Rabu, 06 April 2011

Timur Tengah : Semua Berawal dari Minyak

Oleh : Muhammad Ilham (Dosen Jur. SKI FIBA/Ketua PSIFA IAIN Padang)

Tunisia bermula, lanjut ke negeri Piramida, “angin revolusi” bergerak ke Libya, Bahrain, Yaman bahkan Maroko dan Aljazair. Oman yang diperintah Sultan Qabus-pun merasakan “angin” ini. Ada apa denganmu Timur Tengah ? Apa yang sedang terjadi di Timur Tengah ? Mengapa anak-anak muda di Negara-negara Arab tersebut bangkit dan melawan “orang tua” mereka ? Sebagaimana halnya hakikat sebuah revolusi, sebagaimana yang dikatakan Hannah Arendt – “sebuah revolusi itu sangat inspiratif, begitu mudah melenakan orang tanpa sempat orang memikirkan secara rasional implikasi logis yang mungkin harus diterimanya”.


Sehingga janganlah kita heran bila sebuah revolusi akan membuat implikasi besar, minimal keterkaguman terhadap geloranya. Lihatlah, semenjak Revolusi Islam Iran – “revolusi para Mullah” – Revolusi Jasmine Tunisia - Revolusi Sungai Nil, banyak merubah psikologi anak muda. Apa yang terjadi Tunisia dan Mesir serta negara-negara Arab sekarang ini, bisa secara live ditonton dan dihayati masyarakat dunia. Rasa empati “menjalar”. Apa yang membuat rasa empati ini menjalar ? – diluar ikhtiar media massa yang membentuk opini publik.

Untuk memahaminya, nampaknya kita tidak bisa melepaskan diri dari perspetif sejarah dan social politik. Kita nampaknya harus kembali ke zaman sesudah Perang Dunia Pertama. Perang ini telah mendegradasi pengaruh Imperium Ottoman (Turki Utsmany) nan fenomenal itu. Inggris kemudian muncul sebagai penguasa utama. Imperium Ottoman yang mulai lemah tidak bisa secara maksimal menjaga tanah-tanah taklukan mereka dari Istanbul hingga Rabat, Maroko di Afrika Utara. Banyak daerah taklukan ini luput dari “kawalan” Kekhalifahan Ottoman. Maroko jatuh ke tangan Spanyol, Libya masuk dalam genggaman Mussolini-Italia. Tunisia dan Aljazair menjadi taklukan Perancis, sedangkan Mesir dikuasai Inggris. Syiria dan Lebanon secara politik berada dibawah kekuasaan Perancis. Sejarah kemudian mencatat, Keluarga Saud ditabalkan oleh Inggris tahun 1932 di Semenanjung Arab. Irak dan negara Teluk dipecah-pecah untuk tujuan – pecah dan perintah. Inggris sebagai sebagai salah satu neagara colonial berpengaruh pada masanya, menjalankan praktek paling asali dari kolonialisme, mengadu domba satu negara Arab dengan yang lain. Kolonialisme, kata Noam Chomsky, merupakan hasil dari perkembangan kapitalisme. Pasar dan pemasaran merupakan kata kunci kolonialisme, sekaligus juga asumsi dasar dari kapitalisme. Kekuasaan imperialism dan kaum pemodal memerlukan bahan mentah dari tanah jajahan mereka, sekaligus menjadi konsumen dari produk yang telah dibuat. Hukum dan syarat ini tak lekang dan tak pernah berubah.

Tahun 1938, dunia Arab berubah. Minyak untuk kali pertama ditemukan di Saudi Arabia. Karena gula, semut-pun berdatangan. Penemuan minyak ini telah mengundang datangnya perusahaan-perusahaan minyak dari luar Arab. Bila Saudi Arabia adalah pucuknya, pasti dahannya banyak bercabang. Akhirnya, perusahaan-perusahaan minyak ini berlomba-lomba melakukan penggalian. Benarlah kiranya, dahan minyak yang pucuknya di Saudi Arabia ini ternyata banyak. “Emas hitam” kemudian dijumpai di negara-negara Teluk, Iran, Irak, Libya, Mesir dan Aljazair. Penemuan minyak ini membuat sistem ekonomi kapitalis berkembang pesat. Minyak telah menjadi bahan yang teramat strategis. Bahkan beberapa kajian sejarah mengetengahkan bahwa salah satu penyebab terjadinya Perang Dunia ke-2 meletus, berawal dari perebutan bahan bakar minyak ini. Jerman yang kalah pada perang Dunia pertama, tidak mau ketinggalan dalam upaya menaklukkan tanah Arab. Jerman tak memiliki sumur minyak karena itu, ekonomi Jerman tidak akan berkembang. Hitler kemudian kemudian mengambil keputusan untuk melancarkan peperangan. Konon, setelah perang pecah, Hitler berusaha merampas telaga-telaga minyak di negara-negara Arab yang dimiliki oleh Inggris. Perang bergejolak. Bahan bakar minyak inilah yang menjadi hukum dan syarat yang menjadikan suasana di Timur Tengah terus hangat dan menggelegak semenjak 60 tahun lalu hingga sekarang.

Setelah Perang Dunia ke-2 usai, ekonomi Inggris mengalami kemerosotan. Bak pendulumnya “siklus” Ibnu Khaldun, kekuasaan Inggris bak kekuasaan Ottoman dahulu. Beberapa daerah jajahan menuntut kemerdekaan. India, misalnya, yang merupakan ">tanah jajahan terkaya Inggris, merdeka tahun 1947. Di Semenanjung Malaya, Partai Komunis Malaya “bergejolak” terhadap Inggris. Di Kenya, Gerakan Mau Mau pada tahun 1952, juga mengangkat senjata melawan Inggris. Mensikapi kemerosotan kekuasaan politik sedemikian ini, tahun 1948 Inggris kemudian bekerjasama dengan Amerika Serikat – untuk mendirikan apa yang dinamakan dengan Negara Israel - di bumi Palestina. Israel sebenarnya telah ditanamkan ke dalam dunia Arab. Tujuan didirikannya negara Israel ini adalah untuk memastikan satu pangkalan militer yang tersusun rapi akan terus menerus eksis di Timur Tengah. Pangkalan militer ini bertujuan untuk menjaga dan mengawal sumur minyak. Israel bak kata Edward Said, akhirnya menjadi “perpanjangan tangan” Anglo-Amerika. Negara yang diproklamirkan Ben Gurion ini dipersenjatai penuh oleh Anglo-Amerika. Hari ini Israel dianggapsebagai Negara yang memiliki kekuatan militer terbesar dan tercanggih di Timur Tengah. Semua ini untuk memastikan negara-negara Arab produsen minyak tidak akan berani melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh Presiden Nasser – menasionalisasikan Terusan Suez pada tahun 1956 dan Raja Feisal - menutup eksport minyak pada tahun 1974. Dari strategi jangka panjang Anglo-Amerika ini, telah membuat semua negara Arab sebagai “tanah jajahan baru”. Negara-negara Arab ini menjadi pelayan Anglo-Amerika. Dalam masa yang sama Israel sebagai “hantu” akan terus menakut-nakuti negara-negara Arab ini. Maka akhirnya hukum jualbeli berlaku …… Apabila negara Arab takut maka tidak dapat tidak, negara Arab akan membeli senjata dari Inggris atau Amerika atau-pun Perancis.

Selama lebih kurang 50 tahun, strategi inilah yang dilakukan oleh kaum imperialis, setidaknya demikian yang pernah diutarakan oleh Noam Chomsky dan Edward Said. Minyak dan gas disedot dari “tanah” Arab, uangnya digunakan untuk beli senjata – walau sebenarnya pasti banyak juga dialokasikan untuk kepentingan rakyat mereka, tapi tetap pembelian senjata yang sangat tidak proporsional, memperkuat asumsi ini. Dalih mempertahankan diri dari Israel yang di-“hantu”-kan itu, pembelian senjata terus di-update. Bila kepentingan terjaga, maka mereka dimasukkan dalam kategori “kawan”. Lalu lihatlah, kala praktek demokrasi dan hak asasi Manusia tak berjalan bagus di negara-negara, Amerika Serikat dan Inggris tetap tidak ambil peduli, karena memang itu tadi …. Kepentingan mereka akan lebih terjaga dengan kondisi demikian, walau untuk kasus-kasus yang lain, seumpama Iran, Amerika Serikat dan Inggris akan berteriak lantang tentang praktek demokrasi, HAM dan nuklir. Padahal dibawah “ketiak” mereka, tiga persoalan ini terlihat sebesar “gajah”.

Lalu mengapa para rezim Arab ini tunduk dan takut ? Jawabannya simple. Pakar Timur Tengah LIPI, Riza Sihbudi, mengatakan bahwa mayoritas semua rezim di tanah Arab tersebut tidak memiliki otoritas dari rakyat. Dari Maghribi hingga ke negera-negara Teluk, para pemimpin, Sheikh dan Malikul Negara-negara ini dinaikkan ke atas tahta bukan karena dukungan mayoritas rakyat mereka, tapi lebih karena dukungan Anglo-Amerika. Saudi Arabia dan Yordania, misalnya, Inggris yang meletakkan “tahta” mereka. Memang betul ada beberapa negara, seperti Mesir, Irak atau Syria telah mengadakan Pemilihan Umum – tetapi semuanya sandiwara. Pemilu ataupun apalah namanya di bebeberapa negara teluk, lebih mirip dagelan. Itu bukan kata saya. Semua ilmuan politik yang intens pada kajian Timur Tengah mengatakan hal demikian."> Yang pasti, kontradiksi utama adalah diantara warga Arab dengan regim - regim Arab yang telah menjadi “perkakas” Anglo-Amerika plus Israel. Penentangan warga Arab ini juga bermakna bahwa mereka juga menentang Anglo-Amerika dan regim zionis Israel. Melawan Mubarak, Ben Ali, Bani Saud, Al-Makhtoum, Sultan Qabuus, sama seperti melawan pengaruh Anglo- Amerika dan zionis Isreal. Kita akan lihat satu kontradisi baru akan muncul. Pengaruh Anglo-Amerika akan memastikan regim zionis Israel selamat. Dan kekuasaan “imperium” ini juga akan memastikan aliran minyak tidak terputus, tetap “mengalir”. Tidakkah Irak diminati Bush hanya karena sumur minyak mereka. Tidakkah Obama yang lagi dihujat rakyatnya karena melancarkan serangan udara ke Libya dan Sarkozy yang panic karena Saef al-Islam bin Khaddafi membuka “borok” politiknya, bahu membahu membombardir Tomahawk ke Tripoli Libya hanya karena ingin memastikan minyak tetap mengalir normal ?

Sumber foto : www.google.picture.com/times.com
Diposkan oleh IFA dan MALIKA ILHAM di 04:25 0 komentar Link ke posting ini
Label: Politik, Sejarah, Timur Tengah
Sisi Lain "Revolusi" Bahrain
Oleh : Muhammad Ilham

Bahrain bergolak. Konsekuensi alur "domino" Revolusi Jasmine Tunisia dan Mesir. Tapi dunia terfokus pada Libya. "Penanganan" Libya jelas, NATO dengan ujung tombaknya Amerika Serikat, Inggris dan Perancis memiliki kontribusi besar melaksanakan opersai militer (walau hanya dalam tataran operasi udara) dengan target menjatuhkan Moammar Khaddafi. Tapi Bahrain, lain. Kesultanan kaya yang selama ini damai, bergolak sebagaimana halnya Libya. Tapi penanganannya bukan oleh pasukan in-group Bahrain. Mungkin karena tiodak memiliki tentara yang memadai, Sultan Bahrain mengundang tentara Arab Saudi untuk mematahkan demonstran-demonstran yang menyuarakan revolusi tersebut. Jadilah, saudara seiman Bahrain berjatuhan karena senjata saudara seiman yang lain - tentara Arab Saudi.

Pemimpin Hezbolah, Sayyed Hussain Nasser yang saya kutip dari republika.co.id mengatakan : "Liga Arab dan negara-negara Arab saat ini menghadapi dua revolusi (Libya dan Bahrain). Dalam menyikapi Libya, Liga Arab lebih memilih bungkam. Padahal banyak warga Libya yang tewas. Negara-negara Arab tidak mengirimkan pasukan ke Libya. Akan tetapi apa yang mereka lakukan terhadap Bahrain? Revolusi di Bahrain disikapi berbeda dengan revolusi di Libya. Negara-negara Arab mengirim pasukan ke Bahrain dan membantai para demonstran yang melaksanakan aksi damai. Aksi unjuk rasa di Bahrain berlangsung dengan damai, bahkan tidak ada satu mobil pun yang dibakar dan tidak ada sebuah kaca yang pecah. Akan tetapi pasukan Arab Saudi dikerahkan untuk membantai masyarakat yang melakukan demo damai. Bahkan pasukan keamanan menyerang rumah sakit dan rumah-rumah pemimpin pendemo. Ini adalah cara Zionis Israel. Rezim Zionis menyerang rumah-rumah penduduk. Hal yang sama juga dilakukan tentara Bahrain. Rezim Bahrain bahkan menghancurkan bundaran Mutiara dan meratakannya. Peristiwa-peristiwa itu mencerminkan karakter diktator dan rezim taghut. Akan tetapi ketertindasan terbesar bangsa Bahrain adalah revolusi di negara ini dikesankan sebagai perang sebuah madzhab atau kelompok aliran. Ini adalah hal yang sangat menyakitkan. Ulama Sunni dan Syiah tak sepatutnya bersikap diam atas masalah ini. Ini bukan perang madzhab, tapi peristiwa yang terjadi adalah kriminalitas murni yang tidak ada sangkut pautnya dengan madzhab."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar