Jumat, 21 Mei 2010

Epistimologi Sebuah Pendekatan Islam

Oleh : Afnidanengsih, MA (Dosen Ilmu Tasauf FIB-Adab)

Eksistensi ilmu sama tua-nya dengan keberadaan manusia. Secara fitrah manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu, dia ingin tahu dengan dirinya. Manusia yang tidak tahu dengan dirinya adalah manusia yang tidak punya makna hidup, sekaligus tidak punya tujuan dalam kehidupannya untuk menjadikan hidup seseorang lebih bermakna. Malah sebaliknya, orang yang tahu dengan dirinya adalah orang yang mampu mencapai tujuan hidupnya, bahkan ia bisa menjawab siapa dan untuk apa dirinya.


Pertanyaan ini akan timbul apabila manusia itu memiliki ilmu pengetahuan bahkan mampu menguasainya. Manusia sepakat, bahwa ilmu adalah suatu hal yang penting dalam kehidupan, tetapi juga setuju untuk berbeda ketika menjawab dan menjelaskan dari mana sumber ilmu dan bagaimana cara untuk memperolehnya. Kesepakatan yang berbeda inilah yang mendorong munculnya dinamika pemahaman, persepsi , argumentasi manusia ketika memahami apa itu ilmu.
Sebuah realita telah terjadi isme-isme dalam masalah ilmu. Lebih jauh bahkan terjadi dua kutub yang berseberangan. Empirisme dan materialism mengklem dialah yang benar, sementara idealisme dan rasionalisme menyakini dialah yang benar, ujungnya ialah relatifisme, hidup adalah relative. Kajian epistemologi merupakan salah satu masalah yang telah menyeret ilmuan ke dalam perbedaan pandangan yang berkepanjangan. Perbedaan pandangan ini tidak hanya terjadi dewasa ini, tetapi sudah warisan dari zaman Yunani. Islam telah menyelamatkan warisan filsafat Yunani dari kehancurannya, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Kebanyakan mereka yang telah mengemukakan jawaban terdapat persoalan-persoalan dapat dikelompokkan salah satu dalam dua pendapat yaitu rasionalis dan empiris. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan pemikiran filsafat, kedua pendapat ini juga mendapat kritikan yang tajam dari kritisisme. Seolah-olah dialektika pemikiran itu menunjukkan dirinya secara nyata dalam alam pemikiran filsafat. Penampakkannya jelas dalam proses perjalanan pemikiran rasionalis dan empiris yang pada akhirnya telah melahirkan apa yang dikemudian hari amat terkenal dan mewarnai pemikiran dunia hingga dewasa ini, yang dikenal dengan scientific method atau metode ilmiah.
Pengertian Epistemologi
Epistemologi merupakan istilah yang dipakai dalam mengungkapkan salah satu komponen filsafat ilmu. Kajiannya tentang ; (a) asal usul, (b) anggapan dasar, (c) tabiat, (d) kecermatan pengetahuan (Tim Penulis Rosda, 1995 : 96). Juga dapat diartikan, tentang teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut dengan “teori pengetahuan” (Surajiyo, 2005 : 53). Kata Harun Nasution dalam bukunya “filsafat Agama” epistemology adalah sebuah ilmu yang mengkaji tentang apa itu pengetahuan dan bagaimana cara memperolehnya (Harun Nasution, 1976 : 13). Sedangkan terminologinya adalah cabang filsafat yang meneliti pengetuahuan manusia, kepercayaan serta tabiat dan dasar pengalaman (Dik Hartako, 1986 : 23). Bahkan dalam redaksi yang berbeda juga ditemukan pengertian epistemology adalah teori mengenai refleksi manusia atas kenyataan. Berangkat dari pengertian di atas, dapatlah dirumuskan bahwa epistemology ialah salah satu cabang filsafat yang membahas tentang hakikat kebenaran dengan menggunakan metoda dan sistem mengantarkan manusia untuk memperoleh pengetahuan.
Salah satu cabang filsafat yang mengkaji ruang lingkup dan batas-batas pengetahuan adalah epistemology. Karena epistemology dapat memecahkan berbagai masalah (problem-solving capacity) yang mendasar dan meliputi pengkajian sumber-sumber watak, dan kebenaran pengetahuan, yaitu ; apakah yang dapat diketahui oleh akal manusia? darimanakah kita memperoleh ilmu pengetahuan? apakah kita memiliki ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan atau kita harus puas hanya dengan pendapat-pendapat atau sangkaan-sangkaan? Apakah kemampuan kita terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau kita dapat mengetahui yang lebih jauh daripada apa yang diungkapkan oleh indera?
Terdapat 3 persoalan dalam epistemology :
1. apakah sumber-sumber pengetahuan itu? dari manakah pengetahuan yang benar itu datang? dan bagaimana kita dapat mengetahui? merupakan problem asal (origin).
2. apakah watak dari pengetahuan? adakah dunia yang riil di luar akal dan kalau ada, dapatkah kita mengetahuinya? merupakan problem penampilan (appearance) terhadap realitas.
3. apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? merupakan problem kebenaran (verification). (Juhaya S. Praja, 2003 : 87-88).
Ketika menjelaskan pengertian epistemology Islam dapat dilakukan pendekatan dengan menempatkan Islam sebagai subjek yang dijadikan titik tolak berpikir. Falsafah pengetahuan dijadikan objek, sebagai bahan kajian sehingga pendekatan ini dinamakan genetifus obyektifus. Berdasarkan pendekatan ini dapat dirumuskan, bahwa epistemology Islam itu adalah usaha manusia untuk menelaah masalah-masalah obyektifitas, metodologi, sumber serta vitalitas pengetahuan secara mendalam (meng-akar) dengan menggunakan subjek Islam merupakan titik tolak berpikir.
Bentuk-bentuk Pengetahuan yang terdapat dalam al-Qur’an
Secara garis besarnya, berikut ini dapat dijelaskan bentuk-bentuk pengetahuan yang terdapat dalam al-Qur’an yaitu :
a. Pengetahuan alam, terdapat dalam surat Saba’ ayat 10 artinya, “dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud as karunia dari Kami. (Kami berfirman) : Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Baud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya.”
b. Pengetahuan geografis, terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 22, artinya, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung serta sungai-sungai padanya. Dan menjadikan buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutup malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan.”
c. Pengetahuan sejarah, terdapat dalam surat Yusuf ayat 109, artinya, “…mengapa mereka tidak berjalan di muka bumi untuk memperhatikan bagaimana akibat orang-orang purbakala”.
d. Pengetahuan matematika, terdapat dalam surat al-Isra’ ayat 12, artinya “…Allah menjadikan malam dan siang jadi dua ayat (tanda kekuasaan-Nya) dan dijadikan siang untuk mencari rezeki dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun”.
Inilah sebahagian bentuk-bentuk pengetahuan dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang berbagai macam pengetahuan, seperti masalah ekonomi, social budaya, industry, kemasyarakatan, pertanian, aqidah (keyakinan), muamalah dan lain sebagainya.
Harun Nasution dalam bukunya “Kedudukan Akal dalam Islam” menyebutkan uraian ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan dorongan al-Qur’an kepada manusia untuk mempergunakan akal adalah : dabbara (merenungkan) berjumlah 8 ayat, faqiha (mengerti) berjumlah 20 ayat, nazhara (melihat secara abstrak) berjumlah 30 ayat dan tafakkara (berpikir) berjumlah 1 ayat. (Harun Nasution, 1979 : 17). Selain yang berhubungan dengan pemakaian akal dalam al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat yang berkenaan dengan penggunaan indra antara lain dalam surat al-Maidah ayat 80, artinya, “Kamu melihat kebanyak dari mereka tologn menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan”. Jadi, pemakaian akal dan indra dalam al-Qur’an merupakan sesuatu hal yang diperintahkan, karena al-Qur’an memberikan tempat bagi falsafah kendatipun al-Qur’an bukan buku falsafah.
Metoda mendapatkan Pengetahuan
1. Pengetahuan lewat akal
Islam memberikan kedudukan yang tinggi terhadap akal manusia, ini terlihat dari beberapa ayat al-Qur’an. Pengetahuan yang diperoleh melalui akal disebut dengan pengetahuan akli, sementara pengetahuan yang diperdapat melalui indera disebut pengetahuan empiri. Pemakaian akal dan indera dalam mendapatkan pengetahuan tidaklah dapat dipisahkan karena satu dengan lainnya saling mendukung. Aktifitas akal disebut berpikir, karena ia merupakan karakter manusia sebagai makhluk yang paling mulia, bahkan dapat memunculkan perkembangan ide, konsep dan gagasan. (Jujun S. Surisumantri, 1981 : 52). Kemudian dipertegas lagi oleh Harun Nasution, akal dalam pengertian Islam bukanlah otak melainkan daya berpikir (Harun Nasution,1979;9). Selanjutnya juga dikatakan el Muhammadi, akal berarti ikatan antara pikiran (al-fikri), perasaan (wujdan) dan kemauan(al-iradah). Bila ikatan itu tidak ada maka tidak ada-lah akal itu (TM. Usman al Muhammadi, 1970 : 3).
Ide merupakan istilah yang diterima dari Plato (filosof Yunani) karena ide itu merupakan sesuatu yang bersifat tetap, gambaran mental, pola dan paham sedangkan konsep adalah gagasan yang bersifat umum. Konsep juga merupakan bentuk khas pertimbangan yang memantulkan apa yang bersifat universal dan essensi di dalam segala hal ikhwal. Juga dapat dibentuk secara praktis berulang-ulang yang mencakup perbandingan, analisa, sintesa dan peng-kongkritan. (SJ. Poeradisastra, 1979 : 3). Jadi berpikir itu merupakan perkembangan gambaran mental manusia secara khusus dapat memantulkan apa yang bersifat umum, hakiki ketika menangkap berbagai masalah yang dihadapinya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa, akal dalam Islam tidak dapat disamakan dengan ratio dalam bahasa latin, atau reason dalam bahasa Inggris. Karena akal dalam perspektif Islam merupakan perpaduan dari 3 unsur yaitu pikiran, perasaan dan kemauan. Pikiran terdapat pada otak, perasaan terdapat pada indera sedangkan kemauan terdapat pada jiwa.
Filosof Islam mencoba membagi akal kepada 2 jenis yaitu akal praktis (amilah) yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada pada jiwa, sedangkan akal teoritis (alimah) yang mampu menangkap arti-arti murni, yaitu arti-arti yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat. Dengan kata lain, akal praktis dapat menangkap pengertian dari benda fisik sedangkan akal teoritis menangkap pengertian yang bersifat metafisik.
Akal teoritis memiliki tingkatan sebagai berikut :
a. akal material (al aqlu al hayulani) yang merupakan potensi belaka yaitu akal yang kesanggupannya untuk menangkap arti murni yang tak pernah berada dalam materi. Akal material ini hanya bersifat potensi, dapat menangkap sesuatu dari luar jika ada rangsangan.
b. akal bakat (al aqlu bi al malaka) akal yang kesanggupannya untuk berpikir abstrak secara murni telah mulai kelihatan. Ia dapat menangkap pengertian dan kaedah umum yang memerlukan abstraksi.
c. akal actual (al aqlu bi al fi’li) akal yang lebih mudah dan lebih banyak menangkap pengertian dan kaedah umum yang dimaksud. Akal actual ini merupakan gudang bagi arti-arti abstrak yang dapat dimunculkan setiap kali dikehendaki juga sebagai wadah untuk menyimpan pengertian.
d. akal perolehan (al aqlu al mustafad) akal yang didalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dimunculkan dengan mudah sekali yang menghasilkan pengertian yang sebenarnya.
Pengetahuan lewat Indera
Merupakan seluruh pengetahuan yang diperoleh manusia melalui serapan atau persentuhan indera manusia dengan dunia luar yang disebut juga dengan empiri. Empiri berasal dari Yunani yaitu “ pengalaman”. Penginderaan merupakan proses refleksi (pantulan) objek-objek luar yang khusus ditangkap oleh indera-indera tertentu. Bahkan setiap indera itu mempunyai fungsi masing-masing sehingga dapat menghasilkan pengetahuan. Dengan jalur indera kita menumpukkan gambaran-gambaran konsepsional dari alam eksternal, karena barang siapa kehilangan indera berarti telah kehilangan pengetahuan (Ibrahim Madkour, 2002 : 281). Proses indera bekerja melalui tahapan-tahapan yaitu :
1. dengan refleksi (pantulan) menerima rangsangan dari luar.
2. Pencerapan, dimana objek yang diterima memantul secara menyeluruh setelah melalui pengelolaan yang akan terjadi penggabungan penginderaan.
3. Objek dan gejala dunia luar dipantulkan secara khusus, tingkat ini telah sampai kepada tingkat abstraksi (pengertian).
Dalam Islam, indera manusia dibagi kepada 2 bagian yaitu indera luar dan indera dalam yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri yaitu :
a. Indera bersama (al hiss al musytarak) bertempat di bagian depan otak yang berfungsi untuk menerima kesan-kesan yang diperoleh dari panca indera luar dan meneruskannya ke indera batin.
b. Indera penggambar (al khayal) bertempat di bagian depan otak yang bertugas untuk melepaskan kesan-kesan yang diteruskan indera bersama dari materinya.
c. Indera peng-reka (al mutakhayyilah) yang bertempat di bagian tengah otak untuk mengatur gambar-gambar yang telah dilepaskan dari materinya dengan memisah-misahkan dan kemudian menghubungkannya satu dengan yang lain.
d. Indera penganggap (al wahmiyah) juga bertempat dibagian tengah otak yang mempunyai fungsi menangkap arti-arti yang dikandung oleh gambar itu.
e. Indera pengingat (al hafizah) yang bertempat di bagian belakang otak, berfungsi untuk menyimpan arti-arti yang ditangkap indera penanggap (Harun Nasution, 1979 : 7-8).
Dalam tradisi filsafat, mereka yang telah mengemukakan jawaban terhadap persoalan persoalan yang ada, dapat dikelompokkan dalam salah satu dari dua aliran yaitu rasionalisme dan empirisme. Adapun kelompok rasionalis berpendapat, bahwa akal manusia dapat mengungkapkan prinsip-prinsip pokok dari alam tanpa adanya bantahan dari yang lain. Sedangkan kelompok empiris berpendirian, bahwa semua pengetahuan pada dasarnya datang dari pengalaman indera, dan oleh karena itu pengetahuan kita terbatas pada hal-hal yang dapat di alami.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metoda memperoleh ilmu pengetahuan yang berusaha mencari kebenaran lewat pintu rasional (akal) dan empiri (indera), yang kemudian juga dibicarakan oleh aliran berikutnya.
PENUTUP
Islam mengkaji prinsip-prinsip epistemology, bahkan al-Qur’an sangat memberi motivasi yang kuat agar lebih jauh membahas berbagai dimensi ilmu pengetahuan. Dengan mempergunakan panca indera dan akal sebagai sebuah metodenya. Juga dalam al-Qur’an sangat banyak ditemukan ayat-ayat yang membicarakan tentang pokok-pokok ilmu pengetahuan, baik secara akal (rasional) maupun indera (empiri). Bahkan akal merupakan perspektif penggabungan antara pikiran, perasaan dan kemauan. Terutama pengetahuan tentang alam, geografis, sejarah, matematika, falsafah dan sebagainya. Ilmu dalam Islam bersumberkan dari ayat-ayat khalqiyah (kauniyah) dan ayat-ayat kalamiah (wahyu) yang bersumber dari Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar