Senin, 23 November 2009

Komunikasi dalam Perspektif Teoritis

Oleh : Drs. Sheiful Yazan, M.Si (Dosen LB Jur. IIP)

“We can not not Communication” (Joseph Pulitzer) “Walaupun dia diam, namun ribuan kata membersit dari semua pori di sekujur tubuhnya, dari tiap tetes keringat dingin yang mengalir di tengkuknya, dari ketukan jari-jemarinya di atas meja.” (Shakespeare dalam “Hamlet”). “Zainab hanya menunduk dengan bibir gemetar. Jari tangannya sibuk menghitung lembaran benang yang terurai di ujung alas meja. Tidak satupun kata yang terucap. Namun Zainuddin bagai merasakan gemuruh jeritan dari bahunya yang tertunduk.” (Hamka, dalam “Di Bawah Lindungan Ka’bah”)

Komunikasi adalah inti semua hubungan sosial, apabila orang telah melakukan hubungan tetap, maka sistem komunikasi yang mereka lakukan akan menentukan apakah sistem tersebut dapat mempererat atau mempersatukan mereka, mengurangi ketegangan atau melenyapkan persengketaan apabila muncul.
Manusia sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial, memiliki dorongan ingin tahu, ingin maju dan berkembang, tentu saja memerlukan komunikasi. Dengan berkomunikasi orang dapat menyampaikan pengalamannya, menyampaikan informasi, opini, ide, konsepsi, pengetahuan, perasaan, sikap, perbuatan, dan sebagainya kepada sesamanya secara timbal balik baik sebagai penyampain maupun penerima pesan. Istilah komunikasi berasal dari perkataan Inggris” communicaton” yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran orang yang terlibat dalam komunikasi memiliki kesamaan pengertian tentang pesan yang disampaikan.
(Tulisan lebih lengkap .... bisa dihubungi E-Mail Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN IB Padang)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar