Sabtu, 11 Februari 2012

Dimensi Keislaman Perjuangan Syafruddin Prawiranegara

Oleh : Prof. Dr. H. Saifullah SA., MA (Dosen FIBA IAIN Padang)

Syafruddin Prawiranegara (selanjutnya hanya disebut Syafruddin saja), dilahirkan pada tanggal 28 Februari 1911 di Anyar Kidul, Serang, Banten. Beliau anak kedua dari pasangan Raden Arsyad Prawiraatmadja dan Nur’aini, yang masih keturunan Pagaruyung, Minangkabau. Banten yang merupakan daerah kelahiran Syafruddin merupakan wilayah yang terkenal karena keislamannya. Sebelum ditaklukkan Belanda, Banten merupakan kesultanan yang dipimpin oleh Sultan-sultan, yang berposisi sebagai pimpinan politik sekaligus pembela dan penegak keagamaan. Selanjutnya Minangkabau, sebagai daerah asal ibunya memiliki kultur yang terbuka, egaliter namun kuat dalam memegang prinsip. Gabungan dua kultur dari dua wilayah budaya tersebut antara lain yang menjadikan Syafruddin memiliki watak yang populis, demokratis dan kuat dalam bersikap. Semasa kecil, kehidupan keluarga yang merupakan keluarga yang taat pada agama, ternyata sangat kuat dalam membentuk kepribadian dan sikapnya dalam beragama


A. Biografi Kejuangan

Pendidikan formalnya berawal di ELS Serang, tetapi menamatkannya di Ngawi, karena ayahnya dipindahkan ke Ngawi. Kemudian berturut-turut MULO di Madiun dan AMS di Bandung (1931). Sebenarnya Syafruddin ingin masuk Fakultas Sastera, tapi karena waktu itu belum ada di Indonesia dan harus ke Negeri Belanda, akhirnya beliau melanjutkan pendidikannya ke RHS (Rechts High School/ Sekolah Tinggi Hukum), dan tamat 1939 .
Ketika menjadi mahasiswa beliau sudah aktif dalam organisasi USI (Unitas Studiosorum Indonesiensis), yang merupakan awal pengenalannya dengan dunia social politik. Pada masa remaja ini Sjafruddin kecanduan membaca. Buku apa saja, mulai dari buku sastera, politik, social kemasyarakatan dan masalah keislaman, bahkan buku-buku Komunis seperti Das Kapital dan manifesto Komunis karangan Karl Marx dilahap habis.

Setelah mendapatkan gelar Mr, kariernya bermula dari penyiar dan redaktur penerbit siaran radio swasta, pegawai Departemen Keuangan dan ditempatkan di Kantor Pajak Kediri. Pada masa pendudukan Jepang beliau diangkat menjadi Kepala Kantor Pajak Kediri, kemudian dipindahkan menjadi Kepala Kantor Pajak Bandung.

Sewaktu bekerja di Kediri ini Sjafruddin melangsungkan pernikahan dengan Tengku Halimah yang sehari-hari dipanggil dengan Lily, anak dari Radja Sahaboeddin dan Siti Lodaya, pada tanggal 31 Janauari 1941. Radja Sahaboeddin ini ternyata juga berasal dari Minangkabau, dan bahkan masih ada hubungan jauh dengan ibu kandungnya Nur’aini.

Menyaksikan penderitaan rakyat pada masa pendudukan Jepang, membawa Syafruddin sering berdiskusi dengan teman-teman bekas aktifis USI, yang belakangan banyak membantu St. Syahrir dalam gerakan bawah tanah menentang Jepang . Kondisi dan berbagai peristiwa di awal Agustus 1945 yang bergerak begitu cepat, mendekatkan St. Syahrir dan Syafruddin kedalam satu garis perjuangan, sekalipun akhirnya berbeda partai.
Setelah Republik Indonesia berdiri, dan dibentuk KNIP dan KNI di daerah-daerah, maka Syafruddin diangkat menjadi Sekretaris KNI daerah Kresidenan Priangan. Pada ketika St. Syahrir diangkat menjadi Ketua Badan Pekerja KNIP, maka Syafruddin diminta menjadi salah seorang dari 15 orang anggota Badan pekerja KNIP dan selanjutnya Syafruddin pindah ke Jakarta .

Segera setelah Maklumat Wakil Presiden nomor X tanggal 3 Nopember 1945, tentang perubahan pemerintahan dari presidential menjadi parlementer dan pemerintah menghimbau agar dibentuk partai-partai, maka Sayfruddin masuk Partai Masyumi.

Ada beberapa alasan Syafruddin memilih masuk Masyumi. Beliau datang dari lingkungan keluarga priyayi Banten yang taat dalam beragama. Ayah beliau Raden Arsyad pernah aktif dalam Sarekat Islam cabang Serang, dan setelah pindah ke Ngawi, terrpilih menjadi anggota Provinciale Raad (Dewan Propinsi) Jawa Timur. Jadi kedekatannya dengan Islam sudah ada sejak lama, dan kemudian bermuara pada pilihannya pada partai Masyumi .

Namun begitu, ternyata hubungan baiknya dengan St. Syahrir tidak terganggu dengan perbedaan aliran politik yang dianut. Pada waktu St. Syahrir membentuk Kabinet, Syafruddin diminta menyertai Kabinet, sehingga pada waktu Kabinet Syahrir II, Syafruddin menjadi Menteri Muda Keuangan, dan pada waktu Kabinet Syahrir III, Syafruddin menjadi Menteri Keuangan. Adalah pada waktu Syafruddin menjadi Menteri Keuangan, ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) lahir untuk pertama kali.

Pada periode Kabinet Hatta, Syafruddin masuk menjadi Menteri Kemakmuran. Pada masa ini berlakulah aksi polisionel Belanda yang kedua dengan menduduki Yogyakarta dan menangkap para pemimpin Indonesia, termasuk Sukarno, Hatta dan beberapa orang menteri lainnya.

Pada waktu itu Syafruddin sedang ditugaskan oleh Wapres Bung Hatta di Bukittinggi untuk menyelesaikan masalah keuangan Sumatera . Sebenarnya, sebelum ditangkap Presiden dan Wakil Presiden sempat mengirim telegram kepada Syafruddin yang memberi kuasa untuk membentuk pemerintahan darurat. Meskipun ternyata telegram itu tidak pernah sampai pada Syafruddin, namun Syafruddin dengan inayah Allah dan initiative sendiri membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 19 Desember 1948 .

Dari hutan-hutan di Sumatera, beliau melakukan hubungan dengan para pemimpin militer seperti Jenderal Sudirman, Kolonel TB. Simatupang, Kolonel A.H. Nasution di Jawa dan dengan para pejabat lain di Luar Negeri, seperti Mr.A.A. Maramis di New Delhi. Melalui hubungan radio pemerintahan darurat pimpinan Syafruddin berjalan dengan efektif, menyampaikan informasi dan instruksi, menerima berita dan masukan, sehingga tidak terjadi kekosongan kekuasaan pemerintahan dalam tubuh Republik Indonesia.

Mengenai hal tersebut Amrin Imran dkk dalam buku PDRI dalam Perang dan Damai, menyatakan :

“Yogyakarta jatuh. Akan tetapi nadi Republik tetap berdenyut. Pusat nadi itu pindah ke pedalaman Sumatera Barat dalam wujud PDRI dipimpin Sjafruddin Prawiranegara. Dari sana denyut itu menjalar ke seluruh wilayah RI bahkan ke perwakilan RI di luar negeri, termasuk perwakilan RI di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), L.N. Palar. Denyut itu juga menggetarkan tubuh Angkatan Perang di bawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman yang melalui radiogram menyatakan mendukung dan berdiri di belakang PDRI pimpinan Sjafruddin Prawiranegara”

Akhirnya, karena desakan dunia internasional, Belanda terpaksa mengajak berunding dengan para pemimpin Indonesia yang sedang ditahan di Pulau Bangka. Setelah beberapa perundingan, antaranya Perundingan Roem-Royen membawa kedua bangsa yang berperang itu ke meja perundingan KMB di Den Haag yang berakhir dengan penyerahan kedaulatan kepada Pemerintahan Republik Indonesia (RIS) pada akhir Desember 1949. Namun sebelum KMB dilangsungkan agar tidak terjadi dualisme kekuasaan Syafruddin menyerahkan kembali mandat pembentukan PDRI kepada Presiden Sukarno.

Dalam kabinet pertama RIS, yang dipimpin oleh Hatta, Syafruddin ditunjuk sebagai Menteri Keuangan. Pada bulan Maret 1950, dalam posisinya sebagai Menteri Keuangan, Syafruddin melakukan suatu tindakan yang kemudian terkenal dengan “Gunting Syafruddin”, yaitu suatu kebijakan yang memotong menjadi dua uang kertas Rp 5 ke atas, untuk mengurangi inflasi dan mengisi kekosongan kas pemerintah .
Pada Agustus 1950, dengan didahului oleh “Mosi Intergral M. Natsir”, maka berakhirlah pemerintahan Negara federal (RIS) berubah menjadi pemerintahan Negara kesatuan (NKRI), dan pemerintah berubah dari sistem parlementer menjadi presidential. Presiden Sukarno menunjuk M.Natsir membentuk kabinet yang juga memasukkan Syafruddin sebagai Menteri Keuangan. Kemudian pada waktu pemerintahan Sukiman, Syafruddin diminta menjadi Presiden De Javasche Bank yang terakhir sebelum dilikuidasi dan sebagai gantinya dibentuk Bank Indonesia dengan Syafruddin pula sebagai Gubernurnya yang pertama. Dengan demikian maka Syafruddin menjadi Presiden De Javasche Bank yang terakhir dan Gubernur Bank Indonesia yang pertama. Bahkan kelak jabatan Syafruddin diperpanjang untuk masa bakti yang kedua .

Tapi masa jabatan Syafruddin yang kedua ternyata tidak sampai selesai, karena yang bersangkutan tergerak hatinya untuk mendukung aspirasi daerah yang diprakarsai oleh beberapa orang perwira militer di Sumatera, yang merasa ditinggalkan atau dianak tirikan oleh pemerintahan pusat di Jakarta. Terdapat beberapa alasan yang membawa Syafruddin untuk bersedia mendengarkan dan mendukung aspirasi daerah waktu itu : Presiden dengan “Konsepsi Presiden”-nya (21 Februari 1957) telah menunjuk dirinya sendiri menjadi formatur cabinet, presiden mengajak PKI masuk kabinet Gotong Royong, pemerintahan pusat mengabaikan pembangunan wilayah dan kesejahteraan rakyat daerah.

Syafruddin yang akhirnya menyertai PRRI, berusaha mendesak Sukarno supaya surut dari langkah-langkahnya yang menyeleweng dari Konstitusi, ternyata mendapat reaksi keras, yakni menganggap PRRI sebagai pemberontakan yang harus ditumpas habis . Setelah berakhirnya PRRI pada 1961, dan pemberian amnesty umum bagi sisa-sisa PRRI, justru beberapa tokoh – baik yang terlibat PRRI maupun yang tetap ada di Jakarta tapi tidak menyalahkan PRRI -- dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan. Tokoh-tokoh tersebut antara lain : Syafruddin, Natsir, St. Syahrir, Mohammad Roem, E.Z. Muttaqien, HAMKA dan lain-lain. Seluruhnya baru dibebaskan setelah munculnya Orde baru (1966).

Selama dalam tahanan, Syafruddin aktif memberikan khutbah. Sebahagian dari khutbahnya itu kemudian diterbitkan berjudul Renungan dari Penjara. Ketika ada upaya dari kawan-kawannya bekas pimpinan Masyumi untuk merehabilitasi Masyumi gagal dan akhirnya membentuk partai baru Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) Syafruddin tidak mau ikut, tapi mencoba mencari saluran lain dengan membentuk Himpunan Usahawan Muslim Indonesia (HUSAMI) yang antara lain bertujuan meningkatkan kemampuan ekonomi umat pada umumnya dan penguasaha Muslim khususnya. Usaha-usaha yang cukup berhasil adalah memberangkatkan jemaah haji Indonesia secara lebih efisien dan murah, namun sayang usaha mulia ini dilarang oleh pemerintah. Mungkin pemerintah tidak siap untuk melepaskan monopoli pengurusan haji (yang menghasilkan financial) dan bersaing secara fair.
Ketika sejumlah mubaligh Indonesia membentuk organisasi Korps Muballigh Indonesia (KMI) di Jakarta pada 1983, mereka mendesak agar Syafruddin bersedia untuk menjadi Ketua Umum organisasi tersebut. Pada mulanya Syafruddin tidak bersedia, tapi akhirnya karena panggilan hati nurani dan mengingat berbagai masalah yang menyangkut dakwah di tanah air, Syafruddin bersedia menjadi Ketua Umum dengan beberapa catatan, a.l. dakwah harus dengan mematuhi peraturan yang ada, tidak boleh dengan kekerasan dan menyebabkan rakyat gelisah dst. Begitupun, Syafruddin yang cukup toleran itu sering tidak diizinkan memberikan ceramah atau khutbah di beberapa tempat.

Sjafruddin tidak keberatan untuk menyatakan “ya” untuk hal yang memang seyogianya harus didukung, tetapi lebih tidak keberatan lagi untuk menyebut” tidak” untuk hal yang memang harus ditolak. Berpegang pada prinsip itulah, pada usianya yang ke-69, Sjafruddin bersama 49 orang tokoh lainnya menandatangani Pernyataan Keprihatinan yang kemudian popular dengan “Petisi 50”.

Pernyataan Keprihatinan itu antara lain berisi : “Kekecewaan rakyat yang sedalam-dalamnya atas ucapan-ucapan Presiden Soeharto dalam pidatonya di muka Rapim ABRI di Pekanbaru 27 Maret 1980 dan Pidato HUT Kopassus di Cijantung 16 April 1980”.
Pandangan kritis itu terutama sebagai upaya penyadaran terhadap kehidupan berkonstitusi, khususnya mengenai penegakan hukum dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia.

Ketika terjadi insiden berdarah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 12 September 1984, Sjafruddin sekali lagi menunjukkan keperdulian beresiko dengan membentuk Panitia Kecil yang diketuai oleh Letjen TNI (Pur) H.R. Dharsono, dengan anggota Sjafruddin Prawiranegara, Slamet Bratanata, Anwar Harjono dan A.M. Fatwa, untuk mengumpulkan bahan secara mendalam disekitar insiden berdarah Tanjung Priok. Hasil kerja Panitia Kecil ini adalah “Lembaran Putih Peristiwa 12 September 1984 di Tanjung Priok” , yang ditandatangani oleh 22 orang tokoh. Seperti kita tahu, tiga orang tokoh Panitia Kecil/Penandatangan Lembaran Putih Tanjung Priok, yakni HR. Dharsono, HM. Sanusi dan AM. Fatwa ditangkap, diadili dan dihukum penjara masing-masing 8, 19 dan 18 tahun. Adalah datangnya era reformasi, yang menyebabkan ketiganya dibebaskan dari hukuman dan dipulihkan hak-haknya oleh Presiden B.J. Habibi.


B. Menyimak Dimensi Keislaman dari Buku/karangan/tulisan Syafruddin

Terdapat setidak-tidaknya 86 buah tulisan/karangan Syafruddin yang dapat didokumentasikan mulai sejak tahun 1946 s/d 1985, dalam berbagai bidang, untuk berbagai keperluan . Beberapa tulisan tersebut ada yang berbentuk buku, makalah, hasil editing bahan ceramah. Umumnya tulisan beliau berupa ceramah atau khutbah (lebaran dan Jum’at), karena memang banyak yang ditulis untuk memenuhi permintaan ceramah. Dengan memperhatikan 86 tulisan tersebut, terdapat perimbangan antara : Ekonomi/Keuangan Syari’ah, masalah khusus keagamaan dan politik.

Walaupun tidak mungkin untuk memilah tulisan-tulisannya, mana yang berdimensi keislaman dan mana yang tidak, sebab ternyata hampir seluruh karangan beliau sebenarnya berdimensi keislaman. Namun untuk memudahkan penganalisaan, kami mengarahkan pembahasan hanya pada buku Islam Sebagai Pedoman Hidup, yang merupakan kumpulan karangan terpilih jilid I, yang disunting oleh Ajip Rosidi dan diterbitkan oleh Yayasan Idayu, Jakarta, 1986. Adapun judul-judul yang terdapat dalam kumpulan karangan tersebut :

1. Islam dalam Pergolakan Dunia,
2. Akal dan Kepercayaan.
3. Israk dan Mi’raj Ditinjau dari Sudut Watenschap,
4. Membangun Islam secara positif,
5. Peranan Agama dan Moral dalam Pembangunan Masyarakat dan Ekonomi Indonesia.
6. Israk dan Mi’raj Ditinjau dari sudut Falsafah, Psikologi dan Ilmu Alam.
7. Al-Qur’an Bukti Kebenaran Nabi Muhammad SAW.
8. Masa Depan Islam.
9. Islam Dilihat dengan Kacamata Modern.
10. Sejarah Sebagai Pedoman untuk Membangun Masa Depan.
11. Peranan Islam Dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Pembangunan.
12. Memetik Pelajaran dari Iqbal.

Karena kebanyakan tulisan tersebut merupakan jawaban dari berbagai masalah aktual yang muncul, dan karena beliau merupakan sosok yang tidak suka menyembunyikan pendiriannya, kalau itu memang diyakininya sebagai benar, maka didalam tulisan Syafruddin kita sering menemukan semacam imbauan atau peringatan yang tidak semua orang mampu dan mau melakukannya, dan tidak semua orang pula mau dan mampu mendengarkannya.

Dalam tulisan-tulisan beliau, semua masalah dikemukakan dengan spektrum luas dan mendalam. Pandangan-pandangan beliau disampaikan secara filosofis, bernuansa sejarah dan tidak emosional, sekalipun pada lawan-lawan politiknya.
Karangan-karangan Syafruddin memuat informasi tangan pertama tentang berbagai hal yang bersangkut-paut dengan kehidupan bangsa dan Negara kita, dengan sejarah perjuangan kemerdekaan, dengan penegakan demokrasi. Membaca kembali karangan-karangan Syafruddin berarti menghayati kembali sejarah bangsa dan Negara kita sejak awal kelahirannya, tetapi kemudian lenyap begitu saja tanpa penyelesaian yang tuntas.
Kalau diteliti isi dari karangan-karangan diatas, maka dapat ditarik benang merah antara satu dengan lainnya, yakni manusia tidak dapat mengatasi masalah kehidupan nya hanya semata dengan mengandalkan akal/rasio semata, tapi harus dilengkapi dengan “keimanan” yang teguh pada kuasa Allah. Dengan Keimanan penuh Abu Bakar percaya pada Israk Mi’raj, hal yang sama juga diamalkan Sjafruddin.

Menurut Deliar Noer, pengalaman batin Sjafruddin yang sangat kuat tingkat keyakinannya, lumrah terjadi pada seorang yang dibesarkan dalam pendidikan barat, dan sangat minim pendidikan dan pengalaman keagamaannya. Penghayatan dan pengamalan keagamaan yang sedikit radikal itu merupakan cara untuk menjemput kekurangan dan ketertinggalannya.


C. Menyimak Dimensi Keislaman dari sepak-terjang Perjuangan

Pengalaman demi pengalaman hidup yang dialami Sjafruddin secara beruntun sangat menyentuh hatinya dan nalarnya : kematian ayahnya secara tiba-tiba dalam tahun 1939 ketika sedang berpidato, kejatuhan Belanda yang juga secara tiba-tiba baik di Eropah atau di Indonesia, penderitaan rakyat yang tidak terperikan zaman pendudukan Jepang. Proklamasi yang terjadi dalam puasa Ramadan dan tidak mungkin terjadi kal;au tidak ada bantuan “kuasa yang diatas”. Kawan-kawannya sesama USI yang kemudian terkenal sebagai kelompok Sosialis namun memberi kesempatan baginya untuk berperan dalam politik, bermula sejak Badan Pekerja KNIP, kemudian dalam berbagai kabinet diantaranya yang dipimpin Syahrir, yang notabene tidak didukung partainya.

Dalam setiap fase dalam kehidupannya, dari masa muda, mempunyai jabatan tinggi (malah pernah tertinggi dalam tahun 1948-1949), jabatan empuk seperti Presiden De Javasche Bank dan Gubernur Bank Indonesia, ia bagai tak berhenti membuat renungan. Ia malah dengan mudah serta rela meninggalkan jabatan-jabatannya bila keyakinannya memanggil.
Kita perlu menggaris bawahi kembali proses batin ketika ia memasuki partai Islam Masyumi. Ia berusaha mendasarkan sikap, tingkah laku dan pandangannya pada ajaran yang dibawa Rasulullah SAW. Ia melihat usahanya dalam mendirikan PDRI sebagai cermin dari imannya kepada Allah, bahkan usahanya dalam menegakkan PRRI menentang rezim Orde Lama juga sebagai impressi keislamannya.

Dalam renungan yang ia tulis dalam buku Politik dan Revolusi kita, Sjafruddin secara sangat jelas menarik garis pemisah yang amat tegas antara Islam dan Komunis, dan menutupnya dengan kalimat “seorang yang mengaku Muslim seharusnya tidak menjadi anggota ataupun pengikut PKI”.
Bagaimana seorang Sjafruddin mengkolaborasikan pendekatan ilmiah dengan pendekatan imani, kelihatan dalam membahas system ekonomi yang paling sesuai dengan kebutuhan manusia secara personal dan komunal. Maka diujung pencahariannya muncul system ekonomi Islam yang merupakan gabungan pendekatan akademik dan pendekatan falsafah serta sejarah kehidupan manusia.

Yang agak controversial dari pandangan Sjafruddin tentang riba, adalah bahwa bunga bank yang diamalkan pada perbankan Indonesia bukanlah termasuk riba, karena bunganya disepakati kedua belah pihak (tidak sepihak), dan para pihak dapat mengelak dari transaksi tersebut (tidak terpaksa).

Bagi Sjafruddin tidak cukup hanya berislam dalam bentuk konsep, gagasan dan alam batin semata, tapi perlu diimplementasikan dalam bentuk konkrit dan nyata. Pendirian disampaikan dalam berbagai ceramah, diskusi dan khutbah-khutbah, tapi juga dijabarkan dalam bentuk berbagai usaha, seperti mendirikan Himpunan Usahawan Muslimin Indonesia (HUSAMI) dan Yayasan Dana Tabungan Haji dan Pembangunan (YDTHP) yang membantu Umat Islam dapat menunaikan ibadah haji secara mudah dan murah . Menurut perhitungan Sjafruddin, kebijakan pemerintah tahun 1969, yang memonopoli penyelenggaraan haji dengan harga yang mahal, termasuk kategori etatisme, yang tidak sejalan dengan falsafah Negara. Seharusnya penyelenggaraan haji dapat dilakukan oleh swasta, dan pemerintah bertugas mengawasi para penyelenggara swasta tersebut.

Keikut sertaanya dalam Petisi 50, atau Penyusun Lembaran Putih Tanjung Priok yang sudah dapat dipastikan mempunyai resiko sangat buruk baginya yang belum pulih dari status “pemberontakan” PRRI, adalah juga merupakan bagian dari implementasi “Katakanlah yang haq walaupun pahit”, ia merasa bersalah bila ia tidak bersuara, membiarkan segala yang tidak benar berjalan, padahal bukankah memberi ingat itu suatu kewajiban ?.
Seluruh pemikiran dan aktifitasnya, konsep/gagasan dan implementasinya serta resiko-resiko berat yang akan dijalaninya, tersimpul dalam kata kunci
” SYAFRUDDIN LEBIH TAKUT KEPADA ALLAH SWT,” seperti yang digunakan menjadi judul buku biografinya.


D. Kesimpulan dan Penutup

1. Mengenang Mr. Sjafruddin adalah mengenang tiga mutiara yang saat ini hamper hilang : (a). keberanian mengambil keputusan di saat kritis, yang dibuktikan dengan keberanian Sjafruddin mengambil initiative membentuk PDRI pada saat seluruh pimpinan Negara ditawan Belanda pada agresi II 19 Desember 1948. Walaupun pada awalnya Mr. Teuku Mohd. Hasan mempersoalkan segi yuridis gagasan Sjafruddin, karena tidak ada mandaat tertulis untuk pembentukan PDRI tersebut. Namun kekuatan dan rasa tanggung jawab Sjafruddin atas kelangsungan Negara bangsa lebih kuat ketimbang pertimbangan yuridis formal. (b). keutuhan kepribadian dan konsistensi pada pilihan, (c). kejujuran.

2. Seluruh pemikiran, gagasan dan ide Sjafruddin, serta implementasinya dalam bentuk berbagai kegiatan, aktifitas, pilihan-pilihan politik, keberanian mengambil keputusan, seluruhnya didasarkan pada kolaborasi amat sempurna dari pertimbangan rasional (yang didapatnya dalam pendidikan formal dan aneka bacaan) serta pertimbangan keagamaan (yang diterimanya dari keluarga, lingkungannya, serta kepercayaannya pada kuasa Allah, kasih sayang dan mukjizat Allah.

3. Akhirnya dari berbagai pengalaman, penderitaan, tekanan/intimidasi, kekalahan demi kekalahan, dia sampai pada kata kunci “Sjafruiddin lebih takut (hanya) pada Allah”, dan itu berarti selainnya tidak perlu ditakuti.






LAMPIRAN I



Lampiran II





DAFTAR PUSTAKA
Ajip Rosidi (Penyunting), Syafruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepoada Allah SWT, (Biografi), Pustaka Jaya, bekerjasama dengan Panitia Satu Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011), Jakarta, cetakan kedua, Februari 2011.
------------- (Penyunting), Sjafruddin Prawiranegara 75 Tahun Dalam Pandangan Tokoh-tokoh, Jakarta, 1986.
George McTurnan Kahin, Isael Hassan, Iwan Satyanegara Kamah dan Lukman Hakim, Sjafruddin Prawinegara Penyelamat Republik, Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam “YAPI” bekerjasama dengan Panitia Peringatan Satu Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011), Jakarta, 2011
Sjafruddin Prawiranegara, Kumpulan Karangan Terpilih Jilid I, Islam Sebagai Pedoman Hidup, (disunting oleh Ajip Rosidi), Inti Idayu Press, Jakarta, 1986.
------------------------------, Kumpulan Karangan Terpilih Jilid II, Ekonomi dan Keuangan : Makna Ekonomi Islam, (disunting oleh Ajip Rosidi), Inti Idayu Press, Jakarta, 1986.
------------------------------, Peranan Islam dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Pembangunan, Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam “YAPI”, bekerjasama dengan Panitia Peringatan Satu Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011), Jakarta, 2011.
--------------------------------, Aspirasi Islam dan Penyalurannya, Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam “YAPI” bekerjasama dengan Panitia Peringatan Satu Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011), Jakarta, cetakan kedua Februari 2011.
----------------------------------------, Sejarah sebagai Pedoman Untuk Membangun Masa Depan (Peranan Mu’jizat Dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia), Ceramah pada tanggal 30 Juli 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta, Yayasan Idayu, Jakarta, 1976.
Supardi Dwima Putra, Prinsip-prinsip Aqidah dalam Ekonomi Islam Menurut Syafruddin Prawiranegara, tesis S.2 (Magister), Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang, 2005.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar