Selasa, 18 Agustus 2009

Perpustakaan Islam Periode Klasik

Oleh : Dra. Sismarni, M.Pd (Dosen Jur. SKI)

Perpustakaan dalam Islam telah berdiri pada zaman klasik, tepannya pada masa pemerintahan dinasti Umaiyah. Jenis perpustakaan pada masa ini adalah perpustakaan pribadi yang dimiliki oleh Khalid ibnu Yazaid, perpustakaan semi umum yaitu perpustakaan yang dimiliki oleh Khalifah, dan para pembesar,dan perpustakaan umum yaitu perpustakaan Mesjid.

Peradaban adalah hasil dari kejeniusan suatu bangsa. Hal ini telah diakui secara umum, ambil saja contoh peradaban Yunani adalah hasil dari kejeniusan bangsa Yunani, begitu juga dengan peradaban Islam merupakan hasil dari para jenius umat Islam, demikian pula halnya dengan peradaban Barat yang sekarang memperlihatkan kejayaannya juga hasil dari jeniusnya bangsa Barata. Kejeniusan suatu bangsa tidak mungkin akan lahir dan berkembang dengan begitu saja tanpa didukung oleh upaya yang sungguh-sungguh dan sarana yang memadai, salah satu sarana yang sangat berperan dalam hal ini adalah perpustakaan. Berdirinya perpustakaan merupakan reaktualisasi kepedulian ilmuan-ilmuan Islam dalam meningkatkan potensi intelektual umat Islam khususnya dikalangan pelajar dan pemerhati ilmu pengtahuan.
Perpustakaan Islam dengan koleksi buku-bukunya memainkan peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Disamping itu perpusakaan merupakan mesin penggerak yang dapat mengangkat kebesaran peradaban Islam. Selain dari itu perpustakaan juga merupakan salah satu sarana yang mempunyai andil yang cukup ampuh dalam melahirkan dan mengembangkan kejeniusan intelektual umat Islam yang selanjutnya mewariskan peradaban sehingga Islam pernah menjadi pemimpin dunia dalam masa yang cukup panjang sebelum peradaban barat mengamil alih kepemimpinan pada masa modern sekarang.

Kelahiran sebuah perpustakaan tidak terlepas dari sejarah manusia, karena pada dasarnya perpustakaan merupakan produk manusia. Dalam sejarahnya manusia pada awalnya hidup secara nomaden (berpindah-pindah). Pada perkembangan berikutnya manusia mulai hidup menetap dalam kehidupan ini manusia memperoleh pengalaman untuk memberi tanda pada sebuah batu, pohon, papan, lempengan serta benda lainnya kepada manusia lainnya untuk menyampaikan berita ke manusia lainnya. Tanda tersebut menjadi alat bagi mereka dalam berhubungan antara satu dengan yang lain dan. juga digunakan sebagai cantuman (record) mengenai apa yang dikatakan manusia maupun apa yang perlu diketahui seseorang. Hal ini akan dapat membantu daya ingat manusia karena mereka dapat melihat catatannya pada benda-benda tersebut diatas pesan dalam berbagai pahatan serta dapat diteruskan ke generasi berikutnya.
Kegiatan memberi tanda pada berbagai benda yang dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya dianggap awal tumbuhnya perpustakaan dalam bentuk yang sangat sederhana. Hal ini sudah mulai dikenal ketika manusia mulai melakukan kegiatan penulisan pada berbagai benda walaupun demikian belum dapat dipastikan kapan perpustakaan pertama kali berdiri. Berdasarkan bukti arkeologis diketahui bahwa perpustakaan pada awalnya berupa kumpulan catatan transaksi niaga. Karena kegiatan perpustakaan purba tidak lain dalam bentuk penyimpanan kegiatan niaga. Manusia pada zaman purba berusaha mencatat kegiatannya dengan cara memahatkan catatannya pada kayu, batu, dan lempengan. Sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman dari kegiatan pencatatan diatas, kemudian dikenal beberapa perpustakaan diberbagai Negara seperti dibawah ini:
1. Sumeria dan Babilonia.
Perpustakaan di Sumeria sudah dikenal semenjak 3000 tahun SM, hal ini sejalan dengan pedapat Sulistio Basuki bahwa, bangsa Sumeria sekitar 300 tahun sebelum masehi telah menyalin rekening, jadwal kegiatan, pengetahuan yang mereka peroleh dari bentuk lempeng tanah liat (clay tablets) Tulisan yang digunakan masih berupa gambar (piglograph) kemudian ke aksara Sumeria. Setelah wilayah ini ditaklukan oleh Babilonia, kebudayaan Sumeria temasuk kepercayaan, peraktek keagamaan dan tulisan Sumeria mulai berpengaruh di Babilonia. Tulisan Sumeria emudian dirubah menjadi tulisan paku (cuneiform). Pada masa pemerintahan raja Ashurbanipal dari Assyiria (668-626 SM) didirikanlah perpustakaan di ibukta Nineveh. Perpustakaan ini berisi puluhan ribu lempeng tanah liat yang dkumpulkan dari segala penjuru kerajaan. Untuk mencatat koleksi digunakan system subjek serta tanda pengenal pada tempat penyimpanan. ( sulistio 1993:22).

2. Mesir
Pada masa pemerintahan Bathlaimus I ( 323-285 SM) raja pertama kerajaan Bathlalisah di Mesir,dibangun sebuah museum yang juga berfungsi sebagai universitas dan sebuah perpustakaan yang terkenal dalam sejarah yaitu “Perpustakaan Iskandariyah” ( The Library of Alexandria ).(Muchtar Yahya (1985:430) Dengan berdirinya perpustakaan ini maka berkembanglah perradaban Mesir kuno. Para ahli, para sarjana, mahasiswa dan pencinta ilmu berdatangan dari segenap negeri yang telah mempunyai peradaban.
Teks tertulis pertama yang ada di perpustakaan Mesir diperkirakan berasal sekitar tahun 4000 SM, Perpustakan ini mengalami kemajuan atas usaha Demetrius dan Phalerum. Koleksi yang tersedia pada perpustakaan ini sekitar 200 000, gulungan papyrusdan pada abad pertama Sm mencapai 700 000 gulungan. Perpustakaan kedua adalah Serapeum, memiliki 42 000- 100 000 gulungan terpilih. Semua gulungan ini disunting dan disusun menurut bentuknya dan diberi catatan sehingg menjadi sebuah bibliografi sastra Yunani (Sulistio 1993:23)
3. Yunani
Di Yunani perpustakaan mulai berdiri sekitar abad ke 6 dan ke 7 SM, yaitu perpustakaan milik Peisstratus (dari Athena) dan Polyerratus (dari Samos). Perkembangan perpustakaan di Yunani terjadi pada masa kejayaan Yunani yaitu dibawah pimpinan Pericles sekitar abad ke 5 SM. Pada waktu itu membaca merupakan pengisi waktu senggang dan merupakan awal dimulainya perdagangan buku.
Filosof Aristoteles dianggap sebagai orang pertama yang mengumpulkan , menimpaan dan memanfaatkan budaya masa lalu.Perkembangan perpustakaan Yunani kuno mencapai puncaknya pada semasa Hellenisme yang ditandai dengan penyebaran ajaran dan kebudayaan Yunani.
4. Roma
Kehidupan budaya dan intelektual Roma dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani. Ha ini disebabkan oleh terjadinya kontak ilmu antara orang Roma dengan Yunani. Pada masa kejayaan ilmu pengetahuan di Yunani, banyak orang Roma yang mempelajari filsafat, sastra dan ilmu pengetahuan lainnya. Perpustakaan pribadi mulai tumbuh di Roma disebabkan banyaknya perwira tinggi yang membaa rampasan perang, termasuk buku-buku. Di samping itu juga karena adanya perintah untuk membuka perpustakaan untuk umum. oleh Julius Caesar.
Berdasarkan hal tersebut akhirnya tersebarlah perpustakaan keseuruh bagian kerajaan Roma. Pada masa itu muncul bentuk buku baru dalam bentuk codek yang merupakan kumpulan parchmen,diikat serta dijilid menjadi satu seperti buku yang kita kenal sekarang. Codex mulai digunakan secara besar-besaran pada abad ke 4. Akibat kemunduran yang dialami kerajaan Roma, maka perpustakaanpun mengalami nasib yang sama, akhirnya yang tinggal adalah perpustakaan biara
5. Bizantium.
Awal berdirinya perpustakaan di Bizantium adalah pada masa kekuasaan Kaisar Konstantin Agung raja kerajan Roma Barat dan Timur ((324 SM ) Ia mendirikan perpustakaan kerajaan dan mengumpulkan karya Latin, karena bahasa Latin pada waktu itu merupakan bahasa resmi abad ke 6. Koleksi ini kemudian ditambah dengan karya-karya Kristen dan non Kristen, baik dalam bahasa Yunani maupun Latin. Koleksinya berjumlah 120.000 buku. Pada waktu itu gereja merupakan pranata kerajaan yang paling penting, karena adanya ketentuan bahwa seoang uskup harus memiliki sebuah perpustkaan, dengan dmiin maa bekembanglah perpustakaan gereja.

Sebelum melihat latar belakang berdirinya perpustakaan dalam Islam dirasa penting terlebih dahulu untuk menjelaskan pengertian dari perpustakaan tersebut. Berbicara tentang perpustakaan, pada umumnya orang akan memperediksikan sebuah gedung atau ruangan yang dipenuhi dengan rak buku. Anggapan yang demikian dapat dibenarkan karena bila kita perhatikan kata dasar dari perpustakaan adalah pustaka, berasal dari bahasa Latinl “Leber” atau “libri” yang bearti buku. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan “Library” dalam bahasa Arab “ Maktabah “Italia “ biblioteca” Perancis “bibliotheque”, Jerman, “bibliothek” dan dalam bahasa Belanda “Bibliotheek”.
Menurut istilah Perpustakaan dapat diartikan “ sebuah gedung atau ruangan yang digunakan untuk menyimpan buku atau terbitan lainnya yang disusun menurut tata susunan tertentu untuk digunakan sipembaca. Pengertian ini sejalan dengan pendapat Lasa yang mendefinisikan perpustakaan dengan “kumpulan bahan informasi yang terdiri dari bahan buku/ book materials dan bahan non buku materials yang disusun dengan system tertentu dipersiapkan untuk diambil manfa.atnya tidak untuk dimiliki sebahagian maupun keseluruhannya”.( Lasa Hs 1994:1)
Sedangkan menurut Webster’s Third Edition International Dictionary edisi 1961, bahwa perpustakaan adalah kumpulan buku, manuskrip dan bahan pustaka lainnya yang digunakan untuk keperluan studi atau bacaan, kenyamanan atau kesenangan. Lain pula halnya dengan pendapat International of Library Association and Institution (IFLA) perpustakaan sebagai kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemaka
Berdasarkan pengertian diatas terlihat bahwa koleksi perpustakaan digunakan untuk sipembaca, dengan tujuan untuk mendayagunakan koleksinya untuk kepentingan mereka dengan kata lain koleksinya bukan unuk diperjual belikan.
Adapun yang melatar belakangi lahirnya perpustakaan dalam Islam adalah:
1. Ajaran Islam, Al-qur’an dengan perintah “bacalah” mendorong dan memotivasi umat Islam untuk memperoleh ilmu pengetahuan,dengan demikian mereka (intelektual Islam) berupaya untuk melakukan berbagai kegiatan seperti menerjemahkan buku-buku yang berhahasa asing kedalam bahasa Arab, berkumpul di mesjid untuk membahas dan mendiskusikan persoalan- persoalan ilmiah dan melakukan perjalanan jauh untuk mendangarkan tokoh-tokoh terkemuka berdiskusi tentang karya-karya mereka, sehingga berkembanglah kehidupan intelektual.. Hal ini merupakan dasar untuk menghasilkan pengetahuan dan literatur serta mampu merangsang timbulnya koleksi-koleksi buku-perpustakaan yang tertata rapi.
2. Dunia ilmu semakin menempati kedudukan yang sangat tinggi sementara Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-qur’an surat 3:190 kemudian surat 7:185 surat 30:40 dan lain-lain.
3. Kegiatan penerjemahan yang melahirkan sebuah buku juga termasuk suatu yang member andil bagi penerbitan buku.
4. Perhatian atau kepedulian Islam itu sendiri terhadap pendidikan dan buku. Dalam Islam buku tidak hanya diperlakukan semata-mata sebagai media bahkan lebih dari itu, ia mempunyai nilai-nilai moral yang dapat melandasi perhatian yang diberikan kepadanya, perhatian tersebut mengharuskan penyebar luasan dan pemeliharaan buku sebagai bahagian dari kegiatan mendukung ilmu pengetahuan dan pendidikan.
5. Diperkenalkannya teknologi kertas ke dunia Islam, sehingga ia mempermudah menurunkan biaya dan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau mereproduksi buku sehingga mendorong ledakan jumlah buku untuk beredar
6. Kehidupan yang berkembang di dalam Mesjid menyebar keluar dan meninggalkan jejaknya di kalangan yang berpengaruh dimana-mana.
7. Kecintaan para penguasa dan para pembesar terhadap ilmu pengetahuan, maka untuk kepentingan itu mereka menyediakan dana khusus dan memberikan gaji yang besar kepada para ilmuan.
8. Perekonomian yang cukup makmur juga merupakan faktor pendukung berkemangnya perpustakaan pada zaman itu.
Islam adalah agama yang menaruh perhatian besar pada ilmu pengetahuan, hal ini terbukti dengan giatnya tulis-menulis sejak priode awal. Keterlibatan inilah yang juga mendorong cepatnya Islam menyebar ke daerah-daerah yang kaya akan buku dan perpustakaan kuno, sehingga mereka menemukan papyrus (lontar) dari Mesir dan menggali naskah-naskah kuno di daerah-daerah Telloh, Ur, Warka, Niniveh. Ugarit dan yang paling akhir Ebla yang terletak di wilayah Mesopotamia dan Mesir.
Mereka menemukan pula perpustakaan Agung (Great Library) di Alexandria yang paling terkenal pada waktu itu. Kecintaan pada bukupun menjadi karakteristik dunia Islam pada masa itu, karena mereka menggap perbuatan itu yang disertai dengan pendirian banyak perpustakaan merupakan suatu perbuatan amal shalih yang amat terpuji. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa perpustakaan dalam Islam telah tumbuh.semenjak awal. Akan tetapi amat disayangkan bukti-bukti pada tahun-tahun permulaan Islam tidaklah banyak ditemukan sampai dengan dikenalnya kertas dari Cina.
Setelah umat Islam berkenalan dengan kertas maka perpustakaan dalam Islam mulai didirikan oleh orang-orang kaya, kalangan bangsawan dan di istana-istana para penguasa. Karena Al Qur’an mengharuskan individu-individu untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan menyediakan kekayaan yang dimilikinya bagi orang lain yang kurang beruntung, maka para hartawan membiayai pembangunan perpustakaan dan seringkali membukanya untuk para ilmuwan dan kadang-kadang untuk umum.
Menurut para ahli, perpustakaan pertama dalam Islam adalah perpustakaan pribadi yaitu perpustakaan Khalid ibnu Yazid bin Muawiyah (w704) ia seorang sastrawan dan kolektor buku. Perpustakaan ini lahir pada masa pemerintahan dinasti Ummayah (661-750 M) yaitu suatu dinasti Islam setelah pemerintahan khulafuraysyidin. Dinasti ini telah melakukan beberapa perubahan bukan saja dalam system pemerintahan tetapi juga dalam bidang peradaban terutama kehidupan ilmu dan akal.
Adapun yang mendorong Yazid untuk mendirikan perpustakaan adalah untuk menghibur diri setelah kecewa karena tidak mendapatkan kekhalifahan. (J. Pederson 1984:152) disamping perpustakaan Khalid koleksi lain dimiliki oleh perpustakaan-perpustakaan mesjid kekhalifahan, lembaga pendidikan dan perpustakaan umum. (John L. Esposito jilid 4 1990:351).
Pada periode dinasti Abbasiyah perpustakaan memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Hal ini terlihat setelah khalifah al Mansur (754-775) khalifah ke dua dari dinasti Abbasiyah mendirikan biro penerjemahan di Baghdad. Kemudian pada masa pemerintahan Harun Al Rasyid lembaga ini bernama khizanah al hikmah (khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian).. Pada perpustakaan ini banyak tersimpan buku-buku berbahasa asing yang telah diterjemahan kedalam bahasa Aeab seperti dari bahasa Yunani, Parsi, Syiriac dan Sanskrit, dan terdaftar dalam katalog bernama Fibrist karya Ibn Al Nadim dan Kasyif karya Haji khalifah.
Pada tahun 815 al Ma’mun mengembangkan lembaga ini dan merubah namanya dengan bayt-al-Hikmah. Perpustakaan ini menyerupai universitas yang bertujuan untuk membantu perkembangan belajar, mendorong penelitian, dan mengurusi terjemahan teks-teks penting. Koleksi buku Perpustakaan Baghdad berjumlah 400 hingga 500 ribu jilid. Menurut riwayat, khalifah Al Makmun Al Rasyid, telah memperkerjakan cendekiawan-cendekiawan terkenal pada perpustakaan ini diantanya yaitui Al Kindi -filosof-, untuk menerjemahkan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab. Al Kindi sendiri menulis hampir tiga ratus buku tentang masalah-maslah kedokteran, filsafat sampai musik yang disimpan di Bayt Al-hikmah. Musa Alkhawarizmi, matematikawan ternama dan penemu aljabar juga bekerja di tempat ini dan menulis buku terkenalnya kitab Al-jabr wa’al-muqabilah.
Perpustakaan bayt al-Hikmah adalah perpustakaan pertama terbesar dalam Islam. Pada perpustakaan ini para ulama dan intelektual melakukan berbagai aktifitasnya. Begitu juga mahasiswa-mahasiswa Islam, berdatangan ke perpustakaan tersebut untuk memperluas dan mendalami berbagai jenis ilmu pengetahuan, seperti,. Mendalami Al-Qur’an, kesusasteraan dan filsafat astronomi, tata bahasa, lexicography dan obat-obatan.
Ruang perpustakaan tersebut diperindah dengan karpet sedang seluruh pintu dan koridornya berkorden. Para manager, pegawai, portir (penjaga pintu) dan pekerja kasar lainnya ditunjuk untuk memelihara keberadaan Baitul Hikmah Menurut Al-Maqrizi anggaran pemeliharaan mencapai 257 dinar pertahun guna untuk kelengkapan permadani, kertas, gaji pegawai, air, tinta dan pena, perbaikan-perbaikan dan sebagainya. Kertas, pena dan tinta disediakan cuma-cuma bagi para siswa yang diambilkan dari hasil wakaf dan para dermawan. Ibnu Al Furat ( W. 924 M) mengatakan bahwa pada masa-masa terakhir jabatannya ia memikirkan murid-muridnya. Katanya “Barangkali mereka tidak mampu mengeluarkan uang sebesar satu sen-pun atau bahkan kurang dari itu untuk membeli tinta dan kertas, maka sudah menjadi kewajiban saya membantu dan menyediakannya”. Dan untuk ini ia mengeluarkan 20.000 dirham dari dompetnya sendiri. ( lihat, http/jaen 2006.wordpress.com 2007/04/14)
Perpustakaan lain yang tak kalah besarnya pada masa ini adalah perpustakaan di Madrasah Nizamiah yang didirikan pada 1065 M oleh Nizam Al Mulk. Ia adalah seorang perdana mentri dalam pemerintahan Saljuq.. Koleksi di perpustakaan ini diperoleh sebagian besar melalui sumbangan, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Al-Atsir (sejarawan) bahwa Muhib Al-Din ibn Al-Najjar Albaghdadi mewariskan dua koleksi besar pribadinya kepada perpustakaan ini.dan Khalifah Al-Nashir juga menyumbangkan beribu-ribu buku dari koleksi kerajaannya kepada perpustakaan tersebut. Karyawan dan pustakawan-pustakawan diberi gaji yang besar. Hal ini bukan hanya terjadi di perpustakaan Nizamiah saja. Akan tetapi hampir di seluruh perpustakaan zaman tersebut. Bahkan Al Nadim memaparkan adanya tanda-tanda keirihatian dari para pustakawan –khususnya pustakawan Bayt Al Hikmah, sebab mereka memiliki kedudukan yang tinggi di dalam masyarakat, karena kecendikiawanan mereka.
Diantara pustakawan terkenal Nizamiah adalah Abu Zakariah Tibrizi dan Ya’qub ibn Sulaiman AL-Askari. Pada tahun 1116 M perpustakaan ini mengalami musibah : kebakaran hebat yang menghabiskan seluruh bangunan dan isinya. Di samping bayt al- Hikmah, Khalifah Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa di madrasah yaitu perpustakaan al-Mustanriyah yang didirikan pada 1227 M. Uniknya perpustakaan ini adalah memiliki rumah sakit di dalamnya. Oleh karena itu perpustakan ini berfungsi sebagai madrasah dan rumah sakit.
Pengelana dunia terkenal (Ibn Baththuthah) menjelaskan bahwa Mustanriah dan perpustakaannya, melalui sumbangan-sumbangan sekitar 150 unta dengan muatan buku-buku yang langka disumbangkan ke perpustakaan ini. Perpustakaan ini memiliki koleksi yang cukup besar, dari milik kerajaan saja perpustakaan Mustanriah mendapatkan 80.000 buku. .(http./www.pks-jakselor.id/indek pkp?name=news&file=article&sid=1396
Bila diperhatikan, perpustakaa pada waktu ini bukan hanya berkembang di Bagdad saja melainkan hampir diseluruh kota besar di dunia timur. Kairo misalnya berdiri perpustakaan khalifah dengan jumlah buku yang tersedia sekitar 2.000.000 (dua juta) eksemplar. Selain dari itu ada lagi perpustakaan Darul Hikmah yang juga bertempat di di Kairo. Perpustakaan ini mempunyai 40 lemari. Dalam setiap lemari memuat sampai 18.000 buku. selain itu, diperpustakaan ini juga disediakan segala yang diperlukan pengunjung seperti tinta, pena, kertas dan tempat tinta
Perpustakaan ini terbuka untuk umum, bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu untuk menelaah buku-buku, juga disediakani penginapan, makan dan bahkan diberi gaji. Untuk melihat bagaimana keadaan perpustakaan di Kairo ini dapat diketahui dari perkataan Filosof besar Ibn Sina yang pernah berkunjung kesana :
” Disana, saya menemukan sejumlah ruangan yang penuh dengan buku, tersusun dalam lemari-lemari yang ditata dalam barisan yang rapi. Satu ruangan dikhusukan bagi buku-buku tentang bahasa dan puisi; ruangan lain untuk bidang hukum; dan seterusnya; kumpulan buku dalam bidang tertentu mempunyai ruangannya sendiri. Lalu saya (Ibnu Sina) meneliti katalog penulis Yunani kuno dan mencari buku yang saya butuhkan . Dalam koleksi perpustakaan ini saya menemukan sejumlah buku yang hanya diketahui oleh sedikit orang saja, dan belum pernah saya lihat dan tak pernah lagi saya lihat sesudahnya”.
Di Afrika Utara (Tripoli) berdiri pula perpustakaan yang dibangun oleh Bani Ammar.. Perpustakaan ini berisi buku-buku yang langka dan baru dijamannya. Bani Ammar mempekerjakan orang-orang pandai dan pedagang-pedagang untuk menjelajah negeri-negeri dan mengumpulkan buku-buku yang berfaedah dari negeri-negeri yang jauh dan dari wilayah-wilayah asing. Jumlah koleksi bukunya mencapai 1.000.000. Terdapat 180 penyalin yang menyalin buku-buku di sana.
Jika dialihkan panngan kita ke arah barat atau ke Andalusia, maka terlihatlah betapa majunya peradaban Islam disana. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, begitu juga lembaga-lembaga pendidikan temasuk perpustakaan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka berdirilah universitas Islam pada setiap pusat kota, seperti Cordova, di kota ini berdiri lembaga pendidikan sebanyak 27 buah dan bebeapa perpustakaan. Di samping pepustakaan pusat yang memiliki 400.000 buku terdapat pula perpustakaan-perpustakaan pribadi. ( Abdullah Salam 1980:25) Universitas Granada yang didirikan oleh khalifah Banu Nasr yang ke tujuh dan pada masa Yusuf Abu Al- Halaj ( 1333-1354M ) berdiri pula universitas Sevill dan Malaga (Muslim Ishak 1980:7).
Pada setiap universitas tersebut dilengkapi dengan perpustakaan yang mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap. Perpustakaan lain adalah perpustakaan Al-Hakam dengan koleksi buku didalamnya mencapai 400.000 buah. Perpustakaan ini mempunyai katalog-katalog yang sangat teliti dan teratur yang mencapai 44 bagian. Di perpustakaan ini terdapat pula para penyalin buku yang cakap dan penjilid-penjilid buku yang mahir.
Perpustakaan –perpustakaan zaman tersebut tidak saja dilindungi dan ditopang oleh para khalifah, tetapi juga para raja-raja kecil yang juga ikut memberikan sumbangan untuk berdirinya perpustakaan-perpustakaan, sehngga banyak melahirkan perpustakaan pribadi, salah satunya adalah perpustakaan pribadi milik Mahmud Al Daulah ibn Fatik. Beliau adalah seorang yang ahli dalam menulis dan kolektor besar, ia menghabiskan semua waktunya di perpustakaannya untuk membaca dan menulis. hal inilah yan membawa beliau ke jenjang popularitas. Oleh karena itu keluarganya merasa sedemikian diabaikan, sehingga ketika ia meninggal, keluarganya berupaya untuk membuang buku-bukunya karena dibakar oleh kemarahan.
Para pelindung perpustakaan juga mencurahkan sebagian besar pemikirannya untuk desain, tata letak dan arsitektur perpustakaan agar masyarakat luas dapat menjangkau buku-buku dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan dengan mudah. Kebanyakan perpustakaan-perpustakaan tersebut ditempatkan di gedung yang dirancang secara khusus, dengan banyak ruangan untuk berbagai tujuan, galeri-galeri dengan rak buku, ruangan-ruangan untuk kuliah dan debat, termasuk juga ruangan-ruangan untuk hiburan musikal. Semua ruangan berpermadani sehingga para pembaca dapat duduk diatasnya. Gorden-gordennya menciptakan suasana menyenangkan dan pengaturan ruangan menciptakan suhu yang sesuai.
Dilihat dari penataan koleksi, perpustakaan-perpustakaan zaman tersebut pustakawan sudah menata buku berdasarkan klasifikasi ilmu pengetahuan tertentu. Mereka telah membuat sistem klasifikasi ilmu pengetahuan yang diterapkan untuk penataan buku di perpustakaan. Diantara klasifikasi yang paling terkenal adalah yang dibuat oleh : Al-Kindi (801-973 M ), Al Farabi (wafat pada 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Al Ghazali (1058-1111M), Al-Razi (864-925 M) dan Ibnu Khaldun (1332-1403 M). Para pustakawan pada umumnya memiliki kualitas yang benar-benar tinggi, di samping berfungsi sebagai pustakawan mereka juga sebagai penulis-penulis terkenal yang telah menerjemahkan karya-karya dari bahasa Yunani dan Persia, diantaranya Al Murthadha yang mengepalai perpustakaan Subur, ia adalah seorang ’alim dan cukup besar pengaruhnya dikalangan cendikiawan, Hakim Abd Al-Aziz pemimpin perpustakaan Dar Al’Ilm di Kairo, terkenal karena penguasaannya akan yurisprudensi. Profesi pustakawan zaman itu memberikan kehormatan yang tinggi dan gaji yang cukup besar.
Para ulama jaman itu memiliki perpustakaan yang isinya mencapai ribuan buku.Tetapi sangat disayangkan, perpustakaa yang telah berkembang begitu pesatnya akhirnya hancur karena perang Salib dan invasi bangsa Mongol ke dunia Islam. Petaka serangan Salib telah membuat umat Islam kehilangan perpustakaan-perputakaan paling berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, Al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya yang dihancurkan mereka. Serangan bangsa Mongol yang begitu dahsyat telah memporak porandakan kota Bagdad dengan sekalian isinya termasuk perpustakaan, mereka membakar dan membuang koleksi buku ke Sungai Tigris.. Ini adalah pemusnahan buku paling mengerikan dalam sejarah perpustakaan Islam.
Salah satu perpustakaan besar Islam yang ada sekarang adalah Perpustakaan Masjid Nabawi. Perpustakaan ini didirikan pada pertengahan abad ke-14 H. Pembangunannya dipimpin oleh Sayid Ahmad Yasin Al-Khiyari (wafat 1380 H). Koleksi kitabnya sampai sekarang sudah bertambah hingga mencapai 60 ribu judul buku. Koleksi kitab yang terdapat disana antara lain: kitab tauhid, tafsir Alquran, tajwid, qiraat, dan ilmu-ilmu Alquran, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Syarah Nawawi, kitab sejarah Islam, sejarah Makkah, sejarah Madinah, dan buku-buku pelajaran bahasa Arab, kitab-kitab fikih dari empat mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali), maupun kitab-kitab fikih dari mazhab-mazhab lain, kitab-kitab ushul fikih, dan akhlak.

Pada umunya setiap perpustakaan mempunyai tujuan, anggota, organisasi, dan kegiatan serta sejarah yang berbeda. Perbedaan ini mengakibatkan timbulnya berbagai jenis perpustakaan. Adapun jenis perpustakaan pada awal Islam dapat diklasifksikan kepada tiga jenis yaitu:
1. Perpustakaan Umum, yaitu perpustakaan yang dibangun oleh Negara pendanaanya subsidi dari Negara dan msyarakat Lokasi perpustakaan ini biasanya di Mesjid, Madrasah, rumah sakit dan lembaga lainnya.Perpustakaan ini dipromotori oleh penguasa dan para ilmuan. Fasilitas buku lebih banya daan luas. Perpustakaan jenis ini terbuka untuk semua lapisn masyarakat tanpa kecuali. Aturan peminjaman tidak begitu ketat, kepada peminjam hanya diingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan dan menjaga kondisi buku, tidak dibenarkan membuat coretan-coretan pada buku perpustakaan. Peminjam tidak dibenarkan meminjamkan buku ke pihak yang ketiga dan harus mengembalikannya setelah selesai menggunakannya. Adapun yang termasuk kategori perpustakaan ini adalah: Bait al-hikmah di Baghdad, Bait Al-hikmah di Kairo, Darul ilmi atau perpustakaan buku “Sabur”, dan perpustakaan di sekolah-sekolah
2. Perpustakaan Semi umum (semi publik), perpustakaan ini merupakan perpustakaan milik khalifah atau raja-raja yang juga menyediakan berbagai mcam buku ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Dana perpustakaan ini secara mandiri lokasinya di istana, rumah pejabat dan took buku. Adapun promotornya adalah khalifah, pejabat dan para ilmuwan. Koleksi yang tersedia juga banyak, sementara peminjamnya terbatas kelompok tertentu
3. Perpustakaan Khusus, yaitu perpustakaan yang dibangun oleh ulama, sarjana dan sastrawan secara pribadi dan sebagairumah bacaatau referensi mereka masing-masing. Diantara perpustakaan ini adalah perpustakaan Djamaluddin al-Qafathi dan perpustakaan Imaduddin Asfahani ibn Al- Amid. Pendanaan : mandiri berlokasi dirumah-rumah kelompok intelektual sebagai promotornya adalah ilmuwan dan pemerhati keislaman dengan fasilitas yang tersedia buku-bukunya banyak tapi lebih spesifik dan tidak dibuka untuk umum
Dari ketiga type perpustakaan di atas berkembang nama-nama perpustakaan yang tersebar diberbagai wilayah Islam. Dari Dar al Hikmah lahirlah Dar al Ilm dan Dar al Kutub, Bait al Hikmah melahirkan Bait al Ilm dan Bait al Kutub dan dari Hizanah al Hikmah maka tercetuslah Hizanah al Ilm dan Hizanah al Kutub.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar