Selasa, 02 November 2010

Mata Uang dalam Tinjauan Arkeologi : Upaya Rekonstruksi Sejarah dari Mata Uang

Oleh : Sudarman, MA (Dosen Arkeologi FIBA)

Pada dasarnya arkeologi menjadikan benda sebagai kajian utamanya, dari bendalah kemudian arkeolog mampu merekonstruksi Sejarah kebudayaan, menyusun kembali cara-cara hidup masyarakat masa lalu, serta memahami proses perubahan budaya (Binford 1972). Karena benda sebagai fokus kajiannya, maka arkeologi itu ada karena adanya benda itu sendiri. Budaya meteri lahir dari sebuah tingkah laku yang dibuat oleh pemangku budayanya, maka arkeologi sebenarnya bicara tentang manusia yang berada dibalik benda.

Koentjaraninggrat membuat rumusan tentang bentuk budaya (Koentjaraninggrat,80-90,1986);Pertama, cultural system yaitu bentuk gagasan,pikiran, konsep, nilai-nilai budaya, norma-norma, pandangan-pandangan, yang bentuknya abstrak serta berada di dalam kepala para pemangku kebudayaan yang bersangkutan. Kedua, social system, wujud aktifitas, tingkah laku berpola,perilaku, upacara-upacara serta ritus-ritus yang wujudnya lebih kongkret dan dapat diamati. Ketiga, Material culture, wujud benda yang biasanya merupakan hasil tingkah laku dan karya para pemangku kebudayaan yang bersangkutan , yang disebut para ahli sebagai kebudayaan fisik dan kebudayaan material.

Salah satu dari kajian arkeologi adalah Mata uang.Numismatik ialah; Telaah tentang koin dan medali, khususnya dari sudut pandang ilmu arkeologi dan sejarah (Oxford English Dictionary).Telaah tentang koin, token, medali, uang kertas, dan objek-objek lain yang amat menyerupai dalam bentuk dan kegunaan, mencakup media tukar dan tanda penghargaan yang baku (The American Webster). Dalam penelitian arkeologi, studi mengenai numismatik khususnya mata uang logam memegang peranan yang penting karena dengan adanya hiasan-hiasan atau tulisan yang tertera pada ke dua sisinya, mata uang logam dianggap sebagai artefak bertanggal mutlak yang memuat nama raja atau penguasa dan angka tahun terbitnya. (Mundardjito; 1978: 47). Mata uang logam dikenal juga sebagai benda tunggal yang dapat berdiri sendiri dan bersifat spesifik karena dapat memberikan informasi mengenai dimensi waktu (temporal dimension) dimensi tempat asal pembuatan dan tempat penemuan (spatial dimension), dan dimensi bentuk (formal dimension) yang terdiri dari atribut bentuk (shape), ukuran (size) gaya (stylistic) dan teknologi (technologhical) dari mata uang logam pada masa itu (Yessi Puji Aruan; 4, 2003).

Sebenarnya secara konstektual (insitu), informasi waktu yang diperoleh dari temuan mata uang logam bermamfaat bagi pertarikhan (dating) termuan serta (associated finds), situs atau bagian-bagian situs secara horizontal (horizontal chronologi) yang dapat menjelaskan arah perluasan kota, dan pertarikhan lapisan budayanya atas dasar stratigrafi (vertikcal chronology).

Menurut K.R. Dark dalam “theoretical Archaeology”, koin adalah logam bulat dengan gaya dan tulisan tertentu, demikian juga dengan uang kertas yang mempunyai gaya dan tulisan tertentu dan keduanya memiliki fungsi yang sama. Dalam sejarah, bentuk koin beraneka ragam macam, contohnya dari bulat sampai segi empat, bentuk rata sampai berlekuk, bulat penuh sampai bulat berlubang dengan ada atau tidak adanya gaya dan tulisan yang tertera pada koin. Definisi koin pada fungsinya tidakmudah karena koin memiliki peran yang amat beragam. Koin adalah artefak yang digunakan sebagai media pertukaran sebuah institusi atau perorangan. Koin memiliki identitas tertentu dari cetakannya, nama raja yang menerbitkannya, atau bahan yang dipakai oleh individu atau kelompok pengguna koin. Symbol-simbol yang tertera pada koin dapat berupa tulisan atau gambar yang menunjukkan identitas atau suatu kelompok tertentu. (KR. Dark, 1999)

PENELITIAN TENTANG MATA UANG DI INDONESIA

Arkeolog sangat jarang sekali menjadikan mata uang sebagai artefak untuk mengungkapkan sejarah Indonesia. Padahal dengan mata uang itulah kemudian dapat diketahui tentang tahun dan siapa yang pernah menguasai perdagangan di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Yessy Puji Aruan mengungkapkan tentang pengaruh Dinasti Song terhadap perekonomian Majapahit, hal ini dibuktikan dengan banyaknya ditemukan mata uang Dinasti Song di situs Trowulan Majapahit.Penelitian ini juga mengungkapkan tentang tekhnologi pembuatan mata uang Cina yang berbeda dengan tekhnologi pembuatan mata uang di Nusantara.Penelitian lain dilakukan oleh Irmawati Marwoto Johan, denganmeneliti mata uang, beliau mampu mengungkapkan tentang sejarah ekonomiNusantara pada abad ke 9-17 Masehi, dan melalui mata uang inilah kemudian bisa ditemukan bangsa yang pertama kali mengadakan hubungan dagang dengan Nusantara.

Penelitian Arjan Aelst menemukan mata uang Cina asli dan Palsu di Jawa Timur, dengan penelitiannya ini beliau mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan mata uang di Majapahit maka kerajaan kemudian memproduksi mata uang palsu Cina secara besar-besaran,dan mata uang ini tidak hanya beredar di wilayah Majapahit tapi juga tersebar di Kalimantan, Melayu, Banda, Sumbawa, dan Bali, Cirebon dan Jepara. (Yessi Puji Aruan; 8, 2003).

Henny Indratiningsih melakukan kajian mengenai mata uang logam Cirebon yang berbentuk bulat dan berlubang pada bagian tengahnya, serta mempunyai tulisan Cina dan latin. Tujuan penelitiannya adalah memberikan gambaran lengkap dari mata uang logamCirebon dan mengetahui bacaan serta melihat kemungkinan adanya hubungan antara huruf Latin dan Cina yang tertera pada mata uang tersebut.

Melalui Tabel yang dibuat oleh Yessy Puji Aruan dapat dilihat dengan jelas penelitian-penelitian mata uang logam yang pernah dilakukan di Indonesia.
Jenis penelitian yang dilakukan terhadap mata uang logam di Indonesia
NO NAMA PENELITI DAERAH TAHUN
1 Prio Wadiono Banten 1984
2 Amelia Trowulan 1986
3 Robert S. Wicks Trowulan 1992
4 Chandra Iriantiningsih Jakarta 1993
5 Eka Retno Listyoharini Trowulan 1994
6 Henny Indratiningsih Jakarta 1995
7 Arjan van Aelst Jawa Timur 1995
8 Lia Nurlia Jakarta 1996
9 Junny Setyantari Jakarta 1996
10 Ida Bagus Sidemen Bali 2002


FUNGSI DAN MATA UANG YANG BEREDAR DI INDONESIA

Koin berperan dalam roda perekonomian, yang disebut juga dengan “uang”, tetapi tidak semua koin adalah uang karena ada mata uang yang dianggap mempunyai nilai magis dan dipergunakan sebagai jimat (benda upacara) untuk menggantikan sesuatu barang atau tindakan sesuai tujuan yang ditentukan. Uang gobog merupakan contoh mata uang yang dipergunakan untuk benda upacara dalam kaitannya keselamatan, kesuburan, penciptaan dan ucapan syukur.Alasan mengapa uang ini tidak sebagai alat pembayaran adalah; mata uang ini tidak dibuat secara massal seperti halnya alat pemabayaran.Hal ini bisa di buktikan dengan ukiran pada mata uang yang dipahatkan kurang rapi serta populasi temuan sejenis yang sangat sedikit sehingga tidak banyak dijumpai baik dalam penggalian maupun survey-survei arkeologi. (Soegeondo, 1991) Di India, Koin tidak digunakan sebagai alat tukar, tetapi dainggap sebagai symbol kaum miskin.Di Banten mata uang dipakai sebagai komoditi dan barang pusaka, yaitu mata uang perak Belanda yang semakin langka karena di eksport ke Cina menjadi barang pusaka. (Bambang Soemadio, 1984)

Menurut Titi Surti Nastiti, ada berapa mata uang yang beredar di Indonesia pada abad ke 7 (Titi Surti Nastiti,1992)
1. Picis, mata uang ini terbuat dari timah hitam, uang ini dicetak daerah Chuan-chou di Cina. Peredaran mata uang picis meluas di wilayah Nusantara, hal ini disebabkan. Pertama, karena nilainya sangat murah sehingga bisa dijangkau oleh rakyat biasa. Kedua faktor peranan pedagang Cina yang memperkenalkan mata uang picis sampai ke daerah-daerah pedalaman.
2. Mata uang Real Belanda, uang perak ini nilai intrinsiknya tinggi sehingga tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Orang–orang Cina membawa mata uang real ini dari pasar Banten ke Cina sebagai komoditi.
3. Cruzandos; catatan Tome Pires memcatat bahwa pertukaran cengkeh di Kepulauan Maluku mempergunakan mata uang Cruzandos
4. Real Banten; Kerajaan Banten memiliki mata uang tersendiri yang juga disebut REAL. Mata uang ini bertuliskan “pangeran Ratu’ dengan huruf Jawa dan ada pula yang bertuliskan “pangeran ratu in Banten’ dengan menggunakan huruf Arab.
5. Mata Uang Emas ( Pasai, Aceh, Sulawesi dan Palembang) di Pasai mata uang emas yang disebut Drana, bentuknya kecil dan dinilai satu Drana adalah 500 cash, mata uang ini tidak memuat angka tahun. Selain mata uang Drana di Aceh beredar uang Casha, Mass, Koupau, Pardau dan Tael. Di Sulawesi mata uang emas dan timah disebut Dinara untuk uang emas berukuran besar dan Kupa untuk emas yang berukuran kecil. Keduanya menggunakan huruf Arab.
6. Tanga; Tome Pires, di Pendir ada mata uang yang disebut Tanga yang dibuat dari perak.
7. Tael; Mata uang ini dikenal di jawa menurut Tome Pires 1 tae l= 37 ½ gram
8. Mata Uang Cirebon; Di Cirebon mata uang lokal dibuat oleh para penguasa setempat. Setelah Belanda menanamkan kekuasaannya di Cirebon.
9. Real Spanyol; Dari sumber lokal yaitu babad Sangkala dari Kartasura, dicatat bahwa pajak dari daerah pesisir dibayar dengan mata uang real spanyol
10. Mata Uang Ringgit; Pada Akte Van Vreband bertanggal 19 Oktober 1677 dicatat bahwa Susuhunan Amangkurat III menyerahkan semua Bandar laut di wilayah kerajaan Kompeni sebagai pinjaman gadai atas hutang Susuhunan kepada kompeni sebesar 310.000 Ringgit
11. Piaster; Mata uang yang dibuat dari perak murni dan berasal dari spanyol. Nilai tukarnya sama dengan Real atau Ringgit.
12. Mata Uang Kepeng (Bali); Mata uang ini berasal dari Cina dengan bahan baku tembaga. Tentang mata uang ini dicatat oleh orang-orang Belanda. Di Bali, pada musin panen kopi orang-orang Cina harus membayar semua pengeluaran mereka dengan Kepeng.
13. Mata Uang Larrins; Mata uang ini bahannya dari perak dan bentuknya seperti tapal kuda. (Van Leur 1967;136)
14. Batu; ada kalanya batu menjadi alat tukar, sebagaimana halnya terjadi di Pulau Bima (Van Leur 1967;136)
15. Gelang dan Kalung; di Pulau Sumbawa selain mata uang Cina, ternyata gelang dan kalung emas memiliki nilai sebagai alat tukar menukar. (Van Leur 1967;136)

PERSEBARAN MATA UANG MASA ISLAM DI INDONESIA ABAD KE-13 - 19

Masa Islam adalah masa perkembangan agama (dan budaya) Islam di Indonesia dan munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di berbagai daerah, dari abad ke-13 hingga abad ke-19.Umumnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia letaknya tidak jauh dari pelabuhan yang memungkinkan masyarakatnya dapat berhubungan dengan pedagang-pedagang asing, khususnya dari Timur Tengah.

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai di daerah Aceh, berdiri pada akhir abad ke-13. Kemudian bermunculan kerajaan-kerajaan Islam lain seperti Aceh Darussalam, Palembang, Jambi, Banten, Cirebon, Demak, Surakarta, Sumenep, Banjarmasin, Pontianak, Gowa, Buton dan Ternate-Tidore. Beberapa dari kerajaan Islam tersebut akhirnya berada di kendali pemerintah kolonial Belanda dan Inggris.

A. Samudra Pasai dan Aceh Darussalam

Baik kerajaan Samudra Pasai maupun Aceh Darussalam mengeluarkan uang emas yang disebut “deureuham”.Derham tertua berasal dari Sultan Muhamad Malik az-Zahir yang memerintah sekitar tahun 1297 – 1327.Sultan ke-2 setelah Sultan Malik as-Saleh ini membina hubungan dagang dengan saudagar-saudagar dari mancanegara, dan menggunakan uang derhamnya untuk bertransaksi dengan negeri Parsi, Arab dan Eropa serta kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.Setelah sultan ini, ada 14 sultan lagi yang memerintah Samudra Pasai hingga tahun 1523.

Menurut cerita tradisi, kerajaan Aceh Darussalam lebih dulu muncul dari kerajaan Samudra Pasai, dengan penguasa pertamanya bernama Sultan Johan Shah (1205 – 1234 M). Tapi berdasarkan studi mata uang kerajaan Aceh diawali dari Raja Inayat Shah yang memerintah sekitar tahun 1450. Setelah sultan ini, ada 37 sultan lagi yang memerintah kerajaan Aceh Darussalam hingga tahun 1903.


Gambar : uang derham samudra Pasai

Selain uang derham (emas), kerajaan Aceh juga mengeluarkan uang timah yang disebut “keueuh” atau kasha.Orang Aceh dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme barat.Sejak abad ke-16 hingga abad ke-20, berturut-turut kerajaan Aceh larut dalam peperangan mempertahankan kekuasan dan kedaulatannya.Dalam abad ke-16, bersama kerajaan Samudra Pasai, kerajaan Aceh Darussalam melawan Portugal. Lalu, sejak abad ke-18, Aceh Darussalam melawan Inggris dan Belanda yang akhirnya terpaksa harus menyerahkan wilayahnya di semenanjung Melayu (Malaysia), yaitu Kedah dan Pulau Penang kepada Inggris.

B. Palembang

Kerajaan atau kesultanan Palembang juga mengedarkan uang dari tembaga dan timah.Ada dua macam mata uang dari kesultanan ini yaitu mata uang yang berlubang di tengah, disebut juga piti teboh, dan mata uang tanpa lubang, disebut piti buntu.Menurut kebiasaan orang Palembang, piti teboh lajimnya dirangkai dengan seutas tali rotan.Satu rangkai piti teboh terdiri dari 500 keping uang, disebut satu cucub atau setali.Sedangkan piti buntu ditempatkan dalam kantong yang dibuat dari daun nipah disebut kupat.Tiap kupat berisi 250 keping piti buntu.Mata uang tersebut kebanyakan dibuat pada masa pemerintahan Sultan Najamuddin (abad ke-18).
Uang timah piti teboh dari kesultanan Palembang

C. Banten

Kesultanan Banten pernah mengedarkan mata uang tembaga yang disebut kasha; pada salah satu sisi ada tulisan Arab Pegon (tulisan Arab berbahasa Jawa berbunyi pangeran ratu ing banten, gelar Sultan Maulana Muhammad yang memerintah di Banten pada tahun 1580 – 1596.


D.Sumenep

Kesultanan Sumenep di Madura mengedarkan mata uang yang berasal dari uang-uang asing yang kemudian diberi cap bertulisan Arab berbunyi ‘sumanap’ sebagai tanda pengesahan. Uang kesultanan Sumenep yang berasal dari uang Spanyol disebut real batu karena bentuknya yang tak beraturan.Dulunya uang perak ini banyak beredar di Meksiko, yang kemudian beredar juga di Filipina (jajahan Spanyol).Di negeri asalnya uang ini bernilai 8 Reales.Selain uang real Meksiko, kesultanan Sumenep juga memanfaatkan uang gulden Belanda dan uang thaler Austria.


E.Pontianak dan Banjarmasin

Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan, utamanya Pontianak dan Banjarmasin mengedarkan uang tembaga yang disebut pitis. Kesultanan Pontianak mengedarkan uang tembaga yang pada salah satu sisi bergambar neraca dan tulisan ‘adil’ dalam huruf Arab.Sedangkan kesultanan Banjarmasin mengedarkan uang dengan memanfaatkan mata uang duit VOC yang salah cetak.Kesalahan cetak ini dapat dilihat dari tulisan VOC dan angka tahun yang terbalik. Tetapi pada sisi yang lain terdapat gambar perisai dengan tulisan Arab berbunyi ‘banjarmasin’.





Kiri : uang tembaga dari kesultanan Banjarmasin, dan
Kanan : uang tembaga dari kesultanan Pontianak.

E.Gowa dan Buton

Di daerah Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, berdiri kesultanan Gowa dan Buton (Butung). Kesultanan Gowa pernah mengedarkan mata uang emas yang disebut jingara, salah satunya dikeluarkan atas nama Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah dalam tahun 1653 – 1669. Di samping itu beredar juga uang dan bahan campuran timah dan tembaga, disebut kupa. Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara lebih unik lagi, dengan mengedarkan sejenis uang dari katun yang disebut kampua atau bida.Uang katun ini konon dibuat atau ditenun oleh putri-putri keraton di bawah pengawasan Menteri Besar.Setiap tahun coraknya dibuat berbeda untuk mencegah pemalsuan.Siapa saja yang berani meniru atau memalsukan uang kampua ini diancam hukuman mati.Uang ini beredar sampai ke daerah Sulawesi Selatan dan Maluku hingga akhir abad ke-19.



Uang kampua milik sultan Buton






Uang kampua milik Menteri Besar




Epilog

Numismatik selalu berkaitan dengan perdagangan, meneliti tentang koin berarti meneliti tentang jaringan perdagangan baik antar pulau maupun perdagangan antar Negara.Pada awalnya Nusantara belum mengenal mata uang, transaksi jual beli mempergunakan system barter.Perkenalan Nusantara dengan mata uang pertama kalinya, ketika orang India dan Cina datang ke Nusantara untuk menjalin perdagangan.
Sebagai wilayah yang menjadi perdagangan antar negara, maka di Nusantara ditemukan beberapa varian mata uang yang berasal dari berbagai negara.Mata uang lokal berkembang dengan pesat ketika Islam menjadi sebuah kekuatan politik.Lokal genius telah membentuk mata uang yang berbeda dengan mata uang asing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar