Rabu, 05 Januari 2011

Improvisasi Seksualitas dalam Sejarah "Laki-Laki" Asia Tenggara

Oleh : Muhammad Ilham (Dosen Jur. SKI FIBA/Ketua PSIFA IAIN Padang)

Malam ini, saya membaca buku karangan Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Saya tak ingin mengupas dinamika perdagangan kawasan Asia Tenggara. Terlalu panjang dan pelik. Ada satu bagian yang membuat saya "tertawa sendirian" kala membaca buku sejarawan dari Australia ini, tentang bagaimana upaya luar biasa yang ditempuh oleh para lelaki - dalam sejarah "laki-laki" Asia Tenggara masa lalu - untuk memberikan kepuasan seks terhadap pasangannya. Para lelaki rela menanggung pembedahan kelaminnya - tentunya sangat menyakitkan - hanya untuk meningkatkan kenikmatan erotik pasangannya.

Laki-laki di Philiphina, misalnya, terutama di Philipina tengah dan selatan serta beberapa daerah di Kalimantan, dari masa dahulu, "familiar" memasang peniti logam yang dilengkapi dengan dengan berbagai roda, taji (saya tak tahu apa itu taji), atau kancing pada alat kelaminnya. Hal yang sama dipraktekkan juga sampai pada masa modern oleh beberapa kelompok masyarakat Kalimantan Barat Laut, khususnya suku Iban dan Kayan.

Di tempat lain seperti Siam dan Malaka, dulunya juga berjalan praktek sejenis ini. Para lelaki memasukkan bola-bola kecil antara setengah dan satu lusin lebih pada kulit lepas di bawah penis (membrum virille). Seorang pelancong Italia pernah meriwayatkan bahwa di Malaka dan Siam (Thailand) selama abad ke-15, raja-raja memakai sebanyak sembilan butir emas sebesar buah lonca yang setiap mereka melangkah, bergemericing. Waw, tak terbayangkan riuhnya. Emas untuk kalangan bangsawan, maka butir-butir timah hitam bagi kalangan laki-laki biasa. "Kaum perempuan mendapatkan kenikmatan yang tak tergambarkan dari situ", kata pengelana tersebut. Menurut Anthoni Reid, gejala-gejala "gemericing" ini juga ditemui di daerah Makassar pada abad ke-17, tapi tidak sebanyak yang di Siam atau Malaka. Hanya satu dua buah bola kecil pada penis mereka yang terbuat dari gading atau tulang ikan keras. Islam yang kemudian masuk ke Nusantara menghilangkan praktek demikian. Namun, sejumlah penduduk Toraja bukan Islam di pedalaman, masih tetap memakai bola-bola nan gemericing ini hingga abad ke-19. Kreatif sekali nenek moyang kita masa dulu .... !.

(Makalah lengkap akan diterbitkan di Jurnal Khazanah Edisi 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar