Kamis, 22 November 2012

Transformasi Peradaban Hellenistik – Dunia Islam

Oleh : H. Rifki Abror Ananda, M.Ag (Dosen Jur. SKI FIB-Adab IAIN Padang)

Peradaban tidak ada yang berdiri sendiri, ia selalu berinteraksi dan saling melengkapi dengan peradaban-peradaban out-groupnya. Dalam konteks ini, kebesaran dan kejayaan peradaban Islam dilihat dalam konteks peradaban out-group sedang dalam keadaan statis. Tidak dapat dipungkiri peradaban Islam Klasik mendapat pengarun dari peradaban Yunani (hellenistík), dan peradaban Islam Klasik mempunyai pengaruh terhadap peradaban Eropa modern. A. PENDAHULUAN Tahun 622 M, merupakan titik awal sejarah peradaban Islam dimula. Pada tahun ini Nabí Muhammad SAW melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Semasa di Makkah Nabi Muhammad belum dapat bergerak dengan bebas, karena tekanan dan kekuasaan kaum Quraisy yang kuat yang pada saat itu belum dapat dipatahkan. Di Madinah sebaliknya tidak terdapat yang demikian, bahkan akhirnya Nabi Muhammad-lah yang memegang tampuk kekuasaan. Dengan kekuasaan ditangan beliau, Islam dengan mudah disebar luaskan. Pada masa Nabí Muhammad SAW seluruh semenanjung Arabia telah tunduk dalam kekuasaan Islam, dalam masa yang demikian singkat selama 10 tahun (622-632 M.) Perluasan wilayah Islam terus berlangsung, maka kekhalifahan Bani Umayyah wilayah kekuasaan Islam meliputi daerah Spanyol, Afrika Utara, Suriah, Palestina, Irak, daerah Asia kecil dan Asia Tengah. Demikian pula dengan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, seperti Majorca, Corsica, Sardina, Creta, Rhodes, Cyprus, dan sebagian Sicilia. Sangat disayangkan, perluasan wilayah Islam, sebagai mana banyak dituduhkan orieantalis, adalah tindakan perluasan wilayah yang ditegakkan dengan pedang atau dengan kata lain Islam ditegakkan dengan kekerasan. Padahal sernestinya tidaklah seperti yang dituduhkan tersebut. Ada beberapa faktor yang terlupakan, yaitu tindakan para penguasa di luar wilayah kekuasaan Islam yang menghina, bahkan membunuh utusan penyampai risalah yang datang pada wilayah kekuasaan mereka. hal ini mendapat tantangan dan balasan dan pemerintah. Faktor lain adalah bahwa kedua Adikuasa saat itu (Bizantium dan Persia) memasuki fase kelemahannya. Kelemahan itu bukan saja karena peperangan diantara keduanya, akan tetapi juga karena faktor-faktor dalam negeri mereka sendiri. Pertentangan agama, ataupun persaingan antara anggota keluarga kerajaan bahkan tindakan penguasa yang mengeksploitasi rakyatnya yang mengakibatkan timbulnya tindakan tidak senang dari rakyat di daerah-daerah yang mereka kuasai. Dari wilayah yang dikuasai Islam tersebut dengan jelas dapat dilihat sebagain wilayah kekuasaan Bizantium dan sebagain besar wilayah kekuasaan Persia telah jatuh dalam kekuasaan Islam. Bahkan wilayah kekuasaan Islam saat itu sudah meliputi beberapa wilayah kekuasaan peradaban sebelumnya selain Bizantium dan Persia yaitu Mesir, Mesopotamia, Yahudi, Hittit dan sebagian yang dulunya sebagai wilayah Yunani dan yang lainnya. Juga berada ditengah-tengah wilayah beradaban, daerah timur ada peradaban India dan peradaban Cina. B. PUSAT-PUSAT PERADABAN HELLENNISTIK PRA ISLAM Edward Mc. Nail Burn membedakan tingkat kebudayaan Hellenik dan Hellenistik, atau setidaknya membedakan periode pertumbuhan zaman Hellenik ilmu pengetahuan tidak berkembang dengan pesat. Ilmu pengetahuan justru berkembang pada zaman Hellenistik, merupakan perpaduan antara kebuadayaan Yunani dengan Dunia Timur. Selanjutnya oleb Burn jiwa kebudayaan tersebut dipengaruhi secara luas oleh budaya Timur walaupun bahasa Yunani dan orang-orang Yunani berperan aktif dalam banyak bidang. Disini terjadi akulturasi atau percampuran kebudayaan Barat (Yunani) dengan kebudayaan Timur (Persia, India dan Mesir). Walaupun dikatakan peradaban Hellenistik (Yunani) akan tetapi kekuasaan politik Yunani sudah terpecah dengan kematian Alexander Agung (Alexander The Great). Terjadi perebutan kekuasaan sehingga terpecah menjadi bagian-bagian kecil, bahkan daerah-daerah taklukannya memisahkan diri. Runtuhnya kekaisaran Yunani bukan berarti peradabanya ikut terkubur, akan tetapi peradaban tersebut berakulturasi dengan kebudayaan lainnya sebagaimana disebutkan di atas. Bahkab peradaban Hellenistik tersebut lebih berkembang di bagian Timur sampai dengan menjelang kedatangan Islam, beberapa wilayah taklukan Yunani merupakan pusat peradaban Hellenistik, Di bawah ini akan disebutkan beberapa daerah atau kota diantaranya: 1. Iskandariyah Kota Iskandariyah yang berada diwilayah Mesir ditepi Sungai Nill merupakan pusat terbesar Sains Hellenistik. Kedokteran Yunani terus dipraktekkan di Iskandariyah dan menggabungkan teori serta praktek Mesir dengan yang dari Yunani. Bagaimanapun vitalitas praktek Yunani-Mesir di Iskandariyah, tak dapat diragukan bahwa melalui para dokter kota ini, dan juga lewat karya medis yang terdapat diperpustakaan kaum Muslimin berkenalan dengan kedokteran Yunani. Banyak diantara tokoh Yunani yang sering dikutip adalah Hipokrates, Galen, Rufus, Paul, Dioscorides, dan hubungan dengan Materica Medica. Selain itu Iskandariyah merupakan jadi pusat perkembangan Alkhemi dan juga pusat penganut Neo Pyithagoras dan Aristoteles. Iskandariyah jatuh dan menyerah ketangan Islam pada tahun 641 M di bawah pimpinan Amr Al-Ash. 2. Jundisapur Kota Jundisapur lebih dikenal setelah sekolah di Athena di tutup karena dekrit raja, para gurunya melarikan diri ke Jundisapur. Di Jundisapur terdapat sebuah lembaga studi filsafat dan kedokteran, gurunya terdiri dari kaum Nestorin dan Monofisit. Lembaga studi filsafat dan kedokteran tersebut lebih tepat dikatakan sebuah universitas dengan sebuah fakultas kedokteran, sebuah observatorium, satu blok bangunan akademik. Letaknya yang dekat dengan Baghdad dan berada di tengah daerah Persia. Jundisapur dibangun oleh Shapur I pada abad ke 3 M. sebagai kamp tawanan perang, akan tetapi kemudian berkembang menjadi kota metropolis yang menjadi pusat sains kuno. Bahasa sains mereka adalah Yunani, Sangsekerta dan kemudian juga bahasa Syiria. Sekolah-sekolah yang ada tersebut tetap ada sampai masa Abbasiyah berkuasa. 3. Kota-kota Lainnya. Thabit ibn Qura’, anaknya, Sinan dan Kedu cucunya Thabit dan Ibrahim memberikan sumbangan yang penting dalam bidang matematika dan astronomi dalam lembaga pendidikan di Harran. Penyebaran peradaban Hellenistik dimulai dari Iskandaniyah, kemudian menyebar ke kota-kota lainnya yaitu kota Antiokia, Nisbis, dan Edessa atas jasa golongan Monophisit dan Nestorian Kristen ke berbagai negara di arah timur sampai daerah persia. C. PENERJEMAHAN NASKAH-NASKAH HELLENISTIK Kegiatan intelektual secara umum sudah dimulai terbuka pada masa Bani Umayyah, masa kekhalifahan Marwan I (684) memerintahkan penerjemahan sebuah buku kedokteran karya Asron (seorang dokter dari Iskandariyah) ke dalam bahasa Suryani. Naskah tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Akan tetapi kegiatan penerjemahan baru serius dilakukan pada masa Bani Abbas, khususnya masa pemerintahan Al-Mansyur yang sangat menyukai filsafat, hukum dan astronomi. Khalifah Al-Mansyur menjalin hubungan dengan Jundisapur adalah suatu kebetulan karena saat itu ia sedang memerlukan seorang dokter untuk mengobatinya ketika ia sakit. Ia mendatangkan Bukhtaisu seorang dokter yang pandai dan terkenal, bahkan kemudian keturunan Bakhtaisu mendominasi praktek kedokteran di Istana Bani Abbas. Di samping sabagai dokter, mereka adalah termasuk yang serius dalam mendalami ilmu pengetahuan. Secara tidak langsung membawa suasana itu ke dalam istana, apalagi khalifah mendukung usaha mereka, bahkan menjadikannya sebagai program yang penting. Masa Harun al-Rasyid, dokter istana (Yuhana) mendapat tugas menerjemahkan buku-buku kedokteran. Pada masa al-Ma’mum usaha dilaksanakan dengan mendirikan bait al-Hikmah sebagai pusat penerjemahan yang dipimpin langsung oleh Yuhanna. Keterlibatan orang persia dalam pemerintahan Bani Abbas juga membawa pengaruh dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Keluarga Barmak yang turun temurun menjadi menteri, gubernur dan sekretaris khalifah mempunyai peran yang sangat penting. Penerjemahan dilaksanakan dipusatkan di Bait al- Hikmah. Di samping sebagai pusat penerjemahan naskah, Bait aI-Hikmah juga akademi yang mempunyai perpustakaan. Diantara cabang-cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan dalam penerjemahan adalah ilmu Kedokteran, Matematika, Optika, Geografi, Fisika, Astronomi, dan Sejarah di samping filsafat. Peradaban Hellenistik mempunyai pengaruh yang besar dalam bidang filsafat, dengan pengaruh Neo Platonisme yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemikiran Arab. Dan Stoisisme juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemikiran Islam. Berikut karya-karya Yunani yang diterjemahkan dalam Bahasa Arab : 1. Aristoteles, hampir seluruh karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab seperti: Categories, Hermeneutica, Analytica, Posterior, De Anima, Sophistis, Poetics, Metaphisics, Analytica Priori dan Secret of secret. 2. Phorphirius, dengan karyannya: Isagore dan The Prologomena Amonius. 3. Plato, dengan karyanya: Tìmaeus dan Laws. 4. Ptolomey, dengan karyanya: Quadripartitus yang berisi tentang Astronomi. 5. Plotinus, dengan karyanya: Enneads. 6. Demikian juga karya-karya : Archimedes, Apollonious, Hipocratec, Euclides, Plotomeous dan yang lainnya. Di samping itu masih banyak karya-karya Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab seperti: The Treatise on The Atom (Risalah mengenai kekekalan dunia), Dioscorides (tentang tumbuhan), The Riddle of Kabes dan masih banyak lagi lainnya. Karya-karya Yunani tersebut terkadang diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Arab, terkadang juga diterjemahkan dengan diikuti komentar dan penerjemah. Bahkan terkadang disisipi dengan kritikan penerjemah terhadap karya tersebut. Kegiatan penerjemahan ini nantinya mempunyai pengaruh yang besar terhadap kegiatan ilmiah selanjutnya. Para penerjemah mendapat dukungan pinansial (gaji) dari khalifah. Kegiatan penerjemah merupakan pekerjaan pokok mereka, mereka tidak dilíbatkan dengan urusan yang lain. Naskah terjemahan terkadang didapatkan dari wilayah kekuasaan, atau diusahakan mencarinya di pusat-pusat peradaban Hellenistik dan bahkan da yang merupakan hadiah dan pemenintahan Bizantium dan negara tetangga. Di samping naskah dari Yunani ada juga naskah dan India yang juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap peradaban Islam, terutama dalam bidang matematika. D. PERAN PERADABAN ISLAM DALAM PERADABAN DUNIA Bagi sebagian ilmuan barat (Orientalis), masih berprasangka negatif terhadap peran peradaban Islam di masa lalu. Mereka berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuan muslim dimasanya adalah sekedar komentator dan peradaban sebelumnya. Tapi hal ini dibantah oleh pihak mereka sendiri. Dengan mengajukan teori ilmu pengetahuan Yunani tidak akan dapat memasuki kebudayaan Arab kecuali kebudayaan tersebut sudah memiliki kemampuan menerima dan menyerapnya. H. A. R Gibb menyebutkan ada tiga hukum bagi penerimaan kebudayaan asing : 1. Pengaruh kebudayaan (bukan unsur-unsur tambahan yang dangkal, melainkan unsur-unsur yang benar ‘diassimilasikan) selalu didahului oleh kegiatan yang sudah ada dalam bidang-bidang yang berkaitan, dan kegiatan yang sudah ada itulah yang menciptakan daya tarik, dan tanpa tidak akan terjadi penyerapan yang kreatif. 2. Unsur-unsur yang dipinjam hanya mendorong vitalitas yang berkembang dan kebudayaan peminjaman sejauh unsur-unsur itu dihidupi oleh kegiatan-kegiatan yang pertama-tama telah menyebabkan peminjaman itu. Jika unsur-unsur itu berkembang demikian subur sehingga menggantikan, atau mengancam akan menantikan ked\kuatan kerohanian asli (dati kebudayaan peminjam), unsur itu lalu menjadi deskruktif dan konstruktif ... sesuatu kebudayaan yang hidup mengizinkan unsur-unsur peminjaman itu untuk berkembang sejauh unsur-unsur itu dapat disesuaikan dan dipadukan dengan kekuatan-kekuatannya sendiri, akan tetapi menentang dengan kuat tenaga pertumbuhan yang terlalu subur. 3. Suatu kebudayaan yang hidup mengabaikan atau menolak sesuatu unsur dari kebudayaan-kebudayaan lain yang bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya, sikap-sikap emosional atau kriteria-kriteria eksistensinya sendiri. Mungkin saja diusahakan untuk mengcangkokan unsur-unsur itu, akan tetapi cangkokan itu tidak akan jadi dan akan mati begitu saja. Sesuai dengan “hukum” itu, ilmu-ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani tidak mungkin menjadi bagian yang tak terpisahkan dan pikiran Islam, kecuali apabila yang terakhir itu sudah siap untuk menerima dan menyerapnya. Harus sudah ada semacam kegiatan ilmiah di dikalangan umat Islam di zaman itu untuk pengetahuan Yunani dapat masuk. Karena itu dengan jelas sumber-sumber ilmu pengetahuan dan filsafat Islam; Sumber Islam yang sejati, kekuatan yang mendorong umat Islam mementingkan ilmu pengetahuan. Hal dapat dengan jelas kita rujuk dalam ajaran Al-Qur’an dan Sunnah nabi sebagai acuan pokok umat Islam. Kedua, umat yang telah mempunyai kebudayaan, kemudian masuk Islam. Ini dengan jelas kita lihat dari lingkungan tempat lahirnya Islam, ditengah-tengah persentuhan peradaban-peradaban kuno. Ketiga, pertemuan dengan peradaban-peradaban asing di sekitar wilayah Islam yang begitu luas. Dalam hal ini tidak menafikan peran peradaban Yunani atau Hellenistik yang begitu besar peranannya dalam peradaban Islam kemudian. Hal ini dengan jelas dilihat dengan begitu banyaknya karya-karya Yunani yang diterjemahkan dalam bahasa Arab, tanpa menyampingkan peradaban India, Cina dan lainnya. Bahkan peradaban Islam Zaman Klasik mempunyai pengaruh pada timbulnya reneisance dan berkembang peradaban Eropah selanjutnya. G. Lebon menulis, “Orang Arablah yang menyebabkan kita (orang Eropah) mempunyai peradaban. Merekalah yang telah menjadi guru kita selama enam abad”. Memang Islam sebagai agama tidak berpengaruh di Barat, akan tetapi ilmu pengetahuan dan teknik Islam amat dalam mempengaruhi Barat. Kemudian Ran Landau menyatakan, “Dan orang Arab-lah Eropah belajar berpikir secara objektif dan lurus. Belajar berlapang dada berpikiran luas. Inilah dasar-dasar yang menjadi pembimbing bagi reneisan dan yang menimbulkan kemajuan dan peradaban Barat”, disinilah Landau ingin menunjukkan pengaruh pemakaian akal dan kebebasan berpikir dalam Islam dan pengaruhnya dalam perkembangan kebebasan berpikir di Eropah dari belenggu agama. Pengaruh peradaban Islam klasik tersebut sangat terasa dalam banyak hal. Penggunaan kata-kata Arab dalam pemakaian nama-nama yang sebelumnya belum dikenal dalam perbendaharaan kata mereka. Kata-kata tersebut terjadi perubahan dalam cara melafalkan, disesuaikan lidah Eropah, seperti Cotton, Mousseline (kain yang halus), Moroco, (nama kata yang dinisbahkan jadi nama perlengkapan dan kulit). Dalam peristilahan matematika (logaritma, Aljabar), kimia dan lain sebagainya. Banyak tokoh-tokoh universal sains (tokoh sentral dalam pengajaran sains dan pengembangan sains dan filsafat biasanya ia sebagai penulis, penyair, dokter, astronom, matematikawan, ahli kimia, ahli obat-obatan dan juga bahkan seorang yang bijak) sangat dikenal namanya di dunia Barat, seperti : Al-Razi (Rhazes) ternama dalam ilmu kimia, Jabir ibn Hayan (gaben) pengarang buku yang terkenal, “al Isthithaam” yang disalin dalam bahasa Francis dan berpengaruh di Eropah sampai abad ke-17, Ibn Sina (Avicenna) dalam bidang kedokteran dan filsafat, ibn Rusyd (Aveoes) dengan kitabnya Kuliyah al-Tibbi merupakan buku rujukan kedokteran sampai pada abad modem ini, Al-Kindi (Alcheidius), Al-Farabi (Alfarabius), ibn al Haisam (Alhazen), ibn Bajah (Avenpace), dan ibn Tufail (Abubacer). E. PENUTUP Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa peradaban tidak ada yang berdiri sendiri, tidak peradaban Yunani, peradaban Islam ataupun peradaban Eropah. Peradaban adalah rangkaian yang tiada terputus dan selalu berassilmilasi. Peradaban Islam masa Klasik mencapai puncak pada masanya, waktu peradaban lainnya statis. Tidak dapat dipungkiri peradaban Islam Klasik mendapat pengarub dari peradaban Yunani (Hellenistík), dan peradaban Islam Klasik mempunyai pengaruh terhadap peradaban eropah Modern. Transformasi peradaban akan terjadi bila antara yang memberi dan yang rnendapatkan mempunyai kesesuaian pemahaman terhadap pemakaian akal dan kebebasan berpikir yang timbul dari ideologi suatu masyarakat. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar