Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2009

Komparasi Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari

Oleh : Dra. Nurhayati Zen, M.Ag

Pendidikan Islam sudah lama dikenal oleh masyarakat Ilmuwan Indonesia yakni bermula sejak masuknya ajaran agama Islam ke Indonesia yang dibawa oleh berbagai tokoh agama Islam itu sendiri, termasuklah di sini dua orang tokoh yang terkenal gigih berjuang menegakkan syari’at dan pendidikan Islam, yaitu : Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Untuk dapat mengenal pemikiran kedua tokoh di atas tentang pendidikan Islam di Indonesia maka perlu kiranya dikupas tentang latar belakang kehidupannya, biodata, dan riwayat hidup masing-masing.

A. Riwayat Hidup K.H Ahmad Dahlan
Menurut tulisan redaksi Haluan yang terbit di halaman muka bagian bawah hari Rabu tanggal 28 September 2005 atau 24 Sya’ban 1426 H no.259 tahun ke – LVI dengan judul Menentukan Awal Bulan Qamariyah : Antara Melihat dan Melihat Bulan, tertulis bahwa sesungguhnya syekh Djamil Djambek dan K.H.Ahmad Dahlan adalah dua tokoh hisab yang disebut orang juga sebagai pahlawan nasional yang sangat paham dengan ilmu hisab. Mereka berdua sudah dapat mengetahui kapan puasa sekian tahun mendatang. Kajian ini dikembangkan oleh kelompok tajdid (pembaharu). Maka di sini yang menjadi sorotan adalah tentang K.H Ahmad Dahlan
Nama kecilnya adalah Darwis, dilahirkan pada tahun 1869 Masehi di kampung Kauman Yogyakarta, dan meninggal pada tanggal 23 Februari 1923 Masehi, jadi dalam usia kurang lebih 54 tahun. Ayahnya seorang ulama bernama K.H. Abu Bakar bin K.H. Sulaiman yakni seorang pejabat khatib di mesjid besar kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah puteri dari H.Ibrahim bin K.H.Hasan, seorang pejabat penghulu kesultanan. Dilihat dari garis keturunannya ini maka ia adalah anak orang yang berada dan berkedudukan baik dalam masyarakat
Sejak kecil sosok Darwis sudah dikenal sebagai anak yang baik. Konon kabarnya sewaktu masih kanak-kanak Darwis bergaul akrab dengan kawan-kawan dan tetangganya. Darwis dikenal anak yang rajin, jujur, dan suka menolong, serta mempunyai kelebihan yaitu membuat kerajinan tangan seperti membuat barang-barang mainan. Oleh sebab itu tidak mengherankan bila Darwis disayangi oleh teman-teman sepermainan dan teman sekampungnya.
K.H.Ahmad Dahlan bukanlah anak tunggal, tetapi ia mempunyai beberapa orang saudara Urutannya adalah sebagai berikut : 1). Nyai Katib Harun, 2). Nyai Muhsin (Nyai Nur), 3).Nyai H Saleh, 4). K.H.Ahmad Dahlan, 5).Nyai Abdurrahman, 6). Nyai Muhammad Fakih, 7). Basir.
Pada waktunya K.H. Ahmad Dahlan pernah kawin dengan Nyai Abdullah, janda dari H.Abdullah. Adapun istri-istri yang lainnya antara lain adalah Nyai Rumu, adik ajengan Penghulu Cianjur. Kemudian Nyai Shalikhah, puteri kanjeng Penghulu M.Syar’I, yakni adik dari K.Yasin Paku Alam Yogya, dan pada usia 24 tahun K.H.Ahmad Dahlan kawin dengan ibu Walidah binti Kiai Penghulu Haji Fadhil yang terkenal dengan sebutan Nyai Ahmad Dahlan yang mendampinginya sampai ia meninggal dunia.
Dari perkawinannya K.H Ahmad Dahlan dikaruniai anak empat orang putri dan dua orang putra, yakni : pada tahun 1890 lahir putri pertama yang diberi nama Johanah. Lalu tahun 1898 lahir putri kedua yang bernama Siraj Dahlan. Kemudian pada tahun 1903 lahir anak yang ketiga bernama Siti Busyro. Pada tahun 1905 lahir anak yang keempat dan kelima yang diberi nama Siti Aisyah dan Irfan Dahlan (kembar). Dan pada tahun 1908 lahir anak yang keenam dinamai dengan Siti Zuhara .
K.H.Ahmad Dahlan menghembuskan nafas terakhir di rumah kediamannya di kampung Kauman Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di kampung Karangkajen kecamatan Mergangsan Yogyakarta. Pemakamannya mendapat sambutan yang besar dari segenap lapisan masyarakat sampai-sampai sekolah-sekolah negeri maupun swasta ditutup untuk menghormati kepergiannya. Di sepanjang jalan yang dilalui banyak orang yang berhenti dan berdiri memberi penghormatan.
Menurut Weinata Sairin, KH.Ahmad Dahlan ini dibesarkan di kampung Kauman. Kauman berasal dari kata “kaum” yang asal katanya adalah Qaum yang mengandung makna pejabat keagamaan. Kampung tempat mesjid itu berada disebut kampung kauman karena disitulah tempat tinggal para qaum, santri, dan ulama-ulama Islam yang bertugas memelihara mesjid itu. Kampung Kauman ini terletak ditengah-tengah kota Yogyakarta.yang penduduknya taat beragama .
Warga kampung ini terkenal dengan orang-orang yang fanatik. Kehidupan mereka makmur secara material, sejahtera dalam segi ekonomi, sebab pada umumnya penduduk bekerja sebagai saudagar batik, begitu juga dari segi sosial dan kerohanian. Itulah pula sebabnya penduduk tidak suka dengan penjajah, bahkan boleh dikatakan anti penjajah. Penjajah di sini dianggap kafir.

B. Riwayat Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan
Pendidikan yang dilalui oleh K.H. Ahmad Dahlan adalah pendidikan secara tradisional. Menurut Weinata Sairin dalam bukunya menyatakan bahwa K.H.Ahmad Dahlan mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya. Dalam pendidikan itu Darwis diajarkan materi untuk menghafal sifat-sifat Allah, serta membaca kitab suci Al-Qur’an sebagimana dicontohkan ayahnya, tanpa memahami arti sifat-sifat Allah maupun makna yang terkandung dalam Al-Qur’an yang dibacanya .
Kemampuan membaca dan menulis selain diperolehnya dari ayahnya juga didapatkannya dari sahabat dan saudara iparnya. Kecerdasan dan keuletan Darwis sebagai anak kampung kauman mulai terbukti, sebab pada usia delapan tahun ia telah berhasil menyelesaikan pelajaran membaca kitab suci al-Qur’an serta menghafal dua puluh sifat-sifat Allah. Darwis tidak dimasukkan ke sekolah pemerintah oleh orang tuanya, karena sekolah pemerintah itu didirikan oleh penjajah yang dianggap kafir itu.
Berdasarkan kemampuan yang dimiliki Darwis itu ayahnya menganggap sudah cukup memadai untuk meningkatkan pengetahuannya ke tingkat yang lebih, maka ayahnya mengirimnya kepada guru-guru lain untuk memperdalam ilmunya.
Menurut Abdul Munir Mulkam dalam bukunya Warisan Intelektual K.H.Ahmad Dahlan dapat diketahui bahwa ; Darwis belajar ilmu Nahwu kepada Kiai Haji Muhsin, dan gurunya yang lain adalah Kiai Haji Abdul Hamid. Disamping itu yang mengajarkan ilmu falaq adalah K.H.Raden Dahlan yakni salah seorang putra dari Kiai Temmas. Terakhir Ilmu Hadis dipelajarinya dari Kiai Mahfud dan syekh Khayath . Berikutnya lagi K.H. Ahmad Dahlan belajar Qira atul Qur’an kepada Syekh Hassan, serta ilmu-ilmu lainnya diterimanya dari R. NG Sosro Soegondo, R.Wedana Dwi Josewoyo, dan syekh M Jamil Jambek dari Bukittinggi.
Dari pengalaman pendidikan yang dilaluinya patut dipahami bahwa akhirnya Darwis tumbuh sebagai seorang yang arif yang tajam pemikirannya dan mempunyai pandangan jauh ke depan serta keinginannya yang kuat untuk menambah ilmu pengetahuan. Keinginan itu terbukti pada usia 22 tahun saat ia menunaikan ibadah haji tepatnya pada tahun 1890 atas bantuan kakaknya Nyai haji Soleh . Selama berada di Mekkah digunakannya waktunya sebaik mungkin untuk belajar, salah seorang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib dan ia berguru juga kepada Imam Syafii, Sayyid Baqir Syanta. Sejak itulah namanya ditukar menjadi Ahmad Dahlan. Dengan perantaraan K.H.Baqir itu pulalah K.H. Ahmad Dahlan dapat bertemu dengan Rasyid Ridha yang ketika itu sedang berada pula di Mekkah. Di tangan Rasyid Ridha dia dapat bertemu dengan aliran Muhammad Abduh ketika keduanya bertukar fikiran.
Tahun 1903 Ahmad Dahlan kembali mengunjungi Mekkah dan menetap disana selama 2 tahun . Pada kesempatan itu beliau menuntut ilmu agama Islam seperti tafsir, tauhid, fiqhi, tasawuf, ilmu Falaq, dan sebagainya. Di antara ilmu-ilmu yang menarik hatinya adalah tafsir Al-Manar karangan Muhammad Abduh. Tafsir ini memberi cahaya dalam hatinya serta membuka fikirannya untuk memajukan Islam di Indonesia. Sepulang dari haji pada tahun 1892 seseorang memberinya modal kerja sebanyak 500 gulden. Akan tetapi karena perhatian beliau tidak terpusat kepada masalah bisnis (perdagangan), maka uang sebanyak itu akhirnya habis untuk membeli buku-buku dan kitab ilmu pengetahuan. Begitulah besar perhatiannya terhadap pengetahuan dibanding dengan mencari harta kekayaan.

C.Riwayat Pekerjaan K.H Ahmad Dahlan
Seperti uraian diatas bahwa sejak kecil Darwis (K.H Ahmad Dahlan) suka bekerja membuat mainan dan bersahabat karib dengan teman sebaya dan tetangga. Setelah beranjak dewasa Darwis belajar secara tradisional. Setelah meraih berbagai ilmu dari guru-guru terpilih maka dia masih tetap berusaha membeli buku-buku untuk dibaca dan dibahas. Sampai Darwis melakukan perjalanan ke Mekkah dan bertukar nama disana. Sepulang dari Mekkah mulai membantu ayahnya memberi pelajaran kepada murid-murid ayahnya yang masih kanak-kanak sampai menjelang dewasa. K.H.Ahmad Dahlan mengajar di waktu siang ba’da Zuhur, malam ba’da Magrib, sampai Isya. Pada sore ba’da Asyar dan mengikuti pelajaran ayahnya yang diperuntukkan bagi orang-orang tua. Bila ayahnya berhalangan dia menggantikan sebagai wakilnya. Lama-lama ia diberi gelar kiai oleh masyarakat baik murid-muridnya maupun orang-orang tua sampai kepada masyarakat banyak. Jadilah namanya lengkap dipanggil dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan.

D. Pemikiran K.H.Ahmad Dahlan
Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan memang dipengaruhi oleh lingkungannya. Sejak kecil ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Qauman (santri),baik itu dari garis keturunan orang tuanya maupun dari kehidupan masyarakatnya. Oleh sebab itu ia mempunyai cita-cita yang kuat untuk meluruskan pola pikir masyarakat, antara lain :
1. Mengajak masyarakat Islam untuk memperbaiki arah kiblat mesjid-mesjid di Jawa ke arah yang lurus dan benar, yakni ke arah Barat Laut, ke arah Ka’bah. Untuk mewujudkan gagasan itu Ahmad Dahlan mulai melakukan diskusi pada forum-forum pengajian orang tua yang dipimpin oleh Kiai Lurah H.M Nur, seorang pemuka agama terkenal di Yogyakarta. Dan rupanya usaha baik ini mendapat perlawanan sengit dari pemerintahan dan kesultanan Yogya sampai-sampai mesjid yang dibangun oleh Ahmad Dahlan pada perbaikan surau peninggalan ayahnya dibongkar oleh petugas pemerintahan.setelah beberapa bulan siap diperbaikinya pada tahun 1899 dengan alasan kiblatnya tidak sama dengan arah kiblat mesjid Agung Yogyakarta. Sebenarnya alasan pembongkaran itu hanyalah karena kearoganan para pemegang pemerintahan ketika itu. Weinata mengatakan penolakan itu adalah karena sang penghulu, yakni Kiai Penghulu H.M.Khalil Kamaluddiningrat sebagai orang kedua sesudah Sultan, merasa kedudukannya dilampaui oleh Ahmad Dahlan.
2. Masalah Hari raya idul Fitri
Ahmad Dahlan menilai penentuan hari raya Idul Fitri dengan sistem aboge di Jawa tidak dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi kaidah keilmuan maupun dari segi ajaran Islam. Menurut pemikiran Ahmad Dahlan dengan dasar perhitungan ilmu hisab maka hari raya akan tepat jatuhnya pada tanggal 1 Syawal, dengan munculnya bulan di arah barat. Dengan demikian tanpa memandang hari jika hari itu menurut perhitungan telah tiba pada tanggal 1 Syawal maka hari raya Idhul fitri harus dirayakan. Ahmad Dahlan menyampaikan buah pikirannya itu kepada Sultan dengan diantar oleh Kanjeng Penghulu Khalil. Pendapat itu dapat diterima Sultan. Sampai sekarang dilaksanakanlah penghitungan jatuh waktu untuk hari raya Idul Fitri berdasarkan perhitungan hisab.
3. Penolakan terhadap bid’ah dan khurafat
Bid’ah ialah suatu pekerjaan atau perkataan yang diada-adakan sesudah masa Rasulullah SAW, tetapi pekerjaan atau perkataan itu tidak pernah dilaksanakan oleh Rasul, para sahabat, dan tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an dan hadis. Khurafat adalah tahyul hal-hal yang tidak masuk akal atau perkara-perkara yang sulit dipercaya kebenarannya yang saling bertentangan antara satu sama lain dan tidak terdapat dalam ajaran Islam, contohnya antara lain:
a. Upacara selamatan pada waktu ada yang meninggal, mbedah bumi atau ngesur tanah pada hari ke 3, ke 7 , ke 40, ke 100, ke setahun, 2 tahun dan hari ke 1000.
b. Selamatan pada waktu seorang ibu mengandung 7 bulan.
c. Selamatan pada waktu kelahiran.
d. Pengkeramatan terhadap kuburan dan orang suci yaitu dengan melakukan ziarah kubur dan meminta doa restu kepada roh orang yang telah meninggal.
e. Pengkeramatan terhadap kiai atau wali.
f. Upacara tahlil dan talqin
g. Kepercayaan terhadap jimat. Di lingkungan keraton benda-benda pusaka dianggap mempunyai kekuatan tertentu dan dianggap sebagai jimat. Di pedesaan benda-benda sederhana dianggap mempunyai kekuatan gaib sehingga dianggap jimat.

Pendidikan Agama Islam gagasan Ahmad Dahlan yang terpenting dicatat adalah memasukkan pendidikan agama Islam kedalam sekolah yang dikelola oleh pemerintah. Ia sendiri pernah menjadi pengajar agama Islam di Kweekschool Jetis-Yogyakarta sekitar tahun 1910. Walaupun masih bersifat ekstra kurikuler dan dilaksanakan pada hari Sabtu sore dan Minggu pagi namun peristiwa itu merupakan peristiwa yang pertama bahwa agama Islam diajarkan di sekolah.

E. Riwayat Hidup K.H Hasyim Asy’ari
K.H Hasyim Asy’ari sebenarnya hampir sama dengan K.H.Ahmad Dahlan, yakni tokoh yang telah meninggalkan kita berpuluh-puluh tahun yang lalu, namun gema dan peranannya masih kita rasakan sampai sekarang. Gema itu berkumandang dalam berbagai aspek kehidupan; sosial kultural, keagamaan, dan politik.
Dalam tulisan ini penulis tidak banyak menemukan bahan referensi tentang K.H Hasyim Asy’ari, hanya antara lain : yang terdapat dalam buku biografi Rais ‘Am Nahdhatul Ulama, hasil editor cucu Hasyim yang bernama Abdurrahman Wahid, dan sahabat-sahabatnya seperti Zamakhsyari Dhofier, M.Yunus Noor, dan Humaidi Abdussami, Badrun Alaina, Ismail S, Ahmad Hairussalim HS, dan Ridwan Fakla AS.
K.H.Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tahun 1871, di tengah-tengah meningkatnya Islamic Revivalisme, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia Islam yang berpusat di Timur Tengah khususnya di Makkah, dan meninggal pada tahun 1947. Jadi rentang umurnya di dunia adalah sepanjang 76 tahun . Suasana sosial kemasyarakatan yang berkembang ketika itu adalah perasaan anti kolonial, nasionalisme Arab, dan pan Islamisme di dunia Islam. Faktor-faktor inilah yang membentuk kepribadian dan watak kepemimpinan Kiai Hasyim Asy’ari karena sewaktu berusia 20 tahun ia menghabiskan waktu selama 8 tahun tinggal di Makkah untuk memperdalam ilmunya. Orang tua dan kakeknya adalah pemimpin-pemimpin pesantren yang berpengaruh di desa-desa di seputar daerah Jombang, Jawa Timur. Hasyim Asy’ari dilahirkan sebagai orang yang amat cerdas dan memiliki bakat kepemimpinan Ini ditunjukkannya bahwa pada umur 12 tahun ia telah mampu mengajar para santri di pesantren orang tuanya. Sepanjang umurnya itu berjalan pula sejarah kehidupan bangsa Indonesia, yakni terjadinya fase perubahan sosial kultural dan politik yang cukup fundamental, yakni :
1. fase akhir abad ke 19. Bernhard Dahm menyebutnya sebagai fase the secound Islamic wave.
2. fase the ethicalpolicy yang dimulai tahun 1900.
3. fase awal pertumbuhan organisasi-organisasi nasionalisme modern yang dimulai dengan berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908.
4. fase tercapainya konsensus gerakan nasionalisme modern sejak tahun 1924, yakni ketika cita-cita kemerdekaan telah mencapai bentuk yang kongkrit untuk mendirikan Indonesia merdeka yang meliputi seluruh wilayah jajahan Hindia Belanda.
5. fase Perang Kemerdekaan .

F. Riwayat Pendidikan Hasyim Asy’ari
Tidak banyak informasi yang penulis dapatkan tentang perjalanan pendidikannya. Hanya saja dari tulisan Zamakhsyari Dhofier dapat dikutip bahwa Hasyim Asy’ari tidaklah belajar secara formil pada sekolah-sekolah pemerintah, akan tetapi Hasyim belajar di mesjid dengan guru-guru yang bernaung di mesjid, termasuk ia belajar dari ayahnya tentang ilmu-ilmu agama dan lain lain. Guru besar yang sangat mempengaruhi jalan fikiran Hassyim Asy’ari adalah Syaikh Makhfudh at-Tarmizi, yakni yang mengikuti tradisi Syaikh Nawawi dan Syaikh Sambas. Hasyim sangat mempertahankan ajaran-ajaran mazhab dan pentingnya praktek-praktek tarekat. Menurut Hasyim untuk menafsirkan Qur’an dan hadis tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazahib hanya akan memutar balikkan ajaran Islam yang sebenarnya.
Kiai Hasyim Asy’ari semula menjadi santri keliling. Ia adalah murid Kiai Khalil Bangkalan, Kiai Zainuddin Mojosari di Nganjuk, dan Kiai Khazin dari Siwalan Panji (Sidoarjo). Di samping itu Hasyim juga pernah belajar dengan syekh Ahmad Khatib dari Sumatera Barat, kemudian dengan Muhammad Abduh di Mekkah selam 1 tahun yakni tahun 1932 – 1933. Kiai Hasyim Asy’ari jadi disegani orang karena kedalaman ilmu ilmu agamanya dan karena itu ia mendapat gelar Hadratus Syaikh.

G. Riwayat Pekerjaan Hasyim Asy’ari
1. Dalam muktamar pertama Nahdhatul ulama di Jombang Jawa Timur ditetapkanlah Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar. Di samping itu ia juga harus melakukan banyak hal di luar daerah Jombang untuk kepentingan Nahdhatul Ulama, antara lain menjadi penghubung antara pengurus besar dan para tokoh organisasi di daerah Pantai Utara Jawa Tengah, yakni yang menjadi daerah asal-usul kelahirannya.
2. Kiai Hasyim Asy’ari bekerja pula sebagai pengasuh pesantren Tebuireng dan menjadi guru bagi para kiai muda yang menjadi tulang punggung pelaksanaan kegiatan Nahdlatul Ulama.
3. Pesantren Tebuireng ini didirikan oleh KH.Hasyim Asy’ari pad tahun 1899. Pesantren ini sejak berdiri tahun 1899 sampai 1916 melakukan sistem pengajaran sorogan dan bandongan dipadu dengan sistem musyawarah terutama bagi santri senior.
4. NU adalah organisasi yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari pada tahun 1926.

H. Pemikiran Kiai H.Hasyim Asy’ari
1. Kiai Hasyim asy’ari memainkan peranan penting dalam modernisasi daerah Tebuireng.
2. Menurut Abu Bakar Aceh yang dikutip oleh editor buku Rais ‘Am Nahdlatul Ulama hal.153 bahwa KH. Hasyim Asy’ari mengusulkan sistem pengajaran di pesantren diganti dari sistem bandongan menjadi sistem tutorial yang sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan inisiatif dan kepribadian para santri. Namun hal itu ditolak oleh ayahnya, Asy’ari dengan alasan akan menimbulkan konflik di kalangan kiai senior.
3. Pada tahun 1916 – 1934 Hasyim Asy’ari membuka sistem pengajaran berjenjang. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi ke dalam dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awal dan siffir tsani yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awal dan siffir tsani itu diajarka bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam.
4. Kurikulum madrasah mulai ditambah dengan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia (Melayu), matematika dan ilmu bumi, dan tahun 1926 ditambah lagi dengan mata pelajaran bahasa Belanda dan sejarah.
5. Kiai Hasyim terkenal sebagai ulama yang mampu melakukan penyaringan secara ketat terhadap sekian banyak tradisi keagamaan yang dianggapnya tidak memiliki dasar-dasar dalam hadis dan ia sangat teliti dalam mengamati perkembangan tradisi ketarekatan di pulau Jawa, yang nilai-nilainya telah menyimpang dari kebenaran ajaran Islam.
6. Menurut hasyim Asy’ari, ia tetap mempertahankan ajaran-ajaran mazhab untuk menafsirkan al-Qur’an dan hadis dan pentingnya praktek tarikat.

Penutup
1. Tokoh pendidikan Islam Indonesia ini, K H Ahmad Dahlan dan K H Hasyim Asy’ari pantas diberi penghargaan atas usaha-usaha mereka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Semangat juang kedua tokoh pendidikan Islam ini pantas ditiru oleh generasi penerus.
3. Sikap dan cita-cita kedua tokoh ini perlu dipedomani untuk menentukan arah dan langkah generasi sekarang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. Oleh sebab itu para pendidik harus memperkenalkan kepada peserta didik kedua tokoh pendidikan Islam ini untuk menjadikan beliau sebagai idola.




Selengkapnya...

Kecerdasan Akal Menurut Al-Qur'an

Oleh : Dra. Nurhayati Zen, M.Ag

Kecerdasan adalah perihal cerdas, kesempurnaan akal budi manusia (seperti kepandaian, ketajaman pikiran). Kata kecerdasan ini diambil dari akar kata cerdas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cerdas berarti sempurna perkembangan akal budi seseorang manusia untuk berfikir, mengerti, dan sebagainya, tajam pikiran dan sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat) biarpun kecil badannya akan tetapi tidak kurang cerdasnya. Atau dengan contoh lain: perpustakaan didirikan untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat .

Ada kata lain yang dipakai untuk menunjukkan kecerdasan ini seperti rasyid ( ) Kata ini lebih mengarah kepada kecerdasan keagamaan; dan ada pula yang dikenal al rasikh ( ) yang muatan maknanya lebih dekat kepada pemahaman keagamaan.
1. Disamping itu ada kata akal, alat fikir yang terletak di otak manusia. Akal adalah daya fikir atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, daya akal budi, kecerdasan berfikir, atau boleh juga berarti terpelajar . Kata lain yang menunjukkan akal dalam Al-Qur an ada lebih dari 10 macam ungkapan, seperti:
 ya’qiluun artinya mereka yang berakal
 yatafakkaruun artinya mereka yang berfikir
 yatadabbaruun artinya mereka yang mempelajari
 yarauna artinya mereka yang memberi perhatian
 yanzhuruun artinya mereka yang memperhatikan,
 yabhatsuun,artinya mereka yang membahas
 yazkuruun,artinya mereka yang mengingat
 yata ammaluun artinya yang menginginkannya
 ya’lamuna,artinya mereka yang mengetahuinya
 yudrikuna,artinya mereka yang mengerti
 ya’rifuna artinya mereka yang mengenalnya
 , yaqrauuna artinya mereka yang membaca.
2. Al-Qur an adalah kitab suci agama Islam, yakni Kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Seperti tercantum dalam surah Al Baqarah ayat 185.


Artinya : “Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya ( awal ) alQur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang baik dan yang buruk )……”

Atau seperti tercantum dalam surah Al Baqarah ayat 2 :

“Kitab itu (Al-Qur an) tidak ada keraguan padanya;sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”.

4. Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata didik artinya memelihara dan memberi latihan, ajaran, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan . Kata pendidikan ini berpadanan juga dengan istilah bahasa Arab dan sering digunakan, seperti Al Tarbiyah, Al ‘Aqliyah, dan Tahzibiyah.

Gabungan kata di atasmenjadi Materi Pendidikan kecerdasan akal menurut Al-Qur an adalah bahan petunjuk bidang pendidikan yang mengasah akal fikiran manusia sehingga dapat mengantarkan manusia itu kearah kecerdasan manusia dalam usaha mengubah sikap dan tata laku seseorang manusia atau kelompok manusia dalam usaha mendewasakan manusia. Sesuai dengan isi kandungan Al-Qur an. Jadi kecerdasan akal dalam Al-Qur an adalah kemampuan menggunakan nalar dan daya fikir untuk memikirkan memperhatikan ,memahami ,meneliti ,membahas,menelaah dan seterusnya tentang ciptaan dan kekuasaan Allah SWT sebagai petunjuk yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga status mereka sampai disebut dengan Ulul albab,Ulul abshar, Ulinnuha yang bermuara kepada penumbuhan aqidah dan pengakuan khasyyah.dengan kesadaran yang ikhlas.

Eksistensi Kecerdasan Akal
Sebenarnya tidak semua makhluk dilengkapi dengan akal. Yang diberi Allah SWT akal hanyalah makhluk jenis manusia saja; oleh sebab itu makhluk jenis manusia ini menjadi makhluk mulia. Ini dapat dipahami dari firman Allah surah Al-Baqarah ayat33 dan 34 tentang eksistensi manusia :



Dari ayat ini berisi perintah Allah supaya semua Malaikat dan Iblis serta Jin bersujud kepada Adam karena ia dapat menggunakan akalnya mengetahui nama-nama benda (ilmu pengetahuan). Semuanya bersujud mengakui kelebihan Adam kecuali Iblis. (Allah berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama benda-benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama benda-benda itu Allah berfirman bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. Dan ingatlah ketika Allah berfirman kepada para Malaikat sujudlah kamu kepada Adam maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir’, QS:Al Baqarah ayat 33 dan 34).
Demikian pentingnya pengaruh akal bagi manusia. Dan atas rahman dan rahimNya, manusia diberi akal sehingga menjadi makhluk yang mulia, yang sebaik-baik makhluk, seperti yang disebutkan Allah dalam firmanNya dalam surah At Tin ayat 4 yang artinya : sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya tapi kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya. (Attin ayat 4 dan 5).
Akal itu didukung dan dilengkapi pula dengan sarana penunjang yakni pendengaran, penglihatan, dan hati supaya mereka bersyukur. Kalimat yang terkandung pada surah Al Mukminun ayat 78 :

(Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikitlah kamu yang bersyukur).
Jadi jika ditelaah ayat diatas dapat dipahami bahwa pada diri Adam terdapat suatu khazanah pengetahuan yang luas, sebuah perpustakaan yang mengandung inti ilmu dan pengetahuan kemanusiaan, serta laboratorium yang dari Adam itu muncul kreasi yang akan dikembangkan manusia, dari penemuan-penemuan yang akan ditemukan di masa depan melalui kecerdasan-kecerdasan akal anak cucu Adam hingga datang hari kiamat.Anak cucu Adam yang suka berfikirlah yang akan mewarisi ilmu pengetahuan ini baik yang praktis maupun teoritis, yang kemudian mengembangkannya dan memanfaatkannya.
Meskipun ilmu-ilmu itu telah dibagi-bagikan kepada manusia dan masing-masing individu mendapatkannya sesuai dengan usaha pendidikan kesiapan, kemampuan, dan potensinya untuk menguasai ilmu itu, juga kesungguhan dan usahanya untuk mencarinya, namun ilmu-ilmu alamiah itu hanya secara khusus dimiliki oleh sebahagian individu dari anak cucu Adam yang ulul albab, ulul abshar atau ulinnuha itu. Mereka mendapatkan kejayaan serta kemuliaan untuk membawa bendera ilmu pengetahuan itu di dunia. (surah Al Mujadalah ayat 11 : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat). Semua itu atas kurnia Allah. Menurut pernyataan Allah Ilmu yang diberikannya kepada manusia baru sedikit (surah 17 : 85) akan tetapi subhanallah manusia sudah dapat merasakan berbagi kenikmatan dan kemudahan dalam hidupnya sehingga manusia itu dapat makan makanan yang lezat dan nikmat bila malam ada lampu listrik yang menerangi,bila mau bepergian kemana saja ada kendaraan yang mewah dan indah, bila ingin tahu peristiwa yang terjadi di pelosok mana saja dibelahan bumi ini dalam hitungan detik sudah dapat disaksikan langsung dengan nyaman dan mudah, suara dari jarak manapun sekarang sudah bisa diterima dengan mudah dalam waktu itu juga dan seterusnya.hanya saja manusia kurang bersyukur .
Menurut Bahauddin al Qubbani dalam bukunya Miskin dan Kaya dalam Pandangan Al-Qur an halaman 21 menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu diciptakan oleh Allah SWT bermacam-macam, ada ilmu ada ilmu biologi, matematika, pertanian, penelitian, dan lain-lain, dan Dia menjadikan akal siap untuk menguasainya, mengolahnya serta berusaha mendapatkannya, baik ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang ada yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Siapa yang mempunyai bakat untuk menguasai pengetahuan atau suatu ilmu maka ia akan sampai kepada penambahan ilmu sedikit demi sedikit, sedangkan siapa yang bermalas malasan atau enggan maka orang lain yang akan merebut ilmu itu. Bukankah manusia sudah diberi potensi untuk cerdas ?
Jadi kecerdasan akal menjadi perhatian para ilmuwan karena sampai saat ini ilmu tentang kecerdasan akal ini berkembang pesat. Salah satu ilmuwan Indonesia yang menulis tentang kecerdasan akal ini adalah Ary Ginanjar Agustian. Mengutip makna kecerdasan yang ditulis oleh Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual menuliskan bahwa kecerdasan yang terdapat pada manusia sebagai makhluk Allah SWT yang mulia itu dibagi kepada 4 macam, yaitu :
i. EQ ( Emotional Quotient ), yakni kecerdasan emosi. Yang dimaksud dengan kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang difikirkan menjadi sesuatu yang menyentuh rasa. Emosi ini biasanya ada di hati. Hati adalah sumber energi, keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati itu juga sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin, dan melayani. Hati nurani akan menjadi pembimbing terhadap sesuatu yang harus ditempuh dan sesuatu yang diperbuat. Artinya manusia sebenarnya telah memiliki sebuah radar hati sebagai pembimbingnya. KH Habib Adnan menyatakan bahwa Agama Islam adalah agama yang dibutuhkan manusia untuk mengatur radar hati ini sesuai dengan fitrah manusia. Kebenaran Islam senantiasa selaras dengan suara hati manusia. Oleh karena itu memegang teguh kata hati nurani merupakan tantangan hidup yang perlu dikembangkan. Dalam menghadapi perubahan kehidupan yang demikian cepat dan dinamis seperti sekarang ini demi mencapai kesuksesan. Jadi Ary Ginanjar berpendapat agama Islam bisa dijadikan landasan pembangunan kecerdasan emosi, yakni suara hati yang menjadi landasannya.
ii. IQ (Intelectual Quotient), yakni yang disebut dengan kecerdasan intelektual atau akal. Kecerdasan intelektual adalah kemampuan seorang manusia mendaya-gunakan akal fikirannya untuk memahami dan mengerti sesuatu. Sirajuddin Zar dalam bukunya Filsafat Islam mengutip pendapat Ibnu Bajjah tentang akal. Menurut Ibnu Bajjah akal terdiri dari dua jenis yakni yang pertama akal teoritis, yakni akal yang diperoleh berdasarkan pemahaman terhadap sesuatu yang kongkrit dan abstrak; dan yang kedua akal praktis, yakni pemahaman yang diperoleh melalui penyelidikan (eksperimen) sehingga menemukan ilmu pengetahuan .
iii. SQ (Spiritual Quotient), yakni kecerdasan spiritual. Hal ini merupakan temuan ilmiah saat ini, yakni proses syaraf otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup manusia agar lebih bermakna. Kebenaran sejati sebenarnya terletak pada suara hati bersumber dari spiritual center ini yang tidak bisa ditipu oleh siapapun atau oleh apapun termasuk oleh diri kita sendiri. Ary Ginanjar mengutip pendapat Jamaluddin Rumi yang mengatakan : “mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indra penglihatan” .
iv. ESQ (Emotional and Spiritual Quotient), yakni gabungan dari EQ dan SQ secara seimbang, antara rasa,fikir dan suara hati nurani. Pertama, konsep ini yang dapat mengantarkan manusia menjadi manusia unggul yang senantiasa berpusat pada prinsip atau kebenaran hakiki yang bersifat universal dan abadi. Kecerdasan gabungan ini adalah berusaha untuk berfikir jernih dengan menggunakan suara hati yang suci, bebas dari belenggu. Kedua, adanya kesadaran diri membangun alam fikir emosi secara sistematis berdasarkan rukun iman yang selaras dengan fitrah manusia dan sesuai dengan hati nurani. Ketiga, pengasahan hati yang telah terbentuk dengan menggunakan latihan dalam melaksanakan rukun islam. Keempat langkah sinergi digabungkan dengan langkah aplikasi total sehingga menimbulkan ketangguhan. Inilah yang merupakan gambaran kecerdasan emosional spiritual.

Proses Kecerdasan Akal adalah untuk mencapai tujuan
Proses yang membuat manusia menjadi cerdas itu tentu saja dengan melalui usaha,pelatihan yang berulang-ulang dan pendidikan. Cerdas dan kecerdasan yang dimaksudkan disini adalah kecerdasan intelektual yang bersumber dari Al-Qur an al Karim. Seluruh ayat Al-Qur an itu memuat petunjuk untuk meraih kecerdasan karena semua ayat tersebut adalah petunjuk bagi manusia seperti yang dinyatakan dalam surah Al Baqarah ayat 185 dan ayat 2 di atas. Baik itu untuk kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan Spiritual (SQ), dan kecerdasan emosional spiritual (ESQ). Oleh sebab itu di dalam Al-Qur an terdapat prinsip-prinsip pendidikan Islam. Pertama, menjelaskan tujuan utama kehidupan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, pada surah Az Zariyat ayat 56, yang berbunyi : “Dan Aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan untuk menyembahKu” (Surah 51 : 56).
Kemudian yang kedua, tujuan umum keberadaan manusia di muka bumi ini sebagai khalifah pada surah Al Baqarah ayat 30 :


“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat : ‘sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’” ( 2: 30). Dan Al An’am ayat 165


“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya dan sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha Penyayang” (6 :165).
Dan yang ketiga, tujuan khusus manusia itu adalah untuk bekerja dan berusaha terdapat pada surah Al Qasas ayat 77:

Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan lupa nasibmu di dunia.


Materi Pendidikan Kecerdasan Akal dalam Al-Qur an
Adapun materi pendidikan tentang kecerdasan akal itu antara lain dapat dilihat pada :
a. Surah Al ‘Alaq ayat 1-5;

Artinya : “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Mengajar manusia tentang hal –hal yang belum diketahuinya” ( Surah 96 : 1-5).

Untuk bisa mencapai kecerdasan akal harus ada usaha membaca sesuai dengan petunjuk bahwa membaca yang mendatangkan kecerdasan adalah membaca dengan menyebut nama Tuhan Maha Pencipta dan dengan perantaraan pena serta tulisan; membaca yang tidak disandarkan kepada Tuhan Maha pencipta akan kering dari hidayah (atau Spiritual Quotient), karena orang yang berusaha mencari petunjuk pasti akan diberi petunjuk dan siapa yang ingin sesat tentu tidak mau menerima petunjuk.

b. Dalam Al-Qur an ada 12 ayat yang memuat materi seperti itu antara lain pada surah Ar Ra’du ayat 33, Al Kahfi ayat 17, Az Zumar ayat 23, Al A’raf ayat 178 dan 186, As Syura ayat 46 :



“Allah yang menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al-Qur an yang serupa lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian jadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya”. ( 39: 23).
Maksud ayat diatas adalah bahwa Allah mengajar manusia dengan cara berulang-ulang supaya manusia mendapat pendidikan dan pengajaran. Bahkan dengan cara itu masih tidak semua manusia dapat menangkap dan memahaminya.Tanda-tanda orang yang menggunakan akal dan kecerdasannya menerima ayat itu digambarkan oleh Allah bahwa : bila manusia itu mengerti akan timbul rasa takut kepada Allah yakni takut akan kebesaran Allah. Takut itu ada dua macam yang pertama ada yang disebut dengan istilah khauf ( ) yakni takut karena diri nya punya kelemahan dalam menghadapi sesuatu, yang kedua adalah takut dengan istilah khasyyah ( ) yakni takut karena keagungan/keutamaan yang dimiliki sesuatu. Ulama (orang yang berilmu pengetahuan yang benar) yang cerdas yang dapat membawa kepada kondisi khasyyah itu. Oleh sebab itu Orang yang berfikir cerdas itu bisa berproses menjadi orang yang sampai kepada kondisi khasyyatillah ( ). Misalnya ilmuwan geologi (yang membahas gempa, ilmuwan kelautan, ilmuwan biologi dan bidang kedokteran, bahkan ahli apa saja dapat mengantarkannya kepada Khasyyatillah sampai terucapkan pengakuan yang indah dan ringan “subhanaka faqina ‘azabannar” bahwa Allah itu bersih dari sifat-sifat yang kurang, maka supaya terhindar dari kekurangan-kekurangan manusia perlu ada sikap dan ilmu pengetahuan.

a. Kecerdasan akal itu harus punya prinsip tidak ragu-ragu. Materi pendidikan ke arah prinsip itu lihat surah Ali ‘Imran ayat 60-63,


Artinya: bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah SWT maka janganlah hendaknya manusia itu meragukannya sehingga ia dapat mencapai kecerdasan akal. Apa yang telah kami ceritakan itu itulah yang benar maka janganlah termasuk orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu maka katakanlah; marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anakmu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah, kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.( 3: 60-62 ).

b. Kecerdasan akal itu harus menggunakan fikiran yang sehat. Materinya tercantum pada surah surah Ali Imran ayat 190 –194:




bahwa manusia yang punya kecerdasan akal adalah yang senantiasa menggunakan akalnya dalam posisi dan kondisi apa saja sepanjang waktu dalam keadaan duduk, berdiri, berbaring, yang diistilahkan dengan ulul albab sehingga daya fikirnya itu menemukan ujung kearifan dan terucaplah ucapan yang terlahir dari pengakuannya subhanaka wa qina ‘azaban naar.Maha suci Engkau (Allah) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ( 3 : 190 ).

c. Kecerdasan akal itu harus diusahakan dengan melakukan jalan penelitian. Lihat surah Az Zariyat ayat 21, Al Zukhruf ayat 51, Al Qashas ayat 72 - 73, At Thur ayat 15, bahwa untuk dapat memahami dengan mendalam serta mengetahui secara cermat harus melakukan penelitian terhadap diri sendiri tentang cara penciptaan manusia.Dan pada dirimu sendiri makaapakah kamu tidak memperhatikannya? (Surah 51 : 21)
Bagaimana Allah menciptakan sari makanan yang dimakan manusia bisa berobah menjadi kulit, rambut, alis mata, kuku, gigi, tulang, daging urat, syaraf darah, langsung berobah dengan membawa sifatnya masing-masing padahal sari makanan yang digunakan berasal dari zat yang sama, subhanallah. Kemajuan intelektual manusia dapat membuat sistem kloning yakni membuat manusia baru dari sel manusia itu sendiri dengan menggunakan proses tertentu, atau mencangkok pohon tertentu untuk menghasilkan beragam buah yang aneka warna dan rasa.

d. Kecerdasan akal itu yang diambilkan dari materi pendidikan wisata. Ini dapat dilihat pada 16 ayat Al-Qur an , antara lain pada surah Ali ‘Imran ayat 137, surah An Nahl ayat 36, surah An Naml 69, surah Al ‘Ankabut ayat 20, surah Yusuf ayat 109; bahwa dalam ayat-ayat tersebut manusia didorong untuk melakukan perjalanan wisata menyaksikan situasi dan kondisi alam yang dapat dijadikan materi pendidikan kecerdasan akal.
Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan ( rasul-rasul) (3 : 137)

e. Kecerdasan akal itu diambilkan dari materi pendidikan pelatihan, yakni tentang teknik pelaksanaan ibadah. Lihat surah al Baqarah ayat 183 misalnya, dalam melakukan peribadatan dapat dilihat dan dirasakan pelatihan pisik manusia dan pelatihan rohani manusia sekaligus. Pertama ketangguhan pisik maksudnya manusia yang melaksanakan ibadah puasa akan menemukan ketangguhan pisik bahwa kondisi badan yang tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu masih mampu serta kuat bekerja dan beribadah sebaik mungkin, dan yang kedua ketangguhan akal bahwa tidak semua makanan dapat dimakan pada sembarang waktu. Ada saat-saat tertentu yang mengangkat kondisi fikir kearah petunjuk yang menemukan keselarasan fikir dan bisikan nurani mencari kebenaran yang aplikasinya akan terjadi dalam kehidupan manusia.
Ketangguhan manusia dilatih untuk dapat menahan haus dan lapar, menahan dari menikmati rezki yang diberikan Allah selama waktu tertentu namun ia masih tetap kuat, bekerja, berfikir jernih dan berbuat yang terbaik sesuai aturan Allah sampai nanti ia bisa menemukan kebesaran Allah dan mendapat ketaqwaan yang indah.

f. Kecerdasan akal yang berasaskan peraturan selaras dengan kedisiplinan hidup manusia. Ini dapat dilihat pada surah Al Mudatsir ayat 1-4, Al Muzammil ayat 1-9,




Artinya: bahwa manusia harus bangun dan jangan bermalas-malas, supaya kehidupannya yang memanfaatkan umur yang relatif singkat dapat mencapai kebahagiaan dan tujuan hidup tercapai dengan baik dan nyaman. “Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di malam hari kecuali sedikit yaitu seperduanya atau kurang dari seperduanya itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu dan bacalah Al-Qur an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang. Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. Dialah Tuhan masyrik dan magrib. Tiada Tuhan melainkan Dia maka ambillah Dia sebagai pelindung”.(Almuzammil 1-9).
Dari ayat diatas tergambar pendidikan kedisiplinan mematuhitata aturan Allah dalam kehidupan rutinitas, bahwa manusia setiap hari melalui pertukaran waktu siang dan malam secara rutin maka untuk mendapatkan pendidikan kecerdasan akal maka manusia harus ikuti dan melakukan bangun, rela meninggalkan rasa kantuk, dan ingin tidur sepanjang malam dengan tekun dan sungguh. Begitu pula pada waktu subuh ,manusia cerdas rela meninggalkan selimutnya bangun ketika mendengar azan subuh bangkit dan segera menghadap allah, berjalan ke rumah Allah atau berjamaah di rumah bersama anggota keluarga. Sungguh manusia akan menemukan kebesaran Allah dalam kedisiplinan itu yang berujung kepada pengakuan alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah seru sekalian alam.

g. Kecerdasan akal dapat diukur dari ujian dan penilaian. Lihat surah Al Baqarah 156 bahwa pengetahuan manusia akan dapat diukur dari pengujian sampai seberapa kuat intelektualnya dalam menyaksikan peristiwa ujian dan penilaian.
(Yaitu orang-orang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan sesungguhnya semua itu datangnya dari Allah dan kembali kepada Allah, (Al baqarah ayat 156).
Dengan datangnya ujian atau musibah dan langsung dirasakan oleh manusiaakan berpengaruh terhadap pola pikir manusia, bahwamanusia yang berakal akan mengamati dan mencari tahu apa dan mengapa terjadi, yang jawabannya akan menimbulkan keyakinan bahwa tidak ada daya dan tidak ada kekuatan apapun yang bisa mengatasi kekuatan Allah yang nanti akan bermuara kepada ucapan sesungguhnya semua ini kepunyaan Allah dan akan kembali kepada Allah jua

h. Tingkat kecerdasan akal itu adakalanya dipengaruhi oleh nasab dan keturunan ini dapat dilihat dari surah An Nisa ayat 22-26 yang menerangkan tidak boleh mengawini orang yang dekat hubungan nasabnya karena akan melemahkan kemampuan intelektual anak keturunan yang lahir dari nasab tersebut. (diharamkan atas kamu ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu, ibumu yang menyusukanmu, saudara perempuanmu sesusuan, mertuamu, anak-anak isterimu yang telah kamu campuri isteri, anak kandungmu dan menghimpun dua orang bersaudara, kecuali yang telah telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha penyayang, --Annisa 23).

i. Materi kecerdasan akal tentang ilmu hitung atau matematika. Ini dapat dipahami pada surah Ali Imran ayat 190: Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Di sini dikenalkan perjalanan hari untuk menghitung waktu berlalu sehingga manusia dapat menghitung tanggal, bulan, dan tahun umur manusia, atau untuk kegiatan usaha penghitungan dan hisab lainnya. Dengan memikirkan peristiwa rutinitas yang disksikannya setiap hari sampai akan muncul pengakuan alhamdulillah segala puji hanya untuk Allah.

j. Materi kecerdasan akal melalui bahasa. Ada kalanya kecerdasan akal ini menggunakan materi bahasa ini dapat kita lihat pada alQur’an alkarim ayat 3 dari surah alzukhruf ;

Artinya: Sesungguhnya kami menjadikan Al-Qur an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya ( Surah 43: 3 ). Kemudian pada ayat 3-4 dari surah Fushshilat:

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui, yakni yang membawakan berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling maka mereka tidak mau mendengarkan ( Surah 41 : 3-4 ).

Untuk mengantarkan dan mentransfer ilmu pengetahuan dan kecerdasan akal ini kepada peserta didik diperlukan bahasa .Adapaun bahasa yang dipakai oleh Al-Qur an adalah bahasa Arab. Bahasa itu bermacam-macam seperti banyaknya macam suku bangsa yang ada di dunia ini sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh suatu bangsa.Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Allah menurunkan Al-Qur an itu dengan menggunakan bahasa arab. Bukankah yang menghuni dataran di seluruh benua ini manusia dengan berbagai bahasa. ? Inilah makanya di akhir ayat disampaikan pernyatan bahwa laallakum ta’qilun mudah-mudahan kamu berakal (berfikir). Jadi usaha berfikir atau menggunakan kemampuan akal mecari pengetahuan untuk dapat memikirkan kebesaran Allah sehingga terlontar lah ucapan dan decak kagum rabbana ma khlaqta haza bathila subhanaka faqina azab annnar. Ketika manusia sudah dapat melihat kejadian luar negeri dibidang kemajuan negaranya barulah terucap kalimat tadi maha suci Allah tidak ada tandingan kecerdasan yang dimiliki Allah walau seseorang manusia terkaya pun, tercantik dan lain-lain. Maka orang yang tidak mau menggunakan kemampuan akalnya maka dia akan menjadi rugi di dunia apalagi diakhirat.sesuai dengan ayat 22 surah al anfal : Sesungguhnya makhluk yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang yang pekak ,bisu tuli yang tidak mengerti apa-apa ( Surah 8 :22 ) Yusuf Qardhawi menulis bahwa orang-orang yang demikian itu mendengarkan dengan telinga dan memahaminya dengan akal yang kosong karena pada hakikatnya tuli. Sementara Hamka menyatakan bahwa diantara segala binatang yang paling hina adalah binatang yang pekak bisu tuli karena tidak memakai akalnya . Yang dimaksud dengan binatang itu adalah manusia sebagai binatang merayap berkaki dua. Manusia kalau tidak menggunakan akalnya nilainya lebih hina dari binatang merayapdengan perut dan melangkah dengan kaki empat. Manusia yang pekak buta bisu itu adalah jika telinganya tidak digunakan untuk mendengar hal-hal yang disuruh Allah disangka bisu kalau mulutnya tidak untuk mengatakan yang benar; dan seterusnya.

Penutup
Materi pendidikan yang ditulis dalam Al-Qur an adalah untuk memunculkan tujuan-tujuan kemaslahatan manusia dalam arti luas.yakni supaya manusia itu dapat menemukan hidayah Allah yang tidak akan datang begitu saja tapi melalui kemauan dan kemampuan akal pikiran serta upaya pelatihan yang terus menerus sehingga akal manusia itu dapat menangkap nilai-nilai ilmu pengetahuan itu sambil mengeluarkan ucapan subhanaka faqina azab annar. Manusia yang menggunakan akal ini disebut dengan ulul albab atau orang yang ya’qilun atau orang yang ‘aqilun, atau yatafakkarun, yarsyudun, sehingga mereka itu disebut dengan ulama.
Sementaraitu menurut Quraish Shihab menulis pada bukunya yang berjudul membumikan alQur’an bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh Allah dalam Al-Qur an adalah membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifahNya. Manusia yang terdiri dari unsur-unsur jasmani dan rohani Pembinaan akalnya menghasilkan kesucian dan etika sedangkan pembinaan jasmaninya akan menghasilkan keterampilan.
Selengkapnya...

Aspek Politik dan Sosial Budaya Pendidikan Islam

Oleh : Drs. Gusnar Zein, M.Ag

Pendidikan Islam tidak akan terlaksana secara baik apabila tidak memandang kepada bermacam-macam aspek. Yang dimaksudkan dengan aspek disini adalah su dut pandang, maka sudut pandang tersebut sangat menentukan dalam mempertim bangkan sesuatu. Dalam Pendidikan Islam, memang ada beraneka ragam aspek, di antara aspek yang dominan adalah politik, sosial dan budaya. Ketiga aspek ini masing-masingnya berperan untuk melaksanakan pendidikan. Ketiga aspek tersebut dapat dilihat pada diskusi selanjutnya, yang secara garis besarnya dibagi kepada lima pokok pem bahasan, yaitu tentang aspek politik, pentingnya pemberdayaan masyarakat, sistem manajemen Pendidikan Berbasiskan Masyarakat dalam Menyonsong Masa Depan, Menggalang Partisipasi Orang Tua dan Masyarakat serta Peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.

1. Aspek Politik

Sebagaimana dimaklumi bahwa yang hendak dituju oleh pendidikan nasional ialah pendidikan yang menuju kepada masyarakat industri yang tidak terlepas dari tujuan politik ideologi bangsa kita sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945, Pancasila dan GBHN. Sistem Pendidikan Nasional telah merumuskan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan, yaitu : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945; Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemajuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional; Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekertu luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Apabila dilihat rumusan tersebut di atas, kelihatannya sudah jelas dan sistematik serta merupakan kerangka acuan bagi politik pendidikan nasional dalam semua aspek pendidikan. Sebenarnya rumusan ini merupakan penjabaran dari politik ideologi nasional ke dalam sektor pendidikan. Pada dasarnya pembangunan dalam sektor pendidikan adalah aspek dari pembangunan politik bangsa, yang tidak lain sebagai konsistensi antara arah politik dengan cetak biru pembangunan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 (HAR. Tilaar, 2003 : 161 ).

Tujuan nasional sebagai ideologi dasar dari masyarakat dan bangsa kita menjiwai terbentuknya masyarakat industri modern, ideologi pembangunan dan politik pendidikan nasional. Dalam masyarakat industri maka ilmu pengetahuan, teknologi serta informasi sangat menentukannya, karenanya sangat perlu diketahui oleh masyarakat serta berkembangnya kehidupan demokrasi. Maka demokrasi modern memerlukan rakyat yang selain berpaham nasionalis itu juga berwatak demokrat. Baik paham nasionalisme maupun watak demokrat tidaklah tumbuh sendiri, melainkan harus dididikan melalui proses sosialisasi pendidikan politik.

Dengana demikian masyarakat industri modern adalah masyarakat yang mengacu kepada kualitas dalam segala aspek kehidupan, kualitas tersebut akan hidup dalam masyarakat yang tinggi disiplinnya. Justru itu masyarakat industri modern yang diinginkan tidak dapat dilepaskan dari dasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 serta GBHN, dengan intinya adalah pemerataan, kualitas kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia, dan pembangunan yang berbudaya nasional.

Salah satu unsur politik pendidikan yang menunjang kehidupan masyarakat industri modern ialah pendidikan yang memperioritaskan kepada kualitas. Pemberian prioritas kepada kualaitas bukan berarsi suatu sistem pendidikan yang elitis tetapi yang memberi kesempatan kepada setiap orang mengembangkan bakat sesuai kemampuannya dengan. Pendidikan yang selektif untuk rogram yang relevan, pendidikan untuk anak pintar, merupakan program yang perlu dilaksanakan.
Politik pendidikan dengan sadar menyiapkan tenaga yang cukup jumlahnya dan teramil untuk mendukung masyarakat industri perlu dengan sungguh-sungguh disiapkan. Persoalannya ialah masyarakat industri modern yang akan kita bina adalah masyarakat yang adil dan makmur di mana setiap orang mempunyai pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan seperti yang diamanatkan pasal 27 ayat 2 UUD 1945.
Oleh karena itu pendidikan merupakan landasan utama bagi tumbuhnya rasa nasionalisme yang positif. Usaha ini tentu saja harus mendapat perhatian utama dalam pendidikan dasar 9 tahun ( wajar 9 tahun ). Pelaksanaan politik pendidikan ini menuntut cara penyajian yang efektif sesuai dengan taraf pendidikan rakyat dan tumbuhnya kehidupan yang terbuka. Untuk itu metodologi yang rasional dan kritis sangat diperlukan sehingga mampu mengolah berbagai bentuk arus globalisasi.
Dalam hal ini, akhirnya politik pendidikan nasional perlu ditata dalam suatu organisasi yang efesien dan dikelola oleh yang profesional. Yang tidak dapat dielakkan ialah keterpaduan antara berbagai jenis dan jenjang pendidikan nasional sebagai sistem pengelolaan pembangunan nasional.
Tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 memiliki tiga pila, yaitu : Masyarakat industri modern, meliputi tentang : demokrasi. Makmur yang berkeadilan sosial, masyarakat-belajar, sadar iptek, mengumpulkan kualitas dan berdisiplin. Pilar ideologi pembangunan meliputi tentang : pemerataan, kualitas manusia dan masyarakat serta aberbudaya nasional. Pilar Politik pendidikan meliputi : Undang Undang Pendidikan, pendidikan berkualitas, relevan dengan tenaga kerja trampil, identitas bangsa dan pengelolaan pendidikan yang profesional.
Pendidikan Nasional merupakan salah satu unsur pengikat, pelestari dan pengembang cita-cita bangsa. Sistem politik yang menggilas nilai-nilai kemerdekaan manusia ditunjang oleh sistem pendidikan yang mengkondisikan aspirasi politik tersebut. Undang Undang Pendidikan tentang sistem Pendidikan Nasional sebagai pengatur pelaksanaan UUD tersebut, dimana ayat-ayatnya menjiwai dimensi ideologi dari pendidikan nasional itu, yaitu empat dimensi : ideologi, politikal, teknikal dan dimensi pembangunan.

2. Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat.

Sebagaimana telah sama-sama diketahui bahwa manusia adalah sebagai makhluk sosial ( Social being atau homo saphiens ). Kita sebagai manusia dilahirkan ke alam dunia ini dalam kondisi yang lemah, tak berdaya. Karena manusia tidak berdaya, maka dia tidak akan sanggup melangsungkan hidupnya tanpa bantuan orang lain.
Fithrah-potensi manusia yang dibawa semenjak lahir baru dapat dan bisa berkembang dalam pergaulan hidupnya, dan manusia yang dilahirkan itu tidak akan menjadi manusia tanpa pengembangan potensi tersebut sebagaimana yang dikehen daki oleh ajaran Islam. Di antara nash yang menyatakan demikian, dapat dipahami dari surat al-Hujurat ayat 13, yaitu :
يايها الناس انا خلقناكم من ذكر او انثى و جعلناكم شعوبا و قبائل لتعارفوا .
Dari nash tersebut di atas dapat disinyalir betapa pentingnya memperdayakan masyarakat. Untuk memperdayakan masyarakat, yang pertama adalah mengembang kan potensinya. Potensi tersebut dapat dikembangkan adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia akan berwawasan, mempunyai bermacam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjadikan seseorang atau masyarakat dapat diperdayakan untuk bermacam-macam kepentingan, baik yang berhubungan dengan pribadinya maupun yang berkaitan dengan masyarakat.
Kedua, dengan jalan sosialitas manusia ( social being ), dalam ajaran Islam inilah yang dikenal dengan ta’arafu-berkenalan, menjalin hubungan secara baik. Keadaan seperti itulah yang dikehendaki oleh ajaran Islam sekaligus memperdayakan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan, khususnya dalam mengelola pendidikan Islam.
Apabila seseorang telah dapat bergaul dan menyesuaikan dirinya dengan kehidupan kelompoknya, berarti orang tersebut dapat mengenal nilai yang berlaku dalam kehidupan sosialnya, sekaligus memperkembangkan pribadinya. Dengan interaksi sosial itu manusia dapat merealisasikan kehidupannya, sebab tanpa timbal balik dalam interaksi sosial itu, ia tidak akan dapat merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya sebagai individu ( Gerungan, 1966 : 26 ).
Mengenai sosialitas manusia ( social being ) dalam konsepsi Islam menghen daki agar setiap orang selalu menjalin hubungan dengan Allah ( hablum min Allah ) dan hubungan sesama manusia ( hablum min al-nas ). Untuk menjalin kedua hu bungan tersebutlah betapa pentingnya memperdayakan manusia-masyarakat, satu-satunya jalan untuk maksud tersebut ialah dengan jalur pendidikan (Islam). Terlak sananya pendidikan secara baik adalah dengan saling tolong-menolong sebagai makh luk sosial. Pernyataan ini dapat dipertegas dengan firman Allah :
وتعاونوا على البر والتقوى ( سورة المائده : 2 )
Maksud dari ayat tersebut di atas dapat di interpretasikan bahwa Islam me nganjurkan kepada pemeluknya untuk mengembangkan keseimbangan antara kehidupan individual dan kehidupan bermasyarakat. Dengan mengembangkan ke seimbangan tersebutlah dapat memperdayakan SDM sebagai anggota masyarakat.
3. Sistem Manajemen Pendidikan Berbasiskan Masyarakat dalam Menyonsong Masa Depan.

Apabila diamati, maka sistem manajemen pendidikan berbasiskan masyarakat sangat dipentingkan dalam dan untuk meningkatkan serta menyonsong masa depan ( Community Based Education ). Pendidikan berbasiskan masyarakat mengindikasi kan kepemilikan masyarakat terhadap pendidikan, dimana masyarakat ikut serta se cara aktif dalam mengambil keputusan dan kebijakan mengenai pendidikan. Kepe milikan tersebut berarti bahwa masyarakat terlibat secara langsung dalam menentu kan tujuan pendidikan, kurikulum, materi, standar kemampuan lulusan yang diharap kan, guru dan kualisifikasinya, persyaratan siswa, dan dana/anggaran yang diperlu kan untuk pelaksanaan pendidikan dan lain sebagainya (Asnawir, 2003 : 227-228 ).

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa manusia yang disebut homo saphiens adalah sebagai makhluk sosial yang hidup dalam suatu kelompok sosial. Dalam kehidupan sosialnya, maka mesti ada suatu niat-tujuan baiknya, di antaranya membangun jalan, mushalla, masjid, sekolah dan lain sebagainya. Untuk terlaksananya hal tersebut, maka basis dari masyarakat sangat dipentingkan untuk mengambil suatu kebijakan atau keputusan, dalam hal ini adalah seperti kebijakan atau keputusan mengenai pendidikan.
Khusus mengenai pendidikan, yang tujuannya adalah untuk mencerdaskan manusia-masyarakat, baik pada masanya maupun untuk masa sesudahnya. Oleh karenanya, pendidikan yang berbasiskan masyarakat merupakan pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dengan tujuan menata masa depan bagi anak keturunannya.

Fasli Jalal dan Dedi Supriadi mengemukakan sebagaimana yang dikutip oleh Asnawir, katanya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi lahirnya konsep pen didikan berbasiskan masyarakat, yaitu :
1. Keterbatasan sekolah reguler, hal ini dirasakan ketika pemerintah Indonesia mencanangkan wajar 9 tahun.
2. Keragaman budaya, di mana terjadinya penguatan nilai-nilai budaya dan nilai lokal yang sangat dierlukan. Disini sangat diperlukan kontrol masyarakat untuk mengambil keputusan tentang konsep pendidikan serta anggarannya.
3. Keterbatasan anggaran pemerintah. Keterbatasan anggara ini sangat dirasakan semenjak terjadinya krismon. Untuk mengatasi hal tersebut, maka Pemda dan masyarakat sangat berperan dan dituntut untuk memainkan peranannya yang lebih besar demi terlaksananya pendidikan.
Selain dari latar belakang lahirnya konsep pendidikan berbasiskan masyarakat, maka tujuan pendiriannya ( Fasli Jalal dan Dedi Supriadi dalam Dasar Dasar Adminis trasi Pendidikan, Asnawir, 2003 : 230 ) adalah :
1. Merangsang perubahan sikap dan prestasi tentang kepemilikan masyarakat terhadap sekolah.
2. Mendukung prakarsa pemerintah dalam meningkatkan dukungan masyarakat terhadap sekolah, khususnya orang tua dan masyarakat melalui kebijakan desentralisasi.
3. Membantu mengatasi putus sekolah khususnya pada ( usia ) pendidikan dasar.
Dari ketiga point tersebut di atas nyatalah bahwa tujuan pendidikan berbasiskan masyarakat adalah untuk meningkatkan kedinamisan masyarakat dalam bidang pendidikan demi keberlangsungan dan meningkatkan SDM pada masyarakat tertentu. Bila hal tersebut terlaksana, maka masyarakat dapat dikatakan sebagai abdi pemerintah dalam menunjang keselarasan pembangunan di bidang pendidikan. Oleh karena demikian, maka pemerintah dalam menata dan memantapkan pendidikan berbasiskan masyarakat berperan sebagai : pelayan masyarakat, fasilitator, pendam ping dan sebagai mitra masyarakat ( Ibid, h. 231 ). Kiranya inilah yang dimaksudkan dengan kehidupan sosial dalam masyarakat atau dikatakan sebagai hidup rukun antara masyarakat dengan pemerintah. Dengan demikianlah pemerintah dapat dikatakan se bagai fasilitator atau sebagai pengayom masyarakat.
Jadi pendidikan berbasiskan masyarakat bukanlah hanya sebagai kepunyaan masyarakat saja, melainkan masyarakat telah berpartisipasi membantu pemerintah untuk meningkatkan SDM dalam bidang pendidikan. Justru itulah dapat dikatakan bahwa sistem manajemen pendidikan berbasiskan masyarakat dapat menata dan menyonsong masa depan yang datang sesudahnya.

4. Menggalang Partisipasi Orang Tua dan Masyarakat.

Sebagaimana telah diketahui bahwa suatu program atau usaha yang di ca nangkan oleh pemerintah adalah untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan nya, seperti halnya dengan pendidikan. Untuk mencapai maksud tersebut bukanlah hanya tergantung kepada pemerintah saja, melainkan adalah atas jalinan kerjasama antara orang tua, masyarakat dengan sekolah. Keberhasilan apa yang dimaksudkan tersebut tidak lain daripada partisipasi ketiga unsur itu, karenanya pendidikan adalah menjadi tanggungjawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah ( Sekolah ). Kiranya inilah yang dimaksudkan dengan masyarakat sebagai makhluk sosial yang dapat menjalin kerukunan antar orang tua, masyarakat dan sekolah .

Berdasarkan hal tersebut, maka partisipasi orang tua dan masyarakat terhadap sekolah adalah dengan menjalin hubungan dan kerjasama. Hubungan tersebut meliputi tentang (a). agar orang tua mengetahui berbagai kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan di sekolah untuk kepentingan peserta didik, (b). agar orang tua mau memberi perhatian dalam menunjang program-program sekolah. Maka hubungan tersebut bertujuan untuk saling membantu dan isi mengisi; bantuan keuangan dan barang-barang; mencegah perbuatan-perbuatan yang kurang-tidak baik; bersama-sama membuat rencana yang baik untuk peserta didik. Cara menjalin hubungan tersebut dilakukan melalui dewan sekolah, BP3, pertemuan penyerahan buku laporan pendidikan dan ceramah ilmiah ( (E. Mulyasa, 2002 : 143-144 ).

Sedangkan tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat ditinjau dari dua dimensi, yaitu kepentingan sekolah dan kebutuhan masyarakat. Pertama, dimensi kepentingan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk (a) memelihara kelang sungan hidup sekolah, (b). meningkatkan mutu pendidikan, (c). memperlancar ke giatan PBM, (d). memperoleh bantuan dan dukungan dari masyarakat dalam rangka pengembangan dan pelaksanaan program-program sekolah. Dimensi kedua, tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah : (a). memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, (b). memperoleh kemajuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, (c). menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, dan (d). memperoleh kembali angota-anggota masyarakat yang terampil dan makin meningkat kemampuan nya ( Ibid, h. 148 ).

Dalam sektor pendidikan, kerjasama ketiga unsur itu tentu saja mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang hendak dicapai dalam kerjasama tersebut (Asnawir, 2005 : 342 ) adalah :
1. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tujuan serta sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah.
2. Meningkatkan pemahaman sekolah tentang keadaan dan aspirasi masyarakat tentang sekolah
3. Menggalang usaha orang tua dan guru-guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik, serta meningkatkan kebutuhan orang tua terhadap pendidikan di sekolah baik secara kuantitas maupun secara kualitas.
4. Menumbuhkembangkan keasadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan pendidikan atau sekolah dalam pembangunan.
5. Membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat untuk dapat membantu sekolah serta kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat dilakukan oleh sekolah.
6. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang tanggungjawab sekolah untuk memenuhi harapan masyarakat mengenai hal-hal yang mungkin disumbangkan sekolah terhadap kepentingan masyarakat.
7. Mengusahakan dukungan dan bantuan dari masyarakat untuk memperoleh sum ber-sumber yang diperlukan dalam rangka memenuhi dan meningkatkan prog ram sekolah.
8. Saling membantu dan mengisi, dimana sekolah dapat memberikan informasi kepada orang tua tentang perkembangan kecerdasan dan hasil belajar anak, sebaliknya orang tua juga dapat memberikan masukan kepada sekolah mengenai keadaan mereka.
9. Sekolah dapat memperoleh bantuan keuangan atau bantuan lainnya demi kemajuan sekolah melalui SPP dan BP3 ( Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan ).
10. Sekolah dan orang tua secara bersama-sama berusaha untuk mencegah perbuatan-perbuatan yang melanggar susila dan norma-norma agama.

Berangkat dari beberapa point tersebut di atas dapatlah diketahui bahwa partisipasi orang tua dan masyarakat terhadap sekolah sangat dibutuhkan, partisipasi tersebut merupakan input bagi sekolah, demi kelancaran pendidikan dan pengajaran dimasa selanjutnya. Di antara hal-hal yang sangat penting dilakukan dalam memper baiki sekolah adalah tentang penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, tentang pembangunan, perbaikan dan atau tentang rehabilitasi sekolah.
Dengan demikian ( A. Gaffar, MS, 1992 : 55 ), keinginan dan aspirasi orang tua dan masyarakat adalah hal-hal yang tak dapat tidak dan yang harus diketahui oleh administrator pendidikan. Catatan-catatan tentang keinginan dan aspirasi orang tua dan masyarakat adalah merupakan suatu aspek yang amat penting dalam hubungan sekolah dengan masyarakat. Cara-cara yang sangat digunakan untuk memperoleh catatan-catatan tentang keinginan dan aspirasi orang tua dan masyarakat antara lain ialah dengan mengadakan pembicaraan dan percakapan-percakapan informasi dengan penduduk pada setiap kesempatan yang ada.. Percakapan-percakapan informal ini bisa dengan melakukan percakapan-percakapan bebas ( free talks ).

Oleh karena itu, partisipasi orang tua dan masyarakat terhadap sekolah adalah melalui pengembangan suatu konsensus tentang peranan sekolah dalam msyarakat, maksudnya adalah mengembangkan suatu persetujuan antara orang tua dan masyara kat dengan sekolah tentang peranan sekolah dalam masyarakat, bahwa sekolah yang ada dalam masyarakat itu memang berperan dalam meningkatkan taraf hidup. Untuk meningkatkan taraf hidup itulah orang tua dan masyarakat selalu bekerjasama dan berperan aktif dalam mencapai tujuan sekolah dan keinginan masyarakat. Dengan demikian orang tua dan masyarakat dapat lebih memahami serta mengawasi dan membantu sekolah dalam pengelolaan proses belajar-mengajar. Jadi, makin besar partisipasi orang tua dan masyarakat terhadap sekolah makin majulah sekolah tersebut dalam menjalankan aktivitasnya.

Selanjutnya, kerjasama orang tua dan masyarakat dengan pihak sekolah adalah dalam rangka mencapai tujuan pembangunan dengan melalui bermacam-macam lembaga kemasyarakatan, seperti media massa, radio, televisi, dan lembaga-lembaga lainnya. Jadi informasi dari masyarakat harus bersifat mendorong timbulnya keinginan untuk ikut berpartisipasi aktif untuk kemashlahatan sekolah. Respons masyarakat tersebut dapat berbentuk saran, pendapat, kritik dan keluhan. Semuanya itu adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan sekolah. Dengan demikian dalam public relations terdapat sesuatu usaha dalam rangka mewujudkan suatu hubungan yang harmonis antara orang tua dan masyarakat dengan sekolah, sehingga timbul opini publik yang menguntungkan bagi kehidupan bersama.

Apabila hubungan sekolah dengan masyarakat telah baik, dan dirasakan betapa pentingnya memahami pendidikan bagi peserta didik, maka tanggungjawab dan partisipasi orang tua dan masyarakat untuk memajukan sekolah akan lebih tinggi. Justru itu, hubungan yang harmonis akan membentuk :

1. Saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja.
2. Saling membantu antara sekolah dan masyarakat, karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.
3. Kerjasama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggungjawab atas suksesnya pendidikan di sekolah. ( E. Mulyasa, 2002 : 51 ).

Jadi melalui hubungan yang baik antara sekolah, orang tua, masyarakat dan lembaga lainnya diharapkan tercapai dan terlaksananya pendidikan secara produktif, efektif dan efisien, sehinggan menghasilkan lulusan sekolah yang berkualitas.
Berdasarkan apa yang diutarakan di atas terdapatlah hubungan timbal balik, yaitu antara sekolah dengan masyarakat, hubungan tersebut merupakan hubungan kerjasama yang bersifat pedagogis, sosiologis dan produktif yang dapat mendatang kan keuntungan bagi kedua belah pihak. Hubungan itu meliputi beberapa hal, seperti :

1. Mengatur hubungan sekolah dengan orang tua murid.
2. Memelihara hubungan baik dengan BP3.
3. Memelihara dan mengembangkan hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga pe merintah, swasta dan organisasi sosial.
4. Memberi pengertian kepada masyarakat tentang fungsi sekolah melalui berma cam-macam teknik komunikasi. (B. Suryosubroto, 2004 : 160 ).

Menurut Camphell. Cs. Sebagaimana yang dikutip oleh A. Gaffar, MS. Bahwa pendidikan yang berlangsung di dalam suatu masyarakat sekolah ( school community ) dan usaha serta kegiatannya terdiri dari :

1. Memberikan, menyelenggarakan, mengatur fasilitas-fasilitas terhadap pengem bangan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan dasar untuk mengajar dan belajar.
2. Menstimulasikan pengembangan program yang cocok untuk belajar dan mengajar.
3. Mendapatkan atau memperoleh serta memenej personil dan material untuk menga jar dan belajar ( A. Gaffar, MS, 1992 : 10-11 ).
Demikianlah hubungan timbal balik antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat.

5. Peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.

Dewan pendidikan adalah majlis atau badan yang terdiri atas beberapa orang anggota yang pekerjaannya memberi nasehat, memutuskan dengan jalan berunding tentang kemajuan pendidikan; sedangkan komite adalah adalah sejumlah orang yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas tertentu; panitia dan sebagainya. Baik Dewan Pen didikan maupun Komite Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan mutu pendi dikan. Penjelasannya akan dilihat pada diskusi berikutnya.
Pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang dilaksanakan oleh daerah. Untuk keberlangsungan pendidikan secara baik, sangat perlu penge lolaan pendidikan yang tepat. Strategi tersebut diperlukan mengingat sebahagian be sar daerah mengalami keterbatasan sumber daya, sementara itu tuntutan akan kualitas pendidikan selalu meningkat sejalan dengan kemajuan dan perkembangan zaman.
Dengan demikian, pengelolaan pendidikan sangat memerlukan kerjasama antara berbagai pihak, seperti dewan pendidikan dan komite sekolah, yang pada perkembangan selanjutnya dikenal dengan Manajemen Berbasiskan Sekolah-Shool based management. Untuk itu MBS merupakan bentuk alternatif dalam pengelolaan sekolah, serta peran atau parsitipasi masyarakat.
Mutu berarti kadar, taraf dan derjat atau tingkat. Umpamanya meningkatkan mutu pendidikan (Depdikbud, 1990 : 604 ). Maksudnya adalah mengacu pada proses dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti bahan ajar ( kognitif, afektif, psikomotor ), metodologi, sarana prasarana sum ber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Untuk itu, manajemen sekolah berfungsi mensinkronkan berbagai input atau mensinergikan semua kom ponen dalam interaksi ( proses ) belajar mengajar. Maka mutu dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah secara berkelanjutan ( B. Suryo subroto, 2004 : 210 ).

Pertanyaan yang timbul adalah : apakah sekolah responsif terhadap peren canaan masa depan ?. Jawabannya, bahwa pendidikan-sekolah dapat responsif ter hadap masa depan. Tekanan ini diletakkan pada kenyataan bahwa kita dapat meng identifikasikan alternatif pendidikan masa depan serta mengkaji kualitasnya yang pluralistik, dan kita dapat juga mengidentifikasi saling hubung antara alternatif-alternatif ini dengan kesejahteraan umum.
Dapatkah hari esok lebih baik ( utopia ) dari hari sekarang ? Jawabannya sebagaimana yang dikemukakan oleh Harold G. Shane, bahwa berdasarkan sikap orang yang berprestasi dalam studi berorientasi masa depan sebagaimana yang disponsori oleh USOE, bahwa sebahagian besar spesialis riset kebijaksanaan me ngemukakan pandangan yang sangat optimis tentang masa depan di Amerika Serikat. Tekanan futuris yang sedikit banyak berupa masa depan yang utopia, berdasar, tentu saja, pada keyakinan bahwa masih ada cukup waktu untuk memilih antara mencip takan dunia yang baik bagi kehidupan manusia. ( Harold G. Shane, 1984 : 21 ).
Masyarakat dunia telah diresapi oleh responsif pada aplikasi teknologi, se hingga perkembangan utopia mungkin timbul mempunyai yang sangat besar ter hadap kemungkinan perubahan sosial. Hari depan yang dikategorikan secara acak, bagaimanakah bentuk hari depan nanti ? Untuk menjawabnya, pertimbangkanlah per tanyaan-pertanyaan berikut ini :
1. Masalah atau isu pendidikan apakah yang dapat diramalkan atau diprediksikan ?
2. Apakah hari esok akan lebih baik atau lebih lemah ?
3. Perkembangan menarik apakah yang mungkin terjadi selama dekade yang akan datang ?
4. Apakah signifikansi kependidikan dari masa depan itu ?
Secara umum, semua pertanyaan di atas dapat dijawab bahwa hari esok atau masa depan itu pasti lebih baik dari hari sekarang. Untuk mencapai yang lebih baik itu tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi mempunyai bermacam-macam langkah atau proses, asalkan mau untuk mencapainya. Dalam Islam, inilah yang dikehendaki, Allah telah menyatakan dengan firman-Nya :
ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم ( سورة الرعد : 11 ) .
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga merobah keadaan yang ada pada diri mereka ( Depag RI, 1983/1984 : 370 ).
Usaha untuk merubah suatu keadaan atau nasib, tidak mungkin akan terlak sana apabila seseorang itu tidak memahami permasalahan-permasalahan aktual yang dihadapinya. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha untuk mengubah dan meng arahkan keadaan atau nasib tersebut. Disini adalah merupakan problema pokok filsafat pendidikan Islam masa sekarang. Analisa terhadap masalah-masalah pen didikan masa sekarang akan dapat memberikan informasi untuk menghadap dan me ningkatkan mutu pada masa depan. Hal ini teraplikasi tidak lain adalah atas niat masing-masing. Oleh karena itu, filsafat pendidikan Islam dapat menuju kearah pe ngembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan Islam, yang secara otomatis menghasilkan teori-teori baru, dan arah perbaikan atau tajdid praktek serta pelaksa naan pendidikan. Dengan demikian, tujuan adalah dunia cita, yakni suasana ideal yang ingin diwujudkan.
Dalam tujuan pendidikan suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir ( ul timate aims of education ). Tujuan akhir bisa dirumuskan secara padat dan singkat, seperti terbentuknya kepribadian muslim ( Ahmad D Marimba, 1962 : 43 ), dan kematangan dan integritas, kesempurnaan pribadi ( Mhd. Noor Syam, 1973 : 76 ). Jadi, pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan kese luruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberi informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan di dunia, serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial untuk menghadapi perubahan ( Depag RI, 1983/1984 : 157 ). Untuk menghadapi masa depan tersebut, dalam bidang pendidik an, maka Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sangat berperan untuk meningkat kan mutu pendidikan.
Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan nasional yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, efisiensi serta relevansi dan pemerataan pelayanan pendidikan ada empat isu kebijakan, yaitu :
1. Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menerapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional antara peme rintah dengan masyarakat.
2. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan mengarah kepada pengelolaan pendidikan berbasis sekolah, dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepa da sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia bagi tercapainya tujuan pendidikan.
3. Peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat. Peningkatan peran serta orang tua dan masyarakat pada level kebijakan ( pe ngambilan keputusan ) dan level operasional melalui komite ( dewan ) sekolah. Komite ini terdiri atas kepala sekolah, guru senior, wakil orang tua, tokoh ma syarakat, dan perwakilan siswa. Peran komite meliputi perencanaan, implemen tasi, monitoring serta evaluasi program kerja sekolah.
4. Pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan. Hal ini berkenaan dengan penerapan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan, upaya pemerataan mutu pendidikan dengan adanya standar kompetensi minimal, serta pemerataan pelayanan pendidikan bagi siswa pada semua lapisan masyarakat ( E. Mulyasa, 2002 : 6-7 ).

Salah satu masalah pendidikan yang berhubungan dengan relevansi adalah perlunya penyesuaian dan peningkatan materi program pendidikan agar secara lentur bergerak cepat sejalan dengan tuntutan dunia kerja serta tuntutan kehidupan masyarakat yang berubah secara terus-menerus. Maka prinsip relevansi tersebut adalah suatu pendidikan akan bermakna apabila kurikulum yang dipergunakan relevan ( terkait ) dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Oleh karenanya MBS merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka peningkatan mutu.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah melaksanakan beberapa peranan penting, sebagai berikut :
1. Pemberi pertimbangan ( advisory agency ) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
2. Pendukung ( supporting agency ), baik yang berwujud finansial dan pemikiran, maupun yang berwujud tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3. Pengontrol ( controlling agency ) yang merupakan kegiatan pengawasan dalam rangka menciptakan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan serta keluaran pendidikan.
4. Mediator antara pemerintah ( executive ) dengan masyarakat di satuan pendidikan.

Di lain pihak Komite Sekolah juga mempunyai beberapa fungsi, sebagai berikut :

1. Mendorong timbulnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyeleng garaan pendidikan yang bermutu.
2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat baik secara perorangan, maupun dunia usaha dan dunia industri serta pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
4. Memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada satuan pendidikan mengenai :

a. Kebijakan dan program pendidikan.
b. Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Pendidikan Sekolah ( RAPBS ).
c. Kriteria kinerja satuan pendidikan.
d. Kriteria fasilitas pendidikan.
e. Hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan.
5. Mendorong orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.
6. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan npendidikan di satuan pendidikan.
7. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan program penyelengga raan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan ( Asnawir, 2005 : 345-347 ).
Dari beberapa peran dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagaimana tersebut di atas, maka yang tidak dapat tidak untuk meningkatkan mutu pendidikan tersebut adalah menjalin hubungan timbal balik antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat, saling memberi dan menerima informasi serta mencarikan solusinya demi mutu pendidikan di masa depan. Dengan demikian, hubungan sekolah dengan masyarakat adalah hubungan yang berbentuk :
1. Hubungan yang bersifat timbal balik yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
2. Hubungan yang bersifat sukarela berdasarkan prinsip bahwa sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan ( integral ) dari masyarakat.
3. Hubungan yang bersifat kontinu atau hubungan yang berkesinabungan antara sekolah dengan masyarakat.
4. Hubungan keluar yang dapat menambah simpati masyarakat terhadap sekolah.
5. Hubungan ke dalam yang menambah keyakinan atau memantapkan pengertian para warga sekolah tentang kepemilikan material dan non material sekolah (Ibid, h. 347-348 ).
Dari ungkapan di atas nyatalah bahwa dalam dan untuk meningkatkan mutu pendidikan di masa depan tidak lain adalah dengan menjalin kerjasama secara timbal balik antara sekolah dengan masyarakat atau Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Apabila hubungan timbal balik telah terjalin secara harmonis, maka mutu pendidikan akan sempurna, setidak-tidaknya akan menuju kepada kesempurnaan. Justru itu, Dewan sekolah ( School Council ) , orang tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembuatan berbagai keputusan demi kemajuan dan meningkatkan mutu pendidikan untuk masa depan.
Menurut Harold G. Shane, ada empat potensi signifikansi pendidikan terhadap dunia masa dekan. Signifikansi pendidikan di hari esok dapat diringkaskan dalam empat butir, yaitu :

1. Pendidikan merupakan wahana yang dapat di uji untuk implementasi nilai-nilai masyarakat, dan menimbulkan nilai-nilai baru. Seperti kaca merefleksikan masyarakat, sekolah tidak menciptakan hari esok tetapi dapat mencerminkan kebudayaan yang berubah dan menyiapkan anak-anak untuk berperan seerta secara lebih efektif dalam usaha terus-menerus untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Semua kekurangan yang betul-betul efektif sekarang ini merupakan keputusan sosial yang diperlukan untuk mendapatkan kembali tujuan pendidikan yang pasti.
2. Banyak masalah pokok waktu ini dapat diatasi dengan pendidikan, jika pengertian tentang tujuan pendidikan dapat dihayati kembali.
3. Di masa lampau, sekolah mempertahankan tradisi usang. Tanpa melemahkan tradisi tersebut, kita dapat pula untuk mengimplementasikan alternatif hari esok yang paling baik.
4. Perbaikan iklim psikologis sekolah dapat mencapai satu signifikansi baru bagi pendidikan masa datang, perlu menciptakan keamanan ( inter security ). Kea manan memberikan kontribusi bagi kehiduan masyarakat dalam suasana psi kologis yang lebih baik. Pendeknya, pendidikan secara potensial sangat penting, karena : (a). pendidikan adalah satu cara untuk memperkenalkan si pelajar ( lear ners ) pada keputusan sosial yang timbul, (b). pendidikan dapat menanggulangi masalah sosial tertentu, (c). pendidikan dapat untuk mengimplementasikan alter natif-alternatif baru, (d). pendidikan merupakan cara terbaik untuk membimbing manusia, sehingga dapat memberikan konstribusi pada kebudayaan hari esok. (Harold G. Shane, 1984 : 38-40).

Jadi, betapa pentingnya hari esok bagi pendidikan. Pengkajian tentang berba gai alternatif dan opsi ( pilihan ) mengamanatkan perlunya perubahan konten substantif bidang-bidang tertentu. Seperti perubahan pada sturktur sekolah tradisional dari masa awal kanak-kanak sampai pendidikan menengah atas bahkan perguruan tinggi, termasuk perubahan metode, prosedur yang di inginkan oleh suatu format pendidikan yang baru, demi mencapai mutu pendidikan di masa yang akan datang.

Selanjutnya, untuk menuju pendidikan nasional yang relevan dan bermutu, dalam hal ini ada ada empat kriteria yang secara menyeluruh dan seimbang perlu digunakan sebagai tolok ukur menilai dan memilih jenis dan bentuk proses belajar-mengajar, yaitu :

1. Partisiasi aktif pelajar dalam proses PBM. Disini perlu ditanamkan cara belajar aktif, seperti menuliskan pengetahuannya, mendiskusikan berbagai aspek penting. Kalau hanya peserta didik mendengar dan menerima informasi saja, maka dia akan bersifat statis, bukan dinamis.

2. Efisiensi. Maksudnya peserta didik dapat mencapai lebih dari satu tujuan melalui kegiatan belajar. Untuk itu dalam memilih PBM diusahakan memperhatikan berbagai akibat yang positif. Bila seorang guru hanya mendiktekan pelajaran, yang dapat dicapai hanyalah penguasaan informasi oleh peserta didik.

3. Terarah kepada pencapaian tujuan. Setiap guru memberikan pelajaran, harus mempunyai tujuan yang akan dicapai, maka PBM yang bersifat efektif dapat menunjang tercapainya tujuan, di antaranya dalam bentuk interaksi dalam belajar, sebab setiap penggal pelajaran dikenal dengan tujuan utama dan tujuan sekunder.

4. Mengandung nilai yang dicita-citakan. Suasana belajar hendaknya merupakan aplikasi nilai tanpa terlihat adanya kesengajaan, secara tidak merasa merasuk ke dalam seluruh situasi belajar-mengajar ( Soedijarto, 1989 : 153-155 ).

Caldwell & Spink mengemukakan sebagaimana yang dikutip oleh B. Suryosubroto bahwa MBS adalah sebagai manajemen peningkatan mutu. Konsep pengelolaan ini menekankan kepada kemandirian dan kreativitas sekolah di dalam mengolah potensi sumber daya pendidikan melalui kerjasama dengan pemerintah dan masyarakat di dalam pengambilan keputusan untuk memenuhi tujuan peningkatan mutu sekolah ( B. Suryosubroto, 2004 : 197 ).

MBS merupakan model pengelolaan pendidikan yang baru bagi sekolah-sekolah di Indonesia, model ini mulai di ujicobakan pada tahun 1999/2000 pada 140 SMUN dan 248 SLTPN, pada tahun 2000/2001 pada 486 SMUN dan 158 SLTPN yang ada di Indonesia. Mensosialisasikan konsep tentang manajemen peningkatan mutu berbasiskan sekolah di latar belakangi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membawa perubahan sikap di hampir semua aspek kehidupan manusia. Untuk lebih mampu berperan dalam persaingan global, secara terus-mene rus perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara terenca na, terarah, intensif, efektif dan efisien. Dengan demikian, peningkatan sumber daya manusia sangat berintegrasi dengan peningkatan kualitas pendidikan, maka pemerin tah bersama masyarakat terus berupaya mewujudkan berbagai usaha pembangunan pendidikan yang berkualitas melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum, materi ajar, evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pelatihan guru dan lain sebagainya.
Mengingat, sekolah merupakan sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi peserta didik, maka sekolah memer lukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda, sekolah harus bersifat dinamis dan kreatif. Untuk itu, agar mutu tetap terjaga dan terkontrol, maka harus ada standar yang disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut, maka pengelolaan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan inilah yang dikenal dengan manajemen peningkat an mutu pendidikan berbasis sekolah ( school based quality management ) atau dalam nuangsa yang lebih bersifat pembangunan ( depelopmental ) disebut dengan school based quality improvement ( Ibid. )
Dari uraian di atas kelihatan bermacam-macam tujuan dari konsep manaje men peningkatan mutu berbasis sekolah, yaitu :
1. Mensosialisasikan konsep dasar peningkatan mutu berbasis sekolah, khususnya kepada masarakat.
2. Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat di implementasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi.
3. Menambah wawasan pengetahuan masyarakat, khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap peningkatan mutu pendidikan
4. Memotivasi masyarakat sekolah untuk berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing-masing.
5. Menggalang kesadaran masyarakat untuk ikut serta secara aktif dan dinamis da lam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.
6. Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dari individu dan masyarakat untuk mensukseskan pembangunan pendidikan.
7. Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tang gungjawab bersama pada tataran sekolah.
8. Memperdalam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumus kan dengan jelas, agar target mutu harus dicapai setiap tahun berikutnya, sehinggas tercapai misi sekolah ke depan ( Ibid, h. 205-206 ).

Peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah tidak akan terlaksana jika tidak ada kerjasama dengan berbagai kelompok masyarakat, terutama yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Di antara konsep menajemen tersebut adalah : Lingkungan sekolah yang aman; memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai; memiliki kepemimpinan yang kuat; adanya keinginan yang tinggi dari personil sekolah; pengembangan staf sekolah sesuai dengan tuntutan IPTEK; adanya evalua si; adanya komunikasi dan dukungan dari orang tua dan masyarakat ( Ibid, h. 208 ).
Menurut Ibrahim Bafadal, guru merupakan unsur manusiawi yang memiliki hubungan sangat dekat dengan anak didik dalam pelaksanaan pendidikan sehari-hari. Menurut mereka, apapun yang telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, yang pasti peningkatan mutu pendidikan tidak mungkin ada tanpa peningkatan kualitas performa gurunya. Oleh karena itu, peningkatan mutu performa guru mutlak dilakukan secara terus-menerus dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Kemudian, manajemen perlengkapan sekolah, berbagai peraturan manajemen sarana dan prasarana pendidikan sangat diperlukan, maka semua fasilitas sekolah selalu dalam kondisi siap pakai (Ibrahim Bafadal, 2003 : v ).
Dengan demikian, pembinaan kemampuan guru memang diperlukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, dan perlu pula pelayanan yang profesional di bidang perlengkapan kerja bagi guru dan kepada sekolah dalam menerapkan kemampuan profesionalnya secara efektif dan efisien. Alhasil, mutu pendidikan dimasa depan akan tercapai, amin.


DAFTAR BACAAN


Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1962
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung : Rosdakarya, 2005
A. Gaffar, MS., Dasar Dasar Administrasi dan Supervisi Pengajaran, Padang : Angkasa Raya, 1992
Asnawir, Administrasi Pendidikan, Padang : IAIN Press, 2003
…….., Dasar Dasar Administrasi Pendidikan, Padang : IAIN Press, 2005
Burhan Nurgiyanto, Dasar Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, Yogyakarta : BPFE, 1987
Burhanauddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 1994
Departemen Agama RI. Al-Qur`an dan Terjemahnya, Surabaya : Toha Putra, 1984
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1990
Hamdan Ihsan, et. Al., Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2001
HAR Tilaar, Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung : Rosdakarya, 2003
Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, Jakarta : Rajawali, 1984
Jalaluddin, et. Al., Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan, Jakarta : PT. Raja Grafindi, 1999
…….., Filsafat Pendidikan : Manusia, Filsafat dan Pendidikan, Jakarta, Gaya Media Pratama, 1997
M. Noersyam, Pengantar Filsafat Pendidikan, Malang : IKIP, 1978
Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta : Bina Aksara, 1988
Oemar Hamalik, Kurikulum Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara, 1995
Soedijarto, Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu, Jakarta : Balai Pustaka, 1989
Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta : Rineka Cipta, 1990

















Selengkapnya...