembangan Arsitektur masa empat Windu merdeka, pangkal dari arsitektur zaman ini dimulai tahun 1984.
Pada masa arsitektur kebudayaan Islam inilah mesjid menjadi simbol karya arsitektur yang sangat unik. Keunikannya bukan hanya sekedar bentuknya yang tidak sama dengan mesjid yang ada wilayah lain, juga keunikannya terletak dari perdebatan para ahli tentang budaya apa yang mempengaruhi arsitektur mesjid di Nusantara. Menurut Tawalinuddin (Tawalinuddin; 2010) ada dua aliran besar yang berkembang tentang arsitektur mesjid di Nusantara. Pertama aliran India sentris yang dipelopori oleh de Graaf, dia menyatakan bahwa arsitektur mesjid di Nusantara berasal dari India, karena mesjid-mesjid di Nusantara atapnya bertiingkat hal ini juga terjadi di mesjid-mesjid Malabar. Kedua, aliran Nusantara sentris yang dipelopori oleh Stuttreheim dan Sutjipto Wiryosuparto, keduanya sepakat bahwa arsitektur mesjid di Nusantara di pengaruhi oleh budaya lokal atau arsitektur tradisional.
Berdasarkan landasan perdebatan tentang budaya mana yang mempengaruhi mesjid di Nusantara, maka mesjid di Minangkabau juga perlu dikaji secara mendalam. Karena de Graaf telah menjustifikasi bahwa mesjid Taluk di Minangkabau berasal dari Malabar. Pendapatnya ini didasarkan adanya kesamaan antara arsitektur mesjid Taluk dengan mesjid yang ada di Malabar. Padahal Tawalinuddin (Tawalinuddin; 2010) berpendapat bahwa atap mesjid di Minangkabau bergonjong sama dengan atap rumah adat Minangkabau.
Kedua pendapat yang berbeda diatas tentunya tidak bisa di generalisir kepada semua mesjid kuno yang ada di Minangkabau, karena setiap mesjid yang ada di Minangakabau memiliki ciri khas yang berbeda, tentu harus ada pola-pola umum yang bisa dijadikan patokan untuk melacak arsitektur yang mempengaruhi mesjid di Minangkabau. Yang pasti bahwa orang Indonesia umumnya dan orang Minangkabau khususnya yang sudah menjadi muslim tetap sebagai orang Indonesia/Minangakabau, demikian juga budayanya tetap budaya Indonesia/Minangkabau oleh karena itu masuk akal jika mereka membangun mesjidnya dengan meniru (mengambil) bentuk bangunan yang sudah ada sebelumnya. (Tawalinuddin 2010). Maka penelitian ini akan memelacak unsur-unsur apa saja yang dipengaruhi oleh Arsitektur Rumah Gadang terhadap mesjid kuno di Minangkabau?

II. Arsitektur Tradisional Minangkabau
Arsitektur Tradisional Minangkabau mempunyai kekhasan dan ciri tersendiri baik dalam bentuk arsitekturalnya maupun filosofi yang dikandung bentuk bangunannya dan mempunyai hubungan yang erat dengan setting sosial budaya masyarakat. Karakteristik suatu bangunan dapat ditinjau berdasarkan topologi, morfologi dan tipologi. Elemen-elemen arsitektur tradisional dapat menjadi karakteristik dari suatu daerah tersebut. Menjadikan suatu daerah dan mengingatkan orang atau masyarakat terhadap suatu lingkungan tertentu (Elfida Agus; 1999)
Ditinjau dari bentuk, ukuran, serta gaya pemerintahan Kelarasan dan Gaya Luhak, Rumah Gadang mempunyai nama yang beraneka ragam. Menurut Gaya Kelarasan aliran Koto Piliang, bentuk Rumah Gadangnya diberi nama Garudo Taban, karena di kedua ujung rumah diberi beranjang (gonjong). Sedangkan Rumah Gadang dari Kelarasan Bodi Caniago lazimnya disebut Garudo Menyusukan Anak. Bangunan tidak beranjung atau berserambi pada bagian kiri dan kanan bangunan, tetapi pada bagian ujung kiri dan kanan di bawah gonjong diberi beratap (emper) yang merupakan sayap burung yang sedang mengerami anaknya.
Jika menurut Gaya Luhak, masing-masing Luhak mepunyai gaya dan namanya sendiri. Rumah Gadang yang merupakan kepunyaan dari Kaum Penghulu Pucuk di Luhak Tanah Datar dinamakan Gajah Maharam karena besarnya. Sedangkan modelnya Rumah Baanjuang karena Luhak tersebut menganut aliran kelahiran Koto Piliang.
Rumah Gadang Luhak Agam merupakan kepunyaan Kaum Penghulu Andiko (yang memerintah) dinamakan Serambi Papek (Serambi Pepat) yang bentuknya bagai dipepat pada bagian kedua ujung bangunannya. Sedangkan modelnya adalah Rumah Gadang di bawah gonjong pada kedua ujungnya diberi ber emper dengan atap, karena Luhak tersebut menganut Kelarasan Bodi Coniago.
Rumah Gadang Luhak Limopuluh Koto disebut dengan Rajo Babandiang yang bentuknya seperti rumah di Luhak Tanah Datar yang tidak mempunyai dan memakai Anjuang pada kedua ujung bangunan atau tidak mempunyai lantai yang ditinggikan pada kedua ujung bangunannya.
Bentuk dasar dari bangunan Rumah Gadang berbentuk segi empat atau empat persegi panjang yang tidak simetris yang mengembang ke atas. Dilihat pada sisi lain maka Rumah Gadang adalah Rumah Panggung, karena lantainya terletak jauh di atas tanah.
Rumah Gadang bentuknya yang memanjang tersebut biasanya didasarkan kepada jumlah ruang dalam bilangan ganjil: 3,5,7,9, dan ada pula 17 ruang pada masa lalu tetapi sekarang tidak diketemukan lagi (Syamsidar, 1991).
Menurut Usman yang dikutip oleh Elfida Agus (1995), ada 3 (tiga) point perwujudan hasil budaya Minangkabau yang dapat dirasakan sebagai pengamat, yaitu:
1. Ideal (mengandung nilai-nilai atau norma)
2. Tingkah laku berpola (upacara ceremonial)
3. Fisik (karya nyata)
Yang dimaksud dengan arsitektur Minangkabau tersebut ialah karya nyata masyarakat Minangkabau kedalam wujud fisik, dimana wujud dan bentuknya marupakan pengejawantahan sistem dan tatanan sosial budaya yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau ke tiga luhak tersebut. Yang sering dikenal masyarakat awam ialah arsitektur rumah bagonjong (bergonjong), dimana atapnya melengkung dan badannya melendut dibagian tengah. Memang bentuk ini banyak dipakai sebagai wujud arsitektur Minangkabau, namun sebenarnya masih mampunyai banyak ragam hias berdasarkan type-typenya.




III. Arsitektur Mesjid di Minangkabau
Islam masuk ke Minangkabau melalui dua jalur. Pertama melalui jalur Pesisir Timur (Selat Malaka) melalui Rantau Kuantan, Kampar, Siak dan Indragiri. Kedua dengan Pesisir Barat (Samudra India) melalui Bandar-bandar lama seperti Tiku dan Pariaman. (Aswil Rony dkk ; 2002,11; 2002; 11). Selanjutnya agam Islam dari Pesisir Timur (daerah rantau) dan daerah Pesisir Barat bertemu di daerah Minangkabau asli. Inilah mungkin yang dimaksud pepatah (syara’ mendaki, adat menurun) yang artinya adat turun kedaerah rantau (Pesisir) dan syara’ (hukum agama) mendaki ke darek (wilayah asal nenek moyang Minangkabau). (Aswil Rony dkk , 2002; 11)
Sejak Islam datang dan mejadi agama mayoritas di Minangkabau, maka Islam yang datang itu tidak serta merta kemudian menghapus tradisi dan kebudayaan yang telah berkembang sebelumnya. Bahkan yang terjadi adalah adanya pengaruh Hal ini telah diakomodir dalam statmen adat “balabuah batapian, babalai bamusajik” syarat berdirinya suatu Nagari harus memenuhi empat usur; (Aswil Rony dkk, 2002; 11)
1. Mempunyai jalan, untuk perhubungan (balabuah)
2. Mempunyai tempat mandi (batapian)
3. Mempunyai tempat musyawarah (babalai)
4. Mempunyai mesjid, sarana ibadah (bamusajik)
Menurut Yulianto Sumalyo, arsitektur mesjid di Minangkabau bersifat vernacular artinya memakai bentuk-bentuk setempat (arsitektur tradisional) seperti mesjid Taluak di Bukittinggi, terlihat jelas selain pada hiasannya,juga pada atapnya miring sangat tajam. Pada puncak atapnya yang pIramidal empat tingkat (dalam bahasa Minang barundak) dihias dengan miniatur rumah gadang , yaitu rumah adat Minangkabau dengan atap mejemuk runcing mencuat di ujung-ujungnya. (Yulianto Sumalyono; 2000; 478). Menurut Sudarman (sudarman; 2007; 87) ada tiga tipe arsitektur mesjid di Minangkabau. Pertama, tipe mesjid Koto Piliang. Mesjid tipe pertama ini mengadaopsi arsitektur rumah gadang dengan menghadirkan gonjong di diatas puncak mesjid. Kedua, tipe Bodi Caniago. Tipe ini menghilangkan simbol-simbol rumah gadang secara masif. Ketiga, tipe campuran antara Koto Piliang dengan Bodi Caniago.
IV. Unsur mesjid yang dipengaruhi oleh arsitektur Rumah Gadang
Untuk melihat sejauh mana pengaruh arsitektur tradisional (rumah gadang) terhadap mesjid kuno di Minangkabau, maka dilakukanlah analisis komperatif (analiasa perbandingan). Dari perbandingan itulah kemudian akan ditemukan apa saja arsitektur mesjid yang dipengaruhi oleh arsitektur rumah gadang.
Menurut Roseri Rosdy Putri, arsitektur rumah gadang terdiri dari (Roseri Rosdy Putri ;1990 ;72)
1. Lantai
Bangunan dengan lantai yang ditinggikan sehingga terletak diatas tanah, dikenal dengan sebutan rumah panggung, merupakan ciri asli arsitektur daerah di Indonesia, lantai yang ditinggikan ini dimaksudkan untuk memberi perlindungan diri dari gangguan alam seperti ancaman banjir, gempa, kelembaban udara, dan ganguan binatang buas.
Lantai terbuat dari papan. Ke ujung kiri kanan dari lantai ditinggikan satu tingkat atau dua tingkat dinamakan anjung. Bila Rumah Gadang tidak beranjung maka lantai yang sebelah kedua ujungnya juga tinggi merupakan lantai perahu.
Pada Rumah Gadang yang asli, lantai tidak terbuat dari kayu, akan tetapi dibuat dari bambu yang dipecah dan didatarkan yang disebut dengan palupuah. Jadi tidak menggunakan paku di dalam pemasangannya tetapi hanya menggunakan rotan yang telah dibelah untuk mengikat sehingga lantai tersebut tidak terlepas dan bercerai berai (Syamsidar, 1991).
Mayoritas mesjid kuno di Minangkabau lantainya ditinggikan, maksud dan tujuannya tidak jauh berbeda dengan lantai rumah gadang. Kemiripan ini bukan dengan tanpa sengaja, tetapi ada by design yang sudah direncanakan. Pendirian mesjid koto nan ampek di kota Payakumbuh, bersamaan dengan didirikannya rumah gadang bahkan letaknya saling berdekatan. Kesamaan ini karena dilatarbelakangi juga oleh tukang yang membut mesjid dan rumah gadang yang diarsiteki oleh satu orang. Sehingga memungkinkan untuk membuat lantai yang sama.


2. Tiang
Teknik dan cara pembuatan bangunan Rumah Gadang pada bagian tengah pada dasarnya merupakan kelanjutan dari teknik dan cara pembuatan atau mendirikan tiang-tiang atau tonggak-tonggak yang ada dalam sebuah Rumah Gadang seperti disebut dengan tiang: tonggak tuo maksudnya tiang yang dituakan di mana pada tiang tersebut menghubungkan seluruh tiang-tiang bangunan rumah gadang. Tiang panjang merupakan tiang-tiang yang melintang berdekatan dengan tonggak tua dan ada lagi tiang yang disebut dengan tiang dalam, tiang temban, tiang dapur, tiang tepi, tonggak gantung yang kesemuanya adalah tiang-tiang yang membentuk kerangka Rumah Gadang menjadi empat persegi panjang dengan dibatasi oleh tiang-tiang pada garis tengah rumah. (Roseri Rosdy Putri ;1990; 57)
Tiang Rumah Gadang berbentuk dasar bulat yang dibuat bersegi-segi. Tidak ada tiang rumah Gadang yang terbuat dari kayu bulat. Tiang merupakan bagian penting dari bangunan. Segi-segi dari tiang tidak sama besarnya. Tiang yang besar terdapat pada tengah bangunan. Tiang yang berada di tengah bangunan dibuat bersegi 8 sedangkan yang terletak di samping bersegi 5. Tiang-tiang ini banyak fungsinya, yang mana tiap nama menunjukkan fungsinya yaitu tiang: tepi, temban, tengah, dalam panjang, salek, dapur, yang kesemuanya diberi ukiran yang sesuai menurut fungsinya (Syamsidar, 1991).
Kayu yang dipilih dalam pembangunan Rumah Gadang adalah kayu yang terbaik. Terutama yang akan digunakan sebagai tiang. Hal inidisebabkan karena tiang-tiang pada banguan Rumah Gadang tidak ditanam ke dalam tanah sehingga diperlukan kayu yang kuat. Kayu tersebut dipotong dengan besaran yang berbeda tergantung nantinya akan dijadikan tiang yang mana. Ada beberapa macam tiang yaitu tuo, tepi, temban, tengah, dalam, panjang, salek, dan dapur. Tiang-tiang tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda karena memiliki fungsi yang berbeda. Tonggak tuo berada di tengah bangunan memiliki segi 8 dan ukuran yang paling besar. Hal ini disebabkan karena tiang ini merupakan tiang utama yang menyangga bangunan Rumah Gadang dan menghubungkan antara tiang-tiang yang lain. Tiang-tiang yang lain memiliki segi 5 dengan besaran yang lebih kecil karena fungsinya bukan sebagai kolom struktur. Dari susunan tiang-tiang tersebut dapat disimpulkan bahwa bangunan Rumah Gadang memiliki jenis struktur/kerangka batang.
Mesjid yang ada di Minangkabau seluruhnya mempergunakan tiang sebagai penyanggah utama, mesjid raya lima kaum memiliki tiang 99 buah, mesjid Ganting Padang di topang oleh 25 tiang, demikian juga dengan mesjid-mesjid kuno yang lainnya. Tidak berbeda dengan tiang yang ada di rumah gadang, mesjid juga mengenal tonggak tuo (dimesjid dikenal dengan tiang macu). Keberadaan tiang macu memiliki makna suci bagi bangunan mesjid, terlihat dengan bagaimana masyarakat memperlakukan tiang tersebut. Tiang macu mesjid Bingkudu diambil dari rimbo Bayur Tanah datar, untuk membawa tiang macu dari rimbo tersebut memakan waktu berbulan-bulan, demikian juga dengan tiang mesjid lima yang diambil dari Gunung Merapi dengan memakan waktu yang begitu lama.
Dilihat dari prosesi pencarian tiang yang ada di rumah gadang dan tiang yang ada di mesjid kuno di Minangkabau memiliki kemiripan serta bagaimana memperlakukan tonggak di rumah gadang dan tiang macu di mesjid kuno juga sama.
3. Kecuraman atap
Atap rumah gadang, biasa dikenal dengan sebutan gonjong, menjulang runcing ke atas. Bentuk atap yang dibangun curam ini adalah karena geografis wilayah tropis yang penghujan. Dengan demikian air hujan yang turun tidak tertahan di atap tetapi langsung jatuh ketanah. Selain itu juga untuk menghindari kebocoran. (Roseri Rosdy Putri ;1990)
Demikian juga dengan mesjid-mesjid kuno di Minangkabau memiliki atap tumpang 3 sampai 5. Jika diperhatikan, bentuk atap tumpang pada bangunan mesjid Kuno di Indonesia, bentuk tumpangnya tidaklah tinggi dan curam. Misalnya seperti yang terlihat pada mesjid Agung Cirebon, Panjunan, Angke, Marunda, Jepara dan ternate yang betarap tumpang tiga. Pada mesjid-mesjid kuno di Minangkabau, bentuk atap tumpang teraasnya justru menjulang tinggi ke atas. Hal in dapat kita lihat pada mesjid Taluk, Kubu Kerambil, Tuo Taram yang beratap tumpang 3 dan mesjid limo kaum, Padang Gantiang yang beratap lima.Kecuraman atap ini memiliki kesamaan dengan kecuraman yang terdapat pada gonjong bangunan rumah gadang. Sehingga dapat dikatakan bahwa atap bangunan mesjid-mesjid kuno di Minangkabau kemungkinan mendapat pengaruh dari gonjong bangunan rumah gadang dengan alasan pembuatan yang sama. Bahkan atap tumpang tiga tingkatan masyarakat yang disebut “urang nan tigo jinih”, yaitu penggulu, imam khatib dan urang banya (Anonim, 1888: 314-315)
4. Ragam Hias
Salah satu hal yang sangat penting pada ukiran rumah adat Minangkabau adalah nama ukirannya. Nama ukiran dapat dilihat dari kaitan ukiran dengan kehidupan masyarakat. Setiap nama ukiran melambangkan suatu gejala hidup dalam masyarakat yang menjadi pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan masyarakat Minangkabau. Penggambaran kehidupan gejala alam dapat dilihat dari nama ukiran yang berasal dari nama tumbuh-tumbuhan dan nama binatang. Sedangkan penggambaran nilai-nilai kehidupan manusia dalam masyarakat dapat dilihat dari nama ukiran yang berasal dari kata-kata adat.
Rumah gadang terkenal kaya akan ukiran kayunya. Seni ukir Minangkabau berorientasi kepada aalam. Seluruh motif ukuran yang diciptakan dikembalikan kepada sifat-sifat dan bentuk-bentuk alam. Ukiran yang terdapat pada bangunan rumah gadang merupakan sumber dari segala perkembangan motif ukiran yang dikenal oleh masyarakat sekarang.
Ragam hias yang ada di rumah gadang juga dipergunakan sebagai rahgama hias di mesjid-mesjid kuno di Minangkabau. Mesjid Asasi Padangpanjang merupakan mesjid yang mirip dengan rumah gadang, karena seluruh badan mesjid dipenuhi oleh ragam hias yang ada di rumah gadang, hal ini menandakan bahwa pengaruh rumah gadang terhadap mesjid ini sangat dominan, demikian juga dengan mesjid-mesjid kuno yang lainnya menghadirkan ragam hias flora dan fauna yang ada driumah gadang sebagai ukiran dinding mesjid.

V. Penutup
Arsitektur Rumah gadang merupakan bangunan yang terlebih dahulu hadir dalam kehidupan budaya materi masyarakat Minangkabau, maka arsitektur sesudahya akan dipengaruhi oleh arsitektur yang terlebih dahulu hadir. Mesjid kuno hadir ditengah masyarakat yang telah memiliki kensep arsitektur bangunan tradisonal, maka sebuah kelaziman kalau arsitektur mesjid dipengaruhi oleh arsitektur rumah gadang.
Hal ini bisa dilihat dari kesamaan lantainya yang berkolong, bangunannya yang ditopang oleh banyak tiang, kecuraman, serta ragam hias yang dipergunakan untuk menghais dindind rumah gadang dan mesjid kuno.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar