Jumat, 12 Juni 2009

Simalakama Politik Tokoh Minangkabau

Oleh : Muhammad Ilham (Dosen Jur. SKI)

Secara genetis, sejarah telah mencatat bahwa Yusuf Kalla adalah sumandonya orang Minang, karena isteri beliau berasal dari Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan Megawati Soekarno Putri yang memiliki suami Taufik Kiemas dimana orang tua perempuannya berasal dari daerah Batipuh, Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan SBY-Budiono pernah diberi “gala” atau gelar oleh orang Minang serta mendapat dukungan dari Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, S.H.

Di jalan Sudirman Kota Padang, tepatnya di dekat Perkantoran Bank Indonesia, Posko pemenangan JK-WIN berada. Gedung tua bekas kantor Mahkamah Militer berwarna hijau lusuh (karena sudah tua), disulap menjadi warna kuning (warna Partai Golkar) berbalur kuning tua-pinang khas Partai Hanura. Di depannya, ada baliho besar ……. JK-WIN dengan “Tiga Icon keramatnya …… Lebih Cepat, Lebih Baik, Lebih Tegas” serta kata-kata dalam bahasa Minangkabau yang ingin memperjelas posisi kultural JK … “Urang Sumando Bakuku Ameh” (Suami Orang Minangkabau yang Berkuku Emas). Mufidah Kalla, sang istri JK, adalah Bundo Kanduang asal Minangkabau. Berkuku Emas, jelas memposisikan mantagi JK dalam ranah politik Indonesia saat sekarang ini. Pesan yang ingin disampaikan : “JK adalah orang Minangkabau dan ia hebat, untuk itu, sudah selayaknyalah orang Minangkabau memilih JK (dan tentunya WIN akan terbawa, dengan segala bentuk justifikasi). Lalu bagaimana dengan SBY-Boediono ?. Nampaknya, icon JK lebih cepat, terlihat disini. SBY-Boediono, setidaknya tim sukses pasangan dengan koalisi partai-partai rapuh ini, belum segesit tim sukses JK-WIN (khususnya di Sumatera Barat). Akan tetapi kehadiran Gamawan Fauzi (Gubernur Sumatera Barat) di Sabuga sebagai “wali nikah” SBY-Boediono yang kontroversial itu, telah memperlihatkan SBY-Boediono lebih dulu dibandingkan JK-WIN. Harus diakui bahwa ketiga pasangan Capres/Cawapres ini disadari atau tidak disadari ternyata telah menarik masyarakat Minang yang ada dikampung halaman dan daerah perantauan untuk terlibat ke dalam ranah politik tersebut.
Secara genetis, sejarah telah mencatat bahwa Yusuf Kalla adalah sumandonya orang Minang, karena isteri beliau berasal dari Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan Megawati Soekarno Putri yang memiliki suami Taufik Kiemas dimana orang tua perempuannya berasal dari daerah Batipuh, Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan SBY-Budiono pernah diberi “gala” atau gelar oleh orang Minang serta mendapat dukungan dari Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, S.H. Ketiga keterkaitan genetis dan politis yang menjadi pengikat pemilih Minang menghadappi pilres mendatang tentu membuat peta konflik di kalangan urang awak semakin terbuka untuk masa-masa mendatang. Disamping itu, keterikatan genetis dan politis tersebut ternyata memperlihatkan kepada Publik bahwa masyarakat Minang, baik di kampung halaman maupun di perantauan tidak solid menghadapi pilpres mendatang. Jika urang awak nan “boneh” di rantau dan kampung halaman tidak kompak dan hanya menyelamatkan kapal masing-masing untuk berlayar sampai di “seberang politik” saya yakin dan percaya bahwa mereka tidak akan mampu “mambangkik batang tarandam”.
Kondisi ini menggambarkan bahwa urang awak hanya dijadikan elite-elite politik tertentu sebagai “kudo parajang bukik” untuk mendapatkan tahta RI-1 dimasa-masa mendatang. Kalau RI-1 sudah didapat, maka “kacang kembali akan lupa dengan kulitnya”. Secara historis masyarakat Minang memang sangat mandiri dalam konsep berfikir dan menentukan sikap politiknya. Kemadirian “nagari” sebagai sebuah “republik kecil” seperti “city state” di Yunani dulunya dan sistem kelarasan ternyata telah membentuk karakter tersendiri bagi masyarakat Minangkabau. Sejak dulunya sikap politik masyarakat Minangkabau memang tidak pernah mampu diintervensi oleh kekuatan materi dan kekuasaan apapun, termasuk lingkungan keluarga mereka sendiri. Jika “urang awak” sudah tersinggung, maka mereka akan menampilkan identitas dan jati dirinya dengan ungkapan “walaupun kamu pintar, kami tidak bertanya. Walaupun kamu kaya, kami tidak pernah meminta dan walaupun kamu jagoan kami tidak akan berantam”.
Sebagai seorang Gubernur, seharusnya Gamawan Fauzi menginventarisir segala potensi dan keinginan sekaligus aspirasi politik masyarakat Sumatera Barat secara keseluruhan. Selanjutnya semua aspirasi dan dinamika politik yang terjadi “dikunya-kunya”, sehingga menjadi sebuah konsep yang jelas, cerdas dan aspiratif. Strategi seperti ini tentu akan membuat bargaining politik “urang awak” akan lebih diperhitungkan oleh berbagai elite politik dan elite pemerintahan ini ke depan. Jika seorang pemimpin seperti Gubernur sudah jalan sendiri-sendiri, bagaimana masyarakat Sumatera Barat nantinya. Padahal Sejak dulu kala masyarakat etnis lainnya sangat segan dengan paguyuban perantau. Minangkabau di perantauan yang senantiasa solid dan memiliki link yang baik dengan kampung halaman. Jangan hanya karena ambisi pribadi untuk menjadi menteri, maka seorang pemimpin daerah mengorbankan harga diri dan jati diri masyarakat yang dipimpinnya. Secara sosiologis memang masyarakat Minangkabau merupakan etnis yang dinamis dan mandiri, sehingga walaupun karakteristik warganya tergolong homogen dari latar belakang suku dan agamanya, dari sisi politik selalu berubah (Kompas, 23/5). Namun yang dipersoalkan bukan karena dinamika politik masyarakatnya, melainkan karena Gamawan Fauzi adalah seorang pemimpin masyarakat Sumatrera Barat.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar