Sabtu, 25 Juli 2009

Palestina dan Puisi

Oleh : Drs. Yulizal Yunus, M.Si (Dosen Jur. BSA)

Palestina salah satu bangsa Arab yang tak putus dirundung malang. Meskipun telah meraih kemerdekaan (semu?) sejak tahun 1988, namun Israel tetap saja melanggar kedaulatan negara bahkan setiap saat menghadapi ancaman diserang. Proses perjanjian damainya dengan Israel sudah memakan waktu yang panjang, hasilnya nol koma nol, dan memang Israel tak punya kamus damai. Perdamaian di kawasan itu bagian dari mimpi panjang Arab, karena memang kenyataannya Arab juga tak berdaya membelanya, di samping didera konflik Arab sendiri juga, kekuatan Israel tidak sendiri bahkan menjadi anak mas Negara super power AS dan sekutunya.


Ada isu dunia bukan sekedar seloroh kata guru saja “h”, “memelihara perang Israel- Palestina berarti menunda kiamat”. Disebut ada sebuah filantropi internasional di negara maju yang menghimpun dana dan membiayai perang Palestina – Israel. Lembaga itu berkepentingan dan mengkalaim dunia berkepentingan dengan perang Palestina – Israel. Karenanya dibiayai. Alasannya kalau damai Palestina – Israel kiamat akan datang. Mungkin gurauan ini dimensi lain dari cara aneh memahami satu ayat dalam Al-Qur’an (2:120) “yahudi dan nasrani tidak akan pernah suka sebelum mengikuti agama mereka” - tentu sampai kiamat. Dalam perjalanan sejarah pun Ali Khalili (2009) mencatat وما يهدف إليه أصلا من شطب كامل لقضية فلسطين، بجميع مستوياتها وأبعادها الجغرافية والسياسية والتاريخية. Israel ingin menghapus masalah Palestina dari semua tingkatan baik secara geografis, politis maupun histories. Talal Awkal (2009) menyebut sikap Israel sebagai الكراهية للعنصر الفلسطيني (benci terhadap unsur-unsur Palestina).
Perang Palestina – Israel dipersepsikan banyak kalangan dunia adalah perang Islam dan Yahudi. Presiden Iran, juga menyebut “tidak perang Israel – Palestina”. Pernah 26 oktober 2005 Presiden Iran Ahmadinejad berceramah di depan 3000 mahasiswa – pelajar topik: “jahan be dun-esahyunism” (dunia tanpa zionisme), menegaskan “Israel must wiped off the map” (Israel harus dihapuskan dari peta dunia). Dina (2008). Dunia gempar dengan pernyataan Ahmadinejad, media massa berkutat, ungkapan itu menjadi “rumor of century” (gossip abad ini). Isu ini ditambah dengan isu Iran membangun pangkalan nuklir, dihebohkan tanpa argument kuat akan mengancam dunia dan dunia barat memusuhi Iran.
Rumit hubungan Irael dan Palestina. Dunia berharap Israel – Palestina ini akan lebih membaik di era Obama sekarang (Abdel-Raouf Arnaout, 2009) tersemat dalam pidato awalnya akan memperhatikan dunia Islam, karena pada rezim Bush hubungan Palestina – Israel “tidak dapat dibaca” kecuali “na’uzu bi Allah min dzalik”. Sejak dulu rumit, sejak 60-han tahun lalu prakarsa barat turut mendirikan Negara Israel di jantung Timur Tengah, sampai sekarang diperluas terus oleh politik zionis, hampir-hampir Palestina itu terkurung dan terpisah-pisah di samping/ dalam wilayah kekuasaan Israel.
Presiden Yaser Araf kepada Presiden Mesir Hosni Mubarak pernah menyebut proses perjanjian damai sebagai "telah mati". Karena kata Jubir Presiden Palestina Marwan Kaffani, untuk melanjutkan perdamaian itu banyak sekali perbedaan tajam antara Israel dan Palestina. Rakyat Palestina pun benar-benar tidak percaya dengan janji Israel, karena memang sepanjang sejarah tidak pernah senang dengan rakyat Palestina. Sampai terakhir penyerangan Israel ke Gaza, Presiden Palestina Abbas menyebut, Israel tidak punya kemauan berdamai, bahkan pernyataan PM Israel Olmert akan melanjutkan agresi ke Gaza, meski serang yang dimulai 27 Desember 2008 sudah banyak memakan korban rakyat sivil dan anak-anak tak berdosa, alasan memburu Hamas.
Israel terus melakukan teror tetapi teror demi teror Israel dihadapi Palestina. Orang Palestina jadi nekad, kadang Hamas menyerang balik. Israel dan seperti di Palestina, rakyat Israel juga ketakuatan. Israel menyerang Gaza sebagai implikasi politik cari muka Israel dan mengabaikan gencatan senjata meski sudah diserukan badan dunia PBB dan AS serta negara lain. Orang Palestina mengerti sikap Israel itu dan tidak akan pernah mendengar dunia. Palestina tetap melawan, ان العملية البرية لن تنجح في وضع حد لاطلاق الصواريخ (Moshe Aren, 2009). Jiwa membela tanah air Palestina tak akan berakhir dengan operasi Israel 27 Desember 2008 melontarkan roket api dan bom fosfor putih didukung 60 jet F-16 ke 50 titik sasaran infrastruktur dan markas pertahanan Hamas di tengah pemukiman sivil di Gaza. Meskipun perang Israel kali ini sekali serangan pertama membuat 155 mayat bergelimpangan. Bahkan pada serangan Israel 15 Januari 2009 salah satu pemimpin senior gerakan Hamas dan Menteri Dalam Negeri Hamas di Gaza, Said Siyam, tewas karena serangan udara. dan terdahsyat dihadapi Gaza (Senopati, 2009). Kata Taufiq (2009), غزة تعرضت لأفظع حروب إسرائيل. Kekejian Israel menghajar Gaza dilukiskan dalam syair “Gaza ya Allah” gubahan Penyair Manal Khamis (2009) sbb.:

ينتشرُ جرادُكَ الدّمويُّ،
ما بينَ أرضِكَ والسّماءِ،
بعضُهم باسمِكَ، آخرونَ باسم غيرِكَ،
يدخلونَ بيوتَنا ليلاً ،
يسرقون الأرواحَ ثمَّ يغادرون

Imajinasi Manal menggambarkan senjata mutakhir bagaikan belalang darah beterbangan memenuhi bumi dan langit, ada yang menerobos masuk ruma malam hari dan mencabut nyawa rakyat tak berdosa. Namun demikian dengan semangat nasionalis, perjuangan menantang Israel tidak pernah sepi. Penyair Abdurrahim Mahmud dalam syairnya “syahid” meniratkan tekad perjuangan tanpa henti, hidup atau mati, seperti dalam barisnya:سأحمل روحي إلى راحتي . Kalau tidak bisa melawan dengan senjata dengan informasi ke dunia luar. Manal Khamis (2009) menulis untuk semua orang di dunia yang tahu tentang nasib Palestina. Penggalan kalimatnya sbb.:
وأرجو الآن ان تعذروني
لأني سأكمل خطابي بلهجتنا العامية الفلسطينية
لأن الفصحى تعيق تقدمي في سرد ما أرغب
اخباركم به وفي نقل ما جرى

Manal seperti si bisu bermimpi. Ia minta maaf pada orang-orang dunia. Ia ingin menyampaikan informasi yang utuh, tapi punya bahasa daerah tak banyak dimengerti dunia. Bahasa fasih ia merasa tak komunikatif menyampaikan informasi penderitaan rakayatnya bahkan menyulitkan bagi orang menterjemahkannya. Namun komunikatif atau tidak suara penyair Manal ini, dunia merespon jeritan Palestina. Ada dengan demo anti Israel, mosi tak percaya kepada PBB dan AS yang dingin terhadap penderitaan kemanusiaan di Palestina, bahkan ada dengan puisi yang menggugat PBB dan AS dan kesewenangan Israel yang dipimpin PM Ehud Olmert yang melegitimasi penyerangan Gaza bahkan akan melanjutkannya. Lihatlah beberapa puisi untuk Gaza dari Indonesia sbb.:

itu israel tahu
amerika lagi di bawah tapak kakinya
pbbpun bisa dibiusnya

gaza yang bermandi darah
moga mendapat rahmah dan berkah
di darah yang sudah banyak tumpah
(apresiasipuisi.multiply.com/, 2009)



Justru, mereka sekarang seperti mencari pembenaran
atas apa yang terjadi di Gaza
Mereka yang dengan hak vetonya
membuat PBB tak bergeming
membuat PBB tak berkutik
bak macan ompong

Mereka pun seolah ingin mengatakan
apa yang terjadi di Gaza
bukan pelanggaran HAM (?)
(www.finance.groups.yahoo.com/group)

Lihat pula untaian puisi untuk Gaza dari Inggiris sbb.:
Gaza oh Gaza….

Why you silence…
Why you Silence…???
Hi Obama, Hi George W Bush, English Prime Minister..
Why you Silence…???

When the people at Gaza Palestine killed by Terrorist
When terrorist make smash, shatter, killing, trouble making, and terror for Palestine People..
When terrorist kill with brutal to Palestine Children…
When more than 390 people killed by Israel Rocket (Brutal)

Why you only silence ..
Why You don’t say that it’s very Brutal, and Break the Human Right.
Why You don’t say that it’s Crime from Aggressor
Why You don’t say that it’s Crime from Colonizer,

Where the Justice …
Where… Where… your Humanity..

This terrorist very Brutal..
Who is the Terrorist …
Sure , all of you know who is the terrorist … real terrorist…
Now, sure you know the real terrorist…
(http://wachidhasyim.wordpress.com/, 2009)
Seorang editor Majalah Puisi berbasis di London - Poet Mevlut Ceylan, menulis puisi untuk ladang pembantaian Gaza yang berjudul "Thou Shalt Not Kill", terinspirasi oleh aksi penyerangan 22 hari Israel ke Gaza (2008-2009), yang memperingatkan, orang Palestina tidak lalat untuk dibunuh sbb:
THOU SHALT NOT KILL
for gaza the killing field
am i a fly
who rummages through
an ancient scroll
or fleeing for his life
but caught
by the net of lies
am i a fly who
drills through
ragrance of high walls
or meeting death briefly
by the road
of broken promises
the fly sits within
carving head stones
of an arid mind
or the mind at dawn
welcomes the new Dark Age
(www.arrawdah.multiply.com/, 2009)

Israel memang benar-benar kejam dan tidak mematuhi hukum perang internasional, dalam agresi ke Gaza itu selain menyerang rumah sakit, pemukiman penduduk dan universitas. Israel juga menggunakan senjata terlarang yaitu bom phosphor putih yang juga disebut dengan "Mark-77”. Kesepakatan internasional Jenewa melarang penggunaan senjata phosphor putih dalam peperangan, khususnya ditujukan terhadap warga sipil. Namum belum ada sanksi untuk Israel atau Amerika Serikat atas kejahatan yang mereka lakukan itu. Sebab terlarang, akibatnya buruk. Api yang ditimbulkan oleh bom ini sangat sulit untuk dipadamkan. Karena saat api disiram dengan air maka akan menimbulkan asap beracun, sehingga sulit untuk melakukan pemadaman api. Jika fosfor putih mengenai manusia akan menyebabkan terbakar sampai ketulang-tulang, dan mematikan, atau kalaupun tidak mati akan menimbulkan luka bakar yang memakan waktu lama untuk sembuh. Dasar Israel yang memang tidak pernah mempunyai niat baik, mereka malah berdalih bahwa semua senjata yang digunakan dalm perang ini diklaimnya sudah sesuai dengan hukum internasional. (www. infopalestina.com/).
Prilaku teror dan kekejaman Israel ini masa era Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dulu juga telah benar-benar menunjukkan watak yahudinya, sulit dipercaya janjinya. Ia selalu saja membuat persoalan yang tidak populis di dunia Internasional dan selalu merusak proses dan mengancam kelanjutan perjanjian damai, dengan sikap kerasnya tetap melaksanakan perluasan pemukiman yahudi dan tidak menarik mundur pasukan yang masih menguasai sebagian daerah Palestina. Ia seperti tidak menghiraukan "ketidaksabaran Palestina" dengan masalah pembangunan pemukiman dan keberadan pasukan Israel di Palestina seperti yang diungkapkan juru runding top Palestina ketika itu Saeb Erakat, bahkan seperti bermain sandiwara dengan tidak menghiraukan desakan Menlu AS ketika itu Madeleine Albright agar Israel segera menghentikan pembangunan pemukiman dan menarik pasukannya dari wilayah Palestina. Sama halnya dalam serangan Israel ke Gaza sejak 27 Desember 2009, Israel seperti hendak berdamai. Karenanya Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan sikap tegas terhadap Israel menyusul agresi Israel ke Gaza. Dari kantornya di Ramallah, Abbas menyampaikan pada George Mitchell utusan Presiden AS Obama bahwa Israel tidak berniat untuk berdamai.
Rakyat Palestina tidak saja repot dengan janji mungkir Israel, tetapi juga tidak kurang kerepotan menghadapi ancaman dalam negeri dengan sikap keras Hamas. Hamas hamper-hampir tidak mau berdamai dengan Israel. Hamas sejak dulu menentang perjanjian damai Palestina dengan Israel masa Yaser Arafat, ditengahi juru runding Hanan Asrawi –sang Dekan Fakultas Sastra salah satu perguruan tinggi di Libanon itu– intensif mengupayakan perundingan damai Palestina dengan Israel. Kaum Hamas dengan bom bunuh dirinya sampai sa'at ini tidak sedikit menewaskan orang Isreal dan berakibat konflik berkepanjangan di dalam negeri Palestina serta menimbulkan kelaparan 2 juta rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Bagaimanapun terjadinya konflik di era antara merdeka dan tidak sekarang, tentu keadaan rakyat Palestina lebih baik ketimbang terus terjajah. Toh soal konflik baik dalam negeri maupun menghadapi musuhnya Israel, tidak akan pernah berhenti. Karena Yahudi memang tidak akan pernah berhenti mengintimidasi Palestina selama aliansi Islam tetap kuat. Pengalaman lalu terlalu pahit, tidak sedikit yang menjadi korban kebrutalan Israel. Yang tersisa menjadi bangsa gelandangan terusir dari tanah air sendiri, hidup di pengasingan terkonsentrasi di bawah tenda kamp pengungsi, meskipun terus gigih berjuang menerobos sejarah. Di antara yang terbanyak di Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Yordan, Yordania, Libanon, Syiria dll.
Dulu ketika berjuang dan memperjuangkan kemerdekaan bahkan setelah meraih kemerdekaan, karena rakyat Palestina saking terancamnya oleh Israel, mereka sering nekad. Meninju menendang, tanpa mengerang, rakyat Palestina melawan bayonet Israel. Bahkan kalau pun teramat sakit, mengerang dan terus menerjang menepis gas air mata Israel yang melumpuhkan mereka hendak maju serentak. Dapat batu, batu terbang. Terseret kayu, kayu melayang, apa saja dapat menjadi senjata perang melawan Israel. Bahkan ketapel pun tak kurang melayangkan batunya menghantam jidat tentara Israel yang memanggul sejata otomat. Didukung pekik Allahu Akbar, menyibak desingan peluru senjata strategis yang beterbangan menyemburkan api, siap menerkam siapa saja yang menjadi sasaran. Menyedihkan, terkadang terlihat lawan tak berimbang, Israel menembak penduduk Palestina seperti menembak nyamuk dengan basoka. Inilah bentuk kekejaman teror zionis dan subversif imperialisme Israel kepada rakyat Palestina. Penderitaan panjang rakyat Palestina itu mewarnai ekspresi dan mendominasi thema sastra –baik prosa seperti cerpen dan novel maupun puisi– di negeri tempat berdiri Masjid Al-Aqsha ini.
Mengungkapkan penderitaan dan ketidakberdayaan rakyat Palestina menghadapi Israel berarti membicarakan Nasionalisme Arab yang terkoyak. Yang dimaksud Nasionalisme adalah, suatu gerakan ideologi yang bertujuan untuk mencapai dan memelihara suatu pemerintahan sendiri, di mana masyarakat penggeraknya ingin bangsanya menjadi aktual dan potensial. Nasionalis Arab adalah ikatan sosial antara bangsa Arab dan memperlihatkan hal yang spasifik kesatuan bangsa, kesatuan bahasa, kesatuan sejarah dan cita-cita bersama (DR. Mahir Hasan Fahmi, tt:5). Nasionalis Arab muncul ke permukaan berwujud gerakan maju menentang imperialis asing dengan tujuan mewujudkan persatuan dan kesatuan Arab dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan. Hal yang mendasar lumpuhnya nasionalism Arab adalah karena kegagalannya menghadapi kekuatan zionisme Israel. Karena itu untuk menghadapi kekuatan zionisme yang menguasai Arab adalah dengan membangkitkan perasaan nasionalis di samping perasaan agama (Islam) dengan memperkuat aliansi Islam (DR. Nawal El-Saadawi, 5-17). Karena agama di samping warisan budaya bangsa Arab, merupakan sumber falsafah hidup bangsa sekaligus sumber pemikiran dan politik (Sadam Husen,1980:5). Tulisan ini ingin melihat sisi-sisi Nasionalis Arab dalam sastra Palestina yang berkembang dahsyat yang tak kurang dahsyatnya dengan perangan dan perlawanan rakyat Palestina menghadapi kesewenangan Israel mencoplok wilayahnya dan mengusir mereka keluar tanah air sendiri. Puisi Palestina lahir bersamaan jeritan rakyat Palestina dan lebih lantang dibanding pidato politik. Sayangnya tidak tersiar luas. Kata Penyair Sulaiman Daghsy (2009) puisi Palestina mulai dari jeritan sampai kepada denyut politik “80 بالمائة من الشعر الفلسطيني لم يصل الى العالم” (80 % belum tersiar ke dunia).

***
Semangat nasionalis Arab Palestina mendidih bagaikan gunung api mau menumpahkan lahar. Kenapa tidak, sudah sejak lama Palestina dengan cengraman zionisme Israel amat menyedihkan. Negeri Qudus ( suci) ini bagaikan sekeping bumi yang selalu bersimbah darah. Terlalu banyak penderitaan orang Palestina, serpihan jenazah berserakan di tengah-tengah kelaparan, potongan jenazah terkoyak santapan binatang buas padang pasir menjadi harum bagaikan makanan, merupakan bagian penderitaan dalam meperjuangkan tanah airnya. Penderitaan itu tidak saja di tanah airnya di bawah komando PLO, Hamas dan Intifada, tetapi juga di pengasingan seperti akibat serangan Israel ke Tunisia tahun 1985. Jabra Ibrahim Jabra melukiskan dalam puisinya (Zaim Uchrowi dari Taufik Ismail, terj. Tempo, 3 Des. 1988:53-54) seperti dalam aris-bari berikut:

Mereka melunyah-lunyah padang kembang...
Mereka ledakan rumah demi rumah
Di antara bata, berserak potongan jenazah...
Terlantar jadi makanan tengah hari
Burung elang dan gagak.

Syair tadi memperlihatkan kesengsaraan Palestina yang membuat mereka berontak secara heroik. Nasib ini terlihat pula dalam gambaran lama Abdurrahman Mahmud penyair Palestina yang gugur dalam perang melawan Israel 1948 dalam syair "syahid":

tubuh yang terlempar di bumi yang sama
burung pemakan daging padang pasir mengoyaknya
ada sisa untuk burung yang masih terbang
ada sisa untuk singa yang garang.

Penyair banyak mengambil thema kesengsaraan rakyat Palestina akibat kekejaman Israel. Seorang esais (penulis esai) Palestina …… banyak melukiskannya di dalam buku monumentalnya "Orientalism" dan "Culture and Imperialism". Nasir Al-Asad (Kairo) menulis buku "Al-Itijahat Adabiyah Haditsah fi Filisthin wa l-Urdun" (Thema-thema Sastra Modern Palestina dan Yordania). Anis Al-Muqaddis menulis buku "Al-Itijahat Al-Adabiyah fi l-Alam Al-Arab Al-Hadis” (Thema-thema Sastra di Dunia Arab Modern). Muhammad Husain menulis "Al-Ittijahat Al-Wathaniyah fi Adab Al-Mu'ashir" (Thema-thema Tanah Air dalam Sastra Kontemporer). Abdullah Al-Teel menulis "Karisah Filisthin" (Penderitaan Rakyat Palestina). DR. Mahir Hasan Fahmi menulis buku " Al-Qaumiyat Al-Arabiyah wa Syi'r Al-Mu'ashir" (Nasionalism Arab dan Puisi Kontemporer). Dalam lukisan penulis dan penyair, rakyak Palestina seolah-olah bumi tempat berpijak mereka telah runtuh dan tempat bergantung telah putus. Di antaranya seperti yang digambarkan Penyair Palestina Mahmud Darwis dalam puisinya berikut:

Bumi mengepung kami, mendesak kami ke lorong terakhir
dan anggota badan kami pun tercabik-cabik
untuk bisa menerobosnya.
Bumi menghimpit kami. Kalau saja aku ini biji
gandum maka aku akan mati
untuk tumbuh hidup kembali. Ingin aku bumi ini bunda kami
Dia akan menyayangi kami. Kalau saja kami ini
gambar terpahat pada batu,
maka mimpi kami akan membawanya
sebagai cermin…..

Situasi buruk itu terus bergayut pada kehidupan rakyat Palestina. Namun kehidupan di sana terus berdenyut, mengalir, menerjang dan bersatu membangun kesatuan dan nasionalis yang terkoyak, meradang dan menyerang untuk memperjuangkan tanah air mereka. Ini sebenarnya sudah berlangsung sejak kepulangan 25.000 Yahudi ke Palestina sa’at ditindas para penguasa Eropah Timur abad ke-18, menyusul zionisme terbentuk (dipelopori Theodor Herzi di Balse tahun 1897), yakni berbentuk gerakan menjadikan Palestina menjadi negara merdeka bangsa Yahudi. Pada gilirannya gerakan Zionisme secara tidak langsung dapat memecah bangsa Palestina menjadi Palestina Arab dan Paletina Yahudi (Israel). Negara, persatuan dan Nasionalism pun pecah sejalan dengan tabrakan kepentingan politik dan kepentingan masing-masing negara Arab. Penderitaan kian bertambah memprihatinkan ketika PBB menyetujui pembagian wilayah Palestina menjadi Palestina Arab dan Palestina Yahudi yakni negara Israel, tahun 1947, sehingga memuluskan jalan bagi Israel memproklamirkan kemerdekaannya 14 Mei 1948 atas dukungan Amerika, Inggiris, Perancis dan Uni Sovyet. Sejak itu sampai sekarang Palestina tidak berhenti memperjuangkan dan mengisi kemerdekaannya yang selalu di bawah tekanan dan ancaman Israel yang didukung negara-negara sekutunya di dunia Internasional, bahkan yang menyedihkan Arab sendiri sulit menyatukan visi dan persepsi di atas kesatuan dan persatuan serta nasionalis Arab yang terkoyak, untuk berjuang membantu saudara mereka rakyat Palestina melawan Israel. Rakyat Palestina tak pernah berhenti mempertahan sejengkal pun tanah airnya yang diduduki Israel. Sejengkal tanah artinya bagi rakyat Palestina adalah darah. Secara pisik Palestina lemah di mata Israel, tetapi tak kurang Israel repot menghadapi teror batu dan bom bunuh diri mereka, baik di tanah air maupun di luar negeri. Pengamat semangat juang Palestina …..menyebutkan, “anak Palestina bermain-main dengan batu, menjadikan batu bom pembunuh Israel dan menulis sejarah dengan batu”. Mereka tidak melawan kekuatan senjata strategis Israel dengan senjata otomatis pula, tetapi cukup dengan batu dan ketapel, meskipun mereka banyak yang ditangkap, dibunuh, ditembak secar membabi buta, ditangkap dan dipenjara, dideportasi dan diasingkan, diusir dan disingkirkan, sehingga banyak rakyat Palestina hidup di keping bumi negeri yang tak bertuan, menghadapi segala tantangan yang keras di kamp-kamp pengungsi di padang pasir yang ganas dan perbukitan berbatu-batu yang panas tampa kayu. Lihatlah seuntai Puisi Jabra Ibrahim Jabra menggambar penderitaan itu sebagai berikut:

Ingatlah kini kami terlunta
Dalam pagutan padang pasir panas membara
Merangkak di bukit-bukit karang kersang;

Rakyat Palestina terlunta di padang pasir dan di bukit kersang ialah mereka yang terusir dari tanah airnya oleh Zionisme dan imperialism Israel yang mencoplok negerinya. Mereka rindu Palestina. Kerinduan para pengungsi Palestina itu digambarkan oleh penyair besar Arab Saudi Muhammad Sulaiman Al-Syubul (Shalih Al-Malikiy, dkk. 1986:117) dalam syair dengan topik "min anin al-laji`in" (kerinduan para pengungsi):

apa kukatakan, dalam darahku
nyanyi mengalir tanpa gema
perasaan yang terluka
di padang pasir kau kehilangan tujuan
di dalamnya langkah tanpa pedoman
malam ini jelas tak berujung
dan aku, ku sendiri dalam hari-hari panjang
ke menanti pagi segera datang

Meskipun rakyat Pelestina yang mengungsi sudah kehilang semua, keluarga, tanah air dan harta, tetapi semangatnya tidak pernah pudar untuk kembali ke tanah airnya, melawan zionisme dan
imperialism Israel, membebaskan negeri yang punya masjid Al-Aqsha dan pernah menjadi kiblat umat Islam itu. Keadaan ini digambarkan penyair Palestina Harun Hasyim Rasyid dalam syairnya dengan topik "Sharkhah" (Jeritan) sbb.:

ku tak 'kan mau hidup terlunta
ku tak mau bernaung kekerasan penguasa
ku punya masa depan, besok
ku 'kan merayap balas dendam berontak
ku tak 'kan pernah takut topan
ia justru punya sasaran.

Nada yang sama terlihat dari ungkapan penyair 'Ulaiwah Mushtafa ialah ulama Al-Azhar, dalam syairnya dengan topik "Ardh Al-Masjid Al-Aqsha" (Bumi Masjid Al-Aqsha) sbb.:

ku tak 'kan mau hidup sebagai gelandangan
kemah-kemah ku tunduk pada kekuasaan zalim
dan buruk
kau mereka gusur tak diperhitungkan, membungkuk
minta dikasihani musuh
harap kemenangan dalam naungan akidah
perkecil kekerasan dunia
kematian cita-cita mulia
dalam cita-cita itu ada rumah syuhada
sebenarnya hidup ini milik orang yang tak mau bertekuk lutut
kehinaan itu ada pada setiap kehinaan si pengecut.

Penderitaan yang berkepanjangan rakyat Paletina itu, bukan hanya sekedar membuatnya terbiasa hidup dalam teror dan intimidasi, tetapi semakin membangkitkan semangat perjuangan intifada, meskipun dianggap Israel sebagai sikap nekad seperti pandangan pimpinan Zionisme Internasional Chaim Weizmann tahun 1948, kalau Israel punya sedikit kesempatan saja akan segera mematahkan ketangkasan perang Arab seperti yang disebut-sebut dunia itu. Kekerasan yang dihadapi rakyat Palestina ini merwarnai thema-thema sastra yang tidak saja puisi tetapi juga prosa dalam bentuk cerpen dan novel. Di antaranya terlihat dari kumpulan cerpen "Li Man Tahtamil Al-Rashshah" karya novelis wanita Palestina Kontemporer Jehad Al-Rajbi (diterj. Anis Matta dengan topik Intifada, 1993). Novel dan cerpennya banyak dipublikasi majalah wanita "Filisthin Muslimah" (Majalah Wanita Islam Palestina). Kumpulan cerpen Intifada itu memuat 14 cerpen --yakni Pengasingan, Biarkan Aku Jadi Orang Palestina, Untuk Siapa Peluru Ini?, Orang-orang Deportan, Kami Bukan Orang Asing, Darah Hitam, Waham dan Amarah, Pencuri, Tanah Air Ini Lebih Besar, Dari Air Mata Mereka, Ahmad Izzuddin Tidak Lulus Sensor, dan Ketika Kota Itu Tertidur Lelap-- yang menggambarkan kerasnya perlawanan Intifada dan heroik pemuda, wanita dan anak-anak Palestina untuk meraih masa depan yang lebih baik. Misalnya ada potret ketegaran dalam penjara dan memilih mati ketimbang buka mulut kepada Israel, seperti sikap tokoh intifada Muhammad dalam cerita "Pengasingan". Muhammad sangat geram dengan strategi Israel yang dengan cara apapun harus merampas Palestina, sekalipun membunuh. Strategi Israel itu terlihat dalam syair Absholom Cour oleh penyair Israel (1982):

Dalam pembicaraan bersama Aidit
Kami menyimpulkan
Kami harus berperang
Kami harus membunuh semua orang
yang mencari tanah air bagi mereka
Kami harus membunuh
sampai kami punya tanah air
terbentang dari sungai ke sungai.

Tidak saja ada kemarahan pemuda dalam/ luar negeri (cerpen Untuk Siapa Peluru Itu), juga reaksi keras anak-anak Palestina (cerpen Darah Hitam), ada kisah sedih deportasi (cerpen Orang-orang Deportan), ada thema perdamaian (cerpen Maling, cerpen Ketika Kota Tertidur Lelap, cerpen Ahmad 'Izzuddin Tidak Lulus Sensor), ada pembelaan media massa dan simpati opini dunia (cerpen Biarkan Aku Jadi Orang Palestina).
Kekerasan dan ancaman Israel terhadap Palestina tidak saja menimbulkan simpati masyarakat dunia terutama umat Islam di samping Arab, juga mendapat simpati masyarakat Israel sendiri. Ketika Jeffee Centre for Strategic Studies, Maret 1997 melakukan penjajakan pendapat (polling) pertama kali dalam sejarah terhadap mayoritas warga Israel mengenai berdirinya sebuah negara merdeka Palestina, 51 % warga Israel mendukung negara Palestina Merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Bahkan 77 % warga Israel meyakini Palestina sebagai negara merdeka akan kuat 10 tahun mendatang sebagai hasil final Perjanjian Oslo 1993 yang memberikan hak otonomi bagi Palestina. Kenyataan ini sekaligus menjatuhkan pamor PM Israel Benjamin Netanyahu ketika itu dari Partai Likut Israel yang kebijakan kontroversialnya banyak menghancurkan proses perdamaian, di antaranya membangun pemukiman Yahudi di Jerusalem Timur yang disiapkan Palestina sebagai Ibu Kota Palestina masa depan.
Pernah pula simpati diberikan seorang gadis Amerika keturunan Yahudi-Jerman kelahiran New York tahun 1934. Gadis itu dikenal dengan nama Margareth Marcus kemudian setelah memeluk Islam berubah nama dengan Maryam Jamilah. Ia memberikan simpati kepada rakyat Palestina terutama yang berjuang di Jalur Gaza. Rasa simpatinya itu dituangkan di dalam novelnya "Di Tepian Jalur Gaza" ditulisanya selama 13 tahun, dimulai sejak ia berusia 14 tahun (1948, ketika Israel memproklamirkan kemerdekaannya mencoplok Palestina). Cerita gadis Yahudi ini, secara populis memprotes strategi Zionisme termasuk keluarga dan sahabatnya sendiri orang Yahudi, bahwa dengan alasan "keterbelakangan" para petani Palestina mengabsahkan tindakan mereka mengusir rakyat Palestina dari tanah leluhurnya sekaligus merampas hak-hak mereka. Gadis ini menampilkan tokoh utama novelnya Ahmad Khalil yang meronta menentang Israel karena haknya dirampas, keluarganya disiksa seperti adiknya Khalifah dan hidup berteduh di kemah pengungsi. Ahmad Khalil tetap tegar bertani di desanya dan tidak menjadi urban, bahkan tetap prihatin terhadap kondisi orang Palestina yang acuh terhadap agamanya dan orang Arab mulai mencampakkan nilai rohani. Gadis itu sangat intens menghayati nasib Ahmad Khalil yang didera nasib dan anaknya sendiri Ismail seperti sebagian orang Palestina dan Arab mulai mencampakkan nilai ruhani dan mengagungkan kebudayaan Barat. Karena begitu intens dengan sengsara rakyat Palestina serta benci dengan prahara budaya Barat gadis Yahudi itu bersimpati kepada perjuangan rakyat Palestina dan Arab serta nilai ruhani dan agama yang dicampakan sebagian rakyat Palestina dan Arab, maka Margarett Marcus yang ketika itu masih kuliah di Universitas New York, dengan bersemangat ia menyatakan masuk Islam, 24 Mei 1961di Brooklyn sekaligus berganti nama dengan Maryam Jamilah.
Semua umat di dunia mengetahui penderitaan rakyat Palestina. Ada kecaman dunia karena Israel banyak membunuh dan memenjarakan rakyat Palestina tanpa proses peradilan. Kelompok yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia, Amensty Internasional di London, April 1997 pernah melancarkan protes terhadap Israel yang memenjarakan 270 rakyat Palestina tanpa diadili. Meskipun demikian secara umum, penderitaan mereka tetap menusuk perasaan kemanusiaan. Peneritaan panjang mereka, sakit tidak mendapat obat secukupnya. Lapar tak dapat makan meskipun sekedar yang mereka butuhkan. Setes air pun sama dengan darah, sulitnya luar biasa. Cobaan demi cobaan menimpa mereka, seperti disebut Al-Qur`an, cobaan untuk mereka al. kekurangan makanan (lapar), kekurang buah, kekurangan harta, jiwa orang-orang yang dikasihi (ayah, ibu, anak, isteri dst) setiap sa'at melayang, bahkan rasa takut selalu menggerogoti. Setiap sa'at pesawat tempur Israrel menderu dan membombardir, membalikkan dan membakar bumi dan membunuh nuthfah yang tidak terhitung kuantitasnya.
Keadaan terasing yang menyengsarakqn, berpanas dibakar panas dan membakar bumi dan membunuh nuthfah padang sahara, berdingin-dingin diselimuti salju, terkadang menimbulkan perasaan mendua, mempersoalkan cinta tanah air dan cinta semua orang yang dicintai di samping kecintaan terhadap yang maha kuasa. Kadang kala berfikir pragmatis saja artinya buat apa betul berfikir idealis, yang penting hidup, demikian mencintai tanah air, mau berbuat apa dengan rasa cita tanah air itu, sementara hidup terbelenggu dan terlunta di pengasingan. Tapi karena kuatnya rasa cinta tanah air sebagai bagian sisa nasionalisme dan ingin merdeka dan mereka tahu bahwa membela tanah air itu bagian dari iman, maka kerinduan tanah air itu semakin membara. Siang jadi angan malam jadi mimpi. Tanah air dan kemakmuran sebahagian wilayahnya serta semerbak wangi dan indahnya bunga di kampung terbayang di ruang mata. Kerinduan yang membara itu secara substansial, bagaimanapun mereka dapat kembali kepangkuan ibu pertiwi, tumpah darah mereka. Obsesi mereka pulang ke negeri mereka, di samping harus lolos dari ancaman dan teror serta belenggu zionisme Israel di daerah pendudukan dan daerah pengasingan. Penyair Jabra Ibrahim Jabra (dari A.Khouri dan Hamid Alqar, 1975, terj. Yose Herman) pernah menuturkan perasaan rindunya dan perasan rindu pengungsi yang membara hendak pulang ke tanah airnya, di tengah-tengah ancaman Israel sepanjang waktu. Simaklah Syiarnya berikut ini:

Di Padang pasir

Musim demi musim pelan-pelan pun silam jua
Berpacu menyapu padang pasir sepi kerontang
Mau apa kita dengan cinta
Sedang mata berlumpur salju dan debu lekang ?

Palestina tumpah darah kami yang hijau;
lihatlah betapa bunga-bungaan mekar bagai sulaman gaun perawan;
Maret mengepak diri menghias perbukitan
penuh kemilau pepohonan peony dan narkisus;
Bagai kuntum penganten malu tersipu
Mai adalah dendang yang lugu
Dinyanyikan kala sore mengoyak langit
Dalam bayang-bayang biru
Yang tergesa antara pepohonan zaitun di lembah-lembah
di Padang-padang kuning menyilau
Kita masih menunggu dalam panen meruah

O tanah air di sana dulu masa kecil lenyap menghilang
Bagai mimpi-mimpi dalam pelukan hutan-hutan jeruk,
di lembah-lembah antara pepohonan korma
Ingatlah kini kami terlunta
Dalam pagutan padang pasir panas membara
Merangkak di bukit-bukit karang kersang;
Ingatlah kami
Yang terkapar di bawah puing kota, terkubur dalam pasir dan lautan;
Ingatlah kami
Lihatlah betapa kini di debu pelan-pelan
Tak 'kan pernah pupus walaupun sampai akhir kembara hanyut tertahan.
Lihatlah betapa mereka layuan kembang di perbukitan
Mereka hancurkan gubuk-gubuk kami
Mereka merobek belulang kami terkapar berserakan,
Lalu membiarkan kami lebur dibakar matahari,
Lihat betapa lembah merintih dikoyak kelaparan
Sementara bayang-bayang biru nyala membara
Terkapar di sisi mayat-mayat buat santapan gagak dan elang
Mungkinkah ia datang dari bukitmu di sana para malaikat bernyanyi
pada gembala tentang perdamaian dan cinta yang hilang ?
Hanya maut yang terkekeh kala ia terlihat
Dalam perut-perut binatang gembala
pada dada manusia, Dalam desingan deru peluru
Di atas kepala perempuan-perempuan yang meratapi nasib
Tanah air kita adalah permata kemilau
Tapi terasing dicekam padang pasir lengang
Di sana musim-musim lepas berlalu
Hanya debu-debu latah yang kian mencincang wajah kita
Lalu apa lagi, mau apa kita dengan cinta ?
Sementara mata dan mulut kita berlumpur salju dan debu yang beku ?.


Kisah sedih rakyat Palestina sepanjang sejarah dalam keterasingannya, mengingatkan kepada peristiwa duka yang terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti penderitaan pengusiran dan deportasi 413 orang Palestina oleh pemerintahan zionisme Israel, 17 Desember 1992. Mereka ditempatkan di daerah yang tak bertuan di perbatas Libanon. Maut mengancam mereka, karena kurang makan dan kurang air serta obat-obatan. Israel dan Libanon pun memblokir jalan bagi komite palang merah internasional (ICRC) untuk memasuki wilayah pengungsi terus sampai ke tenda-tenda darurat tempat mereka berlindung sementara. Bahkan kematian mengincer dan penderitaan semakin lengkap, karena yang sakit patut jangankan bisa dibawa ke rumah sakit, yang luka parah saja tak mendapat pertolongan, bahkan Perdana Menteri Israel ketika itu Yitshak Rabin pun bersikeras tidak membolehkan siapa pun membantu dan mengobati yang sakit bagi orang-orang Palestina yang dideportasi itu. Pada serangan terakhir (2009) Israel membakar Gaza, korban dibiarkan tidak makan, minum dan distop bantuan obat-obatan internasional. Tidak hingga itu saja, lebih lanjut PM Israel itu secara tidak manusiawi, menolak Reto Meister Kepala Palang Merah Internasional lewat Israel memasuki wilyah Kamp Pengungsi orang Palestina itu. Setelah dunia internasional mengecam, PM Israel pun membolehkan, tetapi dengan persyaratan yang berkaitan dengan kehormatan kedaulatan Libanon, yakni boleh Kepala Palang Merah Internasional itu masuk Kamp Pengungsi bila Libanon terlebih dahulu membuka jalan untuk pengungsi, sebelum rombongan palang merah internasional memasuki kamp pengungsi dipimpin oleh Bernard Pfefarle. Tidak cukup hingga itu, Isreal pun mengintimidasi 413 pengungsi Palestina itu dengan 4 tembakan mortir dan 8 tembakan tank tepat menghantam lingkungan kamp pengungsi di Marj Ex-Zouhour. Mereka seperti dipaksa untuk lari dan diharapkan Israel, mereka lari membabi buta memasuki wilayah Libanon, yang tadinya Libanon diminta Israel untuk membuka jalan bagi pengungsi itu. Ini dimaksudkan agar Israel dapat melepaskan tanggung jawabnya dalam mengurus orang Palestina yang diusir dan depaortasinya itu. Sialnya Libanon menolak, karena Libanon ingin agar Israel dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya mendeportasi orang Palestina. Akibatnya yang sengsara ialah pengungsi Palestina juga, karena intimidasi tembakan tank dan mortir yang tak tertahankan, mereka lari terbirit-birit, memanjat perbukitan menyembunyikan diri di perbatuan cadas di bukit-bukit sekitar, meskipun perbukitan itu terus diguyur Israel dengan tembakan tank dan mortir. Mereka meradang dan membantah, kenapa mereka harus mati. Ratap tangis histeris orang Palestina yang terusir sejak dahulu itu dilukiskan penyair Abdul Wahab Al-Bayati dalam syairnya dengan topik "pertanyaan seorang pengungsi" ( A. Khouri dan Hamid Alqar:1975) sbb. :

Kenpa kami harus mati
dalam kesunyian
Padahal kami memiliki rumah
dan apa saja
Dan kau di sini tanpa suara
ya di sini kalian cuma bisa meratap
Kenapa kami terbuang ?
Kami mati
Kami mati dalam kesunyian
tanpa bisa berteriak apa-apa
Dalam nyala api dan kegelisahan
Kami mengembara
dan rakyatku mengembara
Tuhan, kenapa kami
hidup tanpa negeri tanpa cinta,
Kami mati
Kami mati dalam ketakutan
Tuhan, kenapa kami mati
dalam pengungsian ?.

Gambaran yang sama dikumandangkan penyair Palestina Harun Hasyim Rasyid dalam syairnya "Hiwar qashashi baina Fatat Laji`ah wa Abiiha" (percakapan narativ seorang pemudi dengan ayahnya). Lihatlah beberapa baris liriknya berikut:

Bumi bagi kami
cita-cita yang selalu hadir
di sini manusia menari
di udaranya burung berkicau
tanah air bagi kami
namanya harum sepangjang zaman
kenapa kami ayah
kenapa kami tersingkir

Dalam penderitaan panjang orang Palestina di pengasingan, kerinduan tanah air semakin membara. Bahkan kerinduan tanah air itu menjadi obsesi rakyat Palestina sepanjang hari dan jadi mimpi sepanjang malam. Obesi ini tertuang di dalam lirik, efik dan dramatik rakyat Palestina. Kerinduan dan bayangan keindahan alam tanah air Palestina banyak menjadi esensi syair Arab Palestina. Jabra Ibrahim Jabra secara romantis melukiskan romantika alam Palestina dan kerinduan rakyatnya hidup damai di tanah airnya itu.

Palestina tumpah darah kami yang hijau
liriklah betapa bunga-bunga kembang mekar
bagaikan sulaman di tiap gaun wanita
ketika Maret tiba
perbukitan kemilau hijau di antara pepohonan peoni dan narkisus
bagaikan kuntum penganten malu tersipu
April datang membakar padang
marak merah bunga-bungaan kembang merekah
dan senandung kedamaian menyemarakan desa kami
Dalam bulan Mai kami bernyanyi siang hari
di bawah bayang biru pepohonan
di antara pepohonan palam di ranah ini
di tengah ranun buah-buahan di padang
kami menanti Juli dan menyanyikan lagu gembira
menyambut panen melipah ruah.

Tanah Air Palestina yang demikian indah dan punya kekayaan sumber daya alam dan punya kebanggaan dan kenangan tersendiri bagi rakyatnya, tidak boleh ada pihak lain yang menguasainya. Ternyata Israel dengan kesewenangannya mencoploknya. Meninggalkan luka yang perih. Penyair mengadu kepada Alam, tentang kemiskinan rakyat di negerinya sendiri yang kaya. Penyair Wanita Palestina Ruqiah Zaidan (2005) mengambarkan perasaan luka melihat nasib rakyat yang terjebak monolog. Dukun, petani dan aku terjebak dalam bahasa sendiri sendiri tentang mimpi tanah airnya. Lihat baitnya dalam syairnya “membaca filsafat gelombang” berikut:

حين يُصبح
الجوع في العين
والعطش في القلب
أعرف معنى الأفول
ثمّ الزوال.
...
الكاهن يقرأ لغة البخور
والحصاد يقرأ لغة الحقول
وأنا اقرأ قصيدة، الوطن

Ruqiah Zaidan mempertegas rasa cintanya kepada tanah airnya. “Aku katakan: aku cinta pada mu tanah airku”. Tanah air, tak pernah pupus dalam setiap denyut nadiku dan nadi Arab. Lihat liriknya dalam syairnya “wisyah abyadh la yaliiqu bi l-syaithan” (2006) berikut:
وينسى قفزاته من الموت الى الجحيم
واقول : احبك يا وطني
اي بخور يصعد من معبدك الكنعاني، وطني انت حاضر
وغائب في نبضاتي المنسية، انت حاضر وغائب في نبضاتي
العربية
Dr. Nadim Husain penyair Palestina seperti mengumumkan kepada dunia kecintaannya dan kerelaannya berkorban untuk membela tanah airnya. Tanah airnya serpihan daging bangsa yang sesak nafas dalam luka perih berdarah. Perih hatinya melihat nasib bangsa dan tanah airnya. Lihatlah liriknya dalam syair “kau salamilah hatiku” berikut:

يا سادَتي،
وطني انا من لَحمِ شعبٍ غاصَ في وَجَعِ الدمِ!



Sikap pessimis tidak boleh ada bagi rakyat Palestina. Tiap jengkal tanah yang dirampas Israel, harus dapat direbut lagi. Sikap optimis tumbuh, terutama di kalangan pemuda. Pemuda tidak boleh cengeng, menyalahkan nasib, malas dan duduk berpangku tangan. Mereka harus bangkit, membela tanah air dan mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa. Di tangan pemudalah terletak masa depan yang lebih baik. Karena itu pemuda harapan bangsa. Semangat ini menjadi thema dan amanat syair Penyair Palestina Ibrahim Abdulfatah Thauqan dengan topik :
"Optimis dan Harapan" sbb.:

Hapuslah air matamu
ratap tangis tak'kan ada gunanya
bangkitlah jangan kau keluhkan zaman
hanya sipemalaslah yang punya keluhan
tempuhlah jalan wujudkan cita-citamu
jangan kau katakan bagaimana mencapai kebahagian
....
Hai si miskin apakah kau habiskan usiamu
dengan rintihan dan kesedihan
kau duduk berpangku tangan
....
Mari pemuda, kau katakan : selamatlah
sesungguhnya di tanganmulah harapan masa depan
***

Pengungsi Palestina tetap sarat dengan harapan. Mereka tak mau mati di pengasingan. Tekad ini --dengan serentetan pertanyaan panjang tentang cita-cita ingin bebas dari hidup terasing-- terlihat dalam baris--baris syair penyair wanita Palestina Fadawi Thauqan sbb.:

akankah kukekal di sini
mati terasing di bumi asing?
akankah kukelal ? siapa mengatakan?
ku ‘kan kembali ke negeriku tercinta

Meskipun setetes harapan ada untuk dapat kembali ke tanah air, rakyat Palestina tetap saja punya kekhawatiran terhadap ketidak berdayaan menghadapi kezaliman Israel. Apalagi Nasionalis Arab sedang lumpuh. Namun tekad tetap kuat, hendak memperkuat Nasionalis dengan pemikiran dan pembinaan ke arah falsafah bangsa yang dalam. Ini tergambar dalam baris-baris syair Penyair Mu'ayyan Taufiq Bisaisu sbb.:

ku jika jatuh kau tempatilah posisiku
hai teman seperjuangan
ku panggul senjata, jangan menakutkan kau
darahku mengalir dari laras senjata itu
ku lirik bibirku terkatup
melintas gemersik badai
ku kerling mataku terpejam
melirik cahaya pagi
ku belum mati, ku belum lenyap tenggelam
ku kembali mengajakmu
dari balik goresan luka .

Obsesi rakyat Palestina yang terusir dari tanah airnya, ingin kembali dan kembali. Tapi tak mau mati sebelum kembali ke tanah airnya. Mereka akan kembali seperti kembali bertani setelah panen. Mereka kembali membalas dendam membara. Ini tergambar dari lirik penyair wanita Irak Nazik Malaikah sbb.:

teman dan panen
ia telah kembali Nabiku
menjadi api membakar
rindu dendam membara
besok 'kan bangkit hidup.

Tekad hendak kembali ke tanah air menghalau segala ketakutan. Perjuangan terus dikobarkan melawan kezaliman, meskipun jadi korban demi tanah air. Tekad ini diwariskan kepada generasi demi generasi. Ini terlukis dalam puisi "Filisthin" (Orang Palestina) oleh penyair kontemporer Palestina Abu Sulma berikut ini:

besok kami 'kan kembali, generai-generai ini
dengar derap langkah di Iyabi
memang, beribu-ribu korban kezaliman 'kan kembali
membuka segala pintu


Pada gilirannya dalam kegetiran dan ksengsaraan, konflik rakyat Palistina dengan Israel, dapat dimanfa'atkan sebagai pintu untuk terus mengobarkan perang melawan kesewengan imperialis zionis itu, dan sebagai gerbang untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan, persaudaraan serta nasionalis Arab sekaligus menyatukan visi untuk memelihara warisan budaya dan pusaka Arab yang tidak ternilai harganya, terutama dimulai dari Palestina. Rakyat Palestina dengan intifadanya terus membuka pintu kesadaran itu dengan sindiran halus kepada Israel musuh bebuyutannya. Strategi ini tercermin dalam syair "Intifadat Al-Haq" oleh penyair Syafiq Jabari berikut:

hai umat, lestari warisan zaman telah tenggelam
penginggalannya belum sempat dipetik umat ini
mereka kira menghabisimu aman dari sangsi
tak tahu sebenarnya mereka berprasangka dan berangan-angan

Nada Syafiq sejalan dengan baris-baris syair "Daulat Kecil Zionis Tak Bakal Kekal" oleh penyair Ahmad Saqaf:

cukuplah penderitaan ini, sabar tanpa upaya
hati mengeluh risau dan nestapa
....
sebab itu setiap hari kau perjuangkan cita-cita
setiap hari kepentingan umat Islam Arab kau bela

Nada heroik yang sama terlihat pula dalam baris-bari syair "seruan berjihad" oleh penyair Muhammad Mushthafa Al-Mahiy sbb.:

tunjukan pada mereka teknik jihad
kekuatan penolong itu tidak berharap selain jihad

Semangat nasionalis dalam bentuk cinta tanah air semakin terasa dalam baris-baris syair "Gelandangan itu" oleh penyair Palestina Harun Hasyim Rasyid dalam nada menyindir sbb.:

aku kawan manusia sepertimu
pernah punya tanah air tercinta
di sana pernah hidup sejahtera
dan hidup kaya
...
pernah kami punya cita-cita
dan mimpi-mimpi di tanah air tercinta

***
Israel meskipun tetap bersekukuh memerangi dan “membunuh” Palestina, namun keadaan itu tidak pernah membunuh perkembangan sastra Palestina sama dengan semangat nasionalismenya tak akan pernah mati. Kenyataan ini memperlihatkan tetap dominasi keterpakaian teori kritikus terkemuka Al-Jazair Abu l-Qasyim Sa'adullah, bahwa "perang dengan gempita pengaruhnya melahirkan karya sastra yang tidak kalah dengan dahsyatnya perang itu sendiri". Lihatlah terakhir (2008-2009) agresi Israel ke Gaza, tidak sedikit lahir puisi kontemporer tidak saja dipublikasi dalam lembaran terbatas, surat kabar, juga dalam bentuk sastra webs yang on line. Banyak indikasi sastra berkembang di Palestina –seperti juga di Al-Jazair– karya sastra terus lahir secara kreatif dan berkembang hebat dengan kekayaan imajinasi dalam thema-thema perang, pembelaan tanah air, kebangkitan harga diri, persatuan dan kesatuan yang secara esensial memupuk semangat nasionalisme Arab. Boleh dikatakan sastra merupakan senjata “meski diam – tapi mengusik dan tak pernah padam” dalam menghidupkan semangat nasionalisme Arab di Palestina.

Padang, 1997 - 2009


Rujukan

Dina, Y.Sulaeman,
2008, Ahmadinejad on Palestine, Perjuangan Nalar dan Jiwa Seorang Presiden untuk Palestina. Depok: Pustaka Ilmiah
موشيه آرنس ,
2009, غزة، اربعة خرافات . Palestina: The "Ha'aretz"
توفيق وصفي
2009, هنا غزة. Palestina: www.tawfiqwasfi@yahoo.com
منال خميس ,
2009, الى الذين انشغلوا علينا في كل العالم. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com

عبد الرؤوف ارناؤوط ,
2009, الفلسطين. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com
علي الخليلي ,
2009, غزة في مواجهة الكارثة. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com

طلال عوكل ,
2009, وبعد الحروب. Palestina: : www.tawfiqwasfi@yahoo.com

Barghouti,
2006, شعراء من فلسطين. Palestina: www.barghouti.com/islam

الشاعر سليمان دغش,
2006, فلسطينيو الـ 48 رافد للحضارة والثقافة العربية؟. فلسطين: كل العرب


Senopati Athur,
2009, Analisa Serangan Israel terhadap Gaza. On line:
www.senopatiathur.wordpress.com

Seto,
2009, Bom Phosphor Putih, dari Falujah ke Gaza. On line: www.infopalestina.com/



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar