Sabtu, 02 Oktober 2010

Indrapura dan Brunei Darussalam

Oleh : Drs. Yulizal Yunus, M.Si (Dosen Sastra Arab Jur. BSA FIBA)

Wilayah penyebaran (tempat merantau) keturunan raja-raja Indarpura cukup luas. Di rantau (wilayah penyebaran) mereka itu, meski harus memperlihatkan nilai ”di mano langik dijujung di situ bumi dipijak”, juga tidak bisa dihindari perluasan subkultur. Mereka menyebar dilatari berbagai jaringan di antaranya (1) jaringan ekonomi perdagangan, (2) hubungan raa-raja, (3) hubungan ulama dalam penyebaran agama Islam.


Dari cerita rakyat Indrapura, misalnya saudara ibu Mandeh Rubiyah I menyebar ke luar/ dalam nagari. Dt. Ketumanggungan pernah di Siam, Puti Ambun Suri ke Malaka dan punya keturuan di sana. Ada pula yang ke Brunei Darussalam (1625), disebut di Brunei nama Bandaro Harun (Sultan Harun Syah di Indrapura). Kejelasannya sedang dicari dalam kabut sejarah yang hilang. Orang Brunei pun ingin mencari nenek mereka di Indrapura ini. Berikut ini diperlihatkan beberapa contoh garis keturunan asal Indrapura di rantau.

Ada raja Indrapura yang merantau ke Brunei Darussalam (1625). Disebut di Brunei nama Bandaro Harun (Sultan Harun Syah di Indrapura). Sayang belum banyak refeensi yang menjelaskan. Pernah dilansir di mass media, namun diboncengi pula oleh politik budaya oleh orang yang berkepentingan sesaat. Sungguh pun demikian, masih terbuka jalan, misalnya kalau orang Brunei ingin mencari nenek mereka di Indrapura juga di kerajaan kerabat Pagaruyung dan AlamSurambi Sungai Pagu, dan sebaliknya.

Hubungan bersaudara kandung yang bertali darah (antara Brunei – Indrapura) ini yang pernah menjadi wacana publik dan dilansir media massa di Indonesia tahun 1990-han. Pertalian darah dua nagari dan bangsa malayu serumpun ini seperti telah menjadi mitos dalam kumunitas rakyat di Minangkabau khususnya di Indrapura dan Brunei. Fenomena ini pernah (1990) dikonstatir Menteri Pedidikan Brunei yang Mulia Pehin Orang Kaya Laila Wijaya Dato Seri Setia Haji Awang Abdul Aziz bin Bengawan Pehin Udana Khatib Dato Seri Paduka Awang Haji Umar.

Di mana titik sambung pertalian darah Brunei dan Indrapura itu?, sudah dapat ditangkap dari wacana publik tahun 1990-han itu. Bermula dari nama Harun salah seorang keturunan raja itu. Dalam silsilah Brunei terdapat nama Harun (Bandaro Harun dari Minangkabau). Dalam silsilah Indrapura terdapat pula nama Harun (Sultan Harun Syah Sultan Bengawan). Beberapa tokoh Pagaruyung menyebut, dua nama Harun itu orangnya itu juga (Syarifuddin Arifin, 1990).

Bandaro Harun ibunya belum dapat dikenali Brunei, tetapi ayahnya di Tumasik (Singapura) pernah kawin dengan gadis Belanda. Disebut Harun merantau ke Brunei tahun 1625, ia menetap di nagari yang sekarang aman makmur di bawah naungan Yang Mulia Seri Paduka Yang DiPertuan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Disebut pula nama Dato Godan (m) dalam silsilah Brunei. Dato Godan ialah anak dari Bandaro Harun. Diberitakan juga Dato Godan (Datuk Gudam ?) pernah menikah dengan seorang putri keluarga istana kesultanan bernama Putri Kahi dan melahirkan 4 orang putra. Keempatnya pernah disebut menjadi orang terkemuka seperti menjabat Menteri di Negara Brunei, kata Mentri Pendidikan Brunei Abdul Aziz, tahun 1990-han. Kalau dibuat diagram keturunannya versi Brunei ini sbb.:

Moyang Mencari Bako

(Puti Lelo Ambun Ratna Gumala di Indrapura?)

Bandaro Harun (Minangkabau, Sultan Harun Syah)

Dato Godan + Putri Kahi (keluarga kerajaan)


Putra-1 (?) Putra-2 (?) Putra-3 (?) Putra-4 (?)

Sultan Harun Syah Sultan Bengawan (Sultan Bandaro Harun Syah Sultan Bengawan) dalam silsilah Indrapura tidak disebut lagi keturunannya kebawah. Artinya terputus, kerena ia merantau ke Brunei tahun 1625, lewat Singapura dan Sarawak. Dalam silsilah Indrapura itu disebut orang tua dan nenek dari Sultan Harun Syah. Ibunya Putri Lelo Ambun Ratna Gumala (Lenggogeni Dewi Alamsyah) raja perempuan Kerajaan Indrapura. Lenggogeni Dewi Alamsyah adalah anak ke-4 dari Siah Bintang Purnama juga raja Indrapura (Nurhasan Dt. Marajo,1990). Ayah dari Sultan Harun Syah ini pernah menjadi Raja Aceh (nama belum diketahui).

Informasi moyang Sultan Harun Syah ini terdapat dalam silsilah keturunan kesultanan Indrapura seperti tadi disebut sepenjang 5,6 m dengan lebar 60 cm yang sekarang dipegang Sutan Boerhanoeddin Sutan Alamsyah Firmansyah (anak dari putri Gindan Dewi Alam, salah seorang pewaris keturunan terakhir Kesultanan Indrapura) dan pernah (1990) dikuasakan memegang ranji itu kepada H. Kamaroeddin Dt. Machudum pimilik Hotel Machudum Padang. Kalau dibuat diagram singkat versi Indrapura ini sbb.:

Siah Bintang Purnama


(4) (3) (2) (1)

Marah Ali ? Puti Rekna Lelo Ambun Ratna Gumala

Akbar Sultan Bangun + raja di Aceh

Muhd.syah

Harun Syah Sultan Bengawan

(merantau dari Indrapura ke Brunei

? lewat Singapura dan Sarawak, 1625,

ingin dicari kelanjutan keturunannya

di Barunei)

Indrapura Mencari

Anak pisang…

(Dato Godan ?)

Gindan Dewi Alam
Sutan Boerhanoeddin Sutan Alamsyah Firman Syah

Jadi Keturunan Harun Syah (Bandaro Harun) terputus di Indrapura dan di samping lagi di Brunei, sejak ia merantau di nagari malayu yang makmur itu.

Terlepas dari valid atau tidaknya apa yang telah menjadi wacana publik tadi tentang Harun yang menjadi titik sambung hubungan tali darah Indrapura dan Brunei itu, yang jelas masalahnya perlu penelitian mendalam. Kami yakin baik Brunei maupun Indrapura, pasti tidak akan mau begitu saja mendengar dendang teller history (tukang cerita sejarah). Setidaknya perasaan ini pernah (1990-han) dirasakan pakar sejarah Brunei yakni Pehin Orang Kaya Amar Diraja Dato Seri Utama (DR) Haji Muhammad Djamil Al-Sufri dari Ka. Pejabat Pusat Sejarah Brunei. Focus yang mesti ditemukan adalah “silsilah” Indrapura – Brunei dan diskripsi tentang tokoh yang menjadi titik sambung tali darah yang bernama Harun itu. Karenanya kami memberi peluang bagi pakar sejarah baik di Sumatera Barat (Minangkabau/ Indrapura) dan Brunei, untuk menelitinya lebih lanjut.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar