Jumat, 21 Mei 2010

Perkembangan Arsitektur Masjid di Dunia Islam

Oleh : Sudarman, MA (Dosen Arkeologi Islam FIB-Adab)

Ilmu sejarah memandang arsitektur sebagai ungkapan fisik bangunan dari budaya masyarakat pada tempat dan zaman tertentu, untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam melaksanakan sebuah kegiatan. Maka menurut teori ini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa keberadaan arsitektur, seumur dengan adanya manusia di muka bumi. Bangsa-bangsa yang telah berbudaya tinggi pada zaman dahulu, meninggalkan bukti sejarah dan budaya berupa karya-karya arsitektur, kadang-kadang tidak sedikit yang mengagumkan termasuk mesjid-mesjid peninggalan kejayaan Islam masa lampau.


A. Pengantar
Ilmu sejarah memandang arsitektur sebagai ungkapan fisik bangunan dari budaya masyarakat pada tempat dan zaman tertentu, untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam melaksanakan sebuah kegiatan. Maka menurut teori ini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa keberadaan arsitektur, seumur dengan adanya manusia di muka bumi. Bangsa-bangsa yang telah berbudaya tinggi pada zaman dahulu, meninggalkan bukti sejarah dan budaya berupa karya-karya arsitektur, kadang-kadang tidak sedikit yang mengagumkan termasuk mesjid-mesjid peninggalan kejayaan Islam masa lampau.
Pada perkembangan arsitektur tidak lepas dari pengaruh bentuk dan konsep lebih dahulu ada, oleh karena itu pengembangan dan pencampuran bentuk dari tempat dan zaman berbeda adalah hal yang lazim. Percampuran semakin kompleks dengan perkembangan budaya manusia, terutama dalam aspek perhubungan. Semakin banyak orang bepergian dan berimigrasi, semakin banyak dilihat dan pengalaman, maka pencampuran budaya semakin cepat dan kompleks.
Arsitektur Islam mengalami perkembangan dari bentuk yang sederhana pada abad ke-6 sampai pada tingkat kesempurnaan yang mengagumkan pada abad ke-8 dan seterusnya. Ia memiliki keanekaragaman bentuk sesuai dengan budaya ummat yang menciptakannya. Perkembangan arsitektur itu dipengaruhi oleh tiga keadaan. 1). Tingginya teknologi bangunan, 2). Pengaruh sosial politik dan kenegaraan, politik dan kenegaraan, 3). Berubahnya tingkat ekonomi masyarakat menyebabkan adanya kemampuan mereka untuk membuat industri keramik
Menurut Ernst J. Grube, ciri-ciri arsitektur Islam, kelihatan tipikal dan harus dijelaskan sebagai ekspresi suatu kebudayaan yang diciptakan oleh Islam, yang menunjukkan sikap fundamental yang berbeda dengan kreasi-kreasi arsitektur non muslim

Tidak diragukan bahwa Islam mempunyai hubungan yang erat dengan arsitektur . hubungan itu terwujud dalam kenyataan bahwa tenaga yang menggerakkan kreativitas arsitektur Islam adalah Islam. Arsitektur Islam tidak mungkin ada jika Islam tidak ada. Sebelum Islam, tidak ada arsitektur yang disebut Islam. Karena intisari Islam adalah tauhid, maka dapat dikatakan bahwa tenaga yang menggerakkan seni arsitektur Islam.
Pengaruh tauhid tampak, misalnya ikonoklasme atau anikonisme, yaitu larangan agama untuk menggambar mahluk bernyawa. Menggambar mahluk bernyawa berarti menyaingi Tuhan karena yang berhak menciptakam mahluk bernyawa hanyalah Tuhan. Larangan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian agar tidak ada yang disembah selain Allah. Sebelum kedatangan Islam di Jazirah Arab. Gambar patung mahluk yang bernyawa, atau selain Allah sering di sembah. Larangan ini termanifestasi pada hiasan atau dekorasi dinding bangunan yang bersih dari gambar mahluk yang bernyawa. Konsekuensinya, dekorasi yang digemari adalah kaligrafi sebagai sarana untuk mengungkapkan ayat-ayat al-Qur’an, bentuk-bentuk geometris (geometrical patterns) dan arabesk
Salah satu ciri monumen-monumen arsitektur Islam adalah fokus (pusat perhatian) terletak pada ruang tertutup, yakni pada bagian luar, bagian depan, atau artiklasi eksterior bangunan. Contoh sikap yang paling dan diakui secara luas ini terlihat pada rumah-rumah kaum muslimin. Dengan fokus pada halaman, rumah itu menampakkan pada dunia luar dinding tinggi tanpa jendela, yang disela hanya satu pintu rendah saja
Pada semua zaman di dunia Islam dapat ditemukan arsitektur tersembunyi (hidden architecture) atau arsitektur yang menjadi ada hanya ketika dimasuki, dilihat dan dialami dari dalam: bukan ketika dilihat sebagai monument atau simbol yang tampak pada semua sisi, meskipun ada pengecualian-pengecualian “Arsitektur tersembunyi” dapat dipandang sebagai ciri utama dan dominan dalam arsitektur Islam yang sesungguhnya, Mesjid Raya Umayyah di Damaskus adalah sebuah contoh tipikal sedangkan Kubah batu di Palestina adalah sebuah pengecualian tipikal. Damaskus mengikuti tipe yang mapan dan membantu menciptakan sebuah tradisi. Sedangkan Kubah Batu yang berdiri sendirian diatas panggungnya dan tampak dari sebuah sisi merupakan bangunan unik dalam kebudayaan Islam.
Dari penelitian yang dilakukan Ernst. J. Grube yang dikutip oleh Ismail Faruqi, menarik dua kesimpulan. Pertama, sangat sedikit tipe bangunan di dunia Islam yang mengartikulasikan ruang interior melalui eksteriornya. Kedua, bangunan-bangunan itu sama sekali tidak fungsional, misalnya jembatan-jembatan dan menara-menara pengawas tidak fungsional atau tidak berfungsi, kecuali hanya sebagai pajangan arsitektur.

B. Periodesasi Arsitektur Mesjid
Mesjid adalah hasil karya seni arsitektur Islam yang utama, sebab mesjid merupakan titik tumpuan dari ungkapan kebudayaan Islam, sebagai konsekuensi dari ajaran Islam yang mengajarkan shalat dan mesjid sebagai tempat pelaksanaannya. Dalam arsitektur Islam dikenal beberapa jenis mesjid sesuai dengan penggunaannya. Di antaranya adalah; mesjid jami’ mesjid madrasah, mesjis makam dan mesjid tentara.
Perkembangan arsitektur Islam khususnya mesjid, semakin kompleks karena kecenderungan memasukkan budaya daerah (vernakulerisme). Banyak pula arsitektur mesjid selain tetap ada unsur-unsur utama mesjid; mihrab, mimbar pada arah kiblat, semata-mata mengambil bentuk setempat seperti Cina, India, Afrika Barat, termasuk di Indonesia, sering disebut regionalisme dalam arsitektur. Corak hypostyle berasal dari Arab, mendominasi gaya arsitektur dari abad VII M. Hingga sekarang masih banyak dipakai, bercampur dengan berbagai unsur seni dan budaya pada zaman dan tempat dimana mesjid didirikan. Percampuran berbagai macam elemen, arsitektur untuk pembangunan mesjid terlihat antara lain dengan banyak dipakainya arsitektur yang sudah ada pada abad I M zaman Romawi kemudian dipakai dan dikembangkan pada zaman Byzantine sejak abad III M dan zaman-zaman berikutnya
Perkembangan arsitektur Islam umumnya dan mesjid khususnya dilihat dari sudut pandang tempatnya dibagi menjadi tujuh wilayah: 1). Arsitektur Islam pada zaman Nabi di Madinah. 2). Arsitektur mesjid pada zaman Abbasiyah dan Seljuk. 3). Arsitektur mesjid zaman Fatimiyah dan Mamluk di Mesir dan Suriah. 4). Arsitektur mesjid di Spanyol. 5). Perkembangan arsitektur mesjid pada zaman Usmani dan Turki. 6). Perkembangan arsitektur Mesjid di India. 7). Perkembangan arsitektur mesjid di Indonesia.
Menurut Martin Frishman, seorang arsitek dari London membagi fase mesjid kepada tiga fase. Fase pertama adalah formatif awal yang memperkenalkan mesjid hypostyle (mempunyai atap yang disangga oleh tiang-tiang). Pada fase itu bentuk asli mesjid adalah ruang atau aula hypostyle dengan halaman dalam terbuka tanpa atap dan dikelilingi dinding-dinding yang sekaligus berfungsi sebagai tiang.
Fase kedua menyaksikan munculnya berbagai variasi regional yang dominan di wilayah geografisnya masing-masing.
Fase ketiga yang tumpang tindih dengan fase kedua dan tidak bertentangan dengan regional, dapat disebut gaya monumental (monumental style), yang ditandai oleh penggunaan skala monumental yang diserap dari arsitektur Barat. Yang dimaksud dengan gaya monumental adalah gaya bangunan berukuran besar yang secara historis adalah agung, penting dan abadi.
Flechter dalam buku A history of architecture berbeda dengan Martin Frishman, Flechter membagi perkembangan arsitektur mesjid kepada tiga periode
a. Klasik
Pada periode ini dimulai pada masa Nabi Muhammad Saw (622 M- 632M), Khulafaur Rasyidin (632 M-661 M), Umayyah (661 M-750 M), dan Abbasiyah (749 M-2158 M). pada bentuk awalnya arsitektur mesjid bukanlah bangunan yang megah seperti yang tampil pada masa kejayaannya, melainkan bersahaja dan sederhana. Mesjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad sangat sederhana, denahnya merupakan segi empat dengan hanya dinding yang menjadi pembatas sekelilingnya. Sepanjang bagian dalam dinding tersebut dibuat bagian depan yang disebut mihrab dan serambi yang langsung bersambung dengan lapangan terbuka sebagai bagian tengah dari mesjid segi empat tersebut. Bagian pintu masuk diberi gapura, bahan yang dipergunakan sangat sederhana, seperti batu alam atau batu gunung, pohon dan daun kurma. Namun demikian, arsitektur sederhana ini merupakan prototype dari arsitektur mesjid pada masa kemudian.
Ketika terjadi perpindahan arah kiblat yang sebelumnya kearah utara (mesjid al-Aqsa) kemudian dipindahkan ke Baitullah diMekah, maka dinding yang posisinya mengarah ke Mekah dijadikan arah kiblat. Bedanya dari serambi lainnya ialah terdapat sedikit penonjolan pada dinding ini dan tempatnya sedikit ditinggikan, selanjutnya dijadikan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai tempat menyampaikan dakwahnya. Pada perkembangan lebih lanjut tempat ini berubah bentuk menjadi semacam relung atau ceruk yang senantiasa menunjukkan arah kiblat, kemudian bernama mihrab.
Arsitektur mesjid pada saat itu terdiri dari urutan sebagai berikut: pertama-tama dibutuhkan sebuah tempat, kemudian tempat itu dibuat menyerupai ruang agar orang yang melakukan shalat dapat berlindung dari berbagai gangguan alamiah.
Pada saat Bani Umayyah berkuasa, sekitar tahun 700 M dibangun mesjid-mesjid diberbagai tempat, misalnya Basrah, Kufah dan Fustat. Mesjid pada masa ini berbentuk segi empat dan beratap rata. Pada dinding yang berada diarah kiblat kembali ada penonjolan atap sebagai mihrab. Atapnya ditopang oleh sejumlah tiang sehingga keseluruhan ruangannya seperti dipenuhi oleh barisan tiang-tiang. Ini menunjukkan pada saat itu belum ditemukan cara pemakaian konstruksi pendukung atap dengan jumlah tiang yang sedikit. Namun bahan dinding sudah diperindah dengan batu-batu merah serta mulai memakai tiang-tiang dari batu. Contoh yang menonjol dari tipe bangunan yang memakai arsitektur semacam ini adalah Mesjid Ziyad di Kufah (638 M) dan mesjid Amr di Fustat (641 M)
Perkembangan selanjutnya arsitektur masjid memperoleh pengaruh dari luar, di antaranya dengan diambilalihnya bentuk gereja menjadi masjid di daerah-daerah yang ditaklukkan Islam. Di Damsyik oleh kaum syi’ah dibangun sebuah masjid yang pada mulanya adalah gereja dengan cara mengubah beberapa bagiannya lalu dibuat tonjolan berupa mihrab pada dinding yang mengarah ke kiblat. Pada saat ini dapat disebutkan bahwa telah lahir bentuk arsitektur corak mesjid gereja atau masjid basiliki. Hiasan mosaik yang tadinya membuat episode cerita gerejani diubah menjadi motif-motif yang mencerminkan hiasan khas Islam yang terdiri dari motif tumbuh-tumbuhan yang ditambah dengan unsur alam lainnya. Pada masa Umayyah arsitektur masjid mengalami perubahan yang sangat berarti, terutama disebabkan dorongan dari pada pemimpinnya. Al-Walid (705-715) salah seorang rajanya, adalah tokoh pembangunan mesjid. Ia memperkenalkan penambahan kelengkapan arsitektur mesjid berupa menara yang kemudian menjadi bagian dari bangunan mesjid, dan selanjutnya perekembangan arsitektur masjid dalam Islam menjadi beraneka ragam dalam bentuk dan coraknya.
Pada periode berikutnya, kepentingan penguasa turut memperkaya arsitektur masjid, misalnya dengan munculnya maksura, sebuah tempat khusus dibuat untuk menjadi tempat penguasa melaksanakan shalat. Selanjutnya mimbar juga merupakan elemen arsitektur masjid yang cemerlang. Mimbar kebanyakan dibuat dengan bahan kayu seperti terdapat pada mesjid Okba Qairawan. Hal ini memungkinkan para ahli ukir untuk menerapkan hiasan megah pada bahan tersebut. Lama kelamaan bentuk masjid tidak lagi beratap rata tetapi mengembang pemakaian lengkung dan kubah. Konstruksi lengkung ini dinamakan iwan, yakni merupakan gapura atau gerbang dengan beratapkan bentuk lengkung yang menutupi tiga bagian dinding dari badan gapura, sedang bagian dinding lainnya dalam keadaan terbuka, yakni bagian depan.
Pada masa pemerintahan Sultan al-Mu’tasim (833 M- 842 M), ia memindahkan pusat pemerintahan ke Samara. Di ibukota yang baru ini ia mendirikan mesjid Jami’ Askar. Penulis Barat menyebut mesjid ini sebagai the great of sumarra. Mesjid ini besar dan mempunyai kekhasan arsitektur Islam. Kekhasan arsitektur mesjid ini adalah terdapatnya penggunaan pilar yang merupakan kolom dari susunan batu-batu yang ditempatkan di antara empat buah tiang yang mengapit kolom tersebut pada setiap sudutnya. Bahan batu pengisi kolom itu terdiri dari susunan batu bata yang dibakar. Selanjutnya menara berbentuk spiral yang dikenal dengan julukan ma al-wiyah.
Sebelum diperluas masjid Agung Samarra jauh lebih besar dibandingkan masjid Nabi di Madinah. Tata ruangnya sama yaitu hypostyle, terdiri dari halaman dalam segi empat dikelilingi riwaq dan haram. Halaman dalam atau lazim disebut shan, juga segi empat, 130 x 110 M. Riwaq kiri dan kanan masing-masing mempunyai empat jalur. Riwaq depan tiga deretan dan haram sembilan deret. Deret dan lajur dibentuk oleh kolom berpenampang segi empat, semuanya berjumlah 456 buah menara.
Tinggi menara 55 M, berdiri di atas platform segitiga, denah bujur sangkar 33 X 33 M. Bentuk menara sangat unik, spiral makin ke atas makin kecil, sisinya untuk tangga melingkar. Puncak menara dihiasi dengan deretan mengelilingi badan selindris terkecil dengan pelengkung-pelengkung patah disangga kolom-kolom selindris dobel seperti jendela.

b. Periode Pertengahan
Periode ini dimulai pada masa pemerintahan Fatimiyah (909 M-1171), Bani Seljuk (1038 M-1194 M), Mongol (1206 M-1634 M), dan Persia (1314 M-1393 M), Pada periode ini arsitektur masjid merupakan hasil dari penggunaan konstruksi ruang dan tiang. Logika dasar dari penggunaan tiang-tiang tersebut adalah ingin memperoleh ruangan yang lebih luas dan besar. Contoh yang dapat dikemukakan pada masa ini adalah masjid al-Azhar (970 M-972 M) dan masjid al-Hakim (990 M-1002 M). Pengaruh Bizantium kelihatan membekas pada arsitektur kedua masjid ini, dengan bentuk menaranya yang masif serta penggunaan lengkung sebagai gapura dan pintu gerbang. Karena diperlukan adanya penggunaan pengaman, maka bangunan masjid ini dikelilingi oleh tembok pengaman yang terbuat dari batu bata yang sangat tebal dan kuat. Pada ruang utamanya ditemukan kekhususan dengan dipergunakannya tiang-tiang marmer sebagai pendukung atap. Bagian ini terdapat pada dinding arah kiblat, yang dengan lengkung-lengkung dan kubahnya menunjukkan corak Persia.
Pola dasar masjid al-Azhar adalah hypostyle, di tandai oleh adanya halaman dalam segi empat, dikelilingi oleh riwaq berdenah tapal kuda dan haram sebagai ruang sembahyang utama.
Ciri lain dari arsitektur hypostyle pada mesjid ini, juga terlihat dari adanya banyak kolom berjajar dan berderet dalam ruang. Menyangga atap dasar. Halaman dalam panjangnya 50 M dan lebarnya 34 M. Dinding di atas kolom yang mengelilinginya dihias dengan pelengkung-pelengkung patah, lingkaran-lingkaran dengan garis-garis konsentrik (rosette), hiasan arabesque dan intricate, semuanya menggunakan stucco.
Kolom-kolom silindris dengan kepala dihias bercorak floral aliran romawi coronthian. Di atas dinding diberi mahkota dengan stucco corak geometris. Intricate dan Arabesque membentuk deretan segi tiga sepanjang bagian atas dinding gerigi. Corak dekorasi tersebut terlihat mendapat pengaruh cukup besar dari seni zaman Tulun
Gerbang masuk utama, ditandai dengan dua buah menara dan sebuah kubah. Arsitektur menara, bentuknya tidak lagi gemuk seperti pada masjid Agung Samara karena konstruksinya sudah lebih maju. Penampang menara segi delapan makin keatas makin kecil, tangganya di dalam. Pada setiap lantai tedapat bordes keliling. Bagian luar dinding dan bordes penuh dengan dekorasi berupa ukiran atau relief Stucco pada geometris-intricate dan Arabesque.
Haram atau ruang sembahyang utama pada arah kiblat, terdiri dari lima deret kesamping kiri dan kanan semetris. Di dalamnya terdapat 64 kolom melintang dan membujur masing-masing silindris, kepala dihias corak floral, sama dengan kolom di riwaq atau iwan. Setiap kolom menyangga sebuah pelengkung patah, untuk memperkuat konstruksi diberi balok melintang dan membujur, jadi selain ramai dengan kolom, di dalam haram, juga penuh dengan balok, selain bagian dari konstruksi berfungsi pula sebagai hiasan dan memperkuat arah kiblat.
Pada masa pemerintahan Salahuddin (1433 M-1452 M) beliau membuat kreatifitas konstruksi dalam segi arsitektur mesjid, ia tidak hanya membangun mesjid sebagai simbol pengabdian tetapi bersamaan dengan itu memasukkan simbol –simbol intelektual. Kreatifitasnya dikenal dengan arsitektur mesjid madrasah. Mesjid ini sebenarnya hanya hasil akulturasi berbagai budaya yang pernah mempangaruhinya, seperti gaya Seljuk, Usmaniyah, dan Umayyah.
Sesudah pemerintahan Salahuddin, muncul dinasti baru, yakni Mamluk (1250 M – 1517 M) yang juga tampil sebagai penerus perkembangan arsitektur Islam. Sultan Baybars adalah Sultan yang terkenal dari kaum Mamluk ini. Monumen arsitektur Islam yang lahir dari zaman kekuasaannya ialah Mesjid Madrasah Sultan Baybars (1266 M-1269 M) yang diberi julukan namanya sendiri sebagai sebagai bukti kaitan antara pembangunan masjid dan kepentingan Sultan sebagai pendirinya. Pada mesjid ini juga didirikan bangunan kuburan kubah. Masjid ini memiliki konstruksi ruang tiang. Karena tiang-tiang itu seperti biasanya merupakan cara untuk memperluas ruang. Maka masjid itupun nampak luas dan besar ruangannya. Empat buah kubah dipergunakan sebagai atap penutup masjid dengan kubah yang menutupi ruangan yang ada pada dinding arah kiblat sebagai kubah utamanya.
Arsitektur mesjid az-Zahir Baybars hypostyle, bujur sangkar, luasnya 120 X 120 M, pengaruh Persia cukup besar pada masjid antara lain pada gerbangnya terdiri dari ceruk dalam bidang vertical, bagian atasnya pelengkung patah. Iwan depan di mana terdapat gerbang tersebut terdiri dari dua deret dan iwan lateral tiga baris. Mesjid dalam arsitektur simetris, gerbang utama di tengah dan masing-masing iwan lateral mempunyai pintu masuk.
Sultan Mamluk yang suka berperang, keras cara membangun kehidupannya, secara tidak langsung mempengaruhi corak arsitekturnya, diantaranya muncullah suatu corak lain dari arsitektur masjid, yakni bangunan yang merupakan perpaduan antara masjid madrasah dan rumah perawatan bagi orang-orang yang berpenyakit.
Mesjid Sultan Qalaun ini di bangun pada tahun 1284, denah mesjid hampir bujur sangkar 21 X 23 M berdampingan dengan madrasah dipisahkan atau bisa juga dikatakan dihubungkan dengan karidor mesjid di tengah, dikelilingi oleh delapan kolom, masing-masing pada titik sudut dari segi depalan, bila dihubungkan dengan garis. Empat kolom berhias kepala floral, masing-masing satu pasang berhadapan di utara dan selatan jauh lebih besar dari empat lainnya, dua di timur dua di barat, seperti bangunan semi religious umumnya dibangun pada masa itu, dinding kiblat sangat tebal, bagian luarnya tidak sejajar dengan bagian dalam, karena dibuat sejajar dengan jalan. Kedepan kolom menerus tinggi ke atas, di tengah kosong berada di bawah sebuah kubah khas Mesir, atap runcing, penampang berbentuk parabolic. Kubah bertumpuh pada drum berpenampang segi delapan sangat tinggi pula, sehingga ruang di dalam bawah tanah mendapat cukup sinar alami.
Di sisi barat depan masjid terdapat menara, terdiri dari empat bagian, bagian bawah menyatu dengan dinding mesjid, lantai dua berdenah bujur sangkar, lantai tiga juga bujur sangkar dan lantai empat silindris diatapi kubah, bentuknya sama dengan kubah mesjid tapi kecil.

c. Periode Modern
Periode modern dimulai pada masa Safawi (1501 M- 1732 M), Mongol di India (1526 M- 1858) dan Ottoman Turki (1300 M-1923 M). Arsitektur mesjid pada masa modern ini menampilkan corak yang sedikit berbeda dari arsitektur sebelumnya, Umat Islam pada masa Usmani menampilkan tiga bentuk mesjid, yakni tipe masjid lapangan, mesjid madrasah dan masjid kubah. Hal yang baru dalam rangka perkembangan arsitektur Islam gaya Usmaniyah ini ialah munculnya perencanaan bangunan oleh seoran arsitek yang pernah belajar di Yunani, yaitu Sinan, beliau telah menghasilkan karya-karya dalam berbagai bentuk bangunan. Di antaranya masjid Sulaiman di Istambul (1550 M-1557 M), Mesjid ini menampilkan pertautan yang simbolis antara kemegahan istana sebagai lambang yang besar kekuasaannya dan keagungan mesjid sebagai sarana keagamaan, misalnya dengan munculnya menara yang langsing dan tinggi seolah-olah muncul dari lengkung-lengkung kubah dan melesat lepas ketinggian. Pada mesjid agung tersebut terdapat pula kolam hias yang sangat indah. Selain itu, muncul pula bangunan-bangunan mesjid yang berfungsi ganda, misalnya mesjid yang dilengkapi dengan dapur umum yang diperuntukkan khusus untuk memberi makan fakir miskin.
Di Mughal India, arsitektur mesjid mengalami perkembangan pesat terutama ketika pusat pemerintahan Mughal dipindahkan dari Agra ke Delhi. Mesjid jami’ Delhi (1644 M-1650 M) adalah representasi dari kebesaran Mughal pada waktu. Masjid jami’ Shahjahanabad merupakan semacam platform, sehingga untuk masukke halaman harus naik tangga cukup tinggi. Arsitektur masjid hypostyle mempunyai sahn sangat luas dibanding dengan haram yang pendek dan tidak besar, di tengahnya ada tempat wudhu. Iwan relatif sempit jika dibandingkan dengan sahn tersebut hanya satu lapis dibentuk oleh deretan kolom dan dinding. Arsitekturnya sangat simetris, denah keseluruhan termasuk iwan dan sahn bujur sangkar. Mesjid ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing yang utama di depan atau timur dan dua pada iwan lateral disisi utara dan selatan.
Dari ketiga gerbang tersebut diatas masuk ke halaman dalam (sahn), di tengahnya terdapat air mancur untuk wudhu. Haram denahnya melebar pada ujung arah kiblat dari sahn. Haram mempunyai iwan gerbang, arsitekturnya mirip yang ada pada masjid-mesjid di Iran, berupa ceruk di dalam sebuah bidang datar tegak, bagian atasnya berupa pelengkung patah namun tak mempunyai muqarnas, bentuknya seperti kubah dibelah dua. Di kiri-kanan gerbang dihias dengan semacam plaster silindris, di puncaknya terdapat amortizement. Bentuknya khas India seperti gardu berdenah segi delapan, mempunyai tiang juga delapan, penyangga kubah tersebut patah-patah delapan mengikuti denah yang diatapi, mempunyai titisan berbentuk segi delapan pula.
Iwan gerbang diapit oleh portico, di kiri dan kanan masing-nmasing mempunyai lima pelengkung. Pada ujung-ujung portico terdapat menara kembar memperkuat bentuk simetris dari haram. Dinding portico dan iwan gerbang dihias dengan garis-garis dan kotak-kotak merah dari warna bahan batu merah berlatar belakang putih dari warna marmer. Bagian atas dinding portico dihias dengan deretan runcing-runcing seperti gerigi. Di dalam haram terdapat tiga petak bujur sangkar dibentuk oleh dinding dan kolom yang tengah terbesar diapit di kiri-kanan lebih kecil. Ketiga petak berderet sejajar dinding kiblat masing-masing diatapi kubah, kubah besar berada di tengah-tengah masjid. Bentuk ketiga kubah sangat khas India, menggelembung di tengah, runcing diatas seperti bawang, sehingga sering disebut kubah bawang. Pada puncaknya dihias dengan cunduk, bahan yang dipakai terbuat dari logam, berupa bola-bola kecil disunduk, pucuknya runcing.
Kebesaran Syafawi ternyata juga tercermin dalam arsitektur masjid, salah satu dari sekian banyak masjid yang dibangun adalah Mesjid Agung Isfahan. Di bangun pada tahun 773 M, kemudian hingga abad XVII M mengalami berbagai pengembangan. Struktur dan bahan bangunan pada waktu itu menurut catatan sejarah terbuat dari kayu dan beratap datar, peninggalan itu sudah tidak ada, sebagian bangunan sekarang masih merupakan hasil perluasan abad IX.
Masjid Agung Isfahan terletak di tengah-tengah kota yang suasananya sangat padat, tata letak dan denah berbentuk segi empat tidak beraturan. Mesjid ini berarsitektur hypostyle terdiri dari sahn di kelilingi empat iwan :dua iwan lateral (riwaq), iwan gerbang (pishataq) dan iwan qibla (haram). Bangunan sekeliling mesjid menyatu, membentuk denah kotak-kotak segi empat tidak beraturan. Salah satu iwan dikonversikan untuk ruang sholat dengan sebuah mihrab. Sebuah madrasah ditambahkan kedalam komplek kemudian ditambah pula ruang shalat musim dingin dengan portal sangat megah.
Meskipun tidak semetris bangunan ini mempunyai garis tengah sumbu yang kuat membelah kompleks menjadi dua ditengah-tengah sahn. Saat ini di tengah sahn terdapat kolom segi empat, menjadi tanda titik potong garis sumbu melintang dan membujur dari seluruh kompleks. Pada ujung sumbu arah kiblat di mana terdapat mihrab ditutup dengan kubah besar. Ujung sumbu lainnya juga ditandai oleh sebuah kubah, masing-masing menghadap tegak lurus. Kolam dengan air mancur di tengah pada setiap iwan, terdapat sebuah portal makin memperkuat titik perpotongan sumbu melintang dan membujur. Keempat portal bentuknya satu sama yang lainnya mirip, terdiri dari sebuah ceruk sangat besar, tinggi, bagian atasnya berupa pelengkung patah dibingkai oleh sebuah bidang datar segi empat. Di dalam masing-masing ceruk bagian atasnya dihias dengan muqarnas. Hiasan dominasi warna emas, biru, kuning dan putih bercorak kaligrafi, arabesque, intricate memenuhi hampir semua bidang menghadap ke sahn.
Pada portal iwan-haram di atas terdapat dua menara kembar, silindris khas Iran bentuk dan posisinya seperti tanduk. Sahn kompleks masjid jami’ Isfahan dikelilingi oleh pelengkung-pelengkung patah dari masing-masing iwan, bertumpu karena bangunannya bertingkat dua. Atap dari bagian tertutup sebagian besar berupa kubah berderet membujur dan melintang, masing-masing disangga oleh empat buah kolom. Denah, tata letak, bentuk dan dekorasi dari kompleks masjid ini rupanya menjadi ciri khas dari arsitektur muslim di Iran.


C. Penutup
Peradaban besar selalu meninggalkan bangunan yang megah, kemegahannya selalu dipengaruhi oleh suasana politik, social dan kultur suatau masyarakat. Islam telah membangun peradabannya selama 13 abad lamanya. Dalam rentang waktu yang begitu panjang, terdapat corak dan warna arsitektur Islam terutama masjid sebagai arsitektur yang penuh dengan profan.
Secara sederhana perkembangan arsitektur masjid dibagi menjadi periode klasik, pertengahan dan modern. Setiap periode memiliki bentuk dan corak arsitektur yang berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi kebijakan politik pemerintah, kondisi geografis, budaya suatu masyarakat serta mindset suatu bangsa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar